Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Bau anyir darah bercampur karat pipa besi mengendap pekat di udara. Ruangan itu pengap tanpa jendela luar, hanya berventilasi kawat kasa berdebu yang menghadap gang belakang. Dari langit-langit semen yang lembap, tetesan air jatuh tepat di tengkuk Sora. Rasa dinginnya menusuk, tetapi tubuhnya sudah terlalu mati rasa untuk tersentak.
Sebuah lampu pijar kuning berayun lambat di atas kepala, digerakkan angin malam yang merayap dari celah pintu seng. Cahayanya berkedip redup, membuat bayangan tiga pria di hadapannya bergoyang di dinding berjamur.
Sora duduk terikat di kursi kayu reyot. Tali tambang plastik mengerat pergelangan tangannya ke sandaran, cukup kencang hingga ujung jemarinya membiru karena aliran darah terhenti. Di depannya, meja jagal kayu jati tebal yang penuh guratan pisau berdiri kokoh dengan noda darah kering yang menghitam.
“Lima tahun, Sor.”
Suara serak itu memecah dengung lalat. Koko Jerry melangkah mendekat. Asap kretek murahan mengepul dari sela bibirnya yang tebal, menyengat hidung Sora bersama bau arak beras. Kemeja sutra merah bermotif naga yang dikenakan pria itu tampak mencolok di tengah ruang kotor ini, kontras dengan celana kain lusuh Sora yang sudah robek di bagian lutut.
Jerry mengeluarkan buku tabungan berpelindung plastik dari saku kemejanya. Ia menepuk-nepukkannya ke pipi kiri Sora beberapa kali.
“Delapan puluh lima juta,” gumam Jerry sambil menghela napas pendek. “Gua bayar lu tiap bulan, lu tabung rapi begini. Bagus. Rajin. Tapi kenapa lu tusuk punggung gua dari belakang, hah?”
Sora mengangkat kepalanya perlahan. Pelipis kanannya robek, darah yang mengering membuat kelopak matanya terasa lengket saat dibuka.
“Meja nomor tiga bersih, Ko,” bisik Sora. Suaranya serak dan kering. “Aparat datang bukan karena audit internal kita. Ada cukong dari utara yang bocorkan jadwal setoran ke inspektorat kota.”
“Alasan!” bentak Jerry. Ia melemparkan puntung kreteknya ke lantai semen basah, lalu menginjaknya hingga hancur. “Inspektur tahu jalur koin kita! Mereka tahu magnet di bawah karpet rolet! Siapa yang pegang meja itu selain lu? Siapa yang ngatur ritme bola gading kalau bukan tangan lu?”
“Bukan aku,” sahut Sora datar. Tatapannya lurus ke arah Jerry tanpa berkedip. “Kalau aku yang jual, uang di buku tabungan itu bukan cuma delapan puluh lima juta. Bakal ada angka sembilan digit di rekening luar kota.”
Jerry terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Kata-kata Sora masuk akal, tetapi Jerry tidak peduli pada kebenaran. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah kambing hitam untuk menutupi kerugian ratusan juta akibat penggerebekan malam ini. Dan seorang bandar yatim piatu tanpa keluarga adalah sasaran paling mudah untuk disingkirkan.
“Delapan puluh lima juta ini gua sita buat ganti kerugian meja,” kata Jerry sambil memasukkan buku tabungan itu ke saku celananya.
Napas Sora tercekat. Jantungnya berdegup kencang menghantam dada. Rasa dingin yang tadi menempel di kulitnya lenyap seketika, berganti kepanikan yang membakar kepalanya.
“Jangan uang itu, Ko,” kata Sora. Suaranya mulai goyah. “Ambil apa saja. Pukul aku sampai patah tulang, terserah. Tapi jangan uang itu. Itu uang deposit operasi ginjal Mila. Malam ini batas transfer ke rumah sakit.”
Jerry mendecak, lalu tertawa pendek. “Mila? Bocah penyakitan dari panti asuhan itu? Buat apa buang uang puluhan juta buat ginjal rusak? Beli arwana merah baru jauh lebih bawa hoki.”
Kursi kayu itu berderak miring saat Sora menyentak tubuhnya. Belum sempat kakinya menjejak stabil, telapak tangan sebesar tatakan cangkir menghantam rahang kirinya dari samping. Bunyi giginya yang beradu bergemeletuk di dalam mulut.
Rusli melangkah keluar dari bayangan drum solar. Rompi kulit kusamnya berbau minyak tanah dan keringat asin. Cincin kuningan bergerigi di telunjuk kanannya menekan daging pipi Sora hingga darah asin merembes di sela gusinya.
“Diem, Anjing,” desis Rusli datar.
Pisau lipat di saku kirinya memotong tali plastik pengikat lengan kiri Sora dalam satu gesekan kasar. Rusli langsung mencengkeram pergelangan tangan kiri Sora yang masih kebas, memuntirnya ke bawah, lalu menguncinya ke atas meja jagal jati.
Jari-jemari Sora menempel pada permukaan kayu yang dingin dan basah. Sora mencoba menarik sikunya sekuat tenaga, tetapi cengkeraman Rusli menindih punggung tangannya tanpa bisa digeser satu inci pun. Tulang pergelangan tangan Sora berderak di bawah tekanan cincin kuningan bergerigi itu.
“Ko, tolong!” suara Sora parau menahan sakit. Matanya melirik panik ke arah Jerry yang melangkah mundur ke dekat pintu. “Mila gak bakal tahan semalam lagi tanpa cuci darah! Uang itu bukan uang kasino! Itu uang keringatku lima tahun!”
Jerry tidak menyahut. Ia menyalakan kretek baru dengan pemantik gas, lalu mengibaskan tangannya pelan ke arah Rusli.
Rusli menarik laci kayu di bawah meja jagal dengan ujung sepatunya. Tangannya merogoh ke dalam dan mengeluarkan sebilah pisau daging persegi berukuran besar. Bilah bajanya tebal dengan noda gelap di sekitar gagang kayu yang dililit selotip hitam. Mata pisaunya diasah kasar, hanya ditujukan untuk memotong urat dan tulang.
“Aturan meja kasino sederhana, Sor,” bisik Rusli di samping telinga Sora. “Tangan yang dituduh curang gak boleh pegang kartu lagi seumur hidup.”
“Rusli, jangan!”
Rusli menggeser ibu jarinya, menekan kelingking kiri Sora agar terpisah dari jari manis. Ujung jari kelingking itu terentang di atas serat kayu jati yang merekah.
Bilah pisau daging terangkat tinggi.
Sora menahan napas, matanya membelalak melihat bilah tajam itu meluncur turun.
KRAK.
Bunyi hantaman tumpul itu disusul derak keras saat bilah baja membelah tulang dan menancap ke dalam meja kayu.
Jeritan Sora tercekat di tenggorokan. Telinganya berdengung pekat ketika percikan darah hangat membasahi pipinya.
Lalu rasa sakit yang luar biasa meledak.
Saraf di pangkal jarinya terasa seperti dihantam paku membara. Rasa ngilu itu menjalar cepat ke pergelangan tangan hingga ke lehernya. Tubuh Sora mengejang hebat. Punggungnya melengkung kaku menahan sakit, sebelum erangan parau akhirnya lolos dari mulutnya.
Darah mengalir deras ke meja jagal, menetes cepat ke lantai semen.
Di atas permukaan kayu, tergeletak potongan ujung kelingking kirinya dengan kuku yang masih utuh.
Rusli mencabut pisau dari meja dengan sentakan pelan. Ia mengusap darah di bilah baja ke celana Sora, lalu melangkah mundur dengan wajah tanpa emosi.
“Selesai,” kata Rusli kepada Jerry.
Jerry melirik sekilas ke arah meja, lalu berbalik menuju pintu keluar. “Bungkus pakai karung goni. Lempar ke gang belakang sebelum ada anak buah kasino yang lihat. Kalau dia mati, biar dinas kebersihan yang seret.”
Sora terkulai di sandaran kursi yang basah. Rasa asam lambung naik ke pangkal tenggorokannya, pahit bercampur amis darah yang mengalir dari bibir. Pandangannya berkedip pecah—lampu pijar kuning di langit-langit bergoyang menjadi lingkaran cahaya ganda yang kabur. Denyut di pangkal kelingkingnya berdetak seirama kepalanya yang berputar hebat, menelan sisa udara di paru-parunya hingga segalanya runtuh menjadi hitam.
Hal terakhir yang ia rasakan adalah sentakan kasar di kerah bajunya saat tubuhnya diseret menuruni lantai semen, disusul bau sampah busuk dan tetesan air hujan yang mulai jatuh dari langit malam.
Setelah itu, dunianya menjadi gelap.
...****************...
Genangan air selokan yang meluap membangunkan Sora.
Aroma busuk limbah rumah tangga dan sisa makanan memenuhi hidungnya. Sora terbaring miring di atas tumpukan karung basah di lorong sempit Gang Comberan 14. Dinding bata berlumut yang menjulang tinggi mengapit lorong itu, menyisakan keremangan tanpa penerangan selain bias lampu jalan di kejauhan.
Hujan deras terus mengguyur tanpa jeda. Air dingin menghantam wajahnya, melarutkan darah kering di pelipis dan mengalirkannya ke comberan hitam di bawah tubuhnya.
Setiap denyutan nadi mengirimkan sengatan nyeri yang membakar ke tangan kirinya. Sora mencoba menggerakkan jemarinya. Empat jari merespons lambat dan kaku karena dingin. Namun di sisi luar telapak tangannya, yang tersisa hanyalah luka robek yang terus terkoyak oleh kotornya air hujan.
Darah segar terus merembes ke air comberan. Dengan luka menganga di comberan kotor serta tubuh yang menggigil hebat, Sora sadar fisiknya tidak akan bertahan lama jika ia terus terbaring di tempat ini.
Tepat saat kesadarannya hampir hilang, udara basah di depan mata kirinya bergetar samar.
Cahaya itu tidak berasal dari petir ataupun pantulan lampu jalan.
Sebuah keretakan tipis muncul di udara kosong tepat di depan pupil matanya. Dari celah retakan itu, terpancar garis cahaya hijau neon pudar bercampur kuning amber, menyerupai warna papan skor mesin kasino kuno.
Garis cahaya itu memadat dengan cepat lalu membentuk deretan tulisan semi-transparan di bidang pandangnya.
...----------------...
...[SISTEM KASINO]...
...[Status: Penyeimbang Terpilih]...
...[Kondisi: Trauma Amputasi & Sepsis Awal]...
...[Peluang Bertahan: 0,08%]...
...[Regenerasi Pasif: 1 Point Chip / 24 Jam]...
...----------------...
Sora mengerjapkan matanya, mengira otaknya sedang meracau karena kehilangan banyak darah. Namun deretan teks neon itu tidak pudar tertimpa air hujan. Huruf dan angka itu tetap mengambang stabil, mengikuti gerakan matanya ke mana pun ia menoleh.
‘Mila.’
Nama itu menyengat benaknya, menahan kesadarannya agar tidak tumbang ke dalam air got.
Buku tabungannya sudah dirampas Jerry. Uang delapan puluh lima juta yang ia kumpulkan susah payah selama ini telah lenyap. Rumah sakit tidak akan menoleransi keterlambatan. Jika biaya administrasi tidak dibayar sebelum fajar menyingsing, mesin penunjang hidup adiknya akan dimatikan.
“Bangun…” bisik Sora pada dirinya sendiri. Bibirnya membiru dan giginya gemeretak menahan gigil. “Cepat bangun…”
Dengan bertumpu pada siku kanannya yang gemetar, Sora memaksakan tubuhnya merangkak di atas lumpur dan pecahan beling. Punggungnya perih tergores dinding bata, tetapi ia terus menyeret kakinya setapak demi setapak keluar dari Gang Comberan 14 menuju aspal basah jalan raya.
Di ujung persimpangan, papan nama Rumah Sakit Rakyat Tiram tampak berpendar redup di balik tirai hujan lebat.
Di sudut mata kirinya, angka peluang bertahan hidup itu terus merosot turun. Napas Sora memburu saat ia menekan luka tangannya yang terus berdarah, mempercepat langkah kakinya yang terseok-seok menembus badai sebelum waktu habis.