NovelToon NovelToon
My Love My Bride

My Love My Bride

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:484.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: el nurmala

Visual cast di eps 20.
_______

Menikahi adik sahabat, mengapa tidak?
Kisah cinta beda usia antara Riky dan Alena.

Ikuti kisah mereka ya.
Selamat membaca!
Cerita ini merupakan sekuel 'Permainan Takdir 1&2'.

-------------
Cerita ini hanya fiksi. Jika ada nama, tempat, atau kejadian yang sama. Itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Queen Resto

Happy reading...

Alena memarkirkan motor maticnya di halaman parkir 'Queen Resto'. Ajeng mendahului turun. Gadis itu nampak terpukau memperhatikan kesekitar.

"Mau masuk nggak?" tanya Alena datar sambil melangkah meninggalkan Ajeng.

Ajeng mengekor dibelakang Alena dan sontak menghentikan langkahnya saat Alena berbalik.

"Kenapa helm-nya masih dipakai?" tanya Alena heran.

"Oh iya." Ajeng berbalik untuk menaruh helm yang dipakainya di motor Alena.

Alena meninggalkan Ajeng sambil menggeleng pelan.

"Pagi, Non!" sapa seorang pegawai pria yang sedang mengepel lantai.

"Pagi Kak Ari, Kak Laura sudah datang?"

"Sudah. Bu bos ada di atas," sahut pegawai bernama Ari itu.

"Kak, yang itu adik Lena lho. Jangan digombalin ya," canda Alena sambil menunjuk pada Ajeng yang berjalan mendekati mereka.

"Nggak berani saya, Non. Kalo sesama pegawai baru saya berani," sahut Ari sambil nyengir. Alena mengulumkan senyum mendengarnya.

"Jeng, tunggu di sana sebentar! Aku mau ke atas," seru Alena menunjuk ke area taman.

Ajeng menjawab dengan eksprasi wajahnya yang datar serta bahu yang diangkat perlahan. Alena yang sudah tahu sedikit perangai Ajeng tak mau ambil pusing, ia berlalu ke ruangan Laura.

Ajeng perlahan melangkah menuju taman yang ditunjuk Alena sambil memperhatikan area bagian dalam restoran tersebut. Sejujurnya ia merasa kagum dengan desain dan dekorasi tempat itu.

"Mas, Kak Laura itu siapa?" tanya Ajeng yang penasaran karena nama itu tadi disebut Alena saat di rumah.

Ari terlihat bingung. Bukankah wanita ini saudara Alena?

"Bu Laura kan kakak iparnya Non Alena. Istrinya Tuan Alvin," sahut Ari.

"Alvin? Apa Alvin yang katanya teman Kak Riky ya?" gumam Ajeng sambil berlalu.

Sementara itu di ruangan Laura, Alena sedang menanyakan perihal hasil test pack pada kakak iparnya.

"Sudah berapa lama kamu berhenti disuntik?"

"Satu bulan, Kak. Dan ini sudah lewat hampir seminggu," sahut Alena pelan.

"Sabar dong. Kamu kan menggunakan pencegah kehamilan hampir tiga tahun. Butuh proses untuk kembali subur," ujar Laura sambil tersenyum.

"Gitu ya, Kak?" Laura mengangguk pasti.

Alena menghela nafasnya, dan mencoba kembali bersemangat. Ia akan bersabar menunggu saat itu tiba.

"Itu siapa?" gumam Laura, saat melihat seorang gadis duduk di salah satu kursi taman.

Alena mendekati jendela lalu berkata, "Sepupunya Kak Riky. Namanya Ajeng."

"Datang sama kamu, Len?"

"Iya. Mama yang minta. Dia baru datang dua hari yang lalu."

"Oh."

"Nanti kalau Alena kuliah, Ajeng di sini dulu ya Kak."

"Iya. Santai saja. Anak-anak juga mau ke sini. Ke bawah yuk! Sebentar lagi restoran buka. Mau dibuatkan sesuatu nggak?"

"Apa ya?"

"Kamu sih apa saja mau," kelakar Laura yang diangguki Alena.

Laura menghampiri Ajeng dan menyapanya. Dari raut wajahnya, Ajeng nampak sangat terpukau dengan kecantikan Laura.

Ajeng dan Alena terduduk di kursi yang berada didekat dapur. Aroma masakan mulai tercium dan pastinya mengggugah selera.

Beberapa orang mulai berdatangan. Alena yang mengenakan aksesoris tambahan ala waiters tanpa sungkan menyambut kedatangan mereka dengan ramahnya.

Ajeng memperhatikan sikap Alena dengan seksama. Istri sepupunya itu terlihat riang dan bahagia. Bagaimana tidak bahagia? Semua orang menyayangi Alena.

"Permisi, Non. Silahkan diminum. Sengaja tidak terlalu manis, karena yang akan meminumnya sudah manis."

Ajeng menatap heran pada pegawai pria yang tadi ditemuinya. Menyadari tatapan saudara Alena itu, Ari undur diri sambil merutuki dirinya sendiri.

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Laura memastikan adik iparnya itu mengisi perut sebelum berangkat kuliah.

"Jeng, tunggu di sini ya. Aku mau ke kampus."

"Iya, di sini saja. Kamu bisa berkeliling. Di sebelah sana ada kolam ikan, ada taman bunga juga. Nggak luas sih," ujar Laura menimpali.

"Iya, terima kasih Kak." Sahutnya pada Laura.

"Jangan sungkan ya. Kalau ada yang diinginkan, bilang saja pada salah satu dari mereka. Kakak mau menjemput dulu anak-anak di sekolah."

Ajeng mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Ia menatap punggung kedua wanita yang sedang mengobrol sambil diselingi tawa.

***

Siang ini, Laura yang menjemput Zein dan Queena di sekolah. Semalam Zein menginap di rumahnya. Bagi Zein, tempat tinggal Alvin sudah menjadi rumah kedua.

Sementara itu karena kejadian kemarin, Amar izin sakit tidak sekolah. Dan Meydina yang menjemput Fatima di TK.

Laura membawa kedua anak itu ke restoran miliknya. Anak-anak terlihat senang saat turun dari mobil. Beberapa pegawai restoran melambaikan tangan menyapa mereka.

Saat ini pengunjung restoran cukup ramai. Laura meminta pegawainya menyiapkan makan siang untuk anak-anak di meja yang tadi digunakan Alena.

"Habiskan dulu makan siangnya ya. Setelah itu baru boleh main," ujar Laura.

"Oke, Mom."

"Auntie, boleh nangkap ikan nggak?" tanya Zein.

"Boleh. Tapi makan dulu ya. Nangkap ikannya nanti ditemani sama Mas Ari."

"Asik."

Zein membisikkan sesuatu di telinga Queena. Sepupunya itu menggeleng sambil berkata, "Jangan Zein. Kasihan."

"Apa yang jangan, Queen?" tanya Laura heran.

"Kata Kakak Zein, Mas Ari-nya ceburin."

"Aww! Sakit tahu!" pekik Zein. Karena Queen menggigit tangan Zein yang membungkam mulutnya.

"Jangan dong, Kak. Kasihan Mas Ari. Dia nggak bawa baju ganti. Nanti kalau kedinginan terus sakit, bagaimana? Hmm, Mami kalau tahu marah nggak ya?" Laura berlagak seakan ia akan mengadu pada Meydina.

"Jangan, Auntie! Kakak cuma bercanda kok." Ujarnya dengan wajah memohon.

"Bohong," sela Queena.

"Beneraaan!" seru Zein.

"Oke, Auntie percaya. Habiskan makannya ya, Sayang."

Kedua anak itu mengangguk dan Laura pun pamit meninggalkan mereka.

Saat anak-anak itu sedang menikmati makan siang, Ajeng yang baru kembali dari berkeliling area restoran menautkan alisnya melihat anak-anak.

"Kalian siapa?" tanya Ajeng yang terduduk di depan anak-anak.

"Auntie siapa?" Queena balik bertanya.

"Ajeng. Kalian?"

"Auntie tidak mengenal kami?" tanya Zein.

"Tidak. Memangnya kalian siapa?"

"Hmm, padahal kan kita terkenal ya Queen."

"Masa sih?" Ajeng mulai mengingat-ingat.

"Iya. Tuh, foto kita ada di sana." Zein menunjuk ke tempat pemesanan.

Ajeng menoleh ke arah yang ditunjukkan anak laki-laki di depannya. Kemudian kembali menoleh.

"Kalian bintang iklan?" Anak-anak menggeleng.

"Lalu?"

"Anak Mommy," sahut Queen sambil menunjuk pada Laura yang berada di meja kasir, menggantikan pegawainya yang sedang istirahat makan siang.

"Anak Kak Laura?"

Queena mengangguk.

"Auntie kok nggak pesan? Mau Kakak panggilkan Mas Ari nggak?"

"Nggak usah, tadi sudah."

"Kalau sudah, kok belum pulang?" tanya Zein lagi.

"Sedang menunggu Alena," sahut Ajeng ragu.

"Auntie Alena?"

Ajeng mengangguk.

"Auntie-nya mana?"

"Ke kampus dulu."

"Oh. Auntie siapanya Auntie Alena?"

"Sepupunya Kak Riky," sahut Ajeng datar.

"Sepupu itu apa?"

"Kata Daddy, sepupu itu seperti Queen sama Kakak."

"Oh. Terus..."

"Kak Zein! Jadi nggak nangkap ikannya? Cepat habiskan makannya." Queena mulai kesal dengan rentetan pertanyaan yang dilontarkan Zein.

"Jadi dong. Kamu sih, kenapa bilang sama Mommy Laura. Kan jadi nggak seru," gerutu Zein.

"Ya jangan diceburin. Yang lain aja," sahut Queena.

"Apa hayo?"

"Nggak tahu. Biasanya juga Kak Zein yang banyak ide."

"Kalau nggak diceburin, diapain ya? Auntie tahu nggak?" tanya Zein yang dijawab gelengan kepala serta raut wajah Ajeng yang bingung.

1
Sri Ariyanti
thor, aku suka karyamu. bagus.
lanjut ke cerita cucu sultan opa salman
Neva Yanti
bagus
Sari
cucok visualnya 👍
Sinta Mayapada
the best cerita mu author.
Sinta Mayapada
Kecewa
Fika
Ahh kamil..dewasa bnget jdi adik...thor carikan jodoh buat kamil...yg gak beda jauh dri ajeng
Fika
Riky sm Alena bener2 yach perpaduan pas sama2 gesrek jiwa humoris nya tinggi bngettt 🤣🤣 pasti mama widya dan papa salim awet muda krn tiap hri dengar guyonan anak sm menantu ditambah paijo 🤣🤣🤣
Eva NurMalla
oke visualnya 😎😎
TePe
ngga tau , suka bgt saam karya author ini
TePe
wah si babang ricky kebakaran jenggot deh😄
TePe
rada2 n8h si ajeng
bunda syifa
Zein sama zemima lumayan jauh y ka'El usia nya
bunda syifa
panggilan di ka'Zein sama Beby Mima pasti bikin yg baca ketawa" sendiri
bunda syifa
jangan d detail proses nya Thor, bikin merinding, jadi ke inget pas dulu lahiran padahal udah lima tahun tapi klo lagi baca kek gini kayak masih kerasa GT sakit nya, pengen d tahan tapi anak nya harus d keluarin tapi mau d keluarin takut segala macem jadi satu 😥😥😥
bunda syifa
puas banget Thor, apalagi klo yg ngikutin ceritanya dari awal pasti kerasa kayak baca cerita dunia nyata saking ceritanya terus berlanjut
bunda syifa
akhirnya aq maraton sampai selesai juga, habis cerita amiera agak ragu mau lanjut kesini, soalnya biasanya klo sekuel ke sekian itu suka beda ceritanya konflik nya kadang lebih berat, tapi karena rasa penasaran yg teramat besar akhirnya yoba lanjut baca apalagi d cerita ini harus kehilangan pak Salman, dn semoga sekuel selanjutnya kisah si cucu pak Salman cerita nya bagus kayak yg lain juga y ka'El, tapi aq tunggu episode nya banyak dulu soalnya aq kesel klo d gantung
bunda syifa
ini Zain umur berapa Thor, udah SD kn, udah besar berarti
bunda syifa
apa dia dokter yg malsuin hasil USG nya ibu Nita dulu itu kah, yg pernah jadi pengemis pas suaminya sakit
bunda syifa
udah lama gc nangis saat baca novel, sekarang d bikin nangis gara" pak Salman meninggal 😭😭😭
bunda syifa
yah mbak dokter nya d anggurin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!