NovelToon NovelToon
Cinta Pertama

Cinta Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Ketos / Tamat
Popularitas:71.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhirie Fitrii

"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."

Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.

Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.

Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....

(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)

ooOoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 10

...Pelangi Setelah Hujan Season 2...

"Lo apa-apaan sih, Jonas?!" cewek yang tadi protes. Tempat duduknya tepat di depan Jonas yang langsung bete dengar suaranya yang melengking. "Gue nggak boleh duduk di situ tapi lo sendiri malah duduk di sini..."

"Suka-suka gue! Itu tempat buat teman gue!" kata Jonas acuh. "Ntar lagi dia masuk!"

"Konyol...," celetuk Lara di belakang Jonas dengan wajah cemberut.

Jonas menoleh ke belakang, mengedipkan sebelah mata pada Molly yang daritadi mematung memperhatikan mereka.

Sekarang ada satu kursi kosong di depan Molly yang juga sebaris dengan tempat duduk Jonas. Molly tahu, siapa yang akan duduk di sana nanti, tapi sosok itu belum muncul juga sampai wali kelas mereka datang.

Pak Heru lagi.

Molly tersenyum lega. Meski ini bukan karena kolusi seperti saat ia naik kelas dua, tapi ini lebih dari itu.

"Pagi semua," sapa Pak Heru tegas dan mantap.

Semua bersuara dengan semangat. "Pagi, Pak!"

"Gimana kabar kalian semua? Liburannya cukup?"

Jawabannya beragam tapi nggak masalah karena Pak Heru kayaknya nggak akan menanyai masing-masing orang tentang liburan mereka.

"Tenang semua," Pak Heru menengahi suara-suara kacau di kelas yang riuh. "Ada hal yang mau Bapak sampaikan sebelum kita mulai pemilihan perangkat kelasnya."

Murid yang lain menunggu, tapi Molly lebih nggak sabar daripada mereka. Kata-kata Pak Heru yang menjelaskan bahwa kita punya teman baru, terasa seperti pidato kepala sekolah saat upacara pembukaan tahun ajaran baru. Panjaaaang banget!

Tapi, malah rasanya terlalu cepat, saat yang ditunggu masuk juga. Seorang cowok bertubuh tinggi yang membuat semua cewek -termasuk Molly nggak berkedip. Rambutnya hitam lurus dan sedikit berponi, hidungnya mancung dengan mata agak sipit. Bibir tipis dan senyum dengan lesung pipi yang dalam. Mengingatkan beberapa kita pada seseorang.

"Kim Bum...," Yuna terdengar bergumam dari tempat duduknya.

Cowok itu memandangi puluhan kepala di depannya dengan sedikit canggung "Nama saya Adhia Getta. Kalian boleh panggil Getta, saya baru pindah hari ini," kata cowok itu singkat, padat dan cepat. Lalu ia melirik Pak Heru supaya membolehkannya duduk secepatnya.

"Nggak ada lagi yang mau kamu sampaikan, Getta?" tanya Pak Heru.

Getta menggeleng.

"Baik, sekarang kamu boleh duduk.," kata Pak Heru akhirnya dan menunjuk satu-satunya bangku kosong yang ada di depan Molly.

Tepat sasaran.

Jonas tertawa dari bangkunya dan memberi sambutan dengan ujung tinjunya yang dibalas oleh Getta sesaat sebelum duduk di kursi.

Pandangan Molly yang luas, sekarang terhalang oleh sosok tinggi Getta yang sekarang sudah duduk di depannya.

Tiba-tiba Getta menoleh ke belakang."Hei," sapanya dengan ramah. Persis seperti dia yang dulu.

Molly tersenyum dengan satu anggukan pelan. Dan Pak Heru memulai acara pemilihan perangkat kelasnya.

****

Bel istirahat siang dibunyikan. Dalam beberapa menit kelas menjadi sepi, menyisakan beberapa orang yang masih ingin mengobrol.

Molly melirik Lara yang berdiri dari kursinya dengan mengabaikan sedikit gangguan dari Jonas yang konyol. Lara duduk di tempatnya dan asyik memandang ke luar jendela.

Seorang cewek menghampiri Getta yang juga duduk di bangkunya sambil mengobrol dan tertawa dengan Jonas. "Hai, Getta, aku Yuna," dia mengulurkan tangannya.

Getta membalas uluran tangannya dan tersenyum. "Iya...," jawab dia sedikit ragu.

"Kamu pindahan dari SMA mana sih?" tanya Yuna yang mulai sok akrab dengan memelintir rambut.

Tiba-tiba Jonas menyela. "Sebelum pertanyaan lo ke mana-mana, ngelapor ke gue dulu," candanya. "Bayar tiketnya"

"Iiih, emang Ragunan?" celetuk Yuna, mendecak dan seketika mengabaikan Jonas. Ia tersenyum lagi pada Getta. "Kamu pindahan dari luar kota ya?"

Getta cekikikan ketika Jonas menarik cepol ala Korea Yuna dengan tangannya supaya menjauh dari mejanya.

"Nih anak bandel banget...," gerutu Jonas sementara Yuna memekik sambil memukul-mukul lengan Jonas.

Mereka mulai bertengkar seperti anak kecil, saat Getta kembali menengok ke belakang. Mengabaikan kegaduhan kecil dan membuat percakapan yang wajar.

"Kamu nggak berubah ya?" tanya dia dan Molly menoleh dari buku gambarnya di meja ke depan.

Getta tengah memperhatikan gambar yang ia buat dengan krayon.

"Ah?" Molly tersadar bahwa ia nggak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya dan bahkan nggak memperhatikan sekitarnya sama sekali.

"Aku nggak tahu kamu suka gambar pakai krayon," komentar Getta, memutar badannya ke belakang.

"Oh, dari kecil...," jelas Molly, memperbaiki posisi duduknya, meninggalkan gambar itu sebentar selagi matanyamenatap Getta. Melihatnya lagi seperti keajaiban yang hanya bisa didapatkan setelah menunggu sangat lama dan benar-benar harus jadi orang yang sabar. "Aku nggak bagus dalam hal selain ini..."

Getta nggak berkomentar lagi. Ia memperhatikan ujung jari Molly membuat bayangan pada kertas yang digores krayon biru langit untuk menimbulkan gradasi warna pada langit yang ia gambar. Sangat hati-hati dan cekatan. Getta memang nggak pernah tahu si tukang tidur ini jagonya gambar dan peralatannya selalu ia simpan pada sebuah tas jinjing yang selalu ia bawa ke sekolah.

Seperti anak TK.

Getta kembali ke depan, Jonas kembali setelah mengusir Yuna pergi.

"Ke kantin yuk!" ajak Jonas.

Getta langsung berdiri, setuju dan mereka meninggalkan kelas segera.

****

Molly berjinjit, mengintip dari jendela yang tertutup untuk memastikan nggak ada siapa pun di ruang kesenian. Habisnya, seisi sekolah penuh oleh anak-anak jahil yang bisa ada di mana saja. Kelihatannya sepi, jadi Molly mengendap-endap ke dalam sebelum ada yang melihat.

Sekolah menyenangkan untuk satu kata -fasilitas, yang bisa dipakai siswa (biar sekolah bobrok sekalipun). Soalnya sekolah punya ruang kesenian tapi anak-anak di sini nggak banyak yang punya bakat seni - ada yang bilang banyak anak buangan dari sekolah lain yang masuk ke sini. Dan mereka lebih punya bakat menghancurkan daripada melakukan hal yang positif -olahraga misalnya. Anak-anak sini lebih suka main geng dan itupun bukan untuk hal yang positif juga.

Molly duduk di salah satu kursi setelah menaruh barang-barangnya di meja lalu memperhatikan sekelilingnya. Ruangan yang nggak terlalu luas dan biasanya dipakai untuk kelas music yang jatahnya cuma sekali seminggu untuk satu kelas. Ada berbagai alat music di lemari -gitar, biola dan drum (keadaannya sudah mulai usang dan sepertinya sudah lama nggak ada penambahan baru). Tapi, di tengah-tengah ruangan sekolah punya piano yang kelihatannya masih baru atau memang dirawat dengan baik.

Tuts-nya tertutup rapat saat Molly membukanya. Jadi ingat dulu di rumah juga ada piano dengan merek Pleyel yang kalau nggak salah harganya mahal sekali. Soalnya dulu Mama-nya Molly seorang pianis juga.

Ia berhenti main piano karena kecelakaan yang membuat jari-jarinya patah dan ia benar-benar kehilangan semangat untuk mengejar mimpinya. Meskipun ada banyak hal-hal dasar yang nggak bisa Molly ingat, tapi ia tahu di masa kecilnya Mama pernah mencoba mengajarinya

-itu sebelum jari-jarinya patah.

Terbayang, bagaimana ia duduk di samping Mama yang mengeja do-re- mi-fa-sol-la-si-do agar Molly dapat mengingatnya. Tapi, suatu hari tiba- tiba ada yang berbeda. Entah sejak kapan, setiap melihat piano Mama jadi benci. Pernah satu kali ia melempar piano itu dengan kursi -di depan Molly yang masih kecil. Lalu Papa menyingkirkannya dari ruang tengah dan hingga detik ini Molly nggak pernah melihat benda itu lagi atau mendengar Mama memainkannya. Molly juga bahkan nggak pernah mendengar Mama mengaku pada kenalannya bahwa dulu ia seorang pianis.

Bunyi yang terdengar ketika Molly memberanikan diri untuk memencet tut do-nya, mengembalikan semua itu dalam sesaat. Ia jadi merindukannya karena sekarang Mama nggak lagi seperti saat ia masih kecil. Banyaknya masalah serta keadaan Molly yang sekarang membuatnya berubah.

Waktu Molly duduk di kursinya, perasaan itu seakan kembali. Rasanya jadi ingin memainkan piano lagi. Dan ada satu lagu yang bermain di kepalanya -lagu yang biasa dimainkan Mama saat mengajarinya.

Tale as old as time,

True as it can be,

Barely even friends then somebody bends

Unexpectedly. . .

Lagu itu masih bisa membawa kenangan dari masa kecil yang udah ditinggalkan, dan andai bisa kembali lagi ke sana; saat Mama nggak pernah tahu bahwa Molly terlahir disleksia. Semua pasti terasa lebih baik dari sekarang, andai saja. . .

"Kamu main piano?" tegur seseorang yang berdiri cukup lama di depan pintu, mendengarkan beberapa nada yang dimainkan Molly dengan jari- jarinya yang kaku.

Molly terkejut, segera menengok ke belakang. Sosok seorang cowok asing yang nggak pernah ia kenal ada di depan pintu yang terbuka. Sekarang, ia jadi bingung dan takut. Separah itukah?

Cowok itu mendekat. Melangkah pelan ke arah Molly dengan kedua kakinya yang panjang -cowok itu beneran tinggi banget (lebih tinggi dari Getta malah). Dilihat dari penampilan dan raut wajahnya sih mungkin anak kelas tiga tapi Molly nggak bisa memastikan karena ia keburu ketakutan dan menjauh dari piano.

Cowok itu tersenyum. "Kamu anak kelas satu ya?" tanya dia.

Molly menggeleng ragu-ragu. "A. . . aku anak kelas dua," jawabnya, lalu tertunduk.

Cowok itu mengangguk-angguk, sambil tertawa pelan memperhatikan sikap Molly yang menurutnya lucu -cewek itu kelihatan ketakutan padahal juga nggak diapa-apain. Baru sekali ini ketemu cewek yang pemalu banget -jaman sekarang lagi, cewek-cewek umur belasan biasanya berapi-api dan agresif. Tapi, yang satu ini kayak berasal dari jaman antah berantah dan nggak pernah lihat cowok mungkin.

***

1
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
Lanjut
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow, fav, & vote sebanyak-banyaknya
total 1 replies
🐤
terima kasih ceritanya kaka author
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow & favorit ya!!!
total 1 replies
Khanza Orioncraft
terimakasih ka utk karya yg luar biasa ini,selain nostalgia masa sekolah.jg ilmu parenting jg utk sya yg saat ini SDH jd orangtua...Krn mental health itu penting bgt.di masa sekolah ank zaman skrg
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow, vote & favorit ya!!!
total 1 replies
Melanie Kusbandini
aku mampir
🅸🅶@racyun.ciwi: sipoke
total 3 replies
Pia Momo
bagus banget ceritanya kak.. semoga makin banyak yg baca ya,
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow & vote ya!!!
total 1 replies
🅸🅶@racyun.ciwi
Alhamdulillah, terimakasih para pembaca setia. Jgn lupa follow, vote & komen !!! Miss you !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!