Kisah cinta antara Dafa Artanegara dan Risma Anggraini, mereka di pertemukan dalam sebuah kecelakaan, karena rasa bersalah, Dafa menikahi Risma yang hanya seorang yang biasa saja.
Dari pernikahan yang di dasari rasa bersalah itulah,Dafa akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan sosok Risma yang sederhana dan baik hati, tapi bagaimana jika Risma tahu siapa Dafa yang sesungguhnya, Apa lagi Dafa yang mempunyai sisi gelap dan tidak di ketahui oleh Risma.
Yuk mari silahkan di baca jika ingin tahu kisah cinta mereka yang penuh dengan emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahayu Avilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-jalan
Dafa sedang santai di kursi dekat kolam renangnya, Dafa terus berpikir mencari cara untuk segera lepas dari masalah pribadinya saat ini, setelah pesta pertunangannya dengan Luna, Dafa semakin merasa bersalah bengan Risma, tidak sepantasnya Risma mendapat perlakuan buruk seperti ini.
'Bagaimana kalau Risma mengetahui pertunanganku dengan Luna? Dia pasti merasa hancur, dia begitu polos dan baik, tidak seharusnya aku melukai perasaannya.' Batin Dafa bergejolak.
"Tapi kalau aku tidak segera menceraikannya gimana dengan Papi dan Mommy? mereka pasti kecewa denganku." Gumam Dafa.
"AAARRRHHH." Dafa mengacak rambutnya karena frustasi dengan keadaan ini.
"Serly." Panggil Dafa.
"Ya Tuan Muda." Jawab Serly.
"Jemput nonamu pulang sekarang!!" Perintah Dafa.
"Baik Tuan Muda."
Serly pun bergegas mencari Mang Asep untuk di ajak menjemput Risma, Dafa masih duduk di kursi dekat kolam renang sambil meminum anggur.
Tidak butuh waktu lama untuk menuju ke rumah Pak wisnu, setelah sampai Serly pun mencari keberadaan Risma.
"Maaf Pak Wisnu, bisakah saya bertemu dengan Nona Muda?" Tanya Serly.
"Ya tentu saja Serly, masuk saja ke kamarnya, dia sepertinya masih di kamar." Jawab Pak Wisnu yang duduk di teras sambil menyeruput tehnya.
"Baik Pak Wisnu, saya permisi."
Serly pun menuju ke kamar Risma, setelah mengetuk pintu Serly pun masuk dan benar saja bahwa Risma sedang membaca sebuah novel sambil duduk di ranjang kesayangannya sambil memangku sebuah bantal.
"Nona." Paggil Serly.
"Hm, ada apa Serly?" Jawab Risma tanpa melihat ke arah Serly,karena Risma lagi serius membaca novel kesayangannya.
"Tuan muda sudah pulang nona." Ucap Serly.
"Oh, benarkah?" Kata Risma lalu menutup bukunya. Dan menoleh ke arah Serly.
"Iya nona, dan beliau meminta saya untuk menjemput nona pulang."
'Kenapa tiba-tiba Mas Dafa pulang ke sini? Apa untuk menceraikanku?' Batin Risma.
"Oh begitu, baiklah aku akan pulang tapi dengan satu syarat." Kata Risma.
"Syarat? Syarat apa nona?" Tanya Serly yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Risma saat ini.
"Kamu jangan bilang pada Mas Dafa kalau aku sudah bisa melihat lagi."
"Tapi nona.."
"Kalau kamu tidak setuju, lupakan saja, aku akan tinggal di sini dengan orangtuaku." Kata Risma lalu dia kembali membuka buku novelnya.
"Baik-baiklah Nona, saya akan mengikuti syarat yang Nona minta." Jawab Serly yang akhirnya mengikuti permintaan Risma walau pun itu berat.
"Ok, kamu tunggu saja di luar sebentar, biar aku ganti baju dulu."
"Baik Nona."
"Aku pengen lihat yang sebenarnya terjadi, dan sampai kapan Mas Dafa akan bertahan dengan sandiwaranya, untuk terus membohongiku." Gumam Risma.
Setelah serly keluar, Risma segera mengganti bajunya, tak butuh waktu lama buat Risma berganti baju.
"Ayah, Risma pulang dulu ya."
"Iya, kamu jaga kesehatan di sana, kalau ada waktu sering-seringlah main ke sini."
"Iya ayah, Risma akan sering kemari." Ucap Risma dengan mencium punggung tangan Ayahnya.
Setelah berpamitan dengan ayahnya Risma pun menuju ke kamar kakaknya, dan berpamitan ke Nadia untuk kembali pulang.
Serly dan Risma sepakat bahwa mereka akan merahasiakan bahwa Risma sudah bisa melihat selama Dafa di sini, termasuk Mang Asep. Serly dan Mang Asep tidak punya pilihan selain menuruti permintaan majikannya itu.
Setelah sampai di rumahnya Risma melihat Dafa yang duduk di kursi dekat kolam renang dengan minuman anggur di meja, terlihat begitu santai.
"Tuan, Nona sudah datang."
"Risma." Ucap Dafa sambil memegang tangan Risma menuntunnya seolah-olah Risma masih dalam keadaan buta.
"Mas Dafa kapan pulang? kenapa tidak kasih tahu dulu?" Kata Risma.
"Tadi malam, mau memberikan kamu kejutan." Jawab Dafa.
'Ternyata Mas Dafa lebih tampan dari pada yang di foto.' Batin Risma.
"Ohh."
"Hari ini aku ingin mengajak kamu jalan-jalan." Kata Dafa.
"Kemana?." Tanya Risma.
"Rahasia, kamu tunggu di sini dulu, aku ganti baju sebentar."
"Baiklah."
Dafa pun berlalu menuju kamar untuk ganti baju, Dafa memakai kaos santai dengan celana pendek selutut.
'Sebenarnya Mas Dafa mau mengajak kemana? Apa ini pertanda perpisahan untuk kami? Sebelum dia menikah dengan tunangannya itu.' Batin Risma.
Setelah itu Dafa menghampiri Risma dan menggandengnya menuju ke mobil, dan melajukan mobilnya menuju ke pantai, sepanjang jalan Risma tampak senang bisa melihat pemandangan indah. Dafa yang melihat hal itu tersenyum tipis.
"Risma, apa kamu bahagia menikah denganku?." Tanya Dafa.
"Kenapa tiba-tiba Mas nanya soal itu?" Bukannya menjawab, Risma justru balik bertanya.
"Ya aku ingin tahu, karena selama ini aku tidak pernah meluangkan waktu denganmu di sini." Jawab Dafa.
"Mas sendiri? apa Mas bahagia menikah denganku?" Risma balik bertanya sambil melihat ke arah mata Dafa, menelisik ke dalam mata Dafa untuk mengetahui kejujuran suaminya.
Dafa yang melihat ke arah Risma merasa ada sedikit keanehan, tapi keanehan apa Dafa sendiri tidak tahu.
'Kenapa aku merasa bahwa Risma seakan sedang menatapku, Ah tidak mungkin dia menatapku, dia kan buta." Batin Dafa seakan menepisnya.
"Ya, bisa di bilang begitu, aku bahagia bisa menikah denganmu."
'Aku tahu Mas Dafa bohong, tapi kenapa kebohongan ini terasa begitu manis.' Batin Risma, mendapat jawaban Dafa seperti itu, Risma hanya tersenyum tipis.
"Oo." Jawab Risma.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, Risma."
"Hem, kurasa sama dengan jawaban Mas Dafa."
Dafa tersenyum mendengar jawaban Risma, Dafa sekilas melihat Risma yang duduk di sampingnya, dan Dafa memegang jemari Risma, tapi dengan gerakan perlahan Risma melepaskan genggaman tangan Dafa, dan itu membuat Dafa mengerutkan keningnya heran.
Karena biasanya Risma tidak pernah menolak ketika Dafa memegang tangannya, Dafa merasakan seperti ada jarak di antara mereka. Mobil pun sudah sampai di tepi pantai. Dafa menarik tangan Risma dan menggenggamnya sangat erat dan menariknya ke arah tepi pantai.
"Pemandangan yang indah." Gumam Risma tanpa sadar, dan itu samar-samar terdengar oleh Dafa.
"Hah," Dafa mengerutkan dahinya
"Hmm, Risma dapat membayangkan kalau pemandangan di sini sangat indah." Ucap Risma sedikit gugup.
"Ya, kamu benar du sini memang sangat indah, lain kali aku akan sering mengajakmu kemari."
"Hmm, benarkah?" Jawab Risma.
Mereka asyik menghabiskan waktu berdua, setiap beradu pandang dengan Dafa jantung Risma berdetak dengan sangat kencang.
Risma tertawa riang, baru kali ini Dafa melihat Risma tertawa lepas di saat bersamanya, Dafa tersenyum bahagia melihat hal itu.
'Kamu terlihat begitu cantik.' Batin Dafa.
Setelah sore hari mereka pun beranjak untuk pulang, tapi Dafa mengajak Risma untuk makan sebelum pulang, setelah memesan makanan dan makanan datang kini mereka pun makan, ketika Dafa ingin mengambilkan Risma makanannya, dengan halus Risma menolaknya.
"Aku bisa ambil makananku sendiri Mas,"
"Baiklah."
Dafa sedikit heran, karena biasanya Serly selalu membantu Risma untuk mengambilkan makanannya, tapi kali ini seakan-akan Risma sudah tahu letak piring yang memang sudah ada di depannya dengan benar, atau pun dia juga tahu lauk pauk yang sudah di meja itu.
Dafa pun tdak menaruh curiganya terlalu jauh, mungkin Risma sudah terbiasa pikirnya. Setelah makan selesai, mereka pun pulang.
Setelah sampai di rumah Risma pun membersihkan dirinya, begitu pula dengan Dafa, dan setelah itu Risma membaringkan tubuhnya di ranjang.
☆Bersambung☆
kebetulan baru baca di hari senin, langsung kasih vote 👍🏻🤭