Kematian kakaknya membuat Ayu memiliki hubungan percintaan dengan Angga, polisi tampan yang bertugas mengungkap kasus kematian tersebut, Herman sahabat sekaligus teman kuliah yang telah lama mencintai Ayu ternyata adalah anak dari suami almarhum kakak, apa yang terjadi selanjutnya dengan hubungan Ayu dan Herman, mungkinkah hubungan persahabatan mereka tetap terjalin baik setelah mereka tahu latar belakang masing masing, bisakah Angga mengungkap pembunuh kakak Ayu yang sesungguhnya ikuti kisah Ayu, Herman dan Angga dalam kisah mawar kali ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Robbiyana Widiyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mencari bukti pendukung
Setelah mempersiapkan diri, Ayu bersama Angga dan kedua anggota polisi rekan Angga bergerak menuju alamat yang di berikan Ayu di Pondok Indah, yang di yakini Ayu sebagai rumah dinas kakaknya. Di dalam perjalanan Ayu hanya diam saja, matanya menatap kosong jalanan dan sesekali terdengar menarik nafas dengan berat seolah apa yang ada di hati dan di fikirannya sangatlah berat untuk di tanggungnya.
Angga hanya melirik sekilas dan tetap berkonsentrasi pada kemudinya, sementara kedua rekannya mengikuti mereka di belakang dengan mobil yang berbeda.
" Ayu..." panggil Angga
Tak Ada jawaban, seolah suara Angga tidak sampai ke telinganya.
" Ayu.." panggil Angga untuk kedua kali
Ayu tampak kaget Dan langsung menoleh ke arah Angga
" Iya Mas...ada apa?"
" Apa yang kamu pikirkan?"
" Entahlah Mas...aku bingung, banyak yang aku pikirkan di otakku, sekolahku, kakakku, kenapa ini terjadi, bagaimana ini terjadi, aku nggak tahu lagi apa yang ada disini." jawab Ayu sambil menangis dan memeluk nepuk dadanya sendiri.
" Ayu...tadi pagi aku sudah bilang ke kamu, kamu harus tenang, tabah, ikhlas, setidaknya dengan begitu kamu masih bisa berfikir rasional. Aku akan membantu mengurus pemakaman kakakmu di Semarang, biar rekanku yang di Polda yang akan turut membantumu." kata Angga dengan lembut
" Terima kasih Mas Angga, Mas sudah banyak membantuku walaupun kita baru saja kenal. O iya aku akan menghubungi Shinta Mas."
Angga mengangguk mendengar perkataan Ayu. Tak lama kemudian Ayu sudah terlibat percakapan dengan Shinta masih sambil berlinang air mata. Ayu hanya menjelaskan bahwa dia akan segera pulang dengan membawa jenazah kakaknya segera setelah urusannya di Jakarta dengan kepolisian selesai.
Mobil yang di kendarai Angga dan kedua rekannya nampak sudah memasuki kawasan Pondok Indah, dan Ayu memberikan arahan untuk menuju rumah tinggal kakaknya. Rumah yang di tuju Ayu adalah rumah besar dengan lokasi di ujung jalan, nampak berdiri dengan megah dan asri. Rumah mewah dengan dua lantai dan di jaga oleh satpam. Ayu dan Angga tampak turun diikuti dengan kedua rekannya menuju pos satpam.
" Selamat siang Pak, ada yang bisa kami bantu? " sapa satpam yang bernama Darmaji itu ramah. Dia memperhatikan Ayu dan Angga yang di kawal oleh 2 orang polisi di belakangnya.
" Selamat siang Pak, benar ini rumah Nona Anya?" tanya Angga kepada satpam rumah Anya
" Iya benar, ini rumah Nyonya Anya, tapi maaf Nyonya sedang tidak di rumah Pak." jawab satpam Itu dengan sopan
" Kami dari kepolisian Pak, dan ini Nona Ayu adik kandung ibu Anya." Angga memperkenalkan Ayu kepada Darmaji karena melihat gelagatnya Darmaji tidak mengenal Ayu. Darmaji tampak terkejut dan merasa tidak enak hati terhadap Ayu.
" Maaf..saya tidak tahu non, saya baru kerja di sini 3 bulan." jawab Darmaji sambil menunduk pada Ayu
" Pak Darmaji, di rumah ada siapa saja selain Nyonya Anya?" tanya Angga
" Di rumah ini hanya di tinggali Nyonya dan 3 orang pembantu, tuan jarang tidur disini." jawab Darmaji
" Tuan??? tuan siapa?" Tanya Ayu tampak terkejut dengan jawaban Darmaji.
Angga segera merangkul pundak Ayu dan mengelusnya perlahan untuk menenangkannya.
" Bisakah Kita masuk dan berbicara di dalam Pak darmaji, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan sehubungan dengan Nyonya anda, dan mungkin para pembantu yang bekerja di sinipun bisa membantu." tanya Angga
konflik antara Anya - Wira - William yg asli dan bener tuh gimana. Trs Wira bilang "Anya itu perempuan ular" , itu jg ga dijelasin lebih detail ularnya dimana.
trs Wira bilang "kalau ttd berkas, jgn pas terburu-buru. Jgn mudah percaya sama siapapun meski asisten pribadimu sendiri" itu jg ga dijelasin gimananya :(
Trs Wira kok tiba2 meninggal tuh gimana
huhh masih ganjel bgtt :(