Sebagai anak sulung, aku sangat menyayangi ibuku. Wanita yang telah melahirkan, membesarkan serta mendidik ku.
“Kalo kamu udah nikah! Prioritaskan ibu dan adik mu, Ratih! Istri mu belakangan, dia itu wanita terakhir yang kamu kenal. Sayangi dia 20 persen aja, ingat itu pesan ibu, Nang!” ujar Sari penuh harap.
Aku hanya bisa tersenyum tulus, “Iya, bu! Danang akan selalu berbakti, mendengarkan semua perkataan ibu! Danang gak akan pernah membantah mau ibu!”
“Tenang aja Gi! Hati abang cuma buat Anggi. Mau kan Anggi kalo abang ajak serius? Bukan lagi pacaran, tapi …” beo ku kala itu.
Dan akhirnya ku nikahi Anggi, tanpa peduli dirinya yang mencintai pria lain. Yang penting aku pemenangnya, aku yang menikahinya.
Kejanggalan demi kejanggalan akhirnya mencuat, membuka tabir kehancuran dalam keluarga ku.
Mulai dari Anggi, gadis polos. Hitam manis dengan tubuh mungil, adik dari teman ku. Meninggal usai melahirkan putra kedua kami. Sementara si sulung baru menginjak usia 7 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
...🌼🌼🌼🌼...
Sebagai anak sulung, aku sangat menyayangi ibuku, wanita yang telah melahir kan, membesar kan dan mendidikku. Bagi ku, ibu adalah segala gala nya. Wanita yang patut di hormati dari siapa pun termasuk ayah.
Seingat diri ku, selama jantung ini berdetak. Gak ada satu perkataan ibu yang pernah aku bantah. Perkataan nya adalah suatu keharusan yang patut aku jalan kan, tak ayal nya suatu perintah atasan pada bawahan nya.
“Aku pria tertampan yang terlahir dari rahim wanita bernama ibu Sari. Dengan laki laki yang gak lain ayah ku sendiri, Risan. Danang 25 tahun. Pria yang bekerja sebagai penarik uang, dari setiap nasabah yang mengguna kan dana koperasi simpan pinjam yang saat ini masih beroperasi di wilayah tempat tinggal ku.” seru Danang. Berbicara panjang kali lebar, sembari mengamati bingkai foto yang memperlihat kan kedua orang tua dan diri nya.
Wusshhhhh.
Dari balik jendela, semilir angin malam berhembus kencang, bak musik yang mengalun merdu. Itu tampak dari dedaunan yang seakan bergoyang mengikuti hembusan angin.
Seperti biasa, pukul 1 dini hari aku harus terjaga dari tidur, meski rasa kantuk membuat ku enggan untuk meninggal kan kasur empuk ku. Tapi apa lah daya, rasa hormat ku pada ibu, mengalah kan rasa kantuk ku.
Byur.
Mata yang semula masih di serang kantuk, seketika melek. Usai ku basuh dengan air sedingin es dari keran.
“Hah!”
Ku hembus kan nafas segar dari mulut ku usai menggosok gigi. Makin percaya diri lah aku saat berbicara dengan lawan jenis. Kali saja hari ini bisa bertemu jodoh dunia ku. Entah itu di pasar atau di mana pun.
“Aku tampan, tubuh ku tinggi! Tapi kenapa aku belum juga menikah ya? Apa yang kurang dari ku? Usia ku sudah terbilang pantas untuk memiliki seorang istri! Wajah ku juga yaaaah sedikit mirip dengan bintang film, yang sudah redup masa kejayaan nya.” gumam Danang. Ia menatap wajah tampan nya di depan cermin kamar mandi yang ada di kamar nya.
Danang menghembus kan nafas kasar, sembari mengenakan jaket. Menyembunyi kan bobot tubuh nya yang sedikit gempal. Ia melangkah ke luar usai kunci motor berada dalam genggaman tangan nya.
“Kerjaan, aku punya! Masa sih pedagang di pasar gak ada yang minat untuk menjadikan ku suami dari putri mereka? Apa putri mereka minder jika harus bersanding dengan ku?” pikir Danang, dengan kedua tangan di stang motor bebek. Hendak menuntun ke luar rumah.
Otak Danang seakan gak sejalan dengan apa yang harus ia lakukan. Diri nya dan motor yang menjadi tunggangan nya, tetap pada tempat nya. Tanpa bergerak maju atau pun mundur.
Kreeek.
Pintu kamar di buka dari dalam, gak lama Sari muncul dengan make up cetar menghiasi wajahnya yang gak lagi muda. Bibirnya tampak puc4t, karena ia sengaja belum mewarnai bibir nya dengan gincu. Terlihat aneh, namun gak membuat Danang menyadari kemunculan sang ibu.
Sari mengerut kan kening nya, menatap Danang penuh selidik, “ASTAGA DANAAAAANG!!!!”
Danang menoleh ke arah asal suara, ia terperanjat kaget, “Astaga naga, mit demit!”
Sari melotot galak, “Kurang ajar kamu! Ini ibu bukan demit!”
Danang mengerucut kan bibir nya kesal, “Maaf, bu! Gak maksud ngatain ibu… ibu yang ngagetin Danang!”
“Gendeng kamu! Ngapain kamu ngelamun di situ? Kesambet demit baru tau rasa kamu ya! Cepet keluarin itu motor!” sentak Sari dengan nada gak santai, menunjuk nunjuk wajah Danang dengan jari telunjuk nya.
“Ssstttt masih malam ini, bu! Gak usah lanjut teriak teriak! Gimana kalo sampe adik adik sama bapak kebangun?”
“Itu salah kamu lah! Siapa suruh ngelamun! Pantas aja jodoh mu jauh, kamu ngelamun mulu! Sing eling toh Danang!” gerutu Sari tanpa saringan.
Danang terkekeh, gak ada tampang marah di wajah nya, “Jodoh yang belum nyamperin Danang, bu! Anak ibu tampan kaya gini, pasti lah dapat jodoh biar kata tau kapan jodoh nya datang!”
Sari mengibas kan tangan nya di depan wajah, “Alasan aja kamu! Abis ngeluarin motor, gak usah masuk lagi kamu! Tunggu ibu di luar!”
“Lah ngapain nunggu di luar, kapan ibu udah rapih! Gak langsung jalan aja kita ke pasar, bu?” tawar Danang dengan enteng nya. Mulai menuntun ke luar motor yang hendak ia guna kan ke pasar.
Sari mendengus kesal, “Gak usah banyak alasan kamu! Cukup iya kan saja omongan ibu. Gak pake ngebantah, bisa kan?”
“Bisa, bu!”
Gak ada lagi perdebatan antara ibu dan anak. Sari menghilang di balik pintu kamar berukir. Hanya ia seorang yang bisa ke luar masuk kamar berpintu dengan ukir yang tampak apik. Kamar itu selalu terkunci rapat dan kunci nya hanya ia yang pegang.
Tak seorang pun ia biarkan untuk memasuki kamar itu. Dan wajah jika gak ada yang tau apa yang ia laku kan dan apa saja yang ada di balik kamar itu. Seakan menjadi rahasia umum tersendiri untuk penghuni rumah itu.
Dua penghuni rumah besar itu tengah sibuk dengan rutinitas sehari hari. Tapi tidak dengan 5 penghuni lain nya, mereka di pasti kan masih terlelap di kamar mereka masing masing. Empat orang adik adik Danang ada ayah yang menjadi penghuni kamar utama.
‘Kalian harus pastikan, para pedagang di pasar gak ada yang menolak tawaran ku! Pokok nya kalian harus kerja dengan baik, kalo masih ingin aku beri makan! Ingat itu!’ titah Sari dengan tatapan melotot galak.
Sementara makhluk tak kasat mata yang mengitari nya. Tengah melompat lompat kegirangan. Mereka begitu menyeram kan dengan rupa nya, tapi tidak untuk Sari. Di mata wanita paruh baya itu, mereka makhluk tak kasat mata yang menjadi sumber rejeki nya.
Motor melaju di tengah gelap nya malam, dengan lampu lampu jalan yang menerangi ruas jalan menuju pasar. Masih terbilang lengang kendaraan, hingga Danang bisa melaju kan kendaraan nya dengan leluasa tanpa macet.
“Nang, kamu itu putra kesayangan ibu. Dan sebagai anak tertua, kamu patut patuh dan berbakti sama ibu! Siapa pun wanita yang akan kamu nikahi, itu harus melalui persetujuan ibu. Ngerti kamu, Nang?” cerocos Sari panjang kali lebar, di tengah gelap nya malam dengan angin yang mendesir.
Danang tersenyum lebar, “Ibu gak usah khawatir soal itu!”
“Kamu udah punya calon belum, Nang? Perlu ibu cariin jodoh gak buat kamu?”
Bersambung …