NovelToon NovelToon
BOS MAFIA MUDA

BOS MAFIA MUDA

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Gibela26 Siyoon93

Felisberta Divya Deolinda gadis pemalas dan putri kesayangan keluarganya, Naumi sebagai seorang sahabat selalu membantu dia dalam pelajaran. Sampai suatu hari terjadi kecelakan dan membuat Feli koma, saat terbangun dia terkejut mendapatkan dirinya ada di dalam novel yang selalu dibacanya berjudul ‘Bos Mafia Muda’. Pemeran utama wanita di novel itu bernama Shanaya, dalam cerita Shanaya berakhir menyedihkan. Feli menjadi Shanaya dan menjadi istri dari Bos Mafia Muda itu yang bernama Shankara Pramudya Anggara. Di usia yang masih muda Shankara bisa menaklukkan semua Mafia yang ada di Negaranya, sosok laki-laki itu ditakuti semua orang tidak ada siapa pun yang berani menentang maupun melawannya karena itu Shankara Pramudya Anggara dikenal sebagai Bos dari semua Mafia yang ada di Negaranya atau di sebut Bos Mafia Muda. Alur ceritanya berubah seiring waktu setelah Feli menjalankan kehidupannya bersama Shankara.

@KaryaSB026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibela26 Siyoon93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

“Sudah selesai ?”

“Apa ?”

“Makan.”

“Oh udah.”

“Ikut denganku ada yang ingin aku bicarakan,” menarik Feli ikut bersamanya.

“Katakan kamu tadi bilang ada yang ingin kamu bicarakan padaku ?” sesampainya di kamar.

“Setelah selesai mandi,” jawab Shankara melepas bajunya begitu saja di depan Feli.

Feli menatap kaget tubuh Shankara tanpa busana “Bentuk tubuh yang luar biasa,” Feli tanpa sadar meneguk air liurnya sendiri.

“Indah bukan bentuk tubuh suamimu ?” goda Shankara.

“Hah ah tidak tidak,” Feli mengelak.

“Sudah sana mandi !” Feli segera membalikkan badannya membelakangi Shankara.

Terdengar suara terkejut di dalam kamar mandi lalu Feli berlari masuk begitu saja mengecek apa yang terjadi.

“Ehh …” Feli terjatuh ke air di backup di tarik Shankara.

“Terlanjur basah, jadi sebaiknya kamu madi juga.”

“Tidak perlu,” bangkit tapi Shankara menariknya kembali.

“Kalau tidak bantu aku mandi !”

“GAK MAU,” tegas Feli.

“Sayang sekali kartu itu harus masuk dompetku lagi.”

“Kartu ?”

“Didalam kartu itu ada sekitar 200 juta,” menunjuk kartu berwarna hijau di atas meja putih di dalam kamar mandi.

“Hanya bercanda tadi aku Cuma bercanda ko,” Feli hampir saja menyesal seumur hidup.

Feli menikmati waktunya membantu Shankara mandi, tidak terasa dia pun selesai. Ketika Feli hendak keluar dari backup kakinya menginjak busa sabun dan terjatuh, Feli membayangkan dirinya terbentur dan kepalanya terluka parah.

Nyatanya tubuh Feli melayang menimpa tubuh Shankara yang masih berendam, mata mereka saling memandang menciptakan suasana romantis sampai-sampai terdengar alunan musik romansa.

“Nyaman ?”

“Oh sorry aa akuu gak sengaja.”

Kejadian di kamar mandi membuat keduanya canggung “Sial lebih baik aku mulai lebih dulu,” batin Shankara.

“Kaki mu sepertinya sudah jauh lebih baik.”

“Iya.”

Mereka saling diam kembali “Ayo lah jangan begitu Feli,” batinnya.

“Seandainya tidak ada dia mungkin sekarang aku tidak bisa berjalan,” tambahnya.

“Masyarakat disini murah hati dan baik,” sambil mengajak Feli mengobrol Shankara mengecek kakinya.

“Aku juga gak nyangka di dalam pulau ini yang dikenal sebagai tempat pasar gelap paling besar masyarakat nya berbeda.”

“Aww …”

“Sakit ?”

“Sedikit.”

“Loe dengar gak ?” semangat menguping percakapan Feli dan Shankara walaupun samar-samar.

Raymond dan Dika pindah tempat ke ruangan samping kamar mereka, dari balkon mereka bersantai sambil memakan pop corn.

“Tolong pelan-pelan !”

“Baiklah.”

Dika dan Raymond mengira mereka berdua bermesraan dan melakukan hubungan suami istri padahal nyatanya Shankara sedang mengobati kaki Feli.

“Shanaya ?”

“iya.”

“Boleh aku menciummu.”

“Ah ?” terkejut mendengar pertanyaan Feli.

Tersenyum lalu melingkarkan tangannya di leher Shankara “Aku ini istri sah mu, memang seharusnya memberikan nafkah batin bukan hanya lahir.”

“Tentu saja tapi aku tidak mau melakukannya jika kamu tidak mengijinkannya.”

“Aku tau pernikahan kita berawal dari kesepakatan bukan Cinta, meski begitu aku sebagai istrimu pasti melakukan tugas dengan baik sebagai seorang istri.”

“Jadi apa boleh ?” Feli mencium terlebih dahulu mewakili jawabannya.

“Loe okey kan ?” tanya Dika.

“Loe ngejelekin gue ?”

“Siapa yang bilang gue ngeledek loe gue cuma nanya keadaan loe aja secara kan loe suka sama tuh cewek dan sekarang loe mendengarkan apa yang sedang dilakukan dia dengan cowo lain.”

“Nama dia Annya inget baik-baik namanya Annya,”

“Baiklah baiklah terserah loe.”

“Lebih baik gue ngalah kalau gak mana bisa mendengarkan dengan baik,” batin Dika tersenyum.

******

Dipagi hari Nina sudah berlatih di halaman bersama Dika, sedangkan Raymond mengecek kondisi senjata mereka yang sudah dikirim sebelumnya oleh Rahel. Waktu itu Shankara meminta Rahel mengirim senjata terbaik untuk hari pelelangan di pasar gelap. Shankara menginginkan senjata yang langka dan bagus sehingga orang-orang tidak bisa meniru atau mencurinya. Shankara memberikan serta menjelaskan desain gambar senjata yang diinginkannya pada Rahel, nominal uang yang dikeluarkannya pun sangat besar sehingga Rahel tidak bisa menolaknya.

“Bos benar-benar menemui Nona Hera ?”

“Tidak.”

“Sesuai dugaan ku, Bos tidak akan menemui Nona Hera karena dia pasti menajga perasaan Annya.”

“Tapi karena Bos tidak menemuinya, dia menghancurkan restoran itu.”

“Dasar orang kaya suka seenaknya.”

“Terus memandangku bisa membuatmu bosan,” ucap Feli yang baru saja bangun sudah melihat Shankara yang terus menatapnya sambil memainkan rambut.

“Tidak akan pernah bosan selagi itu kamu.”

“Kenapa kamu tidak menemuinya ?”

“Siapa yang kamu maksud ?”

“Nona Hera teman masa kecilmu.”

“Aku terlalu sibuk lagi pula dia bukan urusanku.”

“Begini rasanya di prioritaskan,” batin Feli.

“Bagiku kamu lebih penting dari apa pun.”

“Astaga kenapa kata-katanya begitu manis,” Feli tersipu.

“Dika Bos masih belum bangun ?”

“Seperti yang kamu lihat.”

“Menunggu lagi,” keluh Raymond.

“Kalian mau pergi ?”

“Pasar gelap mengadakan acara lelang.”

“Selain itu Bos harus menemui pimpinan pulau barak,”sambung Dika.

“Siapa sangka yang awalnya lawan kini menjadi lawan.”

“Kenapa loe ?” Raymond melihat Nina bengong.

“Penasaran seperti apa perawakan pimpinan pulau ini dari yang aku dengar dia masih muda tapi pencapaian dan bisnisnya bisa melesit hanya dalam beberapa bulan saja.”

“Kemampuannya dalam berdagang mengalahkan semua orang hebat di negeri kita.”

“Dia tampan loe boleh ngebet dia.”

“Sembarangan,” bukannya Nina yang marah tapi malah Dika.

“Siapa namanya ?”

“Khara.”

“KHARA ???”

“Loe kaya yang kesamber petir mendengar namanya.”

“Lebih dari itu,” memasang muka menyedihkan.

“Nina dimana ipadku,” teriak Feli.

“Huah sekarang kenapa malah ada suara Annya.”

“Jangan lebay tuh Nyonya muda ada di sana,” mengarahkan kepala Nina ke kaca dalam vila.

“Annya, loh pakaian mu ?”

“Dia memintaku memakai ini,” turun dari tangga.

“Tuan Shan ingin membawa Annya ke acara lelang pasar gelap ?”

“Kamu juga ikut !” Shankara berada di belakang Feli.

“Nina dimana Ipad-nya ?”

“Disimpan di kamarku sebentar.”

“Ada apa dengan kalian ?”

“Tidak ada Bos,” menghindari Shankara.

“Untuk sesaat gue inget suara dan kebisingan dari kamar Bos,” batin Raymond.

Feli mengenakan gaun merah tua dan Shankara menggunakan jas berdasi warna gaun Feli. Warna merah tua itu di hiasi kerlap kerlip bintang kecil, Feli tampak sangat cantik mengenakan gaun itu walaupun sebelumnya dia harus berdebat dengan Shankara.

Kejadian sebelum turun :

“Ayo mandi bersama ?”

“Kamu duluan aja,” Feli malu-malu.

“Kamu yakin ?”

“Hemn.”

“Tapi aku tidak,” membawa Feli ke kamar mandi.

“Untuk apa bertanya kalau akhirnya mandi bersama ?”

“Formalitas.”

“Kamu sudah selesai ?” menunggu Feli keluar dari kamar mandi.

“Hemn kenapa ?”

“Kotak apa ini ?” Shankara memberikan kotak kertas berwarna pink.

“Buka saja !”

“Gaun ?” melirik Shankara.

“Pakai lah !”

“Ada acara apa sampai harus memakai gaun ?”

“Lelang di pasar gelap.”

“Pasar gelap ?”

“Rias wajah mu dengan baik.”

“Hemn …”

“Semenjak menjadi Nyonya Shankara aku jadi bisa menggunakan make up,” berdandan di depan cermin.

“Eh apa yang kamu lakukan dengan rambutku.”

“Jepit rambut ini aku buat khusus untukmu, hanya ada satu di dunia,” memasang jepit perak dengan desaint bunga anggrek di rambut Feli.

“Lumayan,” melihatnya di cermin.

“Warna lipstikmu terlalu tebal.”

“Tidak.”

“Kemari aku bantu memperbaikinya.”

“Memperbaiki sih memperbaiki bukan berarti mencium ku,” batin Feli.

“Sudah selesai ?”

“Okey okey aku tidak akan mengganggumu lagi,” mengangkat kedua tangannya lalu mundur.

“Cara dia memperlakukanku dan eh …”

“Kenapa ?”

“Bukan apa-apa.”

“Berapa lama lagi ?”

“Hampir selesai,” merapihkan bajunya.

“Begitulah ceritanya.”

“Kamu dengan Bos berciuman ?”

“Emangnya kenapa bukan nya wajar sepasang suami istri melakukannya.”

“Benar tapi dari pengamatan awal rasanya mustahil itu terjadi.”

“Jangan pura-pura.”

“Maksudnya ?”

“Kamu dan yang lainnya sangat suka mengintip lain kali beritahu aku.”

“HAH ?”

“Nanti aku lakukan siaran langsung.”

“Annya buka begitu …” Nina menyadari maksud Feli lalu mengejarnya.

“Tunggu !” Nina berhenti lalu Feli mengambil ipad dari tangannya.

“Annya kamu tau tidak ?” berbisik.

“Tau apa,” melihat layar ipad.

“Tentang Khara.”

“Oh iya kenapa ?”

“Ternyata dia pimpinan pulau ini.”

“Lalu ?”

“Ko lalu sih kamu tau kan pimpinan pulau barak artinya apa ?”

“Gak.”

“Kacau.”

“Apanya yang kacau ?” Feli pura-pura bodoh.

“Sudah percuma saja berbicara denganmu,” Nina mulai kesal.

“Sorry sorry aku hanya bercanda,” menahan Nina pergi.

“Aku tidak peduli siapa dia dan seperti apa dia di mata orang lain, dia baik padaku ya berarti dia orang baik.”

“Tapi ??”

“Jangan khawatir dari awal aku yakin dia orang baik tidak mungkin mencelakai ku.”

“Mungkin saja dia sudah menyusun rencana.”

“Berpikir berlebihan yah ?”

“Aku beritahu mu satu hal.”

“Apa itu ?”

“Kenapa aku bisa percaya padamu di awal yah padahal kita baru saling mengenal.”

“Itu karena takdir.”

“Selain itu ?”

“Mereka memanggil kita,” ajak Feli.

“Apa yang ingin dia beritahu padaku sampai harus berbelit-belit.”

Mereka sudah bersiap berangkat ke acara lelang di pasar gelap, didalam mobil Feli tidak banyak bicara dia fokus mengerjakan desain mansion yang diminta Shankara sebelumnya.

“Dika, menurutmu aku sebanding dengan apa ?”

“Ah Bos aku tidak mengerti.”

“Seseorang mengacuhkan ku dari tadi dia hanya fokus menatap layar ipad.”

“Bos baru saja cemburu dengan ipad ?” Nina mangkat salah satu alisnya.

“Annya ?”

“Hemn …”

“Bos menginginkan perhatianmu tuh,” goda Nina.

“Biarkan saja dia.”

“Astaga baru kali ini ada orang yang berani mengacuhkan Bos.”

“Kalian sudah selesai bergosip ?”

“Nina bantu aku mengambil tas di belakang bagasi.”

“Tas ? kapan menyimpannya ?”

“Sewaktu menunggu tadi.”

“Hah ???”

“Aku tau kalian bisa bela diri, menggunakan senjata, melindungi diri tapi kita tetap harus hati-hati terlebih lagi kita tidak tau apa yang akan terjadi.”

“Benar tapi …”

“Pakai baju besi armor ini,” Feli memberikan masing-masing satu baju beso armor yang dia bawa sebelumnya.

“Baju besi armor, dari mana kamu mendapatkan ini ?” Shankara heran.

“Kak Lita.”

“Kapan itu terjadi ?” Nina semakin kebingungan.

“Setelah masuk sulit mencari tempat untuk memakainya,”ucap Feli.

“Dia seakan tau apa yang akan terjadi nanti,” suara hati Shankara.

“Sekarang pakai saja dulu sisanya ikuti saja.”

“Selamat datang Bos,” beberapa orang berjejer menyambut kedatangan Shankara.

Shankara beserta rombongan sudah masuk dan orang-orang mulai membicarakannya “Siapa gadis disamping Bos Shan itu ?”

“Aku dengar dia istrinya.”

“Dan yang satunya lagi, apa dia istri kedua ?”

“Mungkin saja secara Bos kan orang besar masalah cewek bisa berapa aja.”

“Hentikan percakapan kalian jika tidak terima akibatnya.”

“Tuan Dikro …”

Dikro menyapa sekaligus menyambut Shankara “Selamat datang Bos, ini ??”

“Salam saya Nina pengawal pribadi Nyonya Muda.”

“Pantas saja terlihat seperti bukan orang biasa,” menjabat tangan Nina.

“Tuan Ray, Tuan Dika, dimana Nyonya ?”

“Dia kemana ?”

“Itu dia disana,” Raymond menunjuk Feli.

“Dia baru saja dari dalam ?”

“Aku sudah katakan padamu sebelumnya, kemana pun kamu pergi Nina harus bersama mu.”

“Kebelet jadi langsung lari ke toilet,” tersenyum tanpa rasa bersalah.

“Jika tidak Nina beritahu aku kemana pun kamu mau pergi.”

“Baik baik, tidak ada yang terjadi juga.”

“Yang tadi di mobil berbicara itu kamu bukan orang lain, bagaimana bisa kamu sendiri yang melakukannya ? Jika terjadi sesuatu bukan hanya kamu yang menerima hukumannya tapi semua orang yang hadir,” Shankara marah .

“Ceroboh,” mengejar Shankara yang pergi.

“Barusan itu ?”

“Nyonya Muda kami.”

“Pantas saja Bos menikahi Nyonya ternyata dia orang yang sangat cantik.”

“Selain cantik dia memiliki kemampuan yang tidak bisa di remehkan.”

“Kemampuan yang tidak bisa di remehkan ?” Dikro mengulang perkataan Dika.

“Lihat dan saksikan, jika aku mengatakannya belum tentu kamu percaya.”

Shakara duduk di kursi paling depan yang khusus disiapkan panitia acara lelang, Feli berusaha membujuknya.

“Maaf aku tidak sengaja, berhenti marah okey.”

Seseorang datang dan berkata “Siapa sangka kita bisa bertemu lagi disini.”

“Khara, kenapa kamu disini ?” Feli berbalik melihat Khara.

Shankara terkejut Feli yang tidak pernah datang kesini tiba-tiba mengenal Khara yang tidak lain pimpinan pulau barak.

“Undangan,” menunjukan undangan lelang.

“Ehem …”

“Oh hampir lupa, Khara perkenalkan dia Shankara …”

“Suaminya,” sambung Shankara.

“Sungguh kebetulan ternyata Shanaya adalah istri Bos Shan.”

“Ah kalian salah mengenal ?”

“Hanya mengenal nama dan baru bertemu,” jawab dingin Shankara.

“Ohh ..”

“Bagaimana kabarmu ?” Khara terlihat senang dekat Feli.

“Kabarku baik.”

“Mereka berdua tampak sangat akrab,” Shankara mengawasi Feli dengan Khara.

“Nina juga datang bersamaku,” menunjuk Nina yang duduk di belakang Feli.

Nina pun menyapa dari tempatnya, Dika heran kenapa mereka saling mengenal bahkan sangat akrab termasuk Nina.

“Kalian ?”

Nina belum sempat menjawab pertanyaan Dika “Berdiri !”

“Kenapa ?”

“Lakukan !!!”

“Dia kenapa sih ?” keluh Feli langsung berdiri.

“Pindah tempat duduk,” masih dengan nada yang sama.

“Sepertinya Bos Shan tidak suka jika aku duduk bersampingan dengan Annya.”

“Dia memanggil Annya itu artinya sangat dekat ?” Raymond shok.

Dika menatap Nina “Hehe akan aku ceritakan.”

Suasana menjadi canggung “Auranya ini seperti di medan perang,” Dikro datang bersama dua pelayan wanita.

“Bos Shan saya menyiapkan hadiah ini untuk menyambut Nyonya,” menyodorkan wine terbaik yang di bawa pelayan.

“Dia tidak minum.”

“Kesalahanku tidak bertanya terlebih dahulu mohon maaf.”

Dikro hendak pergi di cegah Feli “Tunggu aku bisa menerima hadiahnya ?” semua orang terkejut.

“Jangan salah paham,” mengambilnya.

“Untukmu,” memberikannya pada Khara.

“Kacau Annya nyari mati atau apa ?”

Shankara menarik cukup keras Feli keluar ruangan “Aww sakit,” Khara merasa bersalah atas apa yang terjadi.

1
Yaniee.25
/Slight/
Chimer02609
wokey 👌
Azαzel
mampir juga thor😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!