Ratu Shen Yue menikah di usia muda dan merebut tahta setelah tahun kelima pernikahannya. Setelah dia berhasil menduduki kekuasaan tertinggi. Wanita mulia itu tidak pernah menikah lagi. Dia hidup dalam kesendirian di sangkar besar yang ia gunakan untuk mengurung dirinya sendiri.
Di usianya yang hampir mencapai empat puluh tahun. Ratu Shen Yue menghembuskan napas terakhirnya.
Semua kehidupan itu seperti sebuah mimpi panjang. Di saat wanita itu membuka matanya untuk kedua kalinya. Dia sudah menjadi putri satu-satunya dari kediaman Bangsawan Li.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taktik
"Sudah siap?" Li Qianzhi menatap kearah kedua pelayan wanita di sampingnya.
"Siap."
"Siap."
Byuurr...
Mereka bertiga menceburkan diri masuk kedalam danau. Air danau terasa dingin namun tidak ada cara lain agar tugas dapat di selesaikan.
"Berikan kainnya." Salah satu pelayan yang ada di pinggiran danau mengulurkan perlahan ujung kain panjang.
Dengan begitu salah satu pelayan yang ada di dalam air danau bisa menariknya pelan. Kain panjang itu di tarik menuju ketengah danau. Baru setelahnya setiap ujung kain di pegang dan salah satu pelayan wanita berada di bagian tengah kain.
Perlahan mereka mulai berenang dari ujung satu keujung yang lainnya menarik kain pada permukaan air. Dengan begitu setiap daun yang jatuh di atas air bisa ikut dalam setiap tarikan.
Kedua pelayan wanita yang ada di atas danau ikut membantu. Mereka berdua bertugas mengambil setiap daun yang telah di tarik kepinggir.
Setelah dua jam penuh, semua daun yang ada di atas permukaan danau telah di bersihkan sempurna.
"Ahhh..." Li Qianzhi menjatuhkan dirinya di atas rerumputan.
Kedua pelayan wanita juga melakukan hal yang sama. Mereka telah berenang selama dua jam. Rasa dingin juga sudah merasuk ketubuh mereka.
"Nona Li." Salah atau pelayan wanita datang membawa gelas berisi air hangat. "Terima kasih sudah memikirkan cara yang sangat hebat."
Li Qianzhi bangun. Dia mengambil gelas itu lalu meminum air hangat yang ada di dalamnya.
Dua pelayan lainnya juga meminum air hangat untuk menghilangkan hawa dingin di tubuh mereka.
"Benar. Kita jadi dapat beristirahat lebih cepat. Saat daun berguguran lagi kita dapat melakukan hal yang sama. Agar air danau tetap bersih."
"Ada yang datang."
Semua orang bangkit dari rerumputan.
Dari arah jalur setapak yang berada di bagian timur. Hakim Zhen berjalan santai bersama seorang pria muda. Dia adalah Ketua Mahkamah Agung Zhang Wei.
Melihat hal itu Li Qianzhi segara menundukkan kepalanya. Dia tidak pernah berpikir pria itu akan datang langsung kekediaman Zhen. 'Jangan sampai dia melihatku.' Gumamnya dalam hati.
Hakim Zhen terkejut menatap danau yang sudah sangat bersih dalam waktu singkat. "Kalian yang membersihkan semua daun di danau?"
Semua pelayan memberikan anggukan. "Benar."
Kepuasan terlihat dalam raut wajahnya. "Bagus. Ini sangat bagus. Tuan Zhang, lihat danau tanpa kotoran di atasnya. Akan terlihat sangat indah. Seperti cermin raksasa yang sangat menawan."
Zhang Wei hanya memberikan senyuman kecil.
Hakim Zhen mengeluarkan lima lembar uang bernilai seratus tahil. "Kalian berhak mendapatkannya."
"Terima kasih banyak Tuan."
Semua pelayan wanita itu menerima uang tambahan dengan penuh semangat. Apa lagi nilainya sangat besar.
Li Qianzhi terus menutupi wajahnya dengan mengacak rambutnya yang basah. Sehingga sebagian wajahnya dapat tersamarkan.
"Tuan Zhang, mari. Kita lanjut perjalanan. Aku akan memperlihatkan beberapa dokumen yang anda inginkan," ujar Hakim Zhen kembali melangkah.
Zhang Wei mengikuti dengan tenang. Di saat kakinya akan melewati ambang pintu menuju halaman dalam. Dia melirik kearah penyusup yang masih berusaha menyembunyikan dirinya. Kepalanya menggeleng pelan dengan senyuman tipis di bibir sampingnya.
"Kita juga harus berganti baju dan kembali ke kamar," ujar salah satu pelayan wanita.
Semua orang juga setuju. Mereka segara pergi menuju halaman khusus tempat para pelayan wanita tinggal.
"Nona Li, kamu bisa menggunakan ini." Seorang pelayan wanita mendekat membawakan baju ganti.
"Terima kasih."
"Kamu bisa berganti di kamar kami terlebih dulu. Biasanya untuk pelayan yang baru masuk. Tempat tinggal masih di siapkan. Dan pembagian baru akan di lakukan nanti malam," ujar salah satu pelayan wanita. "Oh iya, kau bisa memanggilku Ji Du."
"Aku Fu San."
"Aku Su Nian."
"Gu Gun."
"Li Qianzhi."
Setelah perkenalan singkat itu. Li Qianzhi masuk kedalam ruangan kamar untuk berganti baju yang lebih bersih dan kering.
"Tuan muda."
Belum sempat Li Qianzhi membuka pintu kamar setelah berganti baju. Tuan muda Zhen Qian sudah terlebih dulu datang bersama dua temannya.
"Bukankah mereka cukup cantik! Kalian bisa memilih pelayan yang kalian butuhkan. Aku akan mengurus sisanya," ujar Tuan muda Zhen Qian.
Tatapan bringas itu membuat semua pelayan wanita ketakutan.
Li Qianzhi masih diam lalu di menit berikutnya.
Brkakk...
Pintu di buka cukup kuat.
"Tuan muda Zhen." Dia datang memberikan hormat.
Li Qianzhi melirik kearah Gu Gun. Pelayan wanita itu mendekat. Dia mengambil sepucuk surat di tangan Li Qianzhi lalu menyimpannya.
Tuan Muda Zhen Qian menatap dengan seringaian. "Bukankah kamu wanita gila yang telah mengakibatkan aku masuk kedalam penjara." Dia mendekat. "Apa yang aku lakukan di sini? Sudahlah aku tidak perduli apa niat awalmu. Yang pasti hari ini kamu harus menjadi milikku." Dia menarik paksa tangan Li Qianzhi dengan sangat kuat. "Hahah... Aku akan membuatmu memohon untuk mati."
"Zhen Qian, bagaimana dengan kami?" Teriak salah satu pemuda itu.
"Kalian bisa ikut berpesta."
"Baik. Kami berdua tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga ini."
Wajah-wajah penuh nafsu itu mendekat seperti hewan yang telah siap dalam masa kawin.
Semua pelayan wanita menatap ketakutan.
Gu Gun membuka kertas yang di berikan Li Qianzhi. Tertulis, "Jangan takut meskipun pada akhirnya kalian membunuh mereka. Hari ini kediaman Zhen akan hancur."
Melihat tulisan itu Gu Gun langsung memperlihatkannya kepada pelayan wanita lainnya.
Seketika pandangan mereka berubah tajam.
"Semuanya. Hajar..." Teriak Gu Gun kuat.
"Aaaa... hajar..."
Semua pelayan wanita yang berjumlah sepuluh orang langsung menghajar dua pemuda gila itu. Dulu mereka selalu takut jika mereka melawan. Penyiksaan akan mereka dapatkan sebelum di buang menjadi budak buangan. Tapi kini dengan keyakinan yang di berikan Li Qianzhi. Kemarahan mereka tidak lagi dapat di bendung.
Sedangkan Li Qianzhi yang masih di tarik paksa tetap tidak melawan.
Brakkk...
Tubuhnya di dorong kuat menuju kearah tempat tidur.
Dengan tidak sabar Tuan muda Zhen Qian melepaskan setiap ikatan di bajunya. "Kau harus memuaskanku. Baru setelah itu aku ingin mengunyah setiap daging di tubuhmu."
"Iissss... Ini cukup menyakitkan. Kenapa orang kaya seperti kalian bisa memiliki kasur sekeras batu." Li Qianzhi mengelus siku tangan kanannya yang terbentur cukup kuat.
Brkakak....
Palkkk...
Zhang Wei menyerbu masuk dengan cepat. Dia mengajar Tuan muda Zhen Qian dengan sangat keras.
Bruuu...
Darah segar menyembur dari mulut pria itu.
"Tuan Zhang, apa yang kau lakukan?" Hakim Zhen membantu putranya bangkit dari lantai.
Melihat itu raut wajah Li Qianzhi berubah. "Aaaaa... Suamiku. Aku hanya ingin berjalan-jalan di dekat penginapan. Tapi pria itu justru menculikku dengan paksa." Li Qianzhi berlari menghampiri Zhang Wei. Dia memeluknya dengan kuat. "Untung saja kau bisa datang tepat waktu. Jika sampai terlambat. Kesucianku akan ternoda." Tangisannya pecah menggema di ruangan itu.
Mendengar itu Hakim Zhen terkejut. Dia langsung berlutut, "Tuan Zhang, ini pasti sebuah kesalahpahaman. Tidak mungkin putraku memiliki keberanian mengambil istri anda."
"Kesalahpahaman? Hakim Zhen, apa aku buta. Sehingga tidak bisa melihat kegilaan putramu sendiri." Tatapan mematikan Zhang Wei membuat pria paruh baya di depannya bergetar.
"Suamiku..." Li Qianzhi terus merengek dengan tangisan.
"Tenang saja aku pasti akan membuatnya membayar dengan nyawanya." Dia melepaskan pelukan Li Qianzhi. Berjalan mendekati Tuan muda Zhen.
"Tuan Zhang, saya mohon biarkan saya yang membayar kesalahannya." Hakim Zhen bersujud.
Brkak...
Namun tubuhnya justru di tendang dengan kuat.
Dalam sekali tekanan.
"Aaaaaaa..."
Tuan muda Zhen Qian bertariak kuat di saat kejantanannya di injak Zhang Wei.
Drakk...
Li Qianzhi menatap dingin melihat pemandangan megilukan itu.
Wakil Quan Jing datang. Dia melemparkan pedang tajam di tangannya.
Pedang di tangkap Zhang Wei. Kakinya di angkat.
Sseetttt...
"Aaaa... Tidak... aaaa..." Tuan muda Zhen berteriak semakin histeris. Di saat kemuliaan seorang pria di potong habis tanpa sisa.
Darah mengalir tanpa henti.
"Putraku, putraku..." Tuan Zhen segara memeluk tubuh putranya.
Zhang Wei melemparkan pedang di tangannya kembali. Lalu dia berjalan mendekati Li Qianzhi. Dia memeluk calon istrinya itu mengajaknya untuk pergi dari ruangan kamar.
"Tangkap semua orang yang ada di kediaman Zhen. Sita dan lakukan pemeriksaan secara menyeluruh," tegas Zhang Wei sebelum melewati ambang pintu.
"Baik."
Semua mata-mata yang telah bersembunyi selama beberapa waktu. Langsung keluar ikut melakukan penangkapan dan pembersihan di kediaman Hakim Zhen.