Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyawit lo?
...#••...
“Kok berhenti di sini, sih?” tanya perempuan itu begitu motor yang dikendarai Jay berhenti di depan sebuah restoran.
“Gue lapar.” Jay menoleh ke belakang, menatap perempuan itu yang masih diam. “Turun dong.”
“Alesan. Lapar segala.”
Jay turun lebih dulu, lalu menurunkan standar tengah motor agar tubuh perempuan yang masih berada di atas jok bisa duduk dengan nyaman. Ia kemudian melepaskan helmnya dan menyimpannya di kaca spion sembari merapikan rambutnya sekilas.
“Kalau mau cerita, enakan sambil duduk, lah. Kalau di motor, nanti nggak kedengeran, dong,” kata Jay, lalu melepaskan helm yang masih terpasang di kepala perempuan itu.
“Ayolah…” Jay berusaha membujuk perempuan di hadapannya. “Suer, gue nggak bohong. Lapar banget ini.”
“Ck!”
Perempuan itu berdecak lalu menggeser tubuhnya hendak turun dari jok motor. Dengan sigap, Jay mengulurkan tangan dan membantunya turun.
Kini keduanya sudah duduk berhadapan di dalam restoran, menunggu pesanan mereka datang.
“Awas loh, ya. Jangan tiba-tiba ngilang gitu aja,” kata Jay. “Agak was-was nih, gue. Tiba-tiba lo mau cerita?”
“Emang selama ini nggak pernah?” Perempuan itu malah bertanya balik.
“Ya, enggak sih. Tapi gue rasa, lo mau ngomongin hal yang serius."
Perempuan itu tersenyum tipis. “Peka banget sih jadi orang.”
“Ya iyalah. Rugi banget lo nolak gue,” jawab Jay dengan senyum bangga.
Perempuan itu tak merespons. Tatapannya justru berkelana ke sekeliling restoran yang cukup ramai. Beberapa meja bahkan dipenuhi pasangan yang sedang menghabiskan waktu bersama.
“Kita makan dulu aja. Setelah itu gue cerita.”
“Serius lo nggak bakal pergi?” Jay menatap ekspresi sendu perempuan itu. Ekspresi yang sudah lama tak ia lihat, atau lebih tepatnya, ekspresi yang dulu sering ia lihat di awal kedekatan mereka.
Dulu, Jay sempat berpikir memang seperti itulah wajah perempuan itu. Tatapannya sering terlihat kosong dan ekspresinya selalu sendu. Namun, seiring berjalannya waktu, Jay baru tahu kalau perempuan itu ternyata bisa ceria, dan bicara blak-blakan.
Melihat perubahan itu, Jay tentu saja senang bukan main. Berarti perempuan itu memang sudah merasa nyaman bersamanya. Tapi nyaman dan cinta ternyata tak bisa sepaket.
Tak apalah. Untuk saat ini, yang terpenting dirinya masih bisa bersama dengan perempuan yang ia cintai itu.
Jay juga tak merasa takut jika perempuan itu dekat pria lain. Selama mengenalnya, perempuan di hadapannya ini tipe orang yang sepertinya sulit jatuh cinta, apalagi membuka diri untuk dekat dengan seseorang.
Kedekatan mereka saja karena Jay terus-menerus mendekatinya tanpa henti, meski beberapa kali ditolak. Lagipula, keseharian perempuan itu membuatnya jarang berinteraksi dengan orang-orang baru. Lingkup pergaulannya begitu kecil, sampai-sampai Jay merasa kemungkinan perempuan itu tiba-tiba dekat pria lain hampir tidak ada.
Selama beberapa saat, mereka menyantap makanan tanpa percakapan. Meskipun begitu, tak ada rasa canggung di antara mereka. Hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring, bercampur dengan suara bising dari sekitar mereka.
Setelah selesai menyantap makanan utama, mereka mulai menikmati dessert.
Perempuan itu menatap Jay yang masih fokus makan sambil sesekali melihat ponselnya.
Merasa sedang ditatap, Jay mendongakkan kepala. Tatapannya bertemu dengan perempuan di hadapannya yang masih menatapnya dengan ekspresi sendu.
“Jangan natap gue gitu anjir. Ngeri gue.”
“Sejujurnya... Gue bingung harus cerita dari mana dulu,” kata perempuan itu akhirnya.
Jay menyandarkan punggungnya ke kursi. “Sekeras apa sih hidup lo sampai cinta gue yang sebesar samudera ini nggak bisa nembus hati lo?”
Perempuan itu langsung tertawa kecil. “Ada-ada aja, sih.”
“Faktanya emang gitu. Jadi wajar, kan, gue bertanya-tanya?”
“Gue masih punya hati, Jay.” Senyumnya perlahan memudar. “Gue bisa ngerasain kasih lo ke gue.”
“Ya terus kenapa?”
Perempuan itu tak langsung menjawab. Selama beberapa detik, ia hanya menatap Jay tanpa berkedip.
“Gue seorang pembunuh.”
Mata Jay seketika membelalak. Untuk sesaat, ia hanya menatap perempuan di hadapannya seolah menunggu tawa atau senyum yang menandakan bahwa semua itu hanya lelucon.
“Bercanda lo nggak asik!”
“Mantan napi yang mendekam di penjara selama 5 tahun—”
BRAK!
Tangan Jay menggebrak meja hingga beberapa alat makan di atasnya ikut bergetar.
“Gue bilang, bercanda lo nggak asik,” desisnya penuh penekanan.
“Seorang anak yang dengan teganya membunuh ibu kandungnya sendiri,” lanjut perempuan itu tanpa menghiraukan ekspresi marah Jay.
“Nyawit lo?”
Bukannya tersinggung, perempuan itu malah tersenyum. “Itu gue yang sebenarnya, Jay.”
Jay menggeleng cepat. “Nggak gini caranya, Kak. Lo jelek-jelekin diri lo biar gue ilfeel sama lo? GINI CARA LO NOLAK GUE, HAH?”
Bentakannya melengking. Beberapa pasang mata di restoran sempat menoleh sekilas ke arah mereka sebelum kembali pada urusan masing-masing.
“Kenapa? Lo nggak terima kalau cewek yang lo cintai ini ternyata seorang pembunuh?”
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG