NovelToon NovelToon
Analepsis

Analepsis

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan

Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.

Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analepsis ^ 11

Jika ada kesempatan untuk kembali ke masa kelam, mungkin hal itu akan Yumna lakukan tanpa berpikir berulang kali. Karena Yumna ingin memperbaiki sikapnya yang mungkin sampai saat ini masih di pandang sebagai orang tidak tahu terima kasih.

Tapi di sisi pemikiran, Yumna tidak ingin melihat sang ibu menangis dibawah lentera yang tidak begitu terang. Dan Yumna juga tidak lagi mau menjadi saksi sang kakak, berapa beratnya bertahan di bawah ocehan tidak jelas dari para perundung.

"Entah harus bersyukur untuk hari ini, atau terpaksa menerima takdir dari semesta." Gumam Yumna. Membuang napas berat. Terus melangkah ke arah rumahnya berada, hingga tubuhnya sedikit ternyak akan sikap hangat dari seorang pria, begitu damai mengambil alih tas selempang Yumna yang dia tenteng dengan asal.

"Tidak baik melamun dimalam hari. Itu sangat beresiko untuk kesehatan mu." Begitu tenang kalimat itu tercetus dari mulut Rama. Menyunggingkan senyumannya, menatap Yumna penuh kasih.

"Tidak biasanya kau pulang cepat. Apa masalahnya sudah selesai?" Bukanya tidak suka melihat Rama pulang lebih awal. Hanya saja, rasanya sangat aneh. Karena setahu Yumna, Rama akan pulang bersama Tirtha. Tapi tidak untuk malam ini. Yumna juga tidak melihat tanda-tanda kehadiran Tirtha.

"Mereka masih mendiskusikannya lagi. Mungkin finalnya besok siang." Balas Rama. Melihat ke depan, dengan langkah pelan. Karena ingin menikmati moment bersama dengan sang adik.

"Bagaimana perasaan mu? Apa kau kecewa melihatnya lagi?" Sebentar Rama melihat Yumna dari samping, yang tidak membalas tatapan Rama.

"Bagaimana dengan mu sendiri? Apa kau mau menerimanya lagi?" Alih Yumna. Karena dirinya tidak tahu harus memberi respon seperti apa. Isi hati dan pikirannya saat ini tidak sinkron sama sekali.

"Mau bagaimanapun, kesalahan itu tidak ada pada dirinya. Jika saat itu aku ada di rumah, mungkin kita bisa melihatnya setiap hari." Lengkungan kecil tidak sempurna yang masih Rama tunjukkan mampu membuat Yumna membuang napas berat.

"Kau menyalahkan dirimu lagi." Pelan Yumna yang masih bisa didengar oleh Rama. Hanya tersenyum kecil, menunduk sekilas.

"Kau harus tahu jika isi pikiran pria itu normal, dia tidak akan melakukan hal gila itu. Membawa anak itu kerumah tanpa rasa bersalah. Dan tidak menyangkanya lagi, dia memilih pergi ikut bersama ayah setelah ibu susah payah memberinya makan." Tidak ada rasa iri sedikit pun di benak Yumna. Hanya saja, entah kenapa Yumna terus merasa kesla jika mengingat kejadian itu.

"Seharusnya dia tetap tinggal membalas jasa ibu." Tambah Yumna, dengan senyum getirnya.

Sedangkan Rama sendiri memilih diam, paham dengan perasaan Yumna saat ini. Tapi Rama juga tidak bisa menaruh rasa benci pada gadis kecil itu. Karena gadis itu memang tidak tahu apapun.

"Terus, bagaimana dia bisa berakhir di perusahaan? Apa kau membawanya?" Rasa ingin tahu perlahan tumbuh diruang kecil jiwa Yumna.

"Sejak dia pergi dari rumah, baru hari ini aku melihatnya. Dan Elvarrio yang menawarinya untuk bergabung di perusahaan." Jawab Rama apa adanya. Rama juga tidak mau menutupi sedikit pun hal sepele pada Yumna. Karena Rama tidak ingin masalah kecil itu menjadi besal.

"Jika dia bergabung diperusahaan, itu tidak masalah sama sekali. Tapi yang disayangkan, Elvarrio menawarinya saat dia berada di club. Itu akan menjadi masalah ke depannya nanti." Sambung Rama. Dengan pikiran yang sangat penasaran. Kenapa gadis itu bisa berada di club? Bukankah seharusnya dia tidak pergi ke tempat itu?

"Walaupun dia tidak memiliki catatan kriminal, tapi hal itu harus tetap dihindari." Rama menuntaskan perkataannya.

Hingga langkah mereka mulai memelan saat pandangan melihat kearah seseorang yang tengah duduk sendiri, dengan kepala yang dia sembunyikan dibalik kedua tangannya itu.

"Apa yang dia lakukan?" Begitu rendah kalimat itu tercetus dari mulut Yumna. Yang tidak mendapat sahutan dari Rama. Berjalan mendekat untuk memastikan jika orang itu baik-baik saja.

"Malla__" sangat pelan tapi begitu menenangkan menusuk jiwa. Rama menaruh telapak tangan kanannya di lengan Malla. Kini perlahan menegakkan lehernya untuk melihat siapa pemilik suara itu.

"Seharusnya kau langsung masuk kedalam, bukannya duduk disini." Ucap Rama yang tidak langsung mendapat jawaban dari Malla.

"Apa aku pantas masuk ke dalam? Lantai rumah itu akan kotor jika aku menginjaknya." Sahutan dari Malla terdengar begitu pelu.

Belum juga Rama membuka mulut, suara Yumna menarik perhatian dia insan di hadapannya dengan sorot mata berbeda. "Siapa bilang kau tidak pantas masuk ke dalam rumah? Siapa yang melarang mu? Tidak ada!! Tidak ada yang melarang mu."

Bendungan yang sejak tadi Malla pertahankan kini tidak lagi bisa Malla cegah untuk tidak keluar membasahi pipi mulusnya. Perasaan sedih, senang, tidak enak pun bercampur menjadi satu di dalam sukma Malla. Benar-benar merasa menjadi orang yang tidak tahu diri di antara Sauda-saudaranya.

"Jika pun kau bukan saudara kandungku, tapi aku tidak bisa membenci mu. Karena mau bagaimana pun, kita masih memiliki aliran darah yang sama." Timpal Yumna, dengan jiwa yang terus wanita itu pertahankan untuk tidak runtuh. Yumna tidak ingin lagi di pandang sebagai wanita lemah, karena hal sepele.

Suara pintu yang terbuka dari luar membuat Yumna mengalihkan pandangannya untuk melihat sosok wanita setengah paru baya, terlihat kebingungan. Mungkin sang ibu penasaran akan keributan kecil di luar rumah, hingga kakinya melangkah keluar. Mendapati kedua anaknya, dan...

Perlahan melangkah turu, untuk melihat siapa gadis muda yang masih duduk membelakanginya. "Rama, dia sia--" belum juga ibu menuntaskan perkataannya, kedua manik mahoni milik sang gadis membalas tatapannya secara perlahan.

Mampu membuat kedua kaki wanita itu tidak lagi bisa menahan tubuhnya untuk tetap tegak. Ekspresi itu terlihat senang, pedih. Melihat putri kecilnya kembali yang sudah lama tidak lagi bisa pandangannya gapai.

Tangan kiri sang ibu sebentar menutup mulutnya, kedua matanya sedikit membulat. "Malla__" panggilnya dengan penuh rasa lega. Membuat Rama memberi ruang untuk ibunya dan Malla.

"Bagaimana dengan kabarmu? Kau baik-baik saja bukan?" Tanya sang ibu sembari mengusap pelan kedua lengan Malla. Sulit memberi sahutan, kecuali memeluk tubuh yang selama ini Malla rindukan.

"Maafkan aku ibu." Tangis yang sejak tadi Malla sembunyikan kini ditemukan oleh anggota keluarganya.

"Maafkan aku, seharusnya aku tidak pergi meninggalkan ibu. Seharusnya aku tetap disamping ibu. Maafkan aku ibu." Sambung Malla disela tangisannya.

"Kau tidak perlu minta maaf, karena kau tidak salah sama sekali. Seharusnya ibu yang bilang maaf padamu. Karena ibu tidak bisa menahan mu untuk tetap tinggal." Bohong jika sang ibu tidak merasa bersalah untuk kali ini. Tangan kasar itu mengusap lembut punggung Malla. Membiarkan rasa sesak Malla terobati dengan tangisan sendu itu.

Sedangkan Yumna yang melihat itu mengajukan diri untuk di bawah anak tangga dekat sang ibu. Menyempatkan mengusap kepala Yumna yang sedikit bersandar pada tubuhnya. Dan Rama sendiri berusaha untuk menenangkan sang ibu dengan tepukan pelan di punggung ibunya.

1
Lepidoptera
Penulisannya unik, semangat jugaaaa❤️
najmun_huda
ganba kakak
Storyginal Finger
izin mampir. mau baca cerita kamu ya👍
dilla11
semangat kak 💪
Maru De Hehe
Makasih kakak, saling support, mantap
Agung Khan: ceritanya bagus kak, terimakasih sebelumnya sudah mengunjungi profil saya, mohon bimbingannya ya, saya belajar menulis.🙏
total 1 replies
Adelia Putri
semangat kk,saling support yaaa
yupiana
lanjuttt saling support 💪😍
Kiara Maulida Aizaaa
saling support ya kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!