"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Putri Penggerutu
"Dia itu gila ya, Rhea? Aku sebagai hadiah perang? Orang gila? Ada banyak yang lebih bermanfaat dan berharga selain aku! Dia bisa minta tanah, emas, kekuasaan atau bahkan wilayah! Mau menjadi anak raja menggantikan pangeran bungsu yang tengil itu juga pasti bisa."
Sepanjang jalan keluar dari Balairung, Rhea hanya bisa mendengar suara gerutuan sang putri yang ditujukan untuk jenderal yang katanya sok akrab itu. "Dan lagi, dia cuma mau aku? Mana ada! Kita saja tidak kenal dekat," lanjutnya masih menggerutu.
Ia mengangkat gaunnya agar tidak kesulitan saat berjalan, mulutnya masih menyerocos saking tidak sukanya dengan kejadian tidak terduga yang terjadi pada orang setenang (menurutnya) dirinya.
"Lagi pula," ia tiba-tiba berhenti dan berbalik menatap Rhea dengan tatapan tajam.
"Memiliki suami seperti dia itu tidak seru. Kau bayangkan, seharian aku bertanya tentang koleksi gaun sementara dia cuma mengangguk atau mengeluarkan satu kata. Itu namanya aku sedang berbicara dengan batu giok!"
Rhea hanya bisa menghela napas. "Nona, sabarlah. Hasil akhirnya kan belum benar-benar diumumkan. Siapa tahu jenderal hanya bercanda untuk mencairkan suasana?"
Kate langsung melotot. "Mana ada orang gila yang mau melamarku cuma untuk membuat suasana cair, Rhea! Kau tidak lihat kalau kondisi Balairung tadi justru mendadak hening karena kalimat tidak senonohnya itu?"
"Itu bukan kalimat tidak senonoh—"
"Jangan mengoreksiku!" potong Kate masih sambil menatap sang dayang pribadi yang lebih muda beberapa tahun darinya itu.
Rhea memutar bola matanya malas, padahal sang nona memang sering menggunakan kata yang tidak sesuai dengan konteksnya, tapi tetap tidak mau menjadi sudut yang disalahkan.
"Sudahlah, tidak ada gunanya aku berbicara denganmu. Bukannya mendukungku, kau malah mendukung jenderal batu itu, kan?" tuduh Kate sambil mengangkat gaunnya dan berjalan lebih cepat di depan Rhea.
"Nona, saya tidak bermaksud begitu. Saya cuma memperbaiki kosakata Anda," kata Rhea sambil mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal dari langkah kaki sang putri.
Ini adalah sifat lain dari sang nona yang membuat Rhea gemas kesal sendiri. Selain galak, suka mengeluh dan menggerutu, nonanya ini juga tukang merajuk. Dia bahkan belum sempat menyinggung membela Sal, tapi sang nona sudah dengan entengnya menyimpulkan apa yang dia katakan.
"Aku tidak mau menikah dengan dia, Rhea. Dia itu cuma jenderal. Tidak sekasta—"
"Tapi dia jenderal agung, dia punya otoritas dan memiliki wilayah sendiri sebelum dia memenangkan perang ini juga, Nona," lagi-lagi Rhea tanpa sadar memotong kalimat sang nona dengan menjelaskan fakta yang ada.
Sekarang, Kate kembali berhenti. Dia berbalik menatap Rhea dengan mata melotot yang jika dimetaforakan terlihat ingin keluar dari rongga matanya. "Kau bilang apa? Dia ini jenderal dengan otoritas agung? Benar. Tapi aku ini putri Duke!"
"Beliau juga memiliki derajat yang berbeda," kata Rhea.
"Tuh. Kau membela orang itu lagi. Kau mau berhenti kerja menjadi pelayan pribadiku dan mau jadi pengasuhnya jenderal manja itu, ya?" cerocos Kate sama sekali tidak mau kalah.
Rhea yang sudah 15 tahun bersama hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Membayangkannya saja dia tidak bisa, menjadi pengasuh dari Jenderal yang gagah dan kuat? Dan, dia tidak terlihat manja!
"Nona, saya tidak membela. Yang saya lakukan hanya membalas perkataan Anda sesuai dengan fakta lapangan yang ada agar Anda tidak semakin tersesat," kata Rhea dengan bahasa yang dibuat filosofis.
Kate merotasikan matanya malas. "Jujur saja. Kau juga menyukai orang berbadan benteng itu, kan? Makanya sekarang kau bersikeras untuk membelanya."
Dayang itu hanya bisa menghela napas. Kini, daftar sifat menyebalkan sang nona bertambah menjadi: galak, suka marah-marah, menggerutu, mengeluh, dan tukang fitnah tapi tidak mau kalah.
"Kalau saya menyukai jenderal itu, saya yang akan menikahi jenderal itu dan melarang Anda dekat dengan dia," balas Rhea pada akhirnya, nadanya lelah.
"Benar, kan!"
Kate lagi-lagi berhenti mendadak dan membuat Rhea hampir menabraknya lagi. "Kau jujur saja. Sebenarnya kau akan menikahi jenderal itu! Memang muka dua!"
Sang dayang itu hanya bisa menghela napas, menahan emosi dan kesabaran yang stoknya selalu menipis kalau berbicara dengan sang nona. "Nona, saya bilang 'kalau', bukan berarti saya benar-benar ingin menikah dengan jenderal itu."
Tidak terlalu mempedulikan jawaban dari Rhea, Kate malah mencebik kesal.
"Kalau memang begitu, mending kau ikut serta dengan para lady genit itu bersorak untuk jenderal dengan puas sambil melihat tubuh tegapnya yang gagah itu," ujar Kate dengan nada sinis.
"Nona—"
"Jujur saja, Rhea. Kau pasti sebenarnya ingin memiliki suami yang tubuhnya gagah seperti jenderal itu, kan? Yang mungkin ototnya sekeras beton dan tingginya menyundul ke pintu itu? Kalau kau memang bersikeras mau menikah dengan dia, aku akan berbicara pada ayah agar kau saja yang dijadikan hadiahnya."
Rhea tidak habis pikir dengan gerutuan nonanya yang sekarang merembet ke sana kemari, ia hanya bisa memegangi kepalanya karena pusing. "Nona, saya tidak bilang saya ingin menikah dengan jenderal. Saya hanya bilang 'kalau', Nona."
"Sama saja."
"Beda."
"Sama!"
Sang dayang hanya menghela napas. "Terserah Nona saja."
Kate yang awalnya sedang bersedekap dada langsung melepaskan tangannya dan menatap Rhea tajam. "Tuh, kan! Benar. Kau mau merebut posisiku, ya?"
"Ya ampun, Nona! Kenapa pikiran Anda selalu sejauh itu?" tanya Rhea dengan geram. Bagaimana bisa nonanya memiliki pikiran negatif yang selalu jauh lebih awal.
"Kita memang harus berpikir lurus ke depan untuk menatap masa depan," ujar Kate dengan gaya angkuh.
"Sudahlah, aku banyak bicara denganmu hanya akan membuat aku bodoh," katanya kembali sambil mengangkat kipasnya lalu melanjutkan langkahnya masih dengan dentuman yang sengaja ia buat.
Sebagai dayang yang sepertinya menyandang gelar "dayang tersabar", Rhea hanya bisa mengangguk dan kembali mengikuti nonanya berjalan entah ke mana yang pasti menjauh dari Balairung.
"Oh, tunggu."
Brak.
Karena terlalu sering berhenti mendadak, kali ini Rhea benar-benar tidak bisa mengerem kakinya dan menabrak punggung sang nona. Ia langsung mundur dengan patuh, menunduk menyesal. "Maafkan saya, Nona, saya tidak berniat untuk menabrak Anda. Saya—"
"Sttt."
Rhea mengangkat kepalanya secara perlahan. Biasanya, sang nona sangat sensitif dengan hal yang sangat kecil pun. Tapi kali ini, bukannya memarahi Rhea dan mengadu pada sang Duke, dia malah terlihat mengabaikan kesalahannya.
"Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan kalimat-kalimat penyesalanmu. Diamlah," katanya kali ini dengan serius. Bukan lagi nada sinis atau ketus seperti biasanya.
Berkat perubahan nada suara sang nona, Rhea pun jadi penasaran dan langsung memperbaiki posisi berdiri yang tadinya sedang menunduk itu. "Memangnya ada apa, Nona?" tanyanya dengan mata yang mencoba melihat situasi, bingung.
"Ck."
Kate menarik tangan Rhea karena tidak kunjung mendapatkan apa yang sedang Kate lihat. Sang putri tunggal Duke Raventhal itu menarik Rhea mendekat ke jendela dan menunjukkan sesuatu di luar sana dengan dagunya.
"Lihat ke sana," perintah Kate.
Rhea langsung menurut, ia langsung melihat pemandangan di luar jendela yang sang nona tunjukkan. "Hanya ada arena latihan yang biasa digunakan para ksatria, kenapa memangnya, Nona?"
"Huh!"
Kate dengan kesal mendorong kepala Rhea pelan agar semakin mendekat, hampir menempelkan wajahnya ke jendela. "Lihat baik-baik siapa yang sedang masuk ke dalam arena itu dengan matamu, gunakan juga otakmu!"
Rhea langsung menurut kembali, matanya menyipit melihat dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang sang nona ingin tunjukkan kepadanya. "Hanya ada Yang Mulia Duke Raventhal dan Jenderal Ardan," katanya ringan.
"Betul," balas Kate dengan tenang namun gemas karena Rhea tidak langsung nyambung.
"Duke Raventhal dan Jenderal Ardan? Apa?" lanjut Rhea terkejut setelah ia baru sadar apa yang baru saja dia lihat.
Tuk. Tuk. Tuk.
Kate mengetuk-ngetuk jendela itu dengan kukunya yang panjang dan sangat mengintimidasi. "Lihat, mereka sedang apa. Sedang menyiapkan diri untuk duel, kan?" tanya Kate lagi.
Rhea menahan napas dan mengangguk, rasanya salah bicara saja bisa tiba-tiba dipenggal oleh sang nona yang aura marahnya sudah terasa panas sampai ke wajah Rhea. "I—iya, Nona. Kelihatannya begitu."
"Kalau si jenderal batu itu menang maka aku benar-benar akan menikah dengannya. Kalau ayah yang menang, aku bebas dari hadiah pernikahan itu, benar?" tanya Kate masih dengan nada yang penuh penekanan dan sangat dingin, membuat Rhea menelan ludahnya gugup.
"Ke—kelihatannya begitu, Nona."
Kate melepaskan tangan yang ia gunakan untuk mendorong kepala Rhea dengan kasar, mendecih kesal dan kembali bersedekap dada.
"Cih, sok pahlawan sekali."
"Memang pahlawan, kan, Nona," sahut Rhea polos yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang nona.
"Kau mengecewakan, Rhea."
Rhea kaget. "Kok jadi saya? Kan yang mau berduel itu Duke dan Jenderal Ardan!" katanya tidak terima, tidak sadar sedikit meninggikan suaranya.
Kate membuang napasnya malas, tidak tersinggung dengan suara Rhea yang naik sedikit. "Seharusnya kau ada di arena itu, harus memastikan bagaimanapun caranya ayah yang harus menang. Kau memangnya mau aku menikah dengan jenderal batu itu?"
"Sejujurnya tidak apa-apa, Nona. Dengan begitu Nona akan sibuk mengomel ke sang jenderal dan tidak lagi suka marah-marah tidak jelas pada saya dan dayang-dayang yang lainnya," lagi-lagi membalas polos.
"Rhea!" bentak Kate.
"Maaf, Nona." Rhea langsung menunduk terlihat merasa bersalah meski tidak benar-benar mengerti dia bersalah karena apa.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus memastikan ayah yang menang. Aku tidak mau menikah dengan jenderal batu itu!"
Rhea mengerjapkan mata, menatap nonanya dengan wajah tanpa dosa. "Nona, satu-satunya cara Duke bisa menang adalah jika Jenderal Ardan tiba-tiba lumpuh di tempat. Apa saya harus menggunakan sihir terlarang untuk mengutuk kakinya?"
"RHEA!!!"
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗