Suara notifikasi pesan singkat di pukul 02.15 pagi bukan lagi sebuah alarm bahaya bagiku; itu adalah detak jantung kedua yang dipaksakan oleh keadaan. Di layar ponsel yang cahayanya menusuk mata di kegelapan kamar, muncul sebuah nama: Pak Baskoro.
"Aris, tolong carikan file vendor konstruksi yang bulan lalu ya. Tiba-tiba saya kepikiran ada klausul yang kurang pas. Kirim filenya sekarang, besok pagi jam 6 kita bahas sebentar di kantor sebelum saya berangkat ke site."
Aku menghela napas, menatap langit-langit kamar yang tampak kelabu. Di sampingku, istriku bergumam dalam tidurnya, terganggu oleh pendar cahaya ponsel. Aku ingin sekali mengabaikannya, mematikan daya, dan kembali ke alam mimpi. Namun, jemariku yang sudah terbiasa patuh justru bergerak membuka laptop yang sengaja kuletakkan di atas nakas—siaga satu layaknya peralatan medis di ruang darurat.
---
Pak Baskoro adalah definisi manusia tanpa jeda. Beliau adalah orang pertama yang menyalakan lampu kantor saat embun masih tebal di dedaunan Kabupaten Bandung, dan orang terakhir yang mengunci pintu ketika jalanan sudah sunyi senyap. Secara personal, ia adalah pria yang luar biasa baik. Ia pernah membelikan vitamin untuk anak-anakku, atau tiba-tiba membawakan sekotak martabak manis untuk tim di sore hari yang melelahkan.
Namun, kebaikannya memiliki sisi gelap yang tak kasat mata: ia menganggap semua orang memiliki stamina dan kerinduan yang sama terhadap pekerjaan seperti dirinya.
Baginya, "loyalitas" adalah nafas. Bagiku, "loyalitas" perlahan mulai terasa seperti jerat yang mencekik leher.
"Aris, kamu itu tangan kanan saya yang paling bisa diandalkan," ucapnya suatu sore, sambil menepuk bahuku dengan mantap. "Tim lain banyak yang mengeluh kalau dikasih tugas tambahan, tapi kamu selalu siap. Itu yang saya suka."
Kalimat itu, yang seharusnya terdengar seperti pujian, justru terasa seperti beban batu yang ditumpuk di atas pundakku. Aku adalah tipe orang yang "gak bisa nolak". Setiap kali bibirku ingin mengucap kata "tidak", bayangan tentang profesionalisme dan rasa sungkan kepada kebaikan pribadinya selalu membungkamku.
---
Puncaknya terjadi pada hari Minggu, dua minggu yang lalu. Itu adalah satu-satunya hari di mana aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyentuh urusan kantor. Aku berencana membawa anak-anak jalan-jalan ke taman kota, sekadar menghirup udara luar setelah seminggu penuh terkurung di balik kubikel.
Tepat saat kami sedang bersiap memakai sepatu, ponselku berdering. Video call. Dari Pak Baskoro.
"Aris, maaf sekali mengganggu waktu liburmu. Saya di kantor sekarang, lagi beres-beres meja, lalu ingat ada satu berkas penting yang terselip. Bisa ke kantor sebentar? Hanya sepuluh menit untuk bantu saya cari di lemari arsip pusat. Saya lupa kuncinya kamu yang bawa atau ada di laci meja kamu."
Suasana di ruang tamu seketika hening. Anak sulungku menatapku dengan mata yang penuh harap, sedangkan istriku hanya membuang muka, mencoba menyembunyikan kekecewaannya yang sudah menumpuk setinggi gunung.
"Pak, apa tidak bisa besok pagi saja saat jam kerja dimulai? Saya sedang mau pergi dengan keluarga," jawabku, mencoba memberi perlawanan kecil.
"Aduh, maaf sekali, Ris. Ini harus saya pelajari sore ini buat bahan presentasi besok subuh. Sebentar saja, ya? Saya tunggu. Nanti saya traktir kopi enak di bawah."
Klik. Sambungan terputus sebelum aku sempat menegaskan keberatanku.
Hari itu, aku kembali ke kantor. Sepuluh menit yang dijanjikan berubah menjadi dua jam karena setelah berkas ditemukan, Pak Baskoro mengajakku berdiskusi tentang strategi bulan depan. Saat aku pulang, matahari sudah hampir terbenam, dan anak-anakku sudah tertidur di depan televisi dengan baju pergi yang masih melekat di tubuh mereka.
Aku duduk di kursi makan, menatap piring yang sudah dingin, dan menyadari sesuatu: aku sangat mencintai pekerjaanku sebagai admin proyek, tapi aku benci bagaimana pekerjaan ini merampas hidupku.
---
Senin pagi, aku datang ke kantor dengan lingkar mata hitam. Pak Baskoro sudah di sana, tampak segar seolah-olah ia baru saja pulang dari spa, padahal aku tahu dia hanya tidur empat jam.
"Aris, ayo kopi dulu," ajaknya ramah.
Aku menarik napas panjang. Inilah saatnya. Aku tidak butuh drama pengunduran diri yang heroik. Aku hanya butuh batas.
"Pak, boleh saya bicara jujur?" tanyaku sambil meletakkan cangkir kopi yang masih mengepul.
Pak Baskoro mengangguk, wajahnya berubah serius namun tetap hangat. "Tentu, ada masalah dengan vendor?"
"Bukan Pak. Ini tentang jam kerja," aku menjeda sejenak, mengumpulkan keberanian. "Saya sangat menghargai dedikasi Bapak. Saya juga sangat suka bekerja di sini. Tapi, telephone di tengah malam atau permintaan ke kantor di hari libur... itu mulai membuat saya kehilangan diri saya sendiri di rumah."
Pak Baskoro tampak terkejut. Benar-benar terkejut, seolah ide bahwa orang butuh istirahat total adalah konsep asing baginya.
"Saya ingin memberikan yang terbaik di jam kerja, Pak," lanjutku. "Kritik saya, beri saya target setinggi mungkin dari jam delapan pagi sampai jam lima sore. Saya akan selesaikan semuanya tanpa mengeluh. Tapi tolong, biarkan sisa waktu saya menjadi milik saya dan keluarga. Saya butuh waktu untuk 'mengisi baterai' agar tidak burnout."
Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa saat. Pak Baskoro menatap ke luar jendela, melihat para pekerja bangunan yang mulai beraktivitas di kejauhan.
"Kamu tahu, Ris," suaranya melunak. "Kadang saya lupa kalau tidak semua orang menjadikan kantor ini sebagai rumah utama mereka. Saya hidup untuk bekerja karena mungkin... hanya itu yang saya punya. Saya minta maaf kalau saya membuatmu merasa tercekik."
---
Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Pak Baskoro sesekali masih mengirim pesan singkat di malam hari, tapi sekarang selalu diawali dengan: "Balas besok pagi saja saat sudah di kantor, saya hanya takut lupa."
Aku pun mulai belajar untuk tegas. Pukul lima sore, aku menutup laptop. Jika ada berkas yang bisa dikerjakan di hari kerja, aku tidak akan menyentuhnya di hari Minggu, betapapun gelisahnya rasa ingin membantuku muncul.
Ternyata, dunia tidak kiamat ketika aku mulai berkata tidak. Perusahaan tetap berjalan, proyek tetap selesai, dan yang paling penting, aku tidak lagi merasa seperti robot yang dikendalikan oleh sinyal satelit di tengah malam.
Menjadi "budak korporat" seringkali bukan tentang seberapa jahat atasan kita, tapi tentang seberapa berani kita menggambar garis batas di atas meja kerja kita sendiri. Karena pada akhirnya, loyalitas yang paling hakiki adalah loyalitas kepada kesehatan mental dan kebahagiaan orang-orang yang menunggu kita di rumah.
Malam ini, ponselku bergetar sekali lagi pukul sembilan malam. Aku melihat layarnya. Pesan dari Pak Baskoro. Aku tersenyum, tidak membukanya, dan meletakkan ponsel itu di dalam laci ruang tamu. Aku kembali ke kamar, membacakan dongeng untuk anak-anakku hingga mereka terlelap—sebuah tugas yang jauh lebih penting daripada berkas manapun di dunia.