Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 KEHADIRANNYA DI DEPANKU LAGI
Sungguh jujur...
Aku bisa merasakan energi "lain" yang menuntun setiap goresan pensil di tanganku yang mulai menggambar sketsa rumah untuk anakku ini.
Di mulai dari goresan pertama...
Aku menggambar sketsa dari bentuk awal rumah. Rumah itu memiliki dua lantai.
Kemudian, aku menggambar bentuk dinding-dindingnya.
Kemudian, ku lengkapi dengan bentuk pintu, jendela, bahkan sampai detail lampu-lampunya.
Lalu, tanganku seperti semakin tak terkendali. Saat dengan detail, ku gambar juga halaman rumah itu yang cukup luas.
Dan sampai gambar terakhir, aku lengkapi dengan sebuah pagar tembok, dengan teralis besi yang mengelilingi are depan halaman rumah itu.
Dan, ku lengkapi dengan goresan gambar gerbangnya yang seperti teralis besi berwarna hitam.
Ketika sudah selesai sketsa itu ku buat, rasanya...
Jantungku berdebar lebih cepat.
Napasku sedikit memburu.
Bahkan, aku baru menyadari jika telapak tanganku berkeringat. Dan juga terasa sedikit panas.
.....
.....
"Ha-Harum..."
"Iya Bu?"
"U-udah... Selesai gambarnya Rum..."
"Waaah... Cepet banget sih Bu? Kan baru aja Ibu mulai gambar loh!"
"Hah? Baru mulai gambar?"
Aku menatap wajah anakku. Terlihat teduh kedua matanya di bawah sinar lampu ruang tamu.
Tapi, aku merasa seperti tak percaya dengan kalimatnya barusan.
Aku menggambar dengan cepat?
Aku baru saja mulai menggambar, dan tahu-tahunya sudah selesai?
Perasaan, aku menggambar sketsa rumah itu, cukup lama...
"Bu, gambar rumahnya gimana sih? Kasih tau aku dong!" ucap anakku, memecah kebingungan demi kebingunganku sendiri.
"E-emmm... Rumahnya... Mewah Rum." jawabku.
"Terus Bu? Gimana lagi bentuknya?"
"Rumahnya dua lantai, halamannya luas, dan ada gambar gerbangnya juga Rum." jelasku, sambil kembali menatap gambarku sendiri di kertas buku Harum.
"Waaah... Bagus banget Bu! Aku suka! Aku sukaaa! Hehehe..." respon anakku sambil bertepuk tangan, sangat ceria dirinya.
Tapi, berbeda dengan perasaanku.
Aku merasa heran, merasa bingung, merasa aneh.
Seolah, keanehan demi keanehan yang terjadi seperti sebuah rentetan yang tak berujung.
"Bu, gantian aku sekarang ya!" ucap anakku, dengan cepat ia mengambil pensil yang lain.
Lalu, ia mulai meraba kertas buku.
Aku pun penasaran di tengah keanehan itu.
Penasaran dengan gambar pemandangan seperti apa yang akan ia buat selanjutnya.
Ku perhatikan dengan serius setiap gerakan tangannya.
Ku perhatikan juga wajahnya.
Tapi, anehnya, aku tak melihat dalam gerakan Harum itu sesuatu yang berbeda. Tampak normal saja.
Wajahnya juga normal. Tak ada ekspresi aneh sedikitpun.
Akan tetapi...
Mulai ku sadari sebuah keanehan pada gambar yang ia buat selanjutnya.
Harumku... Mulai menggambar sesuatu di sebelah kiri sketsa rumah yang sudah ku buat sebelumnya itu.
Ia mulai menggambar kumpulan daun-daun yang lebat di bagian atas.
Daun-daun yang seperti tumbuh dari banyak cabang pohon besar.
Kemudian, ia lanjutkan menggores pensil, membuat gambar cabang-cabang pohon yang ternyata memang besar.
Anehnya bagiku, gambar Harum kali ini jauh lebih bagus dan rapi, dari pada gambar pemandangan yang sebelumnya.
Aku coba menenangkan diri melihat keanehan yang terasa "spesial" dari anakku sekarang.
Sedetik kemudian saat gambar cabang-cabang pohon itu sudah selesai, ia lanjutkan menggambar sebuah batang pohon yang jauh lebih besar.
Setiap goresan pensilnya terasa...
Seperti...
"HIDUP"...
.....
.....
Beberapa detik kemudian, sambil terus ku perhatikan gambar pohon itu, sambil terus ku rasakan "HIDUP" nya gambar pohon itu...
Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu.
Tiba-tiba, aku mengingat sesuatu.
Bahwa gambar pohon itu, terasa tak asing bagiku.
Iya...
Sangat tidak asing gambar pohon itu...
Dan semakin cepat detak jantungku, saat Harum mulai menggambar detail bentuk akarnya.
Akar-akar itu besar, saling melingkar, seperti menembus tanah yang keras.
Dan, entah apa yang terjadi dengan penglihatan kedua mataku selanjutnya.
Aku seperti melihat gambar pohon yang hampir selesai itu, dengan tatapan mataku yang terasa bewarna kuning keemasan!
Dan, selanjutnya, aku merasa seperti kehilangan kesadaran.
.....
.....
((Berpindah sudut pandang ke sisi Harum))
"Hemmm~ Hemmm~ Hemmm~~~"
Aku mulai menggambar dengan suara seperti bersenandung riang.
Entah kenapa, aku merasa ingin menggambar sebuah pohon saja di sebelah kiri gambar rumah yang sudah dibuat oleh Ibuku.
Aku mulai meraba kertas, merasakan goresan-goresan pensil yang sudah dibuat oleh Ibu menggunakan sensor di ujung jemariku.
Dan, langsung, pelan-pelan, aku gambar kumpulan dedaunan di sebelah kiri kertas. Yang terasa bersih dari goresan pensil Ibuku tadi.
Setelah dedaunan itu ku gambar, entah bagus atau tidak, aku mulai berusaha membuat gambar cabang-cabang, batang besarnya, lalu terakhir ku tambahkan gambar akarnya.
Aku merasa gambarku ini bagus, tapi entahlah...
Karena aku tak bisa melihat gambarku sendiri.
"Yeeeyyy!! Udah jadiii!! Hehehe..." kataku dengan senang, sambil bertepuk tangan sendiri.
Aku merasa bangga, akhirnya bisa menggambar sebuah rumah yang memiliki pemandangan sebuah pohon di sebelahnya.
Meskipun, gambar rumahnya itu dibuatkan oleh Ibuku.
Aku langsung menoleh ke arah Ibu di sebelahku.
"Ibu! Udah selesai nih gambarnya! Bagus gak Bu? Hehehe..." tanyaku.
Namun...
Ibuku tak menjawab.
Dia hanya diam saja.
"Ibu? Bagus gak gambarku Bu?" tanyaku lagi.
Aneh... Ibuku masih saja terdiam di sebelahku.
Aku taruh pensil yang masih ku pegang. Dan mencoba meraba tubuh Ibuku.
Saat ku sentuh pahanya, terasa aneh...
"Loh? Ini kan kain ya?" gumamku dalam hati, saat merasakan paha Ibuku memakai sebuah kain.
"Bukannya Ibu pake baju gamis ya barusan?" tambah gumamku dalam hati.
"Ibu? Bu?" panggilku sekali lagi. Namun tetap saja dia diam, tak menjawabku sama sekali.
Lalu, ku raba saja tubuh atas Ibuku.
Dan, semakin aneh. Terasa sangat jelas di kedua tanganku, baju yang dipakai oleh Ibuku sudah berubah.
Bukan baju gamis, melainkan terasa seperti sebuah baju kebaya.
Aku sampai melepas rabaan tanganku dari tubuh Ibuku.
"Buuu?" kembali kucoba memanggilnya. Dan, sambil ku tatap dengan mata butaku ke arah wajah Ibu.
Sedetik kemudian, aku terkejut bukan main.
Saat dengan sangat jelas, SANGAT JELAS!
Mataku... Mata butaku...
BISA MELIHAT!
Dan ternyata, yang duduk di sampingku bukanlah Ibu...
Melainkan...
SEKAR ARUM!
Iya...
SEKAR ARUM KEMBALI HADIR DI DEPANKU!