NovelToon NovelToon
My Cold Husband, Rafael

My Cold Husband, Rafael

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Noor.H.y

Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Malam pertama

Sekilas ke arah suaminya. Matanya menangkap perubahan kecil pada raut wajah Rafael yang biasanya tenang dan sulit ditebak. Untuk sesaat, pria itu terlihat sedikit tegang saat seorang wanita cantik bergaun elegan naik ke atas pelaminan.

Wanita itu menatap Rafael lalu Kanaya begantian, kemudian mengulurkan tangannya kepada Rafael.

"Selamat Raf, semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan." lirihnya, dengan senyuman yang sulit di artikan.

"Hm.." gumam Rafael, lalu dengan cepat melepas tautan tangannya.

Wanita itu beralih mengulurkan tangan bersalaman dengan Kanaya. Kemudian wanita itu turun dan berjalan menjauh dari pelaminan.

Kanaya merasa penasaran dengan sosok wanita tersebut, namun belum sempat ia bertanya seruan Photographer untuk sesi foto bersama menggema membuat seluruh keluarga berkumpul, secara bergantian naik ke pelaminan untuk foto bersama.

* *

Setelah sesi foto bersama keluarga dan para tamu selesai, Kanaya menghela napas pelan. Senyum yang sejak tadi terus terpasang di wajahnya mulai terasa pegal. Mengenakan gaun dan riasan pengantin selama berjam-jam ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan.

"Ayo, beb. Istirahat dulu," ujar Keisya sambil meraih lengan Kanaya dengan hati-hati.

Kanaya mengangguk pelan. Ia melirik sekilas ke arah pelaminan. Rafael masih berdiri di sana dengan setelan jasnya yang tampak rapi, sesekali menyalami tamu yang belum sempat berpamitan. Pria itu terlihat tenang dan profesional, seolah tidak merasakan lelah sedikit pun.

"Kei.. Tadi kamu lihat nggak wanita cantik yang naik pelaminan sebelum sesi foto bersama ?" tanya Kanaya lirih.

Keisya terlihat berfikir sebelum menjawab, "Yang mana sih ? Aku nggak lihat tuh."

Kanaya mengibaskan tangannya pelan, "Ah.. Ya sudah lah nggak penting juga." gumamnya.

"Yakin ? Emangnya kenapa ?" tanya Keisya tak yakin.

Kanaya menggeleng pelan, "Nggak papa kok, cuma nanya aja. Ya udah, ayo antar aku ke kamar dulu."

Keisya mengantar Kanaya menuju lift khusus yang telah disediakan pihak hotel. Tak lama kemudian mereka tiba di lantai tempat kamar pengantin berada.

Keisya berhenti di depan kamar yang telah disiapkan untuk pengantin baru itu.

"Nah, ini kamarnya beb. Ini kartu aksesnya." kata Keisya, meraih tangan Kanaya lalu memberikan kartu akses masuk kamar miliknya.

"Selamat beristirahat bestie, aku ke bawah lagi. Kalau ada apa-apa bisa panggil Kak Rafael saja." lirihnya, lalu berjalan meninggalkan Kanaya yang masih berdiri mematung di tempat.

"Eh.. Kei, tunggu.." serunya, namun Keisya sudah masuk ke dalam lift kembali.

"Huft.. Dasar."

Kanaya mengangkat kartu akses yang dipegangnya, lalu menempelkannya pada sensor di samping pintu. Terdengar bunyi bip singkat disusul lampu hijau menyala. Ia menekan gagang pintu dan membukanya perlahan.

Begitu pintu kamar terbuka, Kanaya membulatkan matanya saat melihat kamar luas dengan hiasan khas kamar pengantin baru. Kelopak-kelopak mawar merah dan putih tersebar rapi di atas ranjang berukuran king size, membentuk pola hati di tengahnya. Lampu-lampu temaram menciptakan suasana hangat dan romantis, sementara rangkaian bunga segar menghiasi beberapa sudut ruangan.

Kanaya berdiri mematung di ambang pintu selama beberapa detik. Tatapannya menyapu seluruh isi kamar, mulai dari ranjang yang dihias begitu indah hingga meja kecil yang telah disiapkan dengan sebotol minuman dan beberapa camilan.

"Ya ampun..." gumamnya lirih.

"Ini... kenapa harus dihias seperti ini juga sih?"

Kanaya menghela napas panjang. Wajahnya mulai memanas saat menyadari malam ini ia dan Rafael akan menginap di kamar yang sama sebagai pasangan suami istri.

"Nggak mungkin kan, dia akan buru-buru meminta haknya padaku malam ini." gumamnya lagi.

Pandangannya kembali jatuh pada ranjang yang dihias begitu romantis. Entah kenapa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya saat membayangkan Rafael akan segera datang ke kamar itu.

"Oh, tidak-tidak. Aku nggak bisa, nggak mungkin kan dia maksa kalau aku nya nggak mau. Ah bodo amat lah."

Kanaya menggigit bibir bawahnya pelan lalu berjalan menuju jendela besar di sisi kamar, berusaha mengalihkan pikirannya yang mulai ke mana-mana. Namun semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas kesadaran itu muncul dalam benaknya.

"Lebih baik aku mandi aja sekarang." lirihnya, saat tiba-tiba tubuhnya merasa gerah sendiri setelah memikirkan hal yang tidak-tidak.

Kanaya mencoba meraih ujung resleting gaunnya di belakang punggung. Jemarinya berulang kali menariknya perlahan, namun resleting itu tetap tidak bergerak sedikit pun.

"Kenapa susah banget sih..." gumamnya pelan dengan kening berkerut.

Ia kembali mencoba beberapa kali, memutar tubuhnya ke depan cermin besar yang memenuhi salah satu sisi kamar. Namun hasilnya tetap sama. Entah karena posisi yang sulit atau memang resleting gaunnya tersangkut.

Kanaya menghela napas panjang, akhirnya menyerah.

Ia melangkah menuju nakas di samping tempat tidur, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas sana. Dengan cepat ia menelpon Keisya.

Tak butuh waktu lama hingga panggilannya tersambung.

"Halo, Nay. Kenapa ?" suara Keisya terdengar dari seberang sana.

"Keisya, kamu lagi di mana?" tanya Kanaya.

"Aku masih di bawah, ada apa ?"

"Ke kamar sebentar, bisa? Resleting gaunku nggak bisa dibuka. Aku udah coba dari tadi tapi tetap nyangkut."

Terdengar tawa kecil dari Keisya.

"Baik, bestie. Tunggu lima menit, aku ke atas sekarang."

"Jangan lama-lama."

"Iya, iya."

Keisya menyimpan ponselnya di tas mini miliknya, lalu ia melangkah hendak berjalan menuju lift menuju kamar Kanaya lagi. Namun belum baru beberapa langkah terdengar suara Maureen memanggilnya.

"Keisya ! Kamu mau kemana ? Ayo kita pulang." kata Maureen, yang berjalan bersama ayahnya, Opa Theo. Di sampingnya juga ada Rafael.

"Iya.. Ayo pulang. Acara juga sudah selesai." lanjut ayahnya.

"Tapi.. Itu Bun, Kanaya tadi telpon butuh bantuanku sebentar."

Maureen menarik Keisya, "Sudah, biarkan Kanaya. Kan ada Rafael sekarang. Ayo kita pulang saja, jangan ganggu mereka lagi." ucapnya, dengan menatap putrinya memberi kode yang kemudian di mengerti oleh Keisya.

"Ah.. Iya, iya Bun." Keisya mengangguk dengan tersenyum miring melirik kakak sepupunya.

"Ya udah kak, kami pulang dulu. Tolong di bantu Kanaya yah, jangan di marahin kasihan dia." ujarnya.

"Sudah sana kamu naik saja ke atas. Ingat juga pesan Opa tadi." Opa Theo ikut menanggapi.

"Baik, Opa."

Kirana dan Harun yang berdiri di belakang mereka pun ikut bersuara.

"Rafael, Daddy titip Kanaya. Dia memang anaknya sedikit manja, tapi Daddy yakin kamu bisa menanganinya." lirih Harun, menepuk pundak menantunya.

Rafael mengangguk, "Baik Dad. Saya akan mencoba untuk selalu mengingat pesan kalian semua." ucapnya pelan.

Mereka semua pun berjalan pulang, tinggallah Rafael dan Kanaya yang menginap di salah kamar di hotel itu.

* *

Di dalam kamar, Kanaya masih mencoba untuk melepaskan gaunnya kembali namun tetap saja tidak bisa.

"Ih.. Mana sih Keisya. Lama banget," gumamnya.

Klek.

Terdengar pintu terbuka, Kanaya bernapas lega karena ia pikir Keisya sudah datang.

"Lama banget sih Kei. Ayo buruan, bantuin aku melepas bajunya. Heran banget, gaun mahal kok resletingnya bisa macet," seru Kanaya, tanpa menoleh kebelakang.

Rafael yang baru saja masuk mendadak tertegun, saat melihat Kanaya berdiri membelakanginya dan menyuruhnya untuk membantu membuka resleting gaun yang katanya macet di jalan itu.

"Ngapain diam disitu Kei, ayo sini bantuin cepet. Aku udah gerah banget pengen mandi tau," gerutu Kanaya, karena yang dia pikir Keisya tak kunjung membantunya.

Tanpa berucap, Rafael berjalan maju lalu menyentuh ujung pengait gaun itu.

Sreek!

Dengan sekali tar!k resleting itu turun kebawah hampir saja melorot jika Kanaya tak memegangi depan gaunnya, menampilkan punggung Kanaya yang putih dan mulus, membuat Rafael menelan lud4hnya sendiri.

"Thanks Kei... Akhhh!!" teriak Kanaya saat membalikkan badannya kaget melihat Rafael yang ada di sana.

Rafael menutup telinganya, karena suara Kanaya yang melengking keras itu cukup menganggu pendengarannya. Untung saja kamar itu kedap suara, jadi hanya dirinya yang kaget.

"Ka.. Kamu, kok kamu yang di sini. Mana Keisya ?" tanyanya.

"Dia sudah pulang," balasnya datar, lalu duduk di sofa.

Ia melirik Kanaya yang masih menatapnya, dengan tatapan mematikan.

"Kenapa masih berdiri disitu ? Tidak usah menatapku seperti itu, saya ini sekarang suami kamu."

"Sudah sana mandi, aku juga gerah mau mandi juga." katanya, meraih ponselnya di saku celananya mengabaikan Kanaya yang sedang menggerutu tak jelas sambil masuk ke dalam kamar mandi.

* *

Beberapa menit berlalu, Rafael yang masih duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya sesekali melirik ke arah Kanaya yang baru keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk kimono hotel berwarna putih. Rambut panjang wanita itu masih sedikit basah, meneteskan air di ujung-ujungnya.

Tanpa mengatakan apa pun, Rafael mematikan layar ponselnya lalu bangkit dari duduknya.

"Bajunya di lemari, tadi Keisya yang mengantar. Saya mandi dulu," ucapnya singkat.

Kanaya hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

Rafael kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan menghilangkan rasa lelah setelah seharian menjalani rangkaian acara pernikahan dan berdiri berjam-jam di pelaminan menyambut para tamu.

Tak lama kemudian suara pintu kamar mandi tertutup terdengar.

Tinggallah Kanaya sendirian di dalam kamar yang luas itu.

Kanaya berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian ganti. Tangannya terulur membuka pintu lemari besar yang tersedia di kamar hotel itu.

Namun sesaat kemudian matanya langsung membelalak.

"Astaga..." gumamnya pelan.

"Apa-apaan ini, kenapa baju-bajuku jadi begini semua ??" lirihnya, saat melihat baju berada disana bukanlah baju tidur miliknya, namun hanya pakaian berbahan tipis kurang bahan.

"Keisya..!!! Awas kamu ya..."

* * * *

1
Noey Aprilia
Ya suami kutub lh,apa lg.....🤣🤣🤣....
Noey Aprilia
Mskpn klkas,tp ttp prhtian....
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
Noey Aprilia
Rafael nih tipe2 kulkas,tp aslinya prhtian....dia ga tau msti brskap ky gmna,mkanya kya acuh gt....tp ykin bgt kl bntr lg dia bkln bucin parah....
Noey Aprilia
Kanaya....tau ga kl sbnrnya km yg nyosor dluan?????🤭🤭🤭....
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Noey Aprilia
Enth spa yg bkln bucin dluan....ga sbr aja nunggu mreka mesra,trs bkin sng mntan nangis guling2...
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣
Noey Aprilia: Sama2....smngttt...😘😘😘
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!