Salzburg belum benar-benar terjaga saat Thalassa Vespera mengunci pintu apartemennya di kawasan Nonntal. Udara musim semi yang dingin menyusup di antara celah mantel kasmirnya, membawa aroma khas roti gandum dari toko Bäckerei tua dan wangi tanah yang masih lembap oleh sisa embun. Pagi itu, kota kelahiran Mozart ini tampak seperti lukisan cat air yang masih basah; lembut, tenang, dan penuh rahasia. Thalassa, dengan rambut yang dibiarkan tergerai tertiup angin Alpen, mulai melangkah tanpa tujuan pasti. Namun, di dalam hatinya, hanya ada satu koordinat yang tetap: wajah seorang pemuda yang telah merampas ketenangannya sejak semester pertama di Universität Salzburg.
Pemuda itu adalah Orion Alaric Zephyrinus. Nama yang seindah pemiliknya, seorang mahasiswa cerdas yang kecerdasannya diakui di seluruh fakultas hukum, namun kebaikannya jauh lebih luas dari sekadar teori-teori keadilan. Orion adalah alasan mengapa Thalassa seringkali mendadak bisu, mengapa jemarinya gemetar setiap kali mereka tak sengaja bersentuhan saat mengambil buku di perpustakaan, dan mengapa ia lebih memilih untuk berkeliling kota seharian daripada harus berhadapan dengan Orion dan mengakui betapa hatinya telah hancur berkeping-keping oleh rasa suka yang teramat sangat.
Langkah Thalassa membawanya menuju Jembatan Makartsteg. Ribuan gembok cinta yang terpasang di sana tampak berkilauan tertimpa cahaya matahari pagi yang masih pucat. Thalassa berhenti di tengah jembatan, menatap aliran Sungai Salzach yang mengalir tenang di bawahnya. Ia teringat bagaimana Orion pernah berdiri di tempat yang sama, menjelaskan sejarah jembatan ini dengan suara baritonnya yang menenangkan, sementara Thalassa hanya bisa menatap pantulan cahaya di mata Orion. Cinta, pikir Thalassa, adalah gembok tanpa kunci jika ia terus-menerus memendamnya. Namun, ia adalah tawanan dari rasa malunya sendiri. Ia takut jika kata-kata itu keluar, keajaiban kecil yang mereka miliki sebagai sahabat akan menguap seperti kabut di atas Pegunungan Kapuzinerberg.
Ia melanjutkan perjalanannya melewati Getreidegasse, gang sempit dengan papan-papan toko besi tempa yang artistik. Di setiap sudut, ia seolah melihat bayangan Orion Alaric Zephyrinus. Di sana, di depan rumah kelahiran Mozart, ia teringat Orion yang tertawa lepas saat mereka makan cokelat Mozartkugel yang terlalu manis. Kerinduan itu bukan lagi sekadar getaran, melainkan rasa sakit yang indah. Thalassa merasa seperti sedang menulis lagu tanpa nada, atau menyusun puisi tanpa rima. Ia mencintai Orion dengan cara yang paling sunyi, sebuah cinta yang tumbuh di antara tumpukan buku referensi dan aroma kopi di kafe kampus.
Menjelang siang, Thalassa sampai di Taman Mirabell. Hamparan tulip dan pansy berwarna-warni membentuk pola geometris yang sempurna, namun matanya terus mencari sosok tinggi dengan rambut berantakan yang biasanya duduk di salah satu bangku taman sambil membaca jurnal hukum. Orion tidak ada di sana. Kekosongan itu membuat Thalassa merasa Salzburg mendadak kehilangan warnanya. Ia duduk di dekat Air Mancur Pegasus, membuka buku catatannya, dan mulai menuliskan kalimat-kalimat yang tak akan pernah sampai ke telinga pria itu. Ia menulis tentang betapa baiknya Orion yang pernah meminjamkan jaketnya saat Thalassa kedinginan, tentang betapa tulusnya Orion saat membantunya memahami hukum perdata yang rumit. Semuanya tentang Orion, matahari yang tak pernah berani ia tatap langsung.
Matahari merangkak naik, menyinari benteng Hohensalzburg yang berdiri megah di puncak bukit, seolah menjadi saksi bisu atas kegundahan hati Thalassa Vespera. Ia mendaki lereng-lereng curam menuju bukit, membiarkan napasnya terengah agar rasa lelah fisik bisa sedikit mengalihkan rasa lelah batinnya. Dari atas sana, Salzburg tampak seperti kota mainan yang indah, namun bagi Thalassa, kota ini adalah labirin rindu. Ia bertanya-tanya pada langit yang biru cerah, mampukah seorang Orion Alaric Zephyrinus, sang bintang kampus yang dipuja banyak orang, benar-benar menjadi miliknya? Ataukah ia hanya ditakdirkan untuk menjadi pengagum rahasia yang terhapus waktu?
Sore hari tiba, membawa warna-warna yang mulai hangat ke permukaan kota. Thalassa turun dari bukit dan berjalan menuju tepian sungai sekali lagi. Kali ini, langkahnya lebih lambat. Ia merasa seperti sedang mengejar sisa-sisa napas hari. Di kejauhan, ia melihat seseorang berdiri di dekat dermaga kapal wisata. Jantungnya berdegup kencang, sebuah ritme yang hanya bisa diciptakan oleh satu nama. Itu Orion.
Orion Alaric Zephyrinus berdiri di sana, mengenakan sweter biru tua yang membuat matanya tampak lebih dalam. Ia sedang menatap air, namun ketika ia menoleh dan mendapati Thalassa sedang menatapnya dari kejauhan, sebuah senyum lebar terbentuk di wajahnya. Senyum yang membuat Thalassa merasa seolah-olah seluruh musim semi di Eropa hanya diciptakan untuk momen ini.
"Thalassa!" panggil Orion, suaranya membelah kebisingan kecil di pinggir sungai.
Thalassa mendekat dengan kaki yang terasa seperti jeli. "Kamu sedang apa di sini, Orion?"
"Mencari inspirasi," jawab Orion enteng, namun matanya tidak lepas dari wajah Thalassa. "Dan sepertinya aku baru saja menemukannya."
Thalassa menunduk, pipinya memanas. Ia tidak tahu harus berkata apa. Keberaniannya menguap. Ia ingin mengatakan betapa ia merindukan pria ini sepanjang hari, betapa ia telah mengelilingi seluruh Salzburg hanya untuk mencari jejaknya dalam pikirannya. Tapi ia hanya terdiam, memainkan ujung mantelnya.
Lalu, senja mulai merayap masuk ke Salzburg. Inilah saat di mana kota itu bertransformasi menjadi ruang paling puitis di muka bumi. Langit perlahan-lahan menanggalkan warna birunya, menggantinya dengan gradasi aprikot dan oranye yang membara di ufuk barat. Awan-awan tipis berarak seperti helaian sutra yang dicelup ke dalam tinta mawar. Cahaya matahari yang hampir tenggelam memantul di permukaan Sungai Salzach, mengubah airnya menjadi aliran emas cair yang berkilauan. Puncak-puncak gereja Barok dan menara benteng Hohensalzburg kini terbungkus siluet ungu tua yang anggun, seolah-olah seluruh kota sedang diselimuti oleh beludru paling halus. Udara menjadi lebih tenang, lebih sunyi, menyisakan ruang bagi detak jantung yang beradu dengan bisikan angin. Senja itu bukan hanya sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah pelukan alam yang mendalam, sebuah janji bahwa keindahan tidak harus selalu benderang untuk bisa dirasakan.
Di bawah naungan langit yang luar biasa itu, Orion melangkah selangkah lebih dekat. Bau parfumnya yang maskulin namun segar seperti hutan setelah hujan memenuhi indra penciuman Thalassa.
"Thalassa Vespera," ucap Orion dengan nada yang sangat serius namun lembut. "Aku sudah mencarimu ke seluruh kampus tadi pagi. Aku bahkan pergi ke perpustakaan, tapi bangku favoritmu kosong. Aku takut aku kehilangan kesempatan untuk mengatakan sesuatu."
Thalassa mendongak, matanya yang besar kini berkaca-kaca karena pantulan warna jingga di langit. "Katakan apa, Orion?"
Orion meraih tangan Thalassa, jari-jemarinya yang hangat menyelimuti tangan Thalassa yang dingin. "Bahwa Salzburg seindah apa pun tidak akan pernah cukup bagiku jika kamu tidak ada di sampingku. Aku menghabiskan waktu setahun terakhir hanya untuk mencoba mengumpulkan keberanian agar bisa mengajakmu melihat senja di sini, bukan sebagai teman kuliah, tapi sebagai orang yang ingin menjagamu selamanya."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Thalassa. Kata-kata Orion bagaikan lirik lagu paling indah yang pernah ditulis para penggubah, menusuk tepat di ulu hati, menghancurkan segala keraguan yang ia bangun sepanjang hari. Air mata kebahagiaan akhirnya jatuh, mengalir melewati pipinya yang memerah.
"Aku... aku juga, Orion Alaric Zephyrinus," bisik Thalassa dengan suara yang akhirnya tidak lagi malu-malu. "Aku mengelilingi kota ini dari pagi hanya karena aku terlalu takut untuk mengakuinya. Aku merindukanmu bahkan saat kita baru saja berpisah."
Orion tertawa pelan, sebuah tawa yang penuh dengan kelegaan. Ia menarik Thalassa ke dalam pelukannya. Di tengah senja Salzburg yang membara, di antara aroma sungai dan sejarah, dua jiwa yang selama ini saling mencari dalam diam akhirnya menemukan rumahnya. Harapan-harapan yang tadinya hanya menjadi angan-angan puitis kini menjadi kenyataan yang manis.
Cinta itu sederhana, pikir Thalassa sambil membenamkan wajahnya di dada hangat Orion. Ia tak perlu lagi berlari berkeliling kota. Karena kini, ke mana pun ia pergi, Salzburg akan selalu menjadi tempat di mana hatinya merasa utuh. Di bawah langit yang kini mulai menampakkan bintang-bintang kecil, senja itu menjadi saksi bahwa rindu yang tulus akan selalu menemukan jalan pulangnya, seindah melodi abadi yang lahir dari kota musik ini. Kehidupan mereka yang baru saja dimulai, terasa seperti bab pertama dari sebuah novel yang paling positif dan membahagiakan, penuh dengan janji-janji masa depan yang cerah di bawah bayang-bayang Alpen yang abadi.