NovelToon NovelToon
LOVE ME, PLEASE!

LOVE ME, PLEASE!

Status: sedang berlangsung
Genre:Patahhati / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / BTS
Popularitas:167.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: Min Ziy. Minfiatin FauZiyah

"Cerai, atau kamu mau jadi yang kedua!"

Pagi itu Elena dan Arsen suaminya tengah melakukan sarapan bersama seperti biasanya, namun satu kalimat tanya dari Arsen sukses menghancurkan hati Elena berkeping-keping.

Arsen memiliki wanita lain yang ia cintai, dan Arsen akan menikahinya. Menduakan Elena yang sudah setia menunggunya selama dua tahun bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dipercepat

Kak Arsen nampak serius mengobati luka di kakiku, ia terlihat telaten hingga selesai membalutnya dengan sempurna.

Kenapa Kak Arsen peduli dengan luka yang hanya dalam beberapa hari saja akan sembuh, sedangkan ia begitu acuh atas luka hati yang pasti akan membekas sekali.

"Sudah," Kak Arsen menurunkan kakiku dari pahanya, ia selonjorkan kakiku di atas ranjang.

Kak Arsen berdiri, hendak pergi. Membawa kembali kotak obat yang semula ia bawa.

"Kak Arsen sudah makan?" tanyaku menghentikan langkahnya, aku merubah posisi duduk.

"Belum," jawabnya singkat sambil berbalik menoleh padaku. Aku menurunkan kedua kaki dari ranjang, hendak berdiri.

"Kamu ngapain?" Kak Arsen memegang kedua pundakku, mendudukkanku kembali di tepian ranjang.

"Mau masak buat sarapan kita," jawabku polos.

"Nggak perlu, Kakak akan pesan makanan go food saja, hari ini nggak usah masak, kamu istirahat saja. Dan yah, nggak usah ke cafe, aku akan hubungin Hadi kalau kamu nggak ke sana." perintah Kak Arsen yang sadar atau tidak sudah membuat hatiku luluh. Jatuh cinta ke sekian kalinya pada orang yang sama.

Kak Arsen ku yang dulu hangat, perhatian, baik, seolah telah kembali. Aku mengulas senyum lebar karena bahagia, atas perlakuannya.

Kak Arsen menaruh kotak obat di atas nakas, kemudian ia membaringkanku, menarik selimut sedada.

"Istirahat saja," ucapnya lembut, hatiku benar-benar menghangat oleh perlakuannya, inilah Kak Arsen yang sangat kurindukan.

"Aku minta sama kamu, nggak usah ketemu lagi sama Hengky, bisa?"

Sontak senyumku yang semula mengembang sirna. Kak Arsen lagi-lagi melarangku untuk bertemu dengan Kak Hengky, padahal kami hanya berteman biasa. Tapi, jika itu bisa membuat Kak Arsen menerimaku, kenapa tidak? Aku bahkan sanggup meninggalkan dunia untuknya.

"Bisa," jawabku patuh.

"Good, dan jangan pernah minum lagi kalau nggak lagi sama Kakak. Kamu tanggung jawab Kakak, kalau ada apa-apa sama kamu gimana? Kamu mau Kakak repot gara-gara kamu?"

Aku menggeleng cepat. Tentu aku tidak mau merepotkan atau pun menyusahkan Kak Arsen.

"Good, sekarang istirahat, nanti Kakak ke sini lagi sambil bawain makanannya kalau udah datang." Kak Arsen mengusap rambutku. Aku sangat senang, benar-benar senang.

Hari ini Kak Arsen bahkan tidak pergi ke kantor, ia mengerjakan tugasnya di rumah, aku tahu aku tidak boleh terlalu percaya diri, tapi perasaanku kuat mengatakan jika Kak Arsen ingin menemaniku, menjagaku.

Aku duduk di sofa lain, menyalakan tivi, namun perhatianku sepenuhnya pada Kak Arsen yang nampak sibuk dan serius dengan laptop dan berkas.

Tanpa terasa hari terlewati begitu saja, waktu selalu terasa lebih cepat saat bersama Kak Arsen.

Ponsel Kak Arsen yang ia letakkan di atas meja depan sofa berdering, satu panggilan masuk. Kak Arsen meraih ponselnya, seketika itu juga raut mukanya berubah kala melihat layar yang menyala, tidak salah lagi, itu pasti Nindy.

Samar-samar kudengar suara perempuan menangis dari ponsel Kak Arsen saat Kak Arsen menerimanya, ia kemudian menjauh dan aku tak dapat lagi mendengar percakapan mereka. Tapi yang jelas, Kak Arsen nampak begitu khawatir dan panik. Ia mencoba menjelaskan sesuatu dari gerak tangannya, yang tentu aku tak tahu. Entah apa.

"Kakak harus pergi, kamu baik-baik di rumah." ucap Kak Arsen menghampiriku, sambil meraih kontak mobil yang ada di atas meja.

"Nindy?" tanyaku lirih, hatiku selalu terasa nyeri setiap kali Kak Arsen lebih mengutamakan wanita cantik yang menjadi rival terberatku itu

Kak Arsen hanya mengacak rambutku, tanpa memberikan jawaban, kemudian ia pergi. Tak lagi mempedulikanku yang sudah menangisi dirinya.

***

Hari itu aku tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Kak Arsen tiba-tiba pergi, hingga beberapa hari kemudian, untuk pertama kalinya aku datang ke cafe setelah kakiku sembuh.

Kak Hengky datang menemuiku, ia kecewa atas sikapku yang mengabaikannya. Bahkan aku terpaksa memblokir semua sosmednya. Menuruti perintah Kak Arsen.

"Kenapa harus gini? Kenapa harus menjauh di saat Kakak sudah semakin merasa nyaman dan yakin sama kamu,"

"Maksud Kak Hengky apa?"

"Aku,,,," Kak Hengky menjeda, ia nampak berpikir, menarik napas dalam menghembuskannya perlahan, sebelum akhirnya ia melanjutkan.

"Aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu."

Aku mematung, mendengar pernyataan perasaan Kak Hengky yang jelas kunilai salah, aku menganggapnya sebagai teman, tidak lebih.

"Apa yang Kak Hengky katakan?" hatiku berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, tapi takut. Takut melukai perasaannya karena aku tahu bagaimana rasanya patah hati akibat cinta bertepuk sebelah tangan.

"Aku serius, Elena, saat kamu menghilang, aku merasa kacau. Aku jatuh cinta sama kamu."

"Kak Hengky, please. Don't love me. Aku udah punya suami,"

"Suami?" tawa sumbang Kak Hengky terdengar.

"Suami macam apa yang kamu maksud, Elena? Dia bahkan telah menikahi Nindy beberapa hari yang lalu."

DEG

Bagai disambar petir, jantungku bergetar sakit mendengar pernyataannya.

Menikah? Yah, aku tahu. Kak Arsen sudah pernah mengatakannya padaku dulu, tapi, kenapa harus tiba-tiba seperti ini? Sedang beberapa hari terakhir sikap Kak Arsen justru mulai berubah, lebih baik padaku.

***

Jadi, itulah alasannya waktu itu dia pergi tergesa setelah menerima panggilan dari Nindy.

Kak Hengky membuka rahasia Kak Arsen di dalam grup teman sekolah bahwa dia sebenarnya sudah menikah, membuat Nindy patah hati, sedih, marah, murka dan depresi.

Nindy mengancam akan bunuh diri. Dan Kak Arsen tak memiliki pilihan lain selain mempercepat pernikahan mereka dan menikahinya saat itu juga, membuktikan pada Nindy bahwa seluruh cinta Kak Arsen hanyalah untuknya. Tidak untuk yang lain bahkan meski ada perempuan lain yang sudah menjadi istri pertamanya.

Aku menangis di ruang staf cafe, tidak sanggup untuk pulang, setelah Kak Hengky menjelaskan semuanya.

Beruntung, Kak Hengky tak mengatakan pada teman-teman sekolah Kak Arsen siapa wanita itu, atau jika sampai mereka tahu, pasti mereka semua akan menyalahkanku, menyerangku, menyudutkanku, karena telah dianggap merebut Kak Arsen dari Nindy yang sudah bersama sejak masa sekolah.

***

Aku masih menangis, menjatuhkan kepala di atas meja, membenamkan wajah pada berkas yang sudah basah karena air mata.

Yoyo sudah pulang, sedang Sisca dan Hadi tidak tega meninggalkanku, meski aku sudah meminta mereka untuk pulang saja, namun mereka berdua bersikeras untuk tetap menemaniku. Hingga malam tiba.

Ponselku yang ada di dalam tas berkali-kali bergetar, kuyakin, itu pasti Kak Arsen. Dia pasti mencariku karena belum juga pulang.

"Elena," lirih Sisca mengelus kepalaku, suaranya sendiri terdengar bergetar dan sesenggukan. Sisca selalu ikut menangis setiap aku bersedih. Seakan ikut merasakan beban yang kupikul.

Aku mendongak. Cukup, sampai kapan mau menangis terus menerus? Ini memang sudah menjadi pilihanku, untuk tetap bertahan meski hanya sebagai yang kedua. Tapi kenapa harus sesakit ini?

"Kita pulang, kalian pasti lelah seharian bekerja. Sekarang aku malah menyusahkan kalian dengan mengajak kalian galau bersama." kuakhiri kalimat dengan tawa getir.

Aku berdiri. Mengusap wajah yang basah. Sisca memelukku erat, Hadi menatapku dengan mata berkaca-kaca.

"Menyerahlah,,,, kumohon menyerahlah,,,,, cerai saja!" raung Sisca menangis kencang. Hatiku sangat sakit mendengarnya. Lebih sakit saat menerima kabar pernikahan Kak Arsen dan Nindy.

Haruskah aku menyerah? Dan merelakan Kak Arsen? Tapi, bagaiamana jika aku tidak mampu berpisah darinya? Aku teramat sangat mencintainya. Aku tidak bisa hidup tanpa Kak Arsen.

Kenapa Tuhan tidak mencabut nyawaku saja? Membiarkan aku berkumpul bersama Papah dan Mamah yang benar-benar menyayangiku.

Pah,,,, Mah,,,, aku merindukan kalian.

***

1
Via
awal yg jelek memilih kedua goblok
Alfin Alfiari
seumur hidup,tumben aq tau ada wanita super duper goblok,trllu mghamba pd cinta,
Srihartati
kok gk pernah up lagi Thor
Putri Moon
kapan upnya thor😭
sandi Gelau
yg bodoh disini c Arsen..kata tk cinta..knpe menghalang Elena sma Hengky
sandi Gelau
alah dh mcm bodoh plk..biar tegas sikit hati mu Elana..
MamaKenzo
sedih bgt ceritanya klo kita yg ngalamin sendiri blm. tentu kuat ya tor...

btw lanjut donk yg banyak up nya.
amilia amel
kapan up lagi thor... ceritanya seru ni
sayang kl nanggung
Nina
nanti udah kehilangan baru akan tau rasa sakitnya
Fawas Aficieanna
ayo kak semangat dah ku kasih kopi😊
Diah Cantika
bagus
Nurihwana
lumayan
Ita Tojeng
udah deh, matikan saja elena secepatnya, biar ceritanya juga ending, baca novel ini bikin emosi, bikin malas, karakter perempuannya terlalu lembek seperti bubur
Ita Tojeng
bodoh, hanya itu kata yg tepat untuk elens
Ita Tojeng
terus terang, aku tuh emosi banget dgn sikap elena, jd perempuan tuh jangan lemah n mau ditindas hanya karena Cina
Ita Tojeng
bodoh elena, ngapain bertahan dengan suami seperti itu, ceraikan saja sih n cari penggantinya,
Adinda Wianda
up donggg
Rini Mustika
yh habis
Rini Mustika
biasa nya di novel kak Author ini cewek nya tangguh ko ini bikin lemes si.
Rini Mustika
kaya nya ga baik buat darah q ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!