Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IBU DAN SUAMIKU MENGKHIANATIKU.
Hari semakin siang ketika Nafisa dan rekan-rekan satu timnya akhirnya tiba di sebuah hotel berbintang. Sesuai janji Dewangga, mereka mendapatkan fasilitas VIP untuk menikmati bonus setelah berhasil memenangkan proyek desain gaun milik Klein.
“Gue gak nyangka banget, Naf. Kita bisa dapat bonus kayak gini. Padahal, sebelum ada lo, yang selalu mendapatkan bonus itu tim B.”
Nafisa tersenyum sambil duduk di sebelahnya. “Kamu berlebihan, De.”
“Apanya yang berlebihan? Lo itu keberuntungan kami, Naf. Wajar saja lo naik jabatan karena kemampuan lo sendiri. Sekarang, tim kita juga bisa membuktikan kalau kita gak kalah dari tim B.”
Virgo yang sejak tadi sibuk mengamati isi ruangan ikut mengangguk. “Betul. Jadi, hari ini kita harus menikmati bonus ini sepuasnya.”
Nafisa terkekeh melihat semangat kedua rekannya.
“Ngomong-ngomong, kartu hitam yang dikasih Pak Dewangga sudah lo terima, Naf?” tanya Dea tiba-tiba.
“Sudah. Tenang saja.” Nafisa menepuk tasnya pelan. “Kartunya aman.”
“Bagus!” Dea bertepuk tangan kecil. “Kita harus bersenang-senang. Rugi kalau gak dimanfaatkan. Badan gue saja sudah pegal setelah beberapa hari terakhir sibuk mengurus desain.”
“Kalau begitu, jangan tanggung-tanggung,” sahut Virgo. “Ayo, kita makan di restoran. Pesan menu yang paling mahal!”
“Setuju!” Dea langsung menyambutnya.
Nafisa hanya bisa menggeleng sambil tertawa kecil melihat tingkah kedua rekannya. Namun kedua sudut bibirnya terangkat tipis.
‘Lihat saja, Pak Dewangga. Bakal kukuras habis uangmu hari ini.’
Nafisa terkekeh sendiri membayangkan ekspresi Dewangga ketika uang di dalam kartunya sudah limited
“Kenapa lo ketawa sendiri?” tanya Dea curiga.
“Enggak apa-apa.” Nafisa mengibaskan tangan. “Ayo, katanya mau makan.”
“Ayoooo!”
. . .
Kini, mereka berjalan menyusuri lorong hotel menuju lift. Suasana hati Nafisa terasa jauh lebih baik dibandingkan pagi tadi.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Mereka masuk bersama beberapa tamu lain, lalu turun menuju lantai dasar.
Beberapa saat kemudian.
Pintu lift akhirnya berhenti dan perlahan terbuka, mereka keluar dan berjalan melewati lobi hotel yang cukup ramai. Nafisa mengikuti langkah timnya menuju restoran.
Namun, langkah Nafisa mendadak terhenti ketika pandangannya tak sengaja menangkap dua sosok wanita yang berdiri di dekat resepsionis hotel.
Keningnya berkerut. Ia mengenali pasangan itu.
“Ibu sama Mas Damar?” gumam Nafisa.
Ia berkedip beberapa kali, memastikan bahwa penglihatannya tidak keliru. Namun, sebelum sempat memperhatikan mereka lebih lama, suara Dea terdengar dari arah pintu restoran.
“Naf, ayo buruan!”
Nafisa tersentak. Ia segera menoleh ke arah kedua rekannya yang sudah menunggu.
“Kalian pesan dulu saja. Aku menyusul, ya.”
Dea menatapnya sesaat, lalu mengangguk. “Ya sudah, jangan lama-lama. Nanti makanan kita keburu dingin.”
“Iya.”
Setelah memastikan kedua rekannya masuk ke restoran, Nafisa kembali menoleh ke arah resepsionis. Namun, dua sosok yang tadi dilihatnya sudah tidak ada di sana.
Nafisa mengedarkan pandangan ke sekitar lobi, tetapi tak menemukan keberadaan mereka. Tanpa membuang waktu, Nafisa berjalan menghampiri meja resepsionis.
“Permisi, Mbak,” sapanya.
Resepsionis yang sedang bekerja segera mengangkat wajah. “Ya, ada yang bisa kami bantu?”
Nafisa merapatkan tali tas di bahunya. “Dua orang yang baru saja berada di sini tadi mau apa, ya, Mbak?”
“Maaf, Mbak. Kami tidak bisa memberikan informasi mengenai tamu lain karena menyangkut privasi.”
Nafisa terdiam sebentar.
“Oh, saya kenal mereka, Mbak. Saya keluarganya.”
Resepsionis itu tampak mempertimbangkan perkataannya sebelum akhirnya menjawab, “Oh, mereka memesan kamar, Mbak.”
Jantung Nafisa berdegup sedikit lebih cepat.
“Memesan kamar?” gumamnya. “Kamar nomor berapa, Mbak?” tanyanya, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar biasa.
Resepsionis tersebut tidak langsung menjawab. Pandangannya kembali tertuju pada layar komputer di hadapannya. Jemarinya bergerak di atas papan ketik, sesekali menggeser tetikus untuk memeriksa data pemesanan.
Nafisa berdiri menunggu.
Beberapa saat kemudian, resepsionis itu kembali menatapnya.
“Nomor A17, Mbak.”
Nafisa mengangguk pelan. “Terima kasih, Mbak.”
“Sama-sama.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Nafisa berbalik dan berjalan menuju lift.
Begitu pintu lift terbuka, ia segera masuk dan menekan tombol lantai yang dituju. Pintu lift perlahan menutup, menyisakannya seorang diri di dalam ruangan sempit itu.
Nafisa menunduk. Jemarinya mulai gemetar, sementara detak jantungnya terasa semakin kencang. Ia berusaha menarik napas panjang dan berusaha menetralkannya.
Ingatan Nafisa mendadak kembali pada struk pemesanan hotel yang pernah ditemukannya.
Tenggorokannya terasa tercekat, bahkan untuk menelan ludah pun ia kesulitan.
“Mas Damar … Ibu …” gumamnya lirih.
Ia menggeleng pelan, berusaha menepis pikiran buruk yang mulai menyusup ke dalam benaknya.
“Ini gak benar, kan?”
. . .
Ding!
Pintu lift akhirnya terbuka. Nafisa segera melangkah keluar dengan tubuh yang terasa kaku. Ia berdiri sejenak di lorong hotel, sebelum akhirnya ia melangkah menyusuri lorong hotel.
Pandangannya memperhatikan angka-angka pada setiap pintu kamar satu per satu. Sesekali, ia mencocokkannya dengan nomor kamar yang tadi disebutkan resepsionis.
A17.
Nafisa terus berjalan perlahan. Semakin jauh ia melangkah, semakin kencang pula detak jantungnya. Ia bahkan harus beberapa kali menarik napas untuk menenangkan diri.
Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika melihat dua sosok di ujung lorong.
Seorang pria dan wanita berdiri berdekatan di depan sebuah kamar. Dari kejauhan, Nafisa belum bisa melihat wajah mereka dengan jelas.
Ia segera menepi dan bersembunyi di balik dinding. Jantungnya berdegup kencang ketika tangannya merogoh tas, mengambil ponsel, lalu mengarahkan kamera ke arah kedua orang tersebut.
Dengan jemari gemetar, Nafisa memperbesar gambar pada layar.
Sekejap kemudian, tubuhnya membeku.
Wajah pria itu begitu dikenalnya. Begitu pula wanita yang berdiri di sampingnya.
“Mas Damar … Ibu ….”
Suara Nafisa terdengar lirih, nyaris tak lebih dari embusan napas.
Ia menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Rasanya sulit menerima apa yang baru saja dilihatnya. Damar, suaminya sendiri, berada di hotel bersama ibu kandungnya.
Beberapa detik kemudian, keduanya membuka pintu dan masuk ke kamar tersebut.
Nafisa menurunkan ponselnya perlahan. Dadanya terasa terhimpit hingga ia kesulitan bernapas.
Setelah memastikan pintu kamar itu tertutup, ia keluar dari balik dinding dan berjalan mendekat.
Langkahnya semakin pelan saat tiba di depan kamar yang sama. Pandangannya terpaku pada nomor yang tertera di pintu.
A17.
Nomor yang tadi disebutkan resepsionis.
Nafisa memejamkan mata. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang, tetapi pertahanannya runtuh juga. Setetes air mata meluncur membasahi pipinya, disusul tetesan berikutnya.
Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Sejak kapan mereka bermain di belakangku?” gumamnya dengan suara bergetar.
Ia mengangkat tangan, hendak mendorong pintu itu dengan kasar. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara dari dalam membuatnya terdiam.
“Jangan marah, sayang. Aku sudah berusaha menjaga jarak dari Nafisa. Buat apa cemburu, hm?”
Sesaat kemudian, terdengar tawa kecil wanita yang merupakan ibunya.
“Damar, ih … kali ini pelan-pelan, ya, Dam.”
“Iya, sayang.”
Nafisa membeku.
Tangannya perlahan mengepal menahan keinginan untuk menendang pintu itu dan meluapkan semuanya. Namun, sebelum sempat melakukan apa pun, ponsel di dalam tasnya bergetar.
Nafisa tersentak.
Ia merogoh tas dengan gerakan tergesa, lalu mengeluarkan ponselnya. Nama sahabatnya tertera di layar.
Untuk beberapa saat, ia hanya menatap panggilan masuk itu tanpa bergerak. Pandangannya kembali tertuju pada pintu kamar di hadapannya.
Nafisa menyeka pipinya dengan punggung tangan. Ponsel di tangannya masih bergetar. Akhirnya, ia menarik napas panjang, lalu menolak panggilan tersebut.
Ia memasukkan ponsel kembali ke dalam tas, dan berusaha mengatur napas.
Dengan langkah berat, Nafisa berbalik meninggalkan kamar itu.
.
Di sisi lain, tepat di ruang kerja CEO, Dewangga berdiri di dekat jendela kaca. Kedua tangannya terselip di saku celana, sementara pandangannya tertuju pada pemandangan kota yang terbentang di bawah sana.
Klek.
Suara pintu terbuka disusul derap sepatu pantofel yang mendekat. Dewangga tak langsung menoleh. Ia cukup memperhatikan pantulan di kaca untuk mengetahui siapa yang baru saja memasuki ruangannya.
“Kal, ada apa?” tanyanya tenang.
“Pak, sesuai rencana, semuanya berhasil.”
Kedua sudut bibir Dewangga terangkat tipis. Ia kemudian berbalik, menatap asistennya.
“Lalu, bagaimana reaksinya?”
“Berdasarkan rekaman CCTV yang kita pantau, Mbak Nafisa masih terlihat syok, Pak. Dia bahkan sempat menangis sebelum akhirnya meninggalkan lorong hotel.”
Senyum tipis di wajah Dewangga perlahan memudar. Ia terdiam sesaat, membayangkan bagaimana perasaan Nafisa setelah mengetahui kenyataan yang selama ini tersembunyi darinya.
Namun, ia tak mengubah keputusannya.
“Tidak masalah.” Dewangga kembali memutar tubuh, menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan. “Wanita sebaik dan setulus dia tidak pantas dibodohi seperti itu.”
“Lalu, sekarang bagaimana, Pak?”
Dewangga mengembuskan napas pelan.
“Biarkan saja dulu.”
“Bapak yakin?”
“Saya tidak ingin ikut campur terlalu jauh dalam urusan rumah tangganya. Saya hanya ingin membantunya bahwa tak baik untuk mencintai seorang secara berlebihan.”
“Baik, Pak. Saya akan tetap memantau. Kalau begitu saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan.”
Dewangga mengangguk singkat.
Setelah itu, Kalendra berpamitan dan melangkah keluar. Pintu kembali tertutup, meninggalkan Dewangga seorang diri di ruang kerja.
“Semoga setelah ini kamu bisa melihat siapa mereka sebenarnya, Nafisa. Meski aku tahu apa risikonya.”
. . .
Di restoran hotel, Nafisa duduk terdiam dengan pandangan kosong mengarah ke depan. Hidangan yang tersaji di atas meja bahkan belum disentuh sedikit pun.
Bagaimana mungkin ia bisa makan dengan tenang setelah melihat sendiri suami dan ibunya memasuki kamar hotel bersama-sama? Terlebih lagi, percakapan yang didengarnya di depan pintu kamar itu terus terngiang di telinganya.
Nafisa menunduk. Ia menggenggam sendok di tangannya, lalu meletakkannya lagi karena jemarinya mulai gemetar.
“Kenapa, Naf? Kok dari tadi diam saja?” Suara Dea membuyarkan lamunannya.
Nafisa tersentak kecil, lalu mengangkat wajah. Ia mendapati Dea sedang menatapnya dengan dahi berkerut, sementara Virgo masih sibuk menikmati makanannya.
“Enggak apa-apa. Aku cuma lagi gak berselera makan.”
Ia kemudian meraih tas yang diletakkan di samping kursi. Setelah membuka ritsletingnya, ia mengambil kartu hitam pemberian Dewangga dan menyodorkannya kepada Dea.
“Ini kartunya. Aku ada urusan sebentar. Kalau sudah selesai, kalian bisa pakai kartu ini untuk membayar.”
“Eh, tapi makananmu—”
“Habiskan saja. Belum aku makan kok.”
Tanpa menunggu jawaban, Nafisa meraih tasnya dan melangkah meninggalkan meja.
. . .
Kini, di pinggir jalan, Nafisa berdiri dengan tatapan kosong. Kendaraan berlalu-lalang di hadapannya.
“Pasti ada banyak hal yang gak aku tahu,” gumamnya lirih.
Nafisa menunduk, meremas tali tas yang tersampir di bahunya.
Tak lama kemudian, sebuah angkot berwarna cerah menepi di hadapannya. Nafisa segera menghampiri kendaraan itu, lalu naik dan duduk di salah satu bangku dekat jendela.
“Pak, Jalan Bunga Anggrek, ya,” ucapnya kepada sopir.
Si sopir meliriknya sekilas melalui kaca spion. “Siap, Neng.”
Angkot kembali melaju, meninggalkan tepi jalan yang tadi menjadi tempat Nafisa menunggu.
‘Ya Allah, kenapa harus berakhir begini?’
Nafisa memejamkan mata erat-erat.
“Jangan begini, ya Allah,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Angkot terus melaju di tengah lalu lintas siang hari.
kasih kaca yg gede emakmu Nafisah, perut dah gede gitu ..dah tua juga, masih ga insaf juga...
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.