Istri Cadangan Sang Mafia
Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.
Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.
Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Gaun pengantin itu sudah terpasang sejak dua jam lalu. Namun ruang rias tetap kosong.
"Non Selena?"
Seorang perias mengetuk pintu kamar mandi.
Tidak ada jawaban.
"Non Selena?"
Masih sunyi.
Rasa tidak enak mulai merambat. Ia mendorong pintu perlahan. Kosong. Tidak ada siapa pun.
Telepon genggam Selena tergeletak di atas meja rias. Kerudung pengantin masih tergantung rapi.
Yang hilang... Hanya pengantinnya.
Di aula utama Hotel Grand Meridian, ratusan tamu duduk tanpa banyak bicara. Mereka bukan datang untuk menghadiri pesta biasa. Mereka datang menyaksikan penyatuan dua keluarga berpengaruh.
Keluarga Timothy. Dan keluarga Kustiono.
Di depan aula, Vincent Timothy berdiri dengan setelan jas hitam. Tangannya berada di dalam saku celana. Tatapannya lurus ke depan. Tidak tampak gugup. Tidak tampak bahagia.
Penghulu melirik arlojinya. "Tuan Vincent...mungkin kita bisa menunggu beberapa menit lagi." Vincent tidak menjawab.
Sepuluh menit berlalu.
Bisik-bisik mulai memenuhi ruangan. Musik pernikahan tetap mengalun.
Vincent menurunkan tangannya dari arloji. Tatapannya tetap lurus ke pintu. Dingin.
Semakin lama pintu itu tidak terbuka, semakin berat udara di dalam ruangan. Bahkan alunan musik yang semula terdengar indah kini terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tidak diinginkan.
Seorang pria bersetelan hitam bergegas mendekat. Ia membungkukkan badan di samping Vincent. "Bos."
Vincent tidak menoleh. "Bicaralah."
"Wanita itu... tidak ada di ruangannya. Sudah kami cari ke semua tempat. Tidak ditemukan."
Rahang Vincent mengeras. "Sejak kapan?"
"Dari rekaman CCTV, sejak pukul 04.00."
"Kamu tidak bisa meneleponnya?"
"Ponselnya ditinggal, Bos. "
Beberapa tamu mulai saling berbisik. Keluarga Kustiono yang duduk di barisan depan tampak pucat. Ayah Selena berkeringat dingin. Ibunya menunduk sambil menangis pelan.
Semua tahu...Membuat bos keluarga Timothy menunggu bukan sekadar penghinaan. Itu bisa menjadi alasan sebuah keluarga lenyap dalam semalam.
Brak!
Ayah Selena berlutut di tengah aula. "Maafkan kami, Tuan Vincent!"
Suasana seketika membeku.
"Saya bersumpah tidak tahu Selena akan melakukan ini."
Vincent akhirnya menoleh. Tatapannya datar.
"Dia kabur." Bukan pertanyaan. Sebuah kesimpulan.
Ayah Selena gemetar. "Saya... saya akan menemukannya."
"Tidak perlu." Dua kata itu justru membuat seluruh tubuh pria paruh baya itu melemas.
Vincent melangkah turun. Setiap langkah seolah menghantam lantai marmer. Berhenti tepat di depan keluarga Kustiono. "Perjanjian antara keluarga Timothy dan keluarga Kustiono tetap berlangsung." Suara Vincent tenang. Justru karena terlalu tenang, semua orang menahan napas.
"Lalu... bagaimana dengan pernikahan ini, Tuan?" tanya ayah Selena lirih.
Vincent mengangkat pandangan. Tatapannya berhenti pada seorang gadis yang sejak tadi berdiri di belakang. Gaun sederhana. Wajah pucat.
Serina. Adik kandung Selena.
"Dia." Semua orang menoleh bersamaan. Serina ikut membeku.
Vincent menunjuknya. "Kalau kakaknya pergi...maka adiknya yang menggantikan."
"Apa?" Serina refleks berseru.
Ayah Selena langsung menoleh. "Tuan Vincent... mohon beri kami waktu. Satu jam saja. Saya akan menemukan Selena."
Vincent tetap berdiri tanpa mengubah ekspresi.
"Akad dimulai hari ini."
"Saya mohon... Saya pasti bisa..."
"Tidak." Jawaban itu memotong kalimatnya.
Vincent melirik arlojinya. "Keluarga Timothy tidak menunggu orang yang memilih lari."
Ruangan kembali sunyi. Tak seorang pun berani membuka suara. Vincent menatap ayah Selena.
"Perjanjian tetap berjalan."
Tatapannya bergeser kepada Serina. "Siapkan dia."
Dua pria berbaju hitam melangkah maju.
"Bukan!" Serina mundur satu langkah. "Aku tidak mau!"
Ibunya buru-buru memeluk bahunya. "Serina... ikut Ibu."
"Tidak! Lepaskan aku!"
Beberapa perias yang sejak tadi menunggu di luar hanya saling pandang.
Ayah Selena menutup mata sejenak, lalu berkata lirih, "Bawa dia ke ruang rias."
Begitu pintu ruang rias tertutup, Serina langsung melepaskan tangan ibunya. "Ayah... baru saja bilang apa?"
"Selena pergi." Suara ayahnya terdengar parau. "Dia meninggalkan ruangan sejak tadi."
Serina menggeleng. "Tidak mungkin. Kak Selena tidak akan melakukan itu."
"Dia kabur." Kali ini ibunya yang menjawab. Air mata terus mengalir di pipinya. "Teleponnya ditinggalkan."
"Orangnya juga belum ditemukan." ujar Kustiono.
Serina mundur hingga punggungnya menyentuh meja rias. "Lalu... kenapa Ayah dan Ibu membawaku ke sini?"
Kustiono memandang gaun pengantin yang tergantung di sudut ruangan. "Karena sekarang...yang akan menikah dengan Vincent Timothy adalah kamu."
Deg.
"Mustahil!" Serina menggeleng keras. "Aku bukan penggantinya! Kalian tidak bisa memaksaku!"
Yeni Kustiono meraih kedua tangannya. "Serina... dengarkan Ibu."
"Tidak!" Serina menarik tangannya. "Aku bahkan belum pernah bertemu pria itu! Kenapa harus aku?"
Ayahnya menundukkan kepala. "Karena keluarga Timothy sudah menunggu di altar." Ia berhenti sesaat. "Kalau pernikahan ini batal..keluarga kita selesai."
Serina membeku.
"Ayah mohon." Perlahan, pria itu berlutut di hadapan putrinya. "Selamatkan keluarga kita."
Serina menatap ayahnya tanpa berkedip. Pria yang selama ini selalu berdiri di depannya...Kini justru berlutut memohon kepadanya.
Ruang rias kembali sunyi.
Gaun pengantin putih di sudut ruangan bergoyang pelan tertiup embusan pendingin udara. Seorang perias melangkah mendekat sambil membawa gaun itu. "Maaf, Nona..."
Serina mengangkat wajah.
"Waktunya sudah tidak banyak."
Dari kejauhan, musik pernikahan mulai terdengar.
Serina memejamkan mata beberapa detik. Saat membukanya kembali, ia menatap ayahnya yang masih berlutut. Perlahan, ia mengangguk. Tanpa sepatah kata. Perias segera membawanya ke ruang ganti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Serina melangkah pelan memasuki ruangan. Semua mata langsung tertuju kepadanya. Bukan Selena. Melainkan adiknya. Bisik-bisik memenuhi setiap sudut aula.
"Itu bukan pengantinnya."
"Katanya yang kabur kakaknya."
"Berani sekali keluarga Kustiono."
Namun semua suara perlahan menghilang saat Vincent Timothy mengangkat pandangan.
Pria itu berdiri tegak di depan altar. Setelan jas hitam membalut tubuhnya dengan sempurna.
Tatapannya tenang. Tidak marah. Tidak pula terkejut. Seolah ia sudah menerima siapa pun wanita yang berdiri di hadapannya.
Pendeta membuka kitab di tangannya. "Apakah Saudara Vincent Timothy bersedia menerima Saudari Serina Kustiono sebagai istri..."
"Aku bersedia." Jawaban Vincent singkat. Tanpa ragu.
Kini semua mata beralih kepada Serina. Jari-jarinya mengepal di balik buket bunga. Ia menarik napas panjang. "...Aku bersedia."
Beberapa menit kemudian...
Tepuk tangan terdengar memenuhi aula. Sebuah pernikahan selesai dilangsungkan. Namun tidak ada senyum di wajah kedua mempelai.
Vincent hanya menoleh sebentar. "Kita segera pulang."
Serina mengikuti langkah pria itu keluar dari aula.
Mobil hitam panjang telah menunggu. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan. Hanya keheningan.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah mansion megah.
Serina mendongak. Inilah rumah yang mulai malam ini harus ia tinggali.
Pintu terbuka. Vincent melangkah masuk lebih dulu. Serina mengikuti dari belakang. Baru beberapa langkah memasuki ruang tamu...
Suara kecil terdengar dari lantai atas. "Ayah..."
Serina refleks mengangkat kepala. Seorang anak laki-laki berdiri di ujung tangga. Usianya sekitar lima tahun. Ia memeluk sebuah buku tebal di dadanya. Tatapannya lurus mengarah kepada Serina.
Lalu ia bertanya dengan suara tenang, "Siapa wanita itu?"
Vincent tidak menoleh. "Istriku."
Anak itu terdiam beberapa detik. Kemudian menatap Serina sekali lagi. "...Jadi, dia Mama baruku?"
Serina membeku.
Mama?
Pandangannya beralih cepat kepada Vincent.
Pria itu...Sudah memiliki anak?