NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Keesokan paginya, suasana Pondok Pesantren tampak berbeda dari biasanya.

Udara dingin khas pagi hari diselimuti desir angin yang membawa desas-desus gembira sekaligus menyayat hati bagi sebagian penghuni pesantren.

Kabar bahwa Ustaz Musa akan pergi melamar seorang wanita telah menyebar cepat bagai angin lalu.

Musa berdiri di depan cermin kamarnya. Ia mengenakan baju koko putih bersih berpotongan rapi yang membalut tubuh tegapnya, dipadukan dengan sarung sutra bernuansa gelap dan kopiah hitam yang terpasang sempurna di kepala.

Parasnya tampak begitu tampan, tenang, dan berwibawa—sosok ustaz idaman yang memancarkan aura kesalehan tiada tara.

Namun, di balik tatapan matanya yang tajam dan dalam, tersimpan rahasia besar yang tak terendus siapa pun.

Langkah kakinya keluar dari kediaman disambut oleh Kyai Adam dan Umi Sinta yang sudah tampil anggun dan siap berangkat.

Kedua orang tuanya menatap Musa dengan binar kebanggaan yang membuncah.

"Masya Allah, anak Abah makin tampan saja. Sudah siap, Nak?" puji Kyai Adam sembari mengelus pundak putra tunggalnya.

Musa mengangguk penuh takzim. "Insya Allah siap, Abah."

Namun, saat Musa melangkah menuju area parkir tempat mobilnya berada, pemandangan riuh samar-samar terlihat di sepanjang koridor komplek santriwati.

Beberapa santriwati tampak bergerombol di balik pilar-pilar gedung, bersembunyi sembari menyapu air mata yang menetes di pipi mereka.

"Ustaz Musa beneran mau ngelamar orang hari ini? Patah hati nasional ini mah." bisik seorang santriwati dengan suara sesenggukan, menyapu air matanya dengan ujung jilbab.

"Mimpi kita benar-benar kandas. Siapa ya wanita beruntung yang bisa mendapatkan hati Ustaz Musa?" timpal santriwati lainnya sembari menahan tangis yang kian memecah.

Isak tangis haru dan patah hati dari para pengagum rahasianya mengiringi tiap langkah kaki Musa menuju kendaraan.

Musa hanya menundukkan pandangan, berpura-pura tidak mendengar riak emosi di sekitarnya.

Bagi mereka, ia adalah sosok ustaz idola yang sempurna. Namun di balik kesempurnaan itu, ada jiwa dingin seorang pemimpin dunia bawah tanah yang selalu waspada.

Musa membukakan pintu mobil untuk Abah dan Uminya sebelum akhirnya ia sendiri duduk di balik kemudi. Mesin mobil dinyalakan dengan halus.

Mobil yang dikendarai Musa pun perlahan melaju, membelah gerbang utama pesantren menuju kediaman Kyai Adi di kota sebelah—sebuah perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam, di mana takdir manis sekaligus tajam tengah menantinya di ujung jalan.

Sementara itu, di tempat lain, kediaman Kyai Adi tampak hangat dan penuh dengan kesibukan menyambut tamu istimewa.

Di dalam salah satu kamar, Musdalifah berdiri menatap pantulan dirinya di depan cermin besar. Balutan gaun elegan berwarna lembut serta polesan riasan wajah yang pas membuat paras cantiknya memancar sempurna.

Senyum bangga menyungging di bibirnya; ia tahu betul betapa memesonanya dirinya pagi ini.

Pintu kamar terbuka. Kyai Adi dan Umi Mina melangkah masuk, lantas menghentikan pandangan pada putri sulung mereka.

"Masya Allah, cantiknya anak Umi." puji Umi Mina dengan wajah berbinar-binar, mengusap lembut pipi Musdalifah.

"Benar kata Umi-mu, Musdalifah. Kamu anggun sekali hari ini. Pasti keluarga Kyai Adam sangat bahagia melihatmu," tambah Kyai Adi penuh rasa bangga.

Dari ambang pintu, Laila berdiri memandangi momen hangat itu.

Dengan jilbab sederhananya, ia tersenyum tulus dan bahagia melihat sang kakak yang begitu anggun di hari bahagianya.

Tak ada sedikit pun rasa iri di hati Laila; ia benar-benar mendoakan kelancaran untuk pernikahan kakaknya.

Namun, saat Umi Mina membalikkan badan dan menyadari keberadaan Laila di pintu, raut wajahnya mendadak berubah dingin.

"Laila, untuk apa kamu masih berdiri di situ?" tegur Umi Mina dengan nada rendah namun penuh penekanan.

"Sana ke dapur! Bantu bibi dan para pelayan menyiapkan hidangan dan minuman untuk tamu."

Laila tersentak pelan. Matanya menatap sang ibu dengan binar kebingungan.

"Tapi, Umi. Laila juga ingin menyambut rombongan Ustaz Musa dan ikut mendoakan Mbak Musdalifah."

"Sudah, jangan banyak alasan! Ke belakang sekarang dan jangan bikin malu keluarga di depan tamu!" potong Umi Mina tajam, tak memberi ruang untuk membantah.

Laila mengalihkan pandangannya pada sang ayah, berharap mendapat pembelaan.

Namun, Kyai Adi hanya menganggukkan kepala mengiyakan ucapan istrinya, memberi isyarat agar Laila menuruti perintah itu tanpa banyak bicara.

Dada Laila terasa sesak, seolah dihantam bobot yang begitu berat. Ia menundukkan kepala dalam-dalam.

"Iya, Umi. Abah."

Laila memutar tubuhnya, mengayunkan langkah perlahan menuju arah dapur belakang.

Setiap pijakan kakinya terasa begitu berat. Sambil menghela napas panjang yang sarat akan rasa sakit, ia menyapu air mata yang nyaris menetes di sudut matanya.

Dalam diam dan kesendirian di ruang belakang, Laila bertanya-tanya pada dirinya sendiri—kenapa sejak dulu Umi dan Mbak Musdalifah tidak pernah bisa menyukainya? Apa ada yang salah hingga selalu disisihkan dari kehangatan keluarga ini?

Terdengar derum halus mesin mobil Musa yang baru saja memasuki pelataran luas kediaman Kyai Adi.

Kendaraan itu terhenti sempurna tepat di depan pintu utama.

Kyai Adi, Umi Mina, dan Musdalifah segera melangkah keluar untuk menyambut tamu agung mereka.

Begitu pintu mobil terbuka dan Musa turun bersama kedua orang tuanya, pandangan Musdalifah langsung terkunci pada sosok ustaz muda itu.

Tatapan mata Musdalifah berbinar penuh pemujaan, kekaguman, dan rasa bangga yang tak memudar.

Di matanya, Musa tampak begitu gagah, sempurna, dan berwibawa dengan koko putih serta kopiah hitamnya—seorang pria yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.

"Assalamu’alaikum, Kyai Adam, Umi Sinta. Masya Allah, selamat datang di kediaman kami," sapa Kyai Adi dengan wajah berseri-seri, menjabat hangat tangan Kyai Adam dan Musa.

"Wa’alaikumsalam warahmatullahi, Kyai Adi," balas Kyai Adam penuh kehangatan.

Setelah saling melempar salam dan senyum penuh kesantunan, rombongan tamu pun dipersilakan masuk.

Mereka duduk berhadapan di ruang tamu utama yang telah dihias rapi.

Musdalifah duduk di samping uminya dengan posisi tubuh yang anggun, pandangannya sesekali mencuri pandang ke arah Musa dengan senyum malu-malu yang tersimpul manis.

Usai berbincang hangat sejenak mengenai kabar dan niat kedatangan, Kyai Adi berdehem pelan, mengalihkan fokus pembicaraan pada inti acara hari itu.

"Alhamdulillah, niat baik Kyai Adam dan Umi Sinta menyambung silaturahmi sekaligus membawa niat suci ini menyegarkan hati kami," ucap Kyai Adi penuh rasa syukur.

Ia lalu menatap Musa dengan senyum ramah. "Bagaimana, Nak Musa? Apakah kamu bersedia menerima khitbah ini dan menikah dengan putri kami, Musdalifah?"

Seketika suasana ruang tamu menjadi hening. Semua mata tertuju pada Musa, menantikan jawaban tegas dari ustaz muda berniat mulia itu. Musdalifah menahan napasnya, dadanya berdebar kencang penuh antisipasi.

Musa terdiam. Wajahnya yang tenang tak menunjukkan gejolak emosi, namun di dalam dadanya ada pertimbangan dingin yang selalu berjalan otomatis. Ia berdehem pelan untuk merapikan suaranya.

"Laila, mana minumannya!" teriak Umi Mina tiba-tiba dari tempat duduknya, memecah keheningan dengan nada suara yang sengaja ditinggikan ke arah lorong dapur.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki halus mendekat.

Laila berjalan pelan memegang nampan kayu berisi cangkir-cangkir teh hangat.

Pandangannya tertunduk santun, menjaga pandangan sebagaimana ajaran yang dipegangnya teguh.

Deg!

Musa yang tadinya hendak membuka suara, mendadak membeku.

Sorot matanya menangkap sosok wanita yang baru saja melangkah masuk.

Meskipun jilbab dan pakaian yang dikenakan wanita itu sangat sederhana, aura, garis wajah, dan cara berjalannya tak bisa membohongi ingatan Musa.

Satu tahun. Selama tiga ratus enam puluh lima hari, ingatan tentang wanita penyelamat nyawanya itu menggerogoti benaknya. Dan kini, wanita itu berdiri hanya beberapa meter di hadapannya.

Umi Mina yang melihat kehadiran Laila langsung merasa tidak nyaman.

Ia tak ingin putri bungsunya yang dinilai "tidak sepadan" itu mengganggu momen penting Musdalifah.

Tanpa menunggu Laila menyajikan minuman, Umi Mina bergegas bangkit dari duduknya.

"Laila, letakkan saja di meja samping lalu kembali ke belakang!" perintahkan Umi Mina dengan nada bisikan yang tajam dan ketus.

Laila menunduk pasrah, hendak memutar tubuhnya untuk kembali ke dapur.

"Tunggu!"

Suara Musa memotong udara, terdengar begitu tegas, dalam, dan dipenuhi kuasa yang tak bisa dibantah.

Seketika seluruh orang di ruangan itu tersentak. Kyai Adam, Umi Sinta, Kyai Adi, Umi Mina, hingga Musdalifah menatap Musa dengan raut wajah terkejut dan penuh tanda tanya.

Langkah Laila pun terhenti seketika, dadanya berdebar saat mendapati tatapan tajam dan penuh arti dari sang ustaz muda tertuju lurus padanya.

1
Muft Smoker
Dy fikir menjebak Musa adalah hal yg mudah x ,,
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
Muft Smoker
msh juga nyalahin org ,,
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
Muft Smoker
dtggu versi mini kalian yx ,, 🤭 ,, dan semoga Musdalifah udh jera setelah ini ,, tdk mengganggu Laila dan Musa lgi ,,
Muft Smoker
cuma sgtuu bang kalajengking dan dokter Nakula????
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
Muft Smoker
semoga setelah ini ,,
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
sri hastuti
dokter gila ya thor, apa lg musdalifah , huuhhh, bikin jengkel aja, ksh balasan yg setimpal thor, ayo musa km hrs bisa ,kerahkan semua kekuatan mu 😡😡😡
Muft Smoker
Musdalifah ma Mak ny sama2 manipulatif. ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
Muft Smoker
lanjuuut kak
Muft Smoker
trnyata Laila pernh ngalamin hal mengerikan di masa lalu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
Muft Smoker
si umi kudu di ruqyah 7 hari 7 malam ni ,, buat ngilangin pengaruh makhluk halus ,,
my name is pho: 🤭 hehe
total 1 replies
Muft Smoker
semoga mereka bisa melewati badai yg di bawa keluarga Laila sbntar lgii ,,
Muft Smoker
turun ranjang kah???
Muft Smoker
ooooallaaa cuma bibi ny Laila ternyata ,,
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
wah jgn sampe tuh Nakula bersekutu dg Musdalifah buat hancurin rumah tangga Laila dg Musa ,,
Muft Smoker
Musa yg berhadapan dg Nakula ,, si Yusuf yg panik setengah mati 🤭🤭🤭 ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
ni juga mak ny si Musa ,, udh liat adab menantu yg di pilih ny bgtuu ,, sangat baguuus cenderung lampir ,,
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii
Muft Smoker
jgn2 bukan ibu kandung Laila niih ,,
Muft Smoker
waah gx beres ni si umi ,, bermuka dua ternyata ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!