Lampu neon di langit-langit kantor ini berkedip dengan ritme yang menyebalkan, seolah-olah ia pun sedang sekarat menahan beban kerja yang tak masuk akal. Di bawahnya, aku duduk tegak, menatap layar monitor yang menampilkan deretan angka dan laporan yang tidak ada habisnya. Jam di sudut kanan bawah menunjukkan pukul 16.55. Lima menit lagi menuju kebebasan, dan lima menit lagi menuju tatapan sinis dari meja seberang.
Nama saya tidak penting di sini. Di mata Pak Broto, bos kami, saya hanyalah "Unit 07"—sebuah komponen dalam mesin besar yang ia sebut perusahaan. Namun, bagi teman-temanku, aku adalah "Si Kaku" atau "Si Robot."
"Ran, ini laporan buat besok pagi ya. Tolong dipoles lagi, presentasi Pak Broto jam 8," suara itu datang dari Yoga, rekan kerjaku yang baru saja menerima bonus bulan lalu atas ide kampanye kreatif yang sebenarnya lahir dari coretan di buku catatanku.
Aku menoleh perlahan, tidak tersenyum, tapi tidak juga marah. "Besok pagi jam 08.00 sudah ada di meja Pak Broto. Tapi aku baru akan mengerjakannya besok jam 07.55."
Yoga mendengus, lalu berbalik sambil berbisik pada rekan di sebelahnya, "Lihat kan? Gak punya loyalitas sama sekali."
Aku hanya kembali menatap layar. Loyalitas? Kata itu sudah mati di hatiku sejak dua tahun yang lalu.
---
Semua bermula pada suatu Selasa yang mendung. Aku ingat betul, alarm ponselku tidak berbunyi karena kehabisan daya. Aku terbangun dengan jantung yang berdegup kencang seolah akan melompat keluar dari dada. Dengan napas tersengal-sengal, aku berlari ke kantor.
Aku sampai di depan mesin absensi tepat pukul 08.05. Telat lima menit.
Dunia tidak runtuh karena lima menit itu. Klien tidak membatalkan kontrak, dan kantor tidak terbakar. Namun, bagi Pak Broto, lima menit itu adalah pengkhianatan terhadap "marwah perusahaan."
"Kamu telat lima menit, Rani," ucapnya dingin di ruangannya yang kedap suara. "Sebagai hukuman atas ketidaksiplinanmu, kamu harus ganti waktu dua jam di akhir jam kerja nanti. Dan karena ini pelanggaran sistem, gajimu bulan ini dipotong dua ratus ribu rupiah."
Aku tertegun. Dua ratus ribu adalah jatah uang makanku selama seminggu lebih. "Tapi Pak, saya sering lembur sampai jam sepuluh malam tanpa dibayar..."
Pak Broto melepas kacamatanya, menatapku dengan sorot mata yang menghakimi. "Lembur itu bentuk loyalitas, Rani. Itu kewajiban moral kamu sebagai bagian dari keluarga besar perusahaan ini. Sedangkan telat adalah pelanggaran hukum. Jangan campur adukkan keduanya."
Malam itu, aku duduk sendirian di kantor yang gelap hingga pukul tujuh malam untuk mengganti "hutang" lima menitku. Tidak ada yang menemaniku, tidak ada uang lembur, bahkan air galon di dispenser pun sudah habis. Sambil menatap pantulan wajahku yang kusam di kaca jendela, sesuatu di dalam diriku patah. Rasa cinta pada pekerjaan ini menguap, menyisakan residu pahit yang dingin.
Sejak hari itu, aku berubah.
---
Aturan di kantor ini sangat ketat, hampir menyerupai penjara. Tidak boleh memegang ponsel selama jam kerja. Tidak boleh tidur sekejap pun, meski mata sudah merah karena kurang istirahat. Bahkan keluar untuk mencari makan siang pun dilarang; kami harus memesan katering kantor yang rasanya hambar dan mahal.
Aku mematuhi semuanya. Namun, aku juga menetapkan batasanku sendiri.
Aku datang tepat pukul 07.55, lima menit sebelum absen. Dan ketika jarum jam menyentuh angka lima sore, aku adalah orang pertama yang mematikan komputer, menyampirkan tas, dan berjalan keluar tanpa menoleh. Tidak ada lagi obrolan setelah jam kerja. Tidak ada lagi balasan WhatsApp di grup kantor. Telepon dari atasan setelah pukul lima sore adalah frekuensi yang tidak akan pernah kutangkap.
"Rani, kamu ini kenapa sekarang jadi kaku sekali?" tanya Bu Desi, manajer HRD, dalam satu sesi evaluasi. "Banyak laporan masuk kalau kamu sulit diajak kerja sama di luar jam kantor."
"Saya bekerja sesuai kontrak, Bu," jawabku tenang. "Kontrak saya mengatakan delapan jam kerja sehari. Saya memberikan delapan jam terbaik saya. Di luar itu, hidup saya bukan milik perusahaan."
Pak Broto, yang diam-diam ingin memecatku tapi takut dengan biaya pesangon, mulai menjalankan strategi "pembersihan." Ia tidak memecatku secara langsung, melainkan secara perlahan mencoba menghancurkan mentalku.
Tiba-tiba, aku diberi tiga *jobdesk* sekaligus. Aku yang biasanya mengurus administrasi, kini dipaksa memegang desain grafis dan manajemen media sosial. Semuanya dengan gaji yang tidak bertambah satu rupiah pun.
"Kerjakan ini, deadline besok sore. Jangan bilang tidak mampu, saya tahu kamu punya banyak waktu karena tidak pernah mau lembur," sindir Pak Broto suatu pagi sambil melempar tumpukan berkas ke mejaku.
Teman-temanku menatap dengan iba, tapi tak ada yang berani membela. Mereka sibuk menjilat demi keamanan posisi masing-masing. Puncaknya adalah ketika ide besarku tentang efisiensi distribusi dicuri oleh Yoga. Pak Broto memuji Yoga di depan semua orang dan memberinya bonus uang tunai. Aku? Aku hanya duduk di sana, mengerjakan tugas ketiga dari *jobdesk*-ku yang tidak masuk akal itu.
"Sabar ya, Ran," bisik Yoga pelan setelah rapat, sambil mengantongi amplop bonusnya. "Dunia memang gak adil."
Aku hanya tersenyum tipis. "Selamat, Yog. Semoga uangnya berkah."
---
Bulan-bulan berikutnya adalah neraka yang sistematis. Deadline diberikan di luar logika manusia. Tugas yang seharusnya dikerjakan tim besar, ditimpakan ke pundakku sendirian. Aku dilarang cuti dengan alasan "tenagaku sangat dibutuhkan," padahal aku tahu itu hanya cara agar aku merasa tertekan dan akhirnya menyerah.
Namun, mereka salah menilaiku. Aku mengerjakan semuanya. Aku bangun lebih pagi untuk riset secara mandiri, aku mengatur sistem kerjaku sedemikian rupa sehingga semua tugas selesai tepat waktu tanpa harus melewati jam lima sore. Aku menjadi karyawan paling produktif sekaligus paling dibenci karena aku tidak memberikan "diri"ku seutuhnya untuk mereka hisap.
Hingga suatu pagi, setelah setahun bertahan dalam tekanan yang luar biasa, aku berjalan masuk ke ruangan Pak Broto.
Bukan dengan tumpukan laporan, melainkan dengan selembar amplop putih.
"Apa ini? Kamu minta naik gaji?" tanya Pak Broto sinis tanpa melihatku.
"Itu surat pengunduran diri saya, Pak. Berlaku mulai hari ini," ucapku datar.
Pak Broto mendongak, matanya membelalak. "Hari ini? Kamu tidak bisa keluar begitu saja! Siapa yang akan memegang tiga divisi itu?"
"Itu masalah manajemen, Pak, bukan masalah saya lagi. Saya sudah menyelesaikan semua tanggungan saya sampai detik ini. Hak saya untuk berhenti."
Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah ringan. Di luar, teman-temanku berkumpul. Mereka kaget. Mereka mengira aku adalah "si tahan banting" yang akan bertahan sampai perusahaan ini terkubur. Mereka mengira aku tidak punya pilihan lain.
"Kamu mau ke mana, Ran? Di luar sana cari kerja susah!" seru Yoga.
Aku menoleh padanya, kali ini dengan senyum yang benar-benar tulus. "Aku tidak sedang mencari kerja, Yog. Aku sedang mencari hidupku kembali."
---
Satu tahun kemudian.
Aku sedang duduk di sebuah kafe kecil, menyesap kopi sambil mengerjakan beberapa proyek freelance yang hasilnya jauh lebih besar dari gajiku di kantor dulu. Tiba-tiba, aku melihat sosok yang tidak asing berjalan di trotoar.
Itu Yoga. Wajahnya tampak kuyu, pakaiannya tidak serapi dulu. Aku menyapanya.
"Rani?" Yoga terkejut melihatku. "Kamu... apa kabar?"
"Baik, Yog. Kamu sendiri? Bagaimana kabar kantor?"
Yoga menghela napas panjang, lalu duduk di hadapanku. "Kantor sudah tutup, Ran. Enam bulan setelah kamu pergi, semuanya berantakan. Pak Broto makin gila, dia menekan semua orang seperti dia menekan kamu dulu. Tapi bedanya, kami tidak sekuat kamu. Satu per satu manajer terbaik resign. Klien-klien besar komplain karena pekerjaan tidak ada yang beres. Perusahaan itu... bangkrut."
Aku terdiam. Tidak ada rasa puas atau keinginan untuk bersorak "rasakan itu!" di dalam hatiku. Yang ada hanyalah rasa iba.
"Banyak yang bilang itu karma karena mereka jahat sama kamu," lanjut Yoga pelan.
Aku menggeleng. "Bukan, Yog. Itu bukan karma. Itu hanya hasil dari manajemen yang tidak tepat. Sebuah rumah tidak akan bisa berdiri kokoh jika fondasinya dipaksa memikul beban tanpa pernah dirawat. Manusia itu bukan mesin. Bahkan mesin pun butuh istirahat dan pelumas agar tidak aus."
Kami berbincang sebentar sebelum Yoga pamit untuk pergi ke wawancara kerja lainnya. Aku melihat punggungnya menjauh, dan aku teringat kembali pada masa-masa aku harus mengganti lima menit waktu telatku dengan dua jam kerja paksa.
Kini, aku punya semua waktu di dunia. Dan yang paling penting, aku tidak lagi membiarkan siapapun menilai hargaku hanya dari sebuah mesin absensi. Budak korporat bukan ditentukan oleh di mana kita bekerja, tapi oleh sejauh mana kita membiarkan orang lain merampas martabat kita.
Aku menutup laptopku tepat saat matahari mulai terbenam. Jam menunjukkan pukul lima sore. Aku pulang, bukan karena takut pada aturan, tapi karena aku tahu kapan waktunya berhenti.