Selamat Membaca 💖
Asyila seorang gadis cantik, periang dan sederhana. Ia terlahir dari keluarga yang serba pas-pasan. Diusianya yang sangat muda yaitu 18 tahun, dirinya harus menikah dengan seorang pria yang usianya jauh diatasnya.
Ayah Asyila yaitu Herwan hanya bekerja sebagai buruh tani sementara Ibu Asyila yaitu Arumi hanya bekerja sebagai tukang masak. Hidupnya berubah saat orang tuanya meminta Asyila menikahi seorang pria yang sudah dijodohkan olehnya saat usia Asyila menginjak 2 tahun, Sementara Asyila tidak tahu siapa pria itu.
Akankah hubungan mereka bisa berjalan baik dan saling jatuh cinta?
Abraham seorang pria yang sangat mencintai Asyila sedari Asyila kecil bahkan rela melakukan apapun agar Asyila dapat menerimanya sebagai suami Asyila.
Apakah perjuangan Abraham berakhir dengan saling bahagia?
Ikuti terus kelanjutannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuliah Hari Pertama
Hari ini Asyila dan Ema berangkat kuliah bersama dan di Universitas yang sama.
Asyila bangga ia bisa melanjutkan sekolahnya dengan beasiswa yang dia dapat dari Sekolah SMA nya. Sementara Ema harus pakai jalur mandiri untuk masuk ke universitas favorit itu.
“Syukurlah bisa masuk sini, setidaknya bisa bersama kamu terus Syila meski kita tidak satu jurusan,” ucap Ema.
“Alhamdulillah,” balas Asyila bersyukur.
“Kamu yakin tetap mau bekerja di butik itu meski pulangnya malam Syila? kenapa tidak mencari pekerjaan yang lain maksudku yang bukan pulang malam?” tanya Ema.
“Kamu tenang saja Ma aku bisa. Lagipula pekerjaan itu yang tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga serta jarak dari rumah dekat,” sahut Asyila santai.
“Kamu benar juga, kalau begitu aku masuk kelas Syila. Kamu kalau ada apa-apa tinggal kabari aku,” ucap Ema.
“Baiklah, aku juga mau masuk kelas,” sahut Asyila.
Asyila berjalan melewati koridor kampus.
Ini kali pertamanya untuk belajar dan masuk kelas setelah ospek yang dilakukannya beberapa hari yang lalu.
Asyila masuk ke kelas dan mengedarkan pandangannya, ia berpikir tempat duduk mana yang cocok untuk dia duduki.
“Hai sini!” panggil seorang gadis yang tidak dikenali oleh Asyila.
“Aku!” tunjuk Asyila pada dirinya sendiri memastikan bahwa dia yang dimaksud gadis itu.
“Iya Kamu, yang pakai baju putih!” Teriaknya, Asyila lalu menghampiri gadis itu.
“Hai! Kamu pasti Aunty Asyila kan?” tanya gadis itu.
“Maksudnya apa? Bagaimana kamu bisa mengetahui namaku?” tanya Asyila bingung.
“Bukan apa-apa. Kemarin aku tidak sengaja melihat nama dada mu saat Ospek. Perkenalkan aku Dyah,” ucap Dyah memperkenalkan diri.
“Asyila!” seru Asyila memperkenalkan diri.
“Aunty eh maksudku Kak Asyila duduk disini ya bareng aku!” pinta Dyah.
“Panggil aku Asyila, baiklah aku duduk disini,” sahut Asyila.
“Tidak boleh, aku harus memanggilmu Kakak,” ucap Dyah.
“Terserah kamu saja,” sahut Asyila sedikit heran.
Kelas pertama akan dimulai.
Butuh waktu setengah jam untuk menunggu dosen datang. Asyila bahkan penasaran kenapa kelas mereka belum juga mulai.
“Selamat Pagi semuanya! Maaf saya telat,
Perkenalkan saya Abraham Mahesa dosen wali kalian,” ucap Abraham pada mahasiswa dan mahasiswi.
Asyila merasakan ada yang aneh dengan hatinya, bahkan rasa itu tidak bisa dijabarkan dan dijelaskan olehnya sendiri saat melihat Dosen itu.
“Saya akan memanggil nama kalian satu persatu saya harap saat nama kalian dipanggil kalian berdiri.”
“Apakah kalian setuju?” tanya Abraham.
“Kami setuju!” seru Mereka kompak.
“Andi!” panggil Abraham.
“Saya Pak!” sahut Andi sambil berdiri.
Tibalah waktu Asyila yang dipanggil.
“Asyila!” panggil Abraham.
Deg.. deg..
Jantung Abraham berdetak kencang untuk pertama kalinya Ia memanggil nama Asyila secara langsung dan menatap mata cantik Asyila.
Istrinya hari ini benar-benar sangat cantik.
“Saya Pak!” sahut Asyila sambil tersenyum lebar. Asyila tidak tahu bahwa pria yang diberi senyum oleh dirinya adalah suaminya sendiri.
“Hari ini kamu sangat cantik!” puji Abraham. Sontak Asyila menjadi pusat perhatian mereka langsung menoleh ke arah Asyila.
Deg.. deg..
Asyila merasakan sesuatu yang aneh, jantungnya kini tak terkontrol. Perasaan macam apa yang dipikirkannya saat ini.
“Ehem..” Abraham berdehem mereka pun langsung menatap ke arah depan.
Usai Mengabsen satu-persatu para mahasiswa, Abraham menjelaskan dan menerangkan materi.
Ia sangat profesional dalam mengajarkan mereka.
Pelajaran akhirnya selesai. Mereka satu-persatu keluar meninggalkan kelas, hanya tersisa beberapa anak saja.
“Asyila tolong kesini!” panggil Abraham.
“Biar Dyah saja yang membantu Paman,” ceplos Dyah.
“Paman?” tanya Asyila sambil menyipitkan mata.
“Iya itu Pamanku,” ucap Dyah.
“Ya sudah kalian berdua kemari!” panggil Abraham.
Asyila merasakan deg deg an jika ditatap oleh Abraham, tapi hatinya malah ingin selalu dekat dan tak ingin jauh-jauh dari Sang Dosen.
“Kamu angkat ini Dyah, sementara Asyila angkat yang ini,” ucap Abraham.
Dyah sedikit sebal dengan pamannya itu. Bagaimana tidak, Buku yang Ia bawa sangatlah banyak sementara Asyila hanya membawa laptop.
“Selamat pagi menjelang siang Pak dosen tampan!” Sapa Beberapa mahasiswi yang berpapasan dengan Abraham.
Abraham tak menjawab, ia hanya membalas sapaan mereka dengan senyuman.
“Biasa aja!” Ketus Dyah dengan beberapa mahasiswi. Dyah tidak suka ada yang menggangu pamannya apalagi sang paman telah menikah tentu saja ia tahu siapa istrinya. Siapa lagi kalau bukan Asyila.
Asyila sedikit risih dengan pandangan para gadis di universitas itu. Pandangan yang menunjukkan tak sukanya kepada Asyila.
“Taruh disini!” perintah Abraham.
“Asyila kamu bisa bantu saya merapikan tumpukan kertas lembar yang sedikit berantakan ini?” tanya Abraham.
“Bisa Pak,” sahut Asyila.
“Kalau begitu bantu saya sebentar,” ucap Abraham.
Dyah ingin memberikan celah untuk Sang Paman mendekati Asyila, Dyah pun pamit pergi.
“Kak Asyila aku pergi dulu, mau ke toilet,” bisik Dyah lalu berlari secepat mungkin.
Asyila ingin meminta Dyah untuk menunggu dirinya, tapi keburu Dyah pergi.
Abraham hanya fokus ke laptopnya ia bingung harus berbicara apa kepada istrinya itu.
“Asyila!” panggil Abraham.
“Iya Pak ada apa?” tanya Asyila sambil menyusun kertas lembar yang cukup banyak.
“Kamu sepertinya bukan orang Bandung,” ucap Abraham basa-basi.
“Iya Pak, saya sebelumnya tinggal di Jakarta,” sahut Asyila ramah.
Haduh, bagaimana ini kenapa di dekat Asyila aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Kamu sudah makan?” tanya Abraham.
“Apa Pak?” tanya Asyila memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
“Kamu sudah makan?" tanya Abraham lagi.
“Aku kira telingaku bermasalah,” ucap Asyila lirih.
“Kamu bicara apa barusan?” tanya Abraham.
“Tidak ada Pak, maksudnya belum makan,” sahut Asyila.
“Pak ini sudah rapi. Sekarang saya permisi,” sambung Asyila dan berlari tanpa mendengar ucapan Abraham.
Ya Allah ada apa dengan jantung ini? Kenapa dosen itu bertanya seperti itu?
“Asyila!! kamu kemana saja? Aku mencari ke kelas mu tapi tidak ada,” ucap Ema.
“Tadi aku sedang membantu Dosen,” sahut Asyila.
“Dosen kamu tampan tidak? Dosenku di kelas sangat jelek,” ucap Ema.
“Tampan,” sahut Asyila malu-malu.
“Hi..hi.. hati-hati loh kamu jatuh cinta sama Dosen mu,” ucap Ema tertawa kecil.
“Ya tidak mungkin, aku sekarang masih berstatus istri orang Ma.”
“Oiya, Aku sampai lupa kalau kamu sudah menikah.”
“Yuk ke kantin aku lapar!” ajak Asyila.
“Aku ikut kak!” ucap Dyah yang entah darimana datangnya.
“Ini siapa Syila?” tanya Ema penasaran.
“Kenalkan aku Dyah keponakan Aunty Asyila, eh maksudku teman sekelas Kak Asyila,” ucap Dyah memperkenalkan diri.
“Ema!” balas Ema, ia sedikit heran dengan sikap Dyah.
Mereka bertiga menyantap makanan mereka dengan sangat nikmat, tidak jauh dari mereka ada Abraham yang melihat istrinya sedang makan.
Kamu sangat cantik Istriku. Semua ini aku lakukan agar aku bisa selalu berdekatan denganmu dan menjagamu. Aku harap kamu dapat mencintaiku seperti aku mencintaimu.
“Pak Abraham! Kita ketemu lagi, Bapak sedang apa disini?” tanya Tini salah satu Dosen pengajar.
“Tidak ada,” ketus Abraham dan pergi meninggalkan Tini.
Ya ampun Pak Abraham sangat tampan meski sikapnya begitu.
“Ema Sayang!” panggil Kevin yang tiba-tiba datang dan duduk tepat disebelah Ema.
“Kevin? Sedang apa kamu kesini?” tanya Ema heran.
“Iya Kevin kamu ngapain kesini. Ini kampus bukan tempat nongkrong,” ucap Asyila.
“Aku kuliah disini,” jawab Kevin santai.
“Bohong!” ucap Asyila dan Ema kompak.
“Ini buktinya,” ucap Kevin sambil memberikan KTM.
“Kamu kenapa tidak bilang kepadaku dari awal Kevin, aku senang kamu bisa kuliah disini,” ucap Ema senang.
“So sweet!” ujar Asyila melihat sepasang kekasih itu.
Sementara Dyah hanya melihat mereka bertiga.
“Ini kenalkan Dyah teman baru kami,” ucap Ema memperkenalkan Dyah
“Aku Kevin calon suami Ema,” ucap Kevin dan membuat Ema tersipu malu.
Mereka akhirnya melanjutkan makan, Dyah dan Asyila kembali ke kelas usai makan. Sementara Ema dan Kevin masih di kantin menikmati waktu mereka berdua.
Jam kelas pun dimulai. Kali ini bukan Abraham yang mengajar melainkan dosen yang lain.
Drrtt...drrrtt.. Ponsel Asyila bergetar.
Ema 💌
“Asyila hari ini aku pulang bersama Kevin, kamu naik ojek online ya!” 😊
Asyila tak membalas isi pesan itu.
Ia lalu menyimpan ponselnya di kantung baju.
“Dari siapa Kak?” tanya Dyah penasaran.
“Dari Ema, hari ini dia pulang bersama Kevin,” sahut Asyila lirih.
“Pulang bareng kami saja Kak!” ajak Dyah.
“Kami siapa?” tanya Asyila.
“Aku dan Paman Abraham,” sahut Dyah santai.
“Tapi...”
“Sudah tidak apa-apa lagipula kalau hanya kami berdua di dalam mobil pasti terasa sepi,” potong Dyah.
“Baiklah,” sahut Asyila pasrah.
Tunggu kelanjutannya teman-teman 😊
Jangan lupa like jempolnya dan Vote 😘🙏
cz si romi tuh anak mama 🤣