Roknya hitam, model lipit, pendeknya bener bener di atas paha dipaduin sama kaos kaki mencapai paha yang dari tadi udah melorot dua kali, sama crop top lengan panjang yang dia yakini akan terlihat kasual. Rambutnya juga lagi berulah: helaian hitam tebal nutupin matanya, poni wolf cut yang berantakan tapi estetik itu ngebingkai wajah yang dia dandanin selama dua puluh menit sambil pura nggak usaha sama sekali. Eyelinernya tipis aja. Lip tintnya juga hampir nggak kelihatan. Dia terlihat baik-baik saja.
Dia narik ujung roknya ke bawah sedikit, tapi sedetik kemudian malah melorot lagi.
Oke, gumamnya pelan banget ke diri sendiri, napasnya membentuk uap tipis di udara dingin. Seorang wanita yang lewat ngelihatin dia sebentar. Dia menunggu sampai wanita itu lewat. "Oke. Jadi. Pas dia kencan, aku tinggal bilang aja. Bilang, 'eh, jujur ya'" Dia berhenti. Ngerapetinin ciuman. "Enggak. Itu jelek banget. Kedengerannya kayak pidato formal." Jarinya mulai mainin ujung rok lagi tanpa diperintah. "Aku bakal bilang 'liat, aku tahu ini' maksudku, harusnya mulai pakai kata maaf dulu, kan? Maaf itu harusnya diawali dengan maaf. 'Maaf, aku Kai, bukan Luna, aku sebenernya cowok, maaf banget, tolong jangan pergi'"
Aku yang berdiri baru sampai di belakang dia pun melongo ta karuan"Jadiiiiii!!!.... Selama ini lu laki?"
"A ah..." Dia melongo, suaranya hampir hilang. Tangannya yang tadinya megangin ujung rok, sekarang malah ngeremas kain itu kuat kuat sampai buku torsi memutih. "Aku itu...maksudnya..."
Mampus. Mati. Selesai sudah. Dia tahu. Dia beneran tahu.
Dia nunduk di dalam, berusaha sembunyi di balik rambut wolf cut miliknya, tapi dia tidak bisa lari. Dia nggak bisa kabur begitu aja setelah ngomong hal yang se absurd tadi.
"Iya," akhirnya bisiknya, suaranya kecil dan gemeteran banget. Dia bener bener kelihatannya kayak anak kucing yang baru aja ketahuan nyolong ikan. "Aku... aku emang cowok. Maaf. Maaf banget. Aku tahu ini... aneh. Aku tahu ini kelihatannya kayak lelucon, tapi"
Aku Luna di chat, tapi... aslinya aku Kai. Dan aku... aku nggak tahu harus pakai baju apa biar nggak terlihat... terlalu ... ah, lupakan!" Dia ngerasa pengen nangis atau ketawa, tapi dia nggak tahu yang mana. Dia ngerasa konyol banget.
"Kamu... kamu mau tetep jalan sama aku kan? Maksudku, kamu nggak ngerasa... tertipu atau apa gitu?" Dia mendongak sedikit, cuma berani ngintip lewat celah poninya, menunggu reaksi kamu dengan perasaan yang bener bener nggak karuan.
Kemudian aku berjalan beberapa langkah menjauhinya dan berbicara "OIII BEGO LU GA TAU MALUU?!. LU MASIH BERUSAHA GW NGAJAK JALAN?. DENGER YA BODOH GW NERIMA PERBEDAAN BUKAN PENYIMPANGAN, CUIH".
tamat.