NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Perjamuan di Atas Luka

Malam itu, kediaman megah keluarga Adiwangsa tampak berpijar di bawah lampu kristal yang mahal. Harum aroma masakan mewah memenuhi ruang makan, sebuah perjamuan yang dipersiapkan Aruna dengan saksama sejak fajar menyapa. Jari-jemarinya yang sedikit kasar karena sering terpapar sabun pembersih dan panas dapur, kini tertata rapi di atas meja, menunggu dengan sabar. Aruna mengenakan gaun berwarna pastel sederhana, kontras dengan kemewahan yang mengelilinginya. Ia selalu berusaha menjadi "istri yang pantas," meski ia tahu bagi mereka, ia hanyalah pelayan berstatus nyonya.

​"Aruna, kenapa supnya agak hambar? Kau tahu Adrian tidak suka makanan yang kurang bumbu," suara tajam Nyonya besar Adiwangsa, Ibu mertuanya, memecah keheningan. Beliau meletakkan sendok peraknya dengan denting yang sengaja dikeraskan.

​Aruna menunduk pelan. "Maaf, Ma. Tadi Aruna sudah mencicipinya, mungkin lidah Mama sedang kurang nyaman karena cuaca."

​"Jangan membantah! Kau ini kerjanya hanya di rumah, mengurus satu meja makan saja tidak becus," sahut Ibu mertuanya lagi.

​Adrian, yang duduk di kursi utama, sama sekali tidak membela istrinya. Matanya terpaku pada layar ponsel, jemarinya bergerak lincah mengirim pesan dengan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan pada Aruna. Dingin. Lima tahun pernikahan tidak membuat pria itu luluh. Baginya, Aruna adalah kewajiban yang harus dipenuhi karena wasiat ayahnya, bukan pilihan hati.

​Suara bel pintu berbunyi. Seorang pelayan membukakan pintu, dan tak lama kemudian, langkah kaki dengan sepatu hak tinggi yang tegas bergema di lantai marmer.

​"Selamat malam, semuanya. Maaf saya terlambat," suara itu lembut namun penuh percaya diri.

​Seorang wanita cantik masuk dengan gaun sutra yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya tergerai indah, dan tatapannya langsung tertuju pada Adrian. Namanya Valerie. Dia adalah rekan bisnis Adrian—begitu mereka menyebutnya di depan Aruna—namun Aruna bukan wanita bodoh. Ia bisa merasakan ada benang merah yang terikat di antara suaminya dan wanita itu.

​"Valerie! Oh, syukurlah kau datang. Ayo, duduk di sebelah Adrian," sambut Ibu mertua Aruna dengan nada bicara yang berubah seratus delapan puluh derajat. Ramah, hangat, seolah Valerie-lah menantu yang ia dambakan.

​Aruna terpaksa menggeser kursinya. Ia kini terpojok di ujung meja, menyaksikan sebuah sandiwara yang menyakitkan.

​"Aruna, tolong ambilkan piring bersih untuk Valerie. Dan buatkan jus jeruk segar, Valerie tidak suka minuman kemasan," perintah Adrian tanpa sedikit pun menoleh pada istrinya.

​Aruna berdiri, hatinya terasa seperti diremas. Ia berjalan ke dapur, namun langkahnya terhenti di balik pilar ruang makan saat mendengar percakapan mereka.

​"Adrian, kau terlihat lelah hari ini. Proyek baru itu pasti menguras energimu," bisik Valerie sembari menyentuh lengan Adrian secara terang-terangan di depan Ibu mertuanya.

​"Selama ada kau yang menemani diskusinya, aku tidak merasa lelah," jawab Adrian dengan nada yang begitu lembut, nada yang belum pernah Aruna dapatkan bahkan di malam pernikahan mereka.

​Ibu mertuanya terkekeh. "Kalian berdua memang pasangan kerja yang sangat serasi. Ibu selalu berpikir, andai saja Adrian didampingi wanita yang setara secara intelektual dan kelas sosial, pasti bisnis Adiwangsa sudah menguasai Asia."

​Aruna memejamkan mata di balik pilar. Kalimat itu seperti sembilu. "Setara." Sebuah kata yang digunakan untuk menghina asal-usulnya yang hanya dari keluarga biasa. Ia adalah wanita yang dipilih almarhum ayah Adrian karena ketulusannya, namun ketulusan ternyata tidak berharga di hadapan angka-angka saham dan status sosial.

​Saat Aruna kembali membawa jus, ia melihat Valerie sedang menunjukkan sesuatu di ponselnya kepada Adrian. Mereka tertawa kecil, kepala mereka saling mendekat. Di bawah meja, Aruna tidak sengaja melihat ujung sepatu Valerie mengusap kaki celana Adrian. Manipulatif. Valerie tahu Aruna ada di sana, ia sengaja memamerkan kekuasaannya atas Adrian.

​"Ini jusnya," Aruna meletakkan gelas itu.

​"Terima kasih, Aruna. Kau sungguh baik, ya. Adrian beruntung punya 'asisten' rumah tangga sepertimu," ujar Valerie dengan senyum yang terlihat tulus bagi orang awam, namun terasa seperti bisa beracun bagi Aruna.

​Malam itu berlanjut dengan diskusi bisnis yang sengaja dirancang untuk menyingkirkan Aruna dari percakapan. Aruna hanya diam, mengumpulkan piring-piring kotor, sementara suaminya merencanakan masa depan dengan wanita lain di depan matanya sendiri.

​Setelah perjamuan usai dan Valerie pulang diantar oleh Adrian ke depan mobilnya, suasana rumah kembali mencekam. Ibu mertua Aruna memanggilnya ke ruang tengah. Di sana, Adrian sudah duduk dengan wajah kaku. Di atas meja kopi, terdapat beberapa lembar dokumen.

​"Aruna, duduklah," ujar Adrian dingin.

​Aruna duduk, jantungnya berdegup kencang. Ia mengira pengusiran itu akan terjadi malam ini.

​"Valerie akan lebih sering datang ke sini karena proyek besar kita. Aku tidak ingin kau membuat suasana jadi canggung dengan wajahmu yang cemberut itu," kata Adrian langsung pada intinya. "Dan satu lagi... aku sudah memikirkan ini matang-matang. Pernikahan kita sudah tidak sehat. Kita tidak memiliki visi yang sama."

​Aruna menatap dokumen itu. Draft Perjanjian Perceraian.

​"Adrian, apa maksudnya ini? Aku selalu berusaha..."

​"Berusaha saja tidak cukup, Aruna!" bentak Ibu mertuanya. "Kau tidak bisa memberikan keturunan, kau tidak bisa membantu bisnis, kau hanya bisa memasak dan membersihkan debu. Pelayan pun bisa melakukannya!"

​"Aku ingin kita bercerai secara baik-baik," sambung Adrian, nadanya lebih tenang namun lebih mematikan. "Aku tidak akan mengusirmu sekarang. Kita akan tetap tinggal satu rumah sampai sidang pertama di pengadilan agama bulan depan. Aku ingin menjaga citra keluarga di mata publik sebelum pengumuman resmi. Tapi ingat, di rumah ini, kau bukan lagi istriku secara batin. Kau hanya tamu yang menunggu waktu berangkat."

​"Sidang bulan depan?" Aruna berbisik parau. "Jadi, selama masa tunggu ini, aku harus melihatmu bersama Valerie di rumah ini?"

​"Itu konsekuensinya jika kau ingin proses ini berjalan lancar tanpa aku harus membeberkan 'ketidakmampuanmu' di depan hakim," ancam Adrian.

​Aruna menatap suaminya. Pria yang dulu ia cintai kini tampak seperti monster yang memakai setelan jas mahal. Di saat itulah, di tengah kehancuran hatinya, sebuah pemikiran licik mulai tumbuh. Jika mereka ingin ia tinggal di sini sebagai "tamu" selama masa sidang, maka ia akan memberikan mereka pertunjukan yang tak terlupakan.

​"Baik," jawab Aruna singkat. Ia tidak menangis. Ia tidak memohon.

​Adrian tampak terkejut dengan ketenangan Aruna. "Kau setuju?"

​"Aku setuju untuk mengikuti proses hukumnya. Tapi selama aku masih memegang status istri sah di mata hukum sampai putusan ketok palu, jangan harap kau bisa membawa Valerie masuk ke kamar kita," Aruna berdiri, suaranya kini terdengar lebih tajam.

​Ibu mertuanya mencibir. "Lihatlah, si kucing penurut sudah mulai berani mengeluarkan kuku."

​Aruna tidak membalas. Ia berjalan menuju kamarnya, menutup pintu, dan bersandar di sana. Ia tahu, masa tunggu sidang ini adalah waktu baginya untuk bersiap. Ia memang tidak punya harta, ia memang dihina, tapi ia punya waktu. Dan selama satu bulan ke depan, ia akan memastikan setiap senyuman yang ia berikan adalah racun yang perlahan akan melumpuhkan Adrian dan keluarganya.

​Drama ini baru saja dimulai. Dan Aruna tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban untuk kedua kalinya.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!