Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTANYAAN
"Kenapa kamu menolak ke dokter bareng aku, Mas?"
Pintu kamar baru saja tertutup ketika Sinta melempar pertanyaan itu. Damar yang sedang melepas kemeja terhenti, punggungnya kaku.
"Kamu bicara apa sih, Sin? Aku capek."
"Melia yang bilang." Sinta berdiri di dekat pintu, tangannya dingin. "Dia bilang, tanya Mas Damar kenapa selalu menolak diperiksa."
"Anak itu baru kenal kamu dua jam, dan kamu percaya omongannya?"
"Aku percaya karena kamu memang selalu menolak." Suara Sinta bergetar, bukan karena takut, tapi karena akhirnya ada yang ia sadari. "Tiga kali aku ajak, Mas. Tiga kali kamu bilang sibuk. Waktu aku ke dokter sendirian, kamu bahkan nggak tanya hasilnya."
Damar menghela napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang. Wajahnya mendadak terlihat tua.
"Aku nggak mau tahu, Sin."
"Nggak mau tahu apa?"
"Kalau ternyata..." Ia menggeleng, mengusap rambutnya kasar. "Sudahlah. Itu nggak penting lagi."
"Nggak penting?" Sinta tertawa getir. "Seluruh keluarga menyebutku mandul di depan orang banyak, dan kamu bilang itu nggak penting?"
"Aku bilang jangan dibahas!"
Bentakan itu menggema. Untuk pertama kali dalam tujuh tahun, Damar membentaknya sekeras itu. Sinta terdiam, lalu perlahan matanya menyipit.
"Kamu takut," bisiknya. "Bukan takut aku yang bermasalah. Kamu takut *kamu* yang bermasalah."
Damar tidak menjawab. Rahangnya mengeras, matanya menatap lantai.
Dan keheningan itu adalah jawaban paling jelas yang pernah Sinta terima.
---
Pagi harinya, rumah Bu Retno kembali ramai. Kali ini bukan arisan, melainkan pertemuan keluarga besar. Sinta turun dari kamar dengan mata sembap, mendapati semua orang sudah duduk di ruang tengah. Pak Hendra, ayah Melia, tampak sumringah dengan setelan batik rapi.
"Nah, ini dia," kata Bu Retno tanpa menyapa. "Duduk, Sinta. Ada yang harus kamu dengar."
Sinta duduk di kursi paling ujung, seperti tamu yang tak diundang di rumahnya sendiri.
"Kami sudah sepakat," lanjut Bu Retno, mengangkat dagu. "Pernikahan Damar dan Melia dilangsungkan bulan depan. Sederhana saja, di rumah ini."
Ruangan seperti berputar. Sinta menoleh pada Damar yang duduk di sudut, menunduk dalam-dalam.
"Mas?" panggilnya lirih. "Kamu sudah setuju?"
Damar mengangkat wajah. Matanya merah, tapi mulutnya mengucapkan kalimat yang paling kejam.
"Maaf, Sin. Aku sudah bilang iya."
Sinta merasakan darahnya surut dari wajah. Tapi sebelum ia sempat bicara, Bu Retno menambahkan dengan suara ringan, seperti membicarakan menu makan siang.
"Oh, dan satu lagi. Kamu tetap tinggal di rumah ini, Sinta. Tapi kamarmu pindah ke paviliun belakang. Kamar utama untuk Melia."
"Pindah ke paviliun?" ulang Sinta.
"Iya. Yang dulu buat pembantu." Bu Retno tersenyum tipis. "Kamu kan sudah biasa melayani, jadi tidak ada bedanya."
Para ipar menahan senyum. Melia menunduk, pura-pura sedih, tapi sudut bibirnya berkedut.
Sinta bangkit perlahan. Kursinya berderit di lantai. Semua mata tertuju padanya, menunggu ia menangis, memohon, atau meraung.
Ia tidak melakukan satu pun.
"Baik, Bu," katanya tenang, terlalu tenang. "Tapi sebelum saya pindah, saya mau tanya satu hal pada Mas Damar. Di depan semua orang."
"Sinta, jangan bikin ribut," tegur Damar panik.
"Aku cuma mau tahu." Sinta menatapnya lurus. "Hasil pemeriksaan yang kamu sembunyikan di laci kerjamu, yang kamu simpan sejak dua tahun lalu. Isinya apa, Mas?"
Wajah Damar pucat pasi. Dan Bu Retno, untuk pertama kalinya hari itu, berhenti tersenyum.
"Laci apa?" desis Bu Retno. "Damar, apa maksud perempuan ini?"