Janji di Bawah Pohon Akasia
Tahun 1942 Ardan menggenggam tangan Fatma erat-erat di balik batang pohon akasia yang besar. Suara deru mesin pesawat tempur terdengar di kejauhan, merobek langit sore yang merah. "Aku harus pergi, F
0
0
𝙆𝙚𝙙𝙖𝙞 𝙆𝙤𝙥𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙎𝙠𝙚𝙩𝙨𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙏𝙖𝙠 𝙐𝙨𝙖𝙞
Raka selalu duduk di meja nomor 4, tepat di pojok kedai kopi "Senja". Bukan karena kopinya yang paling enak, tapi karena dari sana ia punya sudut pandang sempurna untuk menggambar sosok gadis yang sel
0
0
Ketukan di Jam Dua Pagi
Aris selalu bangga dengan apartemen barunya di lantai 12. Pemandangan kota yang indah dan keheningan yang total adalah kemewahan bagi seorang penulis seperti dirinya. Namun, keheningan itu mulai teras
0
0
Sayap di balik pundak sulung
Di sebuah rumah kecil yang selalu beraroma kayu manis dan cucian bersih, hiduplah seorang gadis bernama Arumi. Sebagai anak perempuan pertama, Arumi tidak hanya mewarisi nama keluarga, tetapi juga
0
0
Sang Seniman
Koridor sekolah masih sepi saat Alana berjalan menuju kelas. Matanya sedikit sembab karena tidur yang tidak benar-benar nyenyak. Bayangan Gavin yang menemukan sketsa tanduk setan itu terus mengganggu
0
1
Surga di Telapak Kaki Ibu Sambung
Bagi sebagian besar anak, ibu adalah tempat pulang yang paling teduh. Namun bagiku, Arlan, ibu kandung adalah sebuah teka-teki yang menyakitkan. Sejak kecil, ingatanku tentang Ibu Rahma—ibu kandungku—
0
1
Dermaga Terakhir di Ambang 30
Bagiku, angka 29 bukan sekadar angka. Ia terasa seperti detak bom waktu yang siap meledak di tengah pesta pernikahan sepupu-sepupuku yang jauh lebih muda. Di Indonesia, atau setidaknya di lingkungan p
0
1
Rembulan di Penghujung Tahun
Dahulu, nama Lisa Marlina hanyalah sebuah catatan kaki yang remeh dalam ingatan teman-teman sekolahnya. Di koridor SMA yang sempit, Lisa adalah sasaran empuk. "Si Itam," "Si Pendek," atau "Si Miskin y
0
1
Ritual yang Membagongkan
Dimitri adalah definisi dari manusia yang tidak memiliki tombol rasa takut, atau mungkin lebih tepatnya, ia kekurangan beberapa sirkuit di otaknya. Di saat pemuda lain seusianya di pinggiran kota sibu
0
2
Mentari Degestan dan Salju Moskwa (Part 3)
Apartemen di pusat Moskwa itu kini terasa seperti museum kenangan yang sunyi. Polina duduk di lantai, bersandar pada pintu lemari es yang tidak lagi ditempeli daftar belanjaan halal oleh Ruslan. Musim
0
1
Mentari Degestan dan Salju Moskwa (Part 2)
Enam bulan telah berlalu sejak deru mesin kereta membawa Ruslan pergi dari hiruk-pikuk Moskwa, meninggalkan sebuah apartemen yang kini pasti terasa terlalu luas bagi Polina. Di Dagestan, waktu seolah
0
1
Mentari Dagestan dan Salju Moskwa
Jika hidup adalah sebuah drama Korea, maka Ruslan Magomedov adalah pemeran utama pria yang terlalu kaku untuk menjadi nyata. Ia bertubuh tegap seperti beruang pegunungan Kaukasus, dengan janggut tipis
0
1
Melodi di Tepian Sungai Seine
Musim dingin di Paris tidak pernah seromantis yang digambarkan dalam kartu pos. Bagi Jean-Pierre, Paris adalah gigilan yang merayap dari trotoar beton, masuk ke dalam lubang-lubang sepatu botnya yang
0
1
Sajadah Basah Sang Cheryl
Lampu-lampu sorot itu selalu terasa seperti matahari yang menghakimi. Bagi Asmarania Cheryl Baharizkia—atau Cheryl, sebagaimana jutaan pasang mata mengenalnya melalui layar kaca—hidup adalah sebuah pa
0
1
Aku Bukan Pelakor
Kalian pikir kalian tahu segalanya hanya dari potongan tangkapan layar dan video durasi lima belas detik di TikTok? Kalian pikir kalian punya hak untuk meludahi layar ponsel kalian dan mengetik kata "
0
1
Dendang Sumbang Napas Terakhir
Suara riuh rendah penonton di Stadion Utama masih terngiang di telinga Elara, namun kini suara itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk gendang telinganya. Di balik panggung yang megah, di dalam r
0
1
Luka Terdalam yang Menolak Mengering
Gerimis sore itu membawa aroma tanah basah yang biasanya menenangkan bagi Fitri. Namun, setiap kali mendung menggantung rendah di langit pinggiran kota, dadanya selalu terasa sesak. Ingatan itu, memor
0
1
Rintik yang Menghapus Bayang
Suara hujan di Stasiun Balapan selalu punya nada yang sama bagi kebanyakan orang: bising, dingin, dan sedikit menyebalkan karena menghambat perjalanan. Namun bagi Arlan, hujan adalah sebuah peta. Buny
0
1
Bayangan dibalik CERMIN
Aku selalu percaya pada hal-hal yang bisa dijelaskan secara logis. Sains, fakta, dan bukti nyata adalah teman terbaikku. Tapi sejak malam itu… semua keyakinanku hancur. Aku pindah ke rumah baru seora
0
0
Suara diLoteng
Aku pindah ke rumah tua itu tepat satu bulan lalu. Rumah itu diwariskan nenek dari pihak ayah, di pinggiran kota yang sepi. Bangunannya besar, dua lantai, dengan loteng yang selalu tertutup rapat. Tet
0
0