Di sebuah desa yang kumuh hiduplah seorang kakak beradik yang pintar dan kuat. Sang adik bernama Vanarut dia laki-laki yang pandai menggunakan pedang dan pistol. Sang kakak bernama Rasya umumnya nama itu untuk laki-laki tapi kali ini nama perempuan, dia pandai menggunakan pedang dan pisau. Selain kuat Rasya juga memiliki penampilan yang cantik.
Mereka adalah anak buangan, awalnya mereka tinggal dan lahir di kota besar. Namun diusia Vanarut yang ke 5 tahun mereka diusir karena dianggap simbol kesialan.
Untungnya pemimpin desa kumuh dan istrinya bersedia mengadopsi mereka. Rasya awalnya menolak karena takut membawa kesialan bagi desa kumuh itu. Tapi istri pemimpin desa meyakinkan, "kami malah senang kalau kalian mau menjadi anak kami, karena kami belum memiliki anak sama sekali. Selain itu, kami juga tidak percaya simbol kesialan. Itu tidak terbukti kebenarannya. Warga desa kami memiliki orang orang hebat yang memutuskan menetap di desa kami. Tidak akan ada kesialan yang akan datang. Hanya 1 masalah kami... Pajak. Yah, intinya kita aman dari kesialan. Kami pasti menemukan jalan keluar."
Rasya saling tatap dengan adiknya. Dia mengangguk, lebih baik dia menjadi anak mereka.
Itu cerita bertahun tahun lalu. Kini Vanarut berusia 15 tahun sedangkan Rasya berusia 18 tahun. Dan pemimpin desa dan istrinya yang dulu berusia sekitar 20 tahun kini telah berusia 30-an.
Pajak semakin lama semakin tinggi. Pemimpin desa dan istrinya memutuskan untuk pergi ke ibu kota. Rasya dan Vanarut dilarang ikut karena masih di bawah umur. "Kalian akan kembali bukan?" Tanya Rasya khawatir. "Kami akan kembali Rasya," jawab istri pemimpin desa. "Kami mendoakan keselamatan kalian," Vanarut menunduk. "Terima kasih, kami pergi dulu ya," ucap istri pemimpin desa.
3 bulan berlalu sejak pemimpin desa dan istrinya pergi ke ibu kota. Penduduk desa mulai gelisah, feeling mereka buruk. "Mereka akan kembali, pasti," ucap Rasya menenangkan.
3 hari berlalu, Rasya mulai curiga kenapa orang tua angkatnya belum kembali. 1 Minggu berlalu, istri pemimpin desa kembali dengan luka di seluruh tubuh. Rasya segera mendekatinya, "ibu kenapa? Dimana ayah?" Istri pemimpin desa meringis kesakitan, "pemerintah sialan itu... Mereka menggunakan uang pajak untuk kesenangan mereka sendiri. Ternyata sudah ratusan pemimpin desa yang memiliki kasus seperti kita. Mereka disiksa, ada yang dijadikan budak, dipecut sampai mati. Ayah kalian masih disana, hanya ibu yang berhasil kembali."
Penduduk desa segera mengobati istri pemimpin desa. Vanarut berbicara, "aku akan menyelamatkan ayah. Aku akan pergi ke ibu kota." Rasya menatapnya, "memang kau tahu jalannya?" Vanarut terdiam.
Rasya menundukkan kepalanya, dari tadi dia menahan tangis karena ayah angkatnya belum kembali. Dia hampir menangis.
Vanarut melangkah ke luar desa, "pasti ada pedagang lewat menuju ibu kota, aku akan menumpang." Salah satu penduduk desa berusaha menghentikannya, "ibumu saja terluka parah. Padahal dia adalah pendekar pedang. Kamu tidak tahu kan? Mungkin kamu bisa belajar ilmu pedang darinya baru ke ibu kota. Ayahmu orang kuat. Dia pasti akan tetap bertahan dan kembali."
Vanarut tetap melangkah, "semua pekerjaan tergantung niatnya. Aku pasti akan menyelamatkan ayah karena niatku sudah bulat."
Vanarut bertemu pedagang yang menuju ibu kota. Dia menumpang pedagang itu. 3 hari berlalu dia tiba di ibu kota. Vanarut segera berterima kasih kepada pedagang yang dia tumpangi dan segera berkeliling ibu kota.
"Ini bukan taman bermain. Bocah dilarang berkeliaran, sana pulang!" Seorang gubernur berseru ketus. "Tidak akan," Vanarut mengabaikannya. "Tuan sudah berbaik hati mengingatkanmu malah kamu seperti itu. Cepat berlutut," ucap prajurit yang menemani gubernur itu. "Aku tidak Sudi berlutut kepada iblis yang tega bersenang senang menggunakan pajak rakyat," Vanarut menyindir gubernur itu.
Vanarut meninggalkan mereka. Dia tidak tahu sedikit saja dia menyinggung pejabat negara nyawa ancamannya.
Malam hari dia mondar-mandir mencari tempat yang cocok untuk bermalam. Seorang gadis bangsawan mendekatinya, "aduh kakak tampan, kamu mencari tempat tidur? Kasihan sekali. Lebih baik kamu menginap di rumahku." Vanarut menggeleng. Gadis itu tetap ngotot mengajaknya, akhirnya Vanarut terpaksa harus mengikutinya.
Tiba di rumah gadis bangsawan itu... Vanarut terdiam, rumah bangsawan luas, besar, indah. Sangat berbeda dengan rumahnya di desa kumuh.
Ketika keluarga bangsawan itu terlelap. Vanarut berkeliling rumah itu. Dia masuk ke perpustakaan dan menemukan tangga menuju ruang bawah tanah. Vanarut melangkah tanpa ragu.
Matanya membelalak. Ruangan bawah tanah dipenuhi mayat manusia yang masih segar. Dua segera mencari ayahnya. 1 jam mencari, ayahnya tidak ada disana. Vanarut menghela napas. Dia kembali ke tempat tidur yang disediakan untuknya.
Keesokan harinya mereka sarapan bersama. Dan... Ayah gadis bangsawan itu ternyata adalah gubernur yang menegurnya kemarin. Vanarut cepat-cepat berterima kasih dan pergi dari rumah itu. Tanpa dia sadari dia di ikuti gubernur itu.
Hingga tiba di tempat yang sunyi, Vanarut baru menyadari nyawanya dalam bahaya. Dia menoleh, "ee... Ada apa? Gubernur?" Gubernur itu menatapnya murka, mendekati Vanarut. Vanarut sadar gubernur itu membawa senjata berbahaya. Untungnya Vanarut membawa pistol dari desanya. Gubernur membawa pisau tajam. Vanarut menelan ludah.
Tanpa menunggu lama gubernur segera menyerang Vanarut. Vanarut berusaha menepis serangannya. Senjata yang dia bawa bukan untuk pertarungan jarak dekat.
15 menit bertarung Vanarut segera kelelahan. Gubernur mencekik lehernya sangat kuat. Vanarut mulai kehabisan napas, tidak ada harapan untuknya.
"Lepaskan adikku," Rasya berseru. Pisau meluncur deras berhasil melukai tangan gubernur.
"Kakak!" Vanarut berseru senang. Selain kakaknya, ibunya yang sudah pulih ikut. Juga beberapa penduduk desa. Rasya menghunuskan pedangnya, "kejahatanmu sudah terungkap wahai koruptor."
Istri pemimpin desa berbicara, "selain korupsi ribuan mayat yang kau siksa juga tidak kau kubur. Sungguh kejam."
Gubernur itu menyerang Rasya tanpa ragu. Pertarungan sengit terjadi. Rasya sangat lincah, itu membuat gubernur kelelahan. Gubernur itu terkekeh, "kau pikir kau sudah menang?"
Gubernur melemparkan pisau yang dia sembunyikan ke perut Rasya. Perut Rasya langsung tertusuk pedang. "DASAR LICIK!" Rasya berteriak marah.
Istri pemimpin desa ikut menghunuskan pedangnya, "jangan sakiti putriku." Gubernur kembali bertarung melawan istri pemimpin desa. Istri pemimpin desa jauh lebih kuat darinya.
Hampir satu jam bertarung, penduduk desa hendak ikut bertarung tapi istri pemimpin desa selalu menghentikan mereka.
Kepala gubernur akhirnya berhasil terpenggal. "Ini balasan dari perbuatanmu," ucap istri pemimpin desa.
"AYAH!!!" Anak laki-laki gubernur berteriak. Vanarut berbicara pelan, "kalau tidak salah itu anaknya gubernur. Dia seusia kak Rasya." Istri pemimpin desa mengangguk, "memang."
Anak laki-laki gubernur berseru marah, "apa salah ayahku? Teganya kalian membunuh tanpa alasan."
"Oh, ya? Kami sudah menyelidiki para koruptor lho. Ayahmu salah satunya," ucap istri pemimpin desa. "Vanarut, bawa dia ke ruang bawah tanah rumah mereka. Kalau Rasya masih sanggup bergerak temani Vanarut. Kalian tahu tempatnya kan?" Rasya mengangguk, juga Vanarut. Rasya menarik lengan anak laki laki gubernur menuju rumahnya. Mereka menyelinap menuju ruangan bawah tanah.
Setelah tiba anak laki laki gubernur terdiam, dia tidak tau kenyataan ini. "Ini bukan perlakuan keluargaku," anak laki-laki gubernur menggelengkan kepalanya.
"Ini perbuatan orang tuamu dan adik perempuanmu. Kamu selama ini sekolah di luar negeri kan? Makanya tidak tahu. Ikutlah kami, kamu marah kan? Kamu ingin membunuh siapa pun yang jahat kan? Ikut kami, masih banyak koruptor dan pembunuh tanpa alasan," Rasya menatapnya tegas.
Anak laki-laki gubernur terlihat bimbang. Rasya memeluknya, "kami tahu kamu bingung. Kami mengerti. Kamu ingin mencegah kejadian seperti ini. Ikutlah kami, kita bersama-sama mengubah dunia."
"Eh? Kak?" Vanarut agak bingung dengan perlakuan Kakaknya. "Aku anak koruptor yang kejam. Aku juga jahat," anak laki-laki gubernur menundukkan kepalanya. "Kamu masih bisa diselamatkan, kamu bukan orang jahat," Rasya tersenyum manis.
"Eh? Kak?" Vanarut tambah bingung dengan perlakuan Kakaknya. Anak laki-laki gubernur mengangguk, "kalau memang aku masih bisa menjadi baik tolong aku."
Rasya melepaskan pelukannya, "baik. Dengan senang hati kami menolongmu." Mereka kembali ke tempat sunyi, tempat istri pemimpin desa dan penduduk berada.
Mereka hendak 'menghukum' koruptor selanjutnya tapi mereka istirahat dulu. Vanarut mendekati Rasya, "kak, kamu... Suka anak laki-laki gubernur itu ya?" Rasya menimpali, "dia bernama Nakey. Waktu pertama kali tiba di ibu kota aku tersesat saat mencarimu, dan aku keadaan terluka. Dialah yang menolongku. Dia baru saja datang, sebelumnya dia masih sekolah di luar negeri. Dia sedang berlibur, makanya dia pulang. Aku hanya membalas kebaikannya. Aku tidak menyukainya."
"Yakin?" Tanya Vanarut. "Memang hatiku bisa direbut semudah itu?" Tanya Rasya. Vanarut menanggapi, "Yah, dia cukup tampan sih. Kalo aku jadi kamu aku langsung suka sama dia. Siapa juga yang nggak akan suka sama orang yang tampan, baik, kaya. Wih bener-bener sempurna-" Rasya memotong kalimatnya, "iya kalo dimatamu, kalo dimatamu sih enggak. Aku meluk dia tadi perintah ibu. Ibu bilang masih ada cahaya kecil di hatinya. Dia belum sepenuhnya jahat. Dia pun tidak tahu kalau keluarganya jahat. Yah, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya sih. Ibarat pelukanku tadi aku menjauhkan buah itu dari pohonnya. Anggap saja seperti itu."
Istri pemimpin desa berseru, "ayo kita lanjut menemui pemerintah korup." Para penduduk desa mengangguk.
Kejadiannya tidak jauh beda seperti tadi. Istri pemimpin desa awalnya mencoba meluruskan perbuatan pemerintah itu, kalau tidak mau berarti dibunuh karena hampir semua pemerintah korup sama seperti pemerintah sebelumnya.
3 tahun berjalan. Mereka terus 'menghukum' pemerintah korup dan kejam. Mereka tidak selalu membunuh mereka. Kalau masih bisa diselesaikan dengan baik maka dengan berdiskusi saja sudah cukup.
Sejauh ini mereka belum menemukan pemimpin desa. Setidaknya identitas mereka belum diketahui.
Mereka terus menjalankan misi menghukum pemerintah. Hingga tiba mereka akan menghukum pemerintah yang melukai pemimpin desa mereka.
Sayang sekali, pemerintah itu tidak mau berbicara baik-baik. Hal itu membuat para penduduk desa marah. Sudah 2 hari berlalu. Misi itu belum selesai. Istri pemimpin desa memutuskan membunuh pemerintah itu malam hari.
"Nanti Rasya dan Vanarut mengalihkan perhatian prajurit yang melindunginya. Nakey pancing pemerintah itu menemuiku. Dan sisanya tolong menyamar menjadi pelayan atau apalah yang bekerja di rumahnya. Kita pantau situasi. Kalau sudah ada waktu yang pas baru kita hukum si pemerintah sialan itu," istri pemimpin desa membuat rencana.
Tidak sepenuhnya rencana itu berjalan lancar, tapi mereka tetap berhasil membuat rencana itu sukses. Dan... Istri pemimpin desa itu membunuh pemerintah itu. Mereka juga diam-diam membebaskan para budak dan orang yang disiksa. Disana mereka bertemu kembali dengan pemimpin desa.
"Ayah!" Vanarut dan Rasya memeluk erat pemimpin desa. Istri pemimpin desa menghela napas lega, "untungnya kamu tidak menyerah bertahan hidup. Keberhasilan memang selalu muncul di akhir." Pemimpin desa mengangguk, "terima kasih kalian sudah berusaha menyelamatkanku. Jangan remehkan aku. Aku memiliki fisik yang kuat, tidak mungkin mati semudah itu, kecuali takdir. Kalian harus meninggalkan pekerjaan kalian. Sebelum kalian ketahuan cepatlah berhenti."
Penduduk desa mengangguk, "kami memang berniat berhenti karena tujuan kami adalah menyelamatkanmu."
Pemimpin desa tertawa, "terima kasih. Sekarang ayo kembali. Dan kamu... Kalau tidak salah namamu Nakey kan? Kamu bisa menjadi penduduk desa kami. Kami tidaklah kaya. Tapi kami tidak akan membawamu menuju kegelapan lebih jauh lagi." Nakey mengangguk. Mereka kembali ke desa dengan selamat. Tidak ada yang tahu merekalah yang 'menghukum' pemerintah yang jahat. Mereka hidup bahagia selamanya di desa mereka.
TAMAT
(INI HANYA CERITA FIKSI)
Mohon maaf jika ada salah terima kasih sudah membaca.