Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Baru
Alana Berdiri di depan Cermin besar yang ada dikamarnya ,dia membayangkan saat itu ia berada diantara hidup matinya di derasnya air sungai "Dingin".
Hanya itu yang Alana rasakan saat itu ,saat air memenuhi paru-parunya sebulan yang lalu. Dingin yang mencekam, sedingin tatapan Rendy saat pria itu melepaskan genggaman tangannya di tepi tebing malam itu.
Di bawah malam itu, suaminya pria yang ia cintai selama enam tahun, pria yang ia bantu bangun kariernya dari nol hingga menjadi raksasa properti tega mendorongnya ke dalam kegelapan dan derasnya air sungai hanya demi wanita lain dan harta,serta uang asuransi.
Namun, maut ternyata belum menginginkannya. Takdir memiliki selera humor yang gelap. Derasnya aliran sungai tidak membawanya ke dasar samudera, melainkan melemparkannya ke berbatu pinggir sungai di mana Arka menemukannya.
Kini, di sebuah rumah mewah yang menghadap ke cakrawala kota, Alana berdiri di depan cermin besar. Ruangan itu sunyi, hanya detak jam dinding yang terdengar seperti detak jantung yang haus akan darah.
Alana menatap pantulan dirinya. Di sana, tidak ada lagi Alana yang lembut, Alana yang selalu tersenyum tulus, atau Alana yang naif yang membiarkan dirinya dipijak-pijak atas nama pengabdian seorang istri. Kulitnya yang dulu pucat karena sakit kini tampak bersinar setelah serangkaian perawatan intensif dan operasi rekonstruksi kecil pada bagian wajah yang hancur menghantam karang.
Ia menyentuh bekas luka tipis di sudut rahangnya yang sudah memudar dan yang kini tersembunyi dengan sempurna oleh riasan profesional.
"Alana sudah mati, Rendy," bisiknya, suaranya parau, menyimpan getaran kebencian yang merambat hingga ke tulang. "Kau sendiri yang membunuhnya di malam itu. Yang tersisa hanyalah hantu yang akan menyeretmu ke neraka."
Tok ..tok .."
"Alana boleh aku masuk ?"
"Masuk aja tidak dikunci ."sahut Alana
Pintu kamar terbuka. Arka masuk dengan langkah tenang. Pria itu adalah teka-teki; seorang pengusaha jenius yang memilih bergerak di bawah radar, menggunakan asistennya, Budi, sebagai tameng publik. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa kekuatan finansial Arka mampu meruntuhkan bursa saham dalam semalam.
"Semua sudah siap," ucap Arka datar. Ia meletakkan sebuah paspor berwarna merah marun dan setumpuk dokumen legal di atas meja rias. "Mulai detik ini, kau adalah Elena Van Doren. Pewaris tunggal Van Doren Group yang baru kembali dari Eropa. Identitasmu di masa lalu telah dihapus hingga ke akar-akarnya. Secara hukum, Alana Adiguna telah dinyatakan meninggal karena kecelakaan dan hilang didasar sungai "
Alana mengambil paspor itu. Ia menatap foto dirinya yang baru. Rambutnya yang dulu panjang dan cokelat kini dipotong pendek dengan gaya bob yang tajam dan berwarna hitam legam. Matanya yang dulu penuh kehangatan kini sedingin es di kutub utara.
"Mengapa kau membantuku, Arka? Kau tahu ini akan berbahaya," tanya Alana tanpa menoleh.
Arka berdiri di belakangnya, menatap pantulan Alana di cermin. "Karena aku benci melihat orang-orang yang merasa dirinya Tuhan hanya karena memiliki sedikit kekuasaan. Rendy adalah parasit. Dia membangun kerajaannya di atas keringatmu, lalu mencoba membuangmu seperti sampah setelah dia merasa cukup kuat. Aku hanya memberikan alatnya, Elena. Kau yang akan mengeksekusinya."
Alana mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Dia tidak hanya membunuhku, Arka. Dia juga membunuh,cinta dan susah menginjak harga diriku ."
Suara Alana pecah, namun tidak ada air mata yang jatuh. Air matanya sudah kering di malam ia tenggelam. Yang tersisa hanyalah nanah kebencian yang membatu
****
Strategi Penghancuran
Selama berminggu-minggu, Alana kini Elena mempelajari setiap detail kelemahan Rendy. Ia tahu bahwa Rendy adalah pria yang rakus namun tidak sabaran. Proyek Adiguna City adalah pertaruhan besar Rendy; sebuah proyek ambisius yang membutuhkan likuiditas luar biasa besar. Rendy telah meminjam uang ke sana kemari, menjaminkan hampir seluruh aset perusahaan.
"Dia menggunakan uang asuransi kematianku sebagai modal awal," ucap Elena dengan tawa dingin yang mengerikan saat mereka memeriksa laporan keuangan rahasia Adiguna Group. "Dia membeli perhiasan untuk Lisa, selingkuhannya itu, dengan harga nyawaku."
"Lisa bukan sekadar selingkuhan," Arka menambahkan sambil menyodorkan sebuah foto. "Dia adalah dalang di balik ide penghilangan nyawamu. Dia yang mendesak Rendy agar proyek ini segera berjalan tanpa gangguan darimu yang memegang hak suara mayoritas saham."
Elena menatap foto Lisa yang sedang tersenyum lebar sambil memamerkan tas mewah di sebuah butik. Amarah menyambar di dada Elena seperti petir.
"Dia ingin menjadi nyonya di rumahku? Dia ingin memakai perhiasanku? Silakan. Semakin tinggi mereka terbang, semakin hancur tulang mereka saat aku menjatuhkannya nanti."
Elena menyusun rencana dengan sangat teliti. Ia tidak akan langsung membunuh mereka. Itu terlalu mudah. Ia ingin Rendy merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya harta, nama baik, dan akhirnya kewarasannya.
"Aku akan masuk ke kehidupannya sebagai penyelamat," Elena merencanakan dengan suara yang tenang namun mematikan. "Aku akan menjadi investor yang dia damba-dambakan. Aku akan membuatnya memuja kakiku, membuatnya mengkhianati Lisa, dan ketika dia sudah berada di puncak harapan, aku akan menarik tanah tempatnya berpijak."
### Malam Persiapan
Malam sebelum pesta peluncuran, Elena berdiri di balkon, memandang lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Di tangannya ada sebuah botol anggur mahal, namun lidahnya hanya bisa mengecap rasa pahit.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Rendy yang menyeringai saat ia terjatuh dari tebing. Ia mendengar suara Lisa yang tertawa di latar belakang. Ingatan itu adalah cambuk yang memicu detak jantungnya.
"Kau siap?" Arka muncul di sampingnya, mengenakan setelan jas yang sempurna.
"Lebih dari siap," jawab Elena. Ia meminum anggurnya dalam sekali tegak. "Malam ini, singa betina akan masuk ke sarang serigala. Dan serigala itu akan mengira aku adalah domba yang membawa emas."
Arka menatapnya dengan kekaguman yang tersembunyi. "Ingat, kau adalah Elena Van Doren. Wanita yang tidak punya belas kasihan. Jangan biarkan sisa-sisa Alana menghalangimu."
Elena menoleh, menatap Arka dengan mata yang tajam. "Alana sudah tenggelam di dasar sungai, Arka. Aku adalah pembalasan dendam yang mewujud."
Ia mengenakan sarung tangan renda hitamnya, menutupi jemarinya yang gemetar bukan karena takut, tapi karena kegembiraan yang gelap. Pesta itu akan menjadi awal dari akhir segalanya.
### Menuju Medan Perang
Mobil Rolls-Royce hitam berhenti di depan lobi hotel bintang lima. Kilatan kamera wartawan langsung menyambar saat pintu mobil terbuka. Arka turun terlebih dahulu, memberikan kesan sebagai bawahan yang setia, meski auranya sendiri sudah cukup untuk membungkam kerumunan.
Elena melangkah keluar.
Gaun hitam backless yang ia kenakan berkilau di bawah lampu jalanan, kontras dengan kulitnya yang mulus dan dingin. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma kota yang sebentar lagi akan menyaksikan kejatuhan seorang Rendy Pratama
"Ayo, Arka," bisik Elena. "Mari kita lihat seberapa lebar senyum mantan suamiku saat dia melihat mautnya datang dengan mengenakan gaun indah."
Setiap langkah Elena di atas karpet merah menuju aula pesta adalah dentang lonceng kematian bagi mereka yang berkhianat. Ia tidak hanya datang untuk mengambil kembali apa yang miliknya, ia datang untuk menghancurkan seluruh dunia yang telah mengkhianatinya.
Pintu besar aula itu kini berada di hadapannya. Di balik pintu itu, ia bisa mendengar suara tawa Rendy dan musik orkestra yang megah.
"Skakmat dalam tiga puluh hari," batin Elena.
Dengan satu dorongan kuat, pintu itu terbuka. Dan saat itulah, permainan yang sesungguhnya dimulai.