Kiran, seorang gadis cantik yang sederhana.
Dia tak menyangka bila pernikahannya dengan kekasih pilihannya tak berjalan baik-baik saja.
Begitu banyak lika liku yang harus dia hadapi setelah dirinya menikah dengan Dayat Saputra sang suami juga cinta pertamanya.
Ibu mertuanya yang kejam juga tak hentinya berusaha memisahkan mereka!
Akankah Kiran dapat bertahan dan mempertahankan keluarga kecilnya?
Atau akankah Kiran menyerah?
Penasaran?
Baca selengkapnya kisah mereka disini.....
.
.
Semoga kalian suka😁
Ini cerita pertama author, maaf kalo bahasa dan tanda baca masih kurang, masih proses belajar.
Mohon dukungannya yaa, jangan lupa tinggalin jejak bila kalian suka cerita ini.
Sebelumnya author berterima kasih untuk kalian yang bersedia membaca cerita ini😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellennola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Madu ? 21+
Setelah naik kereta kurang lebih dua jam lima puluh lima menit dari kotaku, akhirnya aku sampai juga distasiun Yogyakarta.
Kami mulai berjalan sembari mendorong koper kami menuju pintu keluar, disana sudah berdesakan para penjual asongan yang langsung menghambur menawarkan barang dagangannya, dan beberapa supir baik taksi maupun andong becak yang menawarkan jasa mereka.
Kami memilih salah satu supir taksi, sang supir terlihat sudah lumayan tua, mungkin usianya sekitar enam puluh tahunan lebih, tapi kulihat tak ada rasa lelah dalam gurat wajahnya, malah yang terlihat semangat kerjanya begitu tinggi, padahal seharusnya dalam usianya yang segitu, sudah tak perlu bekerja lagi, menikmati hari tuanya dirumah dengan orang terkasih, aku jadi merasa iba, tapi aku juga maklum, mungkin karna tuntutan ekonomi yang membuat beliau begitu, diusia senjanya mesti harus mencari nafkah bagi keluarga tercinta.
Begitu tau hotel yang kami tuju, beliau langsung paham, beliau langsung sigap mengambil alih koper yang kami bawa, menuju parkiran tempat taksinya berada, kami mengikuti langkahnya dari belakang.
Lalu menyuruhnya menuju hotel yang telah kami pesan. Penat rasanya duduk terlalu lama dikereta tadi. Badan juga terasa pegal. Tak sabar ingin segera merebahkan diri barang sebentar.
Sepanjang menuju parkiran, melihat sang sopir, aku jadi langsung teringat orang tuaku dirumah, padahal baru sebentar ku tinggal pergi, mereka pula masih begitu bersemangat mencari nafkah, terutama Abah.
Padahal kalo mau berhenti dan hanya duduk manis dirumahpun sangat mudah, apalagi sudah ada orang kepercayaan kami yang insya'alloh amanah dalam menjalankan tugas mereka, aku pula insya'allah sanggup apabila merawat orang tuaku, tapi selalu saja orang tuaku memberi alasan biarpun begitu, mereka tak bisa tiap hari hanya duduk diam saja tak melakukan apapun, sudah terbiasa banyak bergerak katanya, kalo tak melakukan apapun justru malah membuat badan sakit, toh mereka hanya memantau kebun dan sawah tiap harinya, hanya sesekali saja membantu para pekerja apabila kelelahan menjalankan tugas mereka.
Apalagi jarak yang ditempuh menuju area perkebunan dan sawah kami tak sampai satu kilometer pun ditempuh dengan sepeda motor jadi tak terlalu banyak memakan waktu kesana.
Aku hanya mengendikan bahu, tak tau mau berkomentar apalagi bila sudah begitu, hanya memaklumi keputusan orang tuaku, aku juga paham orang tuaku tak ingin merepotkanku, padahal bagiku justru senang bila harus berbakti pada mereka, merawat mereka diusia tuanya, dan bagiku hal tersebut memang wajib dilakukan, apalagi aku notabene adalah anak tunggal.
Kalo bukan aku harapan mereka, lalu siapa lagi.
Tapi ya sudahlah, aku hanya menghembuskan nafas panjang bila kuingat kata-kata orang tuaku.
Tapi jujur, dalam hati kecilku, aku merasa begitu beruntung lahir dan berorang tuakan mereka, karna mereka selalu sabar menghadapi sikapku sedari kecil sampai dewasa, tak sekalipun kuingat mereka marah, berteriak ataupun memukulku bila aku nakal.
Yang kuingat masa-masa kecilku selalu dipenuhi kebahagiaan, bahkan kuingat dulu aku selalu menanti datangnya hari libur sekolah, karna bila tiba saatnya, pasti kedua orang tuaku akan membawaku berlibur entah sekedar berkunjung ketempat saudara maupun ke tempat wisata dikota kami.
Anganku buyar begitu saja ketika mas Dayat menepuk bahuku, disuruhnya aku masuk kedalam mobil, katanya sang sopir sudah membukakan pintu sedari tadi, tadinya mas Dayat sudah masuk duluan tapi keluar lagi karna melihat aku diam mematung, nyatanya beliau masih memegang pintu mobil mempersilahkanku masuk, sembari menyinggungkan senyum, aku jadi sedikit merasa malu rupanya lagi-lagi aku melamun.
Akupun bergegas masuk.
Sembari menunjukan nama sebuah hotel, tempat kami akan menginap.
Beliau menganggukkan kepala tanda mengerti.
Seperti biasa sang sopir mengajak kami bercerita.
Rupanya beliau orang asli daerah sekitar, sudah menjadi supir taksi selama empat puluh tahunan, memiliki lima anak yang kesemuanya telah menikah dan tinggal jauh diluar kota, beliau tinggal seorang diri karna sang istri katanya telah berpulang karna penyakit komplikasi yang dideritanya sejak lama.
Anak-anak beliau pun hanya berapa bulan sekali baru menengok karna memang terhalang jarak yang jauh. Lagi-lagi aku merasa iba.
Hidup didunia tentu masing-masing orang memiliki cerita pilunya sendiri.
Dalam hatiku aku tak lupa bersyukur dan berdoa semoga hidupku bakal slalu dilimpahi kebahagiaan.
Perlahan taksi kamipun keluar dari parkiran statiun, menuju hotel yang kami tuju.
***
Sesampainya kami diparkiran hotel, setelah sebelumnya juga telah membayar ongkos taksi, kami pun langsung masuk ke lobi menuju meja resepsionis, memberi tahu reservasi kamar yang telah kami pesan.
Sang resepsionis pun memanggil salah satu rekannya untuk mengantar kami.
Koper kami juga sang pelayan yang membawakan. Kami mengikuti langkahnya, sekilas kulihat pada kunci kamar ,ternyata kamar kami terletak pada nomor 102.
Sembari melangkah sang pelayan tak hentinya menunjukkan letak dalam hotel yang sekiranya kami tertarik untuk singgahi, seperti letak restauran, maupun taman yang memang sengaja dibangun pihak hotel untuk para tamunya bersantai bersama anggota keluarganya, maupun tempat ngegym bagi mereka pecinta olahraga, atau kolam renang bila-bila para tamu ingin berenang.
Kami hanya diam sembari mendengarkan, sesekali mengangguk mengerti.
Lalu sang pelayan membawa kami menuju lift, dia masuk memencet tombol sesuai ruang yang kami tuju, diikuti kami dibelakangnya.
Tak berapa lama pintu lift terbuka, kami keluar, sang pelayan kembali memandu kami, setelah melewati beberapa lorong, sampailah kami di kamar kami.
Setelah memberi tip dan berterima kasih, kami pun masuk ke dalam kamar.
Kamar yang kami pesan berukuran cukup luas, dengan satu single bed yang lumayan besar.
Tentu saja memang diperuntukkan khusus untuk pasangan, tersedia pula televisi yang berukuran 21 inc, tepat berhadapan dengan kasur kami, satu ac serta satu lemari berukuran sedang dipojok kamar, juga satu kamar mandi dalam.
Ruangan kamar juga sengaja diberi gambar bermotif, menambah kesan menarik.
Apalagi memang didalamnya terlihat sangat bersih, tentu agar para tamu seperti kami merasa semakin nyaman.
Mas Dayat langsung merebahkan dirinya ke atas kasur sembari menghidupkan televisi, sedang aku menuju lemari, membongkar koper bawaan kami lalu mulai menata baju dan lain sebagainya didalamnya.
Setelah kelar kurebahkan badanku keranjang, kumiringkan badanku sembari memeluk mas Dayat. Mas dayat pun membelai dengan sayang puncak kepalaku, dan menyuruhku beristirahat sebentar, lalu berjanji mengajakku makan malam nanti direstauran bawah hotel.
Belaian lembut mas dayat membuatku mengantuk hingga tak terasa membuatku lelap, aku tertidur.
***
Kurasakan sentuhan lembut diwajah serta tepukan kecil di bahuku, aku langsung terperanjat melihat jam yang melingkar ditanganku, rupanya sekarang sudah hampir jam sembilan malam, aku meminta maaf pada mas Dayat karna tak sengaja ketiduran.
Mas Dayat hanya tersenyum sembari mencium keningku dengan lembut, lalu mengajakku segera berganti pakaian, kami akan menuju restoran dibawah, dekat lobi hotel.
Aku beranjak ke wc, lalu mandi air hangat agar terasa segar, sedang mas Dayat setia menungguiku diatas ranjang. Tak lupa pula kubawa baju ganti.
Sebuah gaun berlengan panjang berwarna biru laut, dengan motif kupu kecil berwarna warni dibagian atas, sedang bagian bawah polos saja, menjuntai sampai mata kaki, sebelum masuk ke kamar mandi.
Jadi aku tak perlu repot-repot meminta bantuan mas Dayat mengambilkannya dari dalam lemari.
Tak sampai lima belas menit aku langsung keluar, kuambil peralatan make up, lalu mulai merias diri, ku pakai riasan tipis saja hanya memakai pelembab serta bedak bayi, tak lupa pula kupoles liptin dan lipbalm ke bibir, agar penampilanku tak tampak pucat.
Aku memang tak suka memakai riasan terlalu tebal. Karna memang kulitku memang sudah putih dari sananya.
Pastilah memakai baju apapun bakal terlihat bagus untukku, apalagi aku memang rutin menjaga pola makanku, makanya tubuhku juga terlihat bagus, termasuk dalam kategori proposional.
Tak ketinggalan pula kupakai hijab yang cocok dengan gaun yang aku pakai.
"Kamu terlihat cantik sekali hari ini Ran."
"Jadi maksud mas dari kemaren Kiran terlihat biasa saja?"
"Bukan begitu, sayang memang selalu terlihat mempesona dimata mas, tapi entah kenapa hari ini sayang sedikit berbeda, sayang terlihat lebih cantik dibanding hari kemaren."
"Hallaahh, mas gombal lah, pasti nanti ada maunya."
"Kalo emang mas ada maunya, sayang mau gimana?"
"Iihh, apaan sih mas, udah yuk ah, katanya tadi mo ngajak kiran kencan direstoran, keburu malem ntar keburu ilang selera loh mas",
rajukku manja.
"Iya, iya deh, sayangnya mas sekarang jadi ngambekkan ah, digombalin dikit marah, mas jadi takut, ntar bisa-bisa mas ditendang suruh bobo sendirian diluar, kan mas ngga mauuu",
rayu mas Dayat sembari tersenyum jahil.
" Tau ah gelap",
jawabku sembari menggandeng tangan mas Dayat kulangkahkan kakiku menuju pintu lift.
Kupencet tombol buka, tapi lama sekali pintu lift terbuka, mungkin karna banyak yang tengah memakai, beberapa saat kemudian ,baru pintu lift terbuka ,kamipun segera masuk, pintu lift pun kembali tertutup, lalu tak lupa pula kutekan nomor satu, perlahan kami mulai bergerak turun ke bawah, sembari menatap pemandangan kota Jogjakarta dimalam hari.
"Ting" , pintu lift terbuka lagi, ku lihat jam di tangan sudah hampir pukul sepuluh malam,kutarik tangan suamiku agar berjalan sedikit cepat menuju restauran, takut restoran penuh sesak oleh tamu hotel yang lain.
Kami memang sengaja tak memesan pesanan via pesan antar yang disediakan pihak hotel, karna memang kami juga penasaran dengan menu yang tersedia, agar kami lebih puas memilih.
Akhinya kami pun tiba direstauran, rupanya pengunjung resto tak terlalu banyak, mungkin karna jam makan malam sudah terlewat sedari tadi.
Kami mulai memesan makanan.
Sembari menunggu mas Dayat menawarkan beberapa destinasi wisata yang mau kita kunjungi selama diJogja, aku hanya mengangguk mengiyakan saja.
Pesanan kami pun datang, obrolan kami kembali terhenti. Setelah menaruh semua pesanan kami diatas meja, sang pelayan juga memberiku buket bunga mawar yang cukup besar, rupanya mas Dayat lah yang sengaja memesan tadi ketika aku tak sengaja tertidur.
"Aahh romantisnya",
batinku, tentu saja kupu-kupu cantik tengah menari-nari dalam hatiku.
Aku bahagia, mas Dayat memperlakukanku begitu lembut hari ini.
Setelah acara makan malam romantis usai, kami bergegas menuju kamar kami.
Sesampainya kami didalam kamar, kami berdua langsung merebahkan badan ke atas ranjang.
Mas Dayat memiringkan badannya, dipalingkannya wajahku menghadap wajahnya.
Lalu tanpa aba-aba suamiku itu mulai mencium bibirku dengan lembut.
Tentu saja aku kaget, jantungku langsung berdetak tak karuan. Kudengar jantung mas Dayat juga berdetak lebih cepat lagi, suara jantung kami terdengar saling beradu, karna memang hanya ada kami berdua.
"Aahhh, ciuman pertamakuu",
teriakku dalam hati.
Namun aku diam saja. Kubiarkan mas dayat berlaku sesukanya pada bibirku.
Semakin lama ciuman kami terasa semakin memanas. Dipagutnya bibirku dengan lebih dalam.
Nafas kami mulai saling beradu.
Mas dayat mulai menyingkap pakaianku, lalu perlahan mulai melepasnya satu persatu.
Ketika mau kebagian bawah tanganku reflek menghentikan tangan mas Dayat.
Mas Dayat yang kaget melepas pagutannya dibibirku.
"Kenapa yank? apa sayang masih belum siap nrima mas sepenuhnya?", tanya suamiku.
"Aku takut sakit mas."
Mas Dayat mengusap rambutku kebelakang dengan lembut, lalu mengecupnya.
"Mas akan pelan-pelan, agar tak terlalu menyakiti sayang, mas janji."
"Mas beneran udah ngga sabar pengen miliki sayang sepenuhnya."
"Atau mau lanjut besok aja sampai sayang benar-benar udah mau nrima mas sepenuhnya? Mas mau kok bersabar sedikit lagi."
Kulihat raut kecewa dimata mas dayat, tak urung membuatku merasa tak enak hati, bagaimanapun suamiku tengah mencoba memberi nafkah batin pertamanya, aku sebagai istri juga tak sepatutnya menolak ajakan suamiku.
"Maafin kiran mas, bukan maksud Kiran menolak, Kiran siap kok, tadi tangan kiran reflek aja menghentikan tangan mas",
ujarku memberi alasan agar mas Dayat tak lagi kecewa, karna dalam hatiku jujur sebenarnya aku masih belum siap, tapi mau ditunda sampai kapanpun toh suatu waktu bakal terjadi juga.
Kami pun mulai melakukan pemanasan dari awal lagi. Nafas kami lama kelamaan sama-sama kembali memburu, aku sungguh merasa terbuai dengan sentuhan-sentuhan mas Dayat dibadanku, lama kelamaan tubuhku benar-benar mulai menikmati perlakuan mas Dayat.
Sesekali sentuhan suamiku itu membuatku menggelinjang kekanan dan kekiri menahan nikmat yang tiada terkira. Pada proses intinya, meski awalnya terasa teramat sakit, tapi lama-lama kami saling menikmati, bahkan seringkali kudengar mas Dayat mengerang menahan nikmat.
Kami pun akhirnya resmi sudah melakukan hubungan selayaknya suami istri pada malam ini.
Hilang sudah kehormatanku sebagai seorang wanita yang selama ini aku jaga dengan baik.
Kupersembahkan kepada suamiku tercinta.
Karna memang diperuntukkan untuk kekasih halalku kelak.
Aku tak kuasa menahan haru yang menyeruak begitu saja.
Jelas sekali dalam raut wajah mas Dayat kalo dia begitu puas dengan permainan kami malam ini.
Sesekali dia mengecup keningku dan berterima kasih.
Ku tarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua.
Perlahan kudengar dengkuran halus disebelah kiriku.
Kulirik suamiku, rupanya dia langsung tertidur pulas. Mungkin karna lelah yang mendera badannya.
Jadi mas Dayat langsung terlelap begitu saja.
Rasa kantuk juga mulai menyerangku, badanku juga baru mulai terasa pegalnya, tak terasa aku juga mulai ikut terlelap.
#ngayalngarep
ini cerita.a bagus bgt tpi ndk d lanjutin sayanggg