Pendekar Pedang Suci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter... 10 : Kawanan Serangga
Plak!
"Auh... Apa yang kau lakukan?" Wu Sha mengelus pipinya yang terasa panas.
"Kau melamun, aku hanya membantu." Su Kong mengatakan dengan begitu enteng.
"Ini dimana? Aku sungguh tak mengenal tempat ini," Gumam Wu Sha sesaat setelah memandang ke sekitarannya.
"Hei... Apa kau pikun tak mengenal kampung halamanmu sendiri?" Tanya Su Kong.
"Tidak, aku sungguh tak mengenal tempat ini," Ujar Wu Sha dengan yakin.
"Apa yang kau pikirkan itulah tempat yang akan menjadi tempat kau keluar. Kau jelas tak begitu fokus saat memikirkan tempat yang kau tuju." Su kong menarik kesimpulan.
"Mungkin kau benar." Wu Sha bergumam sembari mengingat beberapa saat sebelum dia keluar dunia jiwa.
Flasback on..
"Ayo!" Wu Sha yang telah mengantongi buah buahan berharga dengan tak sabar mengajak Su Kong.
Su Kong mengernyitkan dahinya, menatap heran pemuda di hadapannya sembari berkata, "Sekarang?"
"Apakah kau ingin tinggal disini selamanya? Atau kau keluarnya nanti saja saat aku kembali," Canda Wu Sha.
"Cis.. Siapa yang ingin tinggal di dunia ini lebih lama, aku sungguh ingin segera melihat dunia luar," Ucap Su Kong dengan mata berbinar membayangkan betapa menakjubkannya dunia luar.
"Kalau begitu ayo!" Ajak Wu Sha lagi.
Dengan cepat Su Kong naik ke pundak Wu Sha, dan duduk santai disana.
"Apakah kau akan kembali ke keluarga Wu?" Tanya Su Kong.
"Tentu saja, tapi aku hanya ingin memperjelas kematian ibuku. Aku merasa ini ada sangkut pautnya dengan Wu Dong dan juga Su Rong, istri sahnya itu...,"
"Aku tak akan mengampuni semua orang yang terlibat di dalam konspirasi kematian ibuku." Wu Sha berkata dingin, bahkan Su Kong merinding mendengar ucapan Wu Sha yang tersirat sebuah dendam di dalamnya.
Tanpa sadar mata Su Kong juga memancarkan aura kebencian kepada sepasang suami istri itu. Mendengar kisah Wu Sha membuat sisi kebinatangan nya terpacu.
"Tenang saja, aku akan selalu berada di sampingmu, menumpas semua orang yang telah membuat hidupmu menderita." Su Kong berkata dengan semangat mengobar.
"Kau tak perlu begitu berlebihan. Aku tidak akan memusnahkan klan Wu, aku hanya menargetkan beberapa orang. Sosok yang menjadi penyebab semua ini," Seru Wu Sha yang membuat Su Kong terkejut.
"Bukankah seluruh keluarga Wu memperlakukanmu dengan sangat buruk? Kenapa kau membiarkan mereka begitu saja!" Su Kong sungguh tak mengerti cara pikir Wu Sha. Menurutnya, semua orang bermarga Wu itu pantas dimusnahkan.
"Beberapa orang mungkin melakukannya dengan terpaksa, ada juga yang acuh karena tak ingin terlibat dalam sebuah masalah...,"
"Mengingat Wu Dong adalah kepala keluarga Wu, mereka lebih memilih menghindar dan berusaha untuk tidak peduli karena mereka takut, dengan bersikap baik kepadaku akan menyinggungnya. Tentu mereka tak akan melakukan hal bodoh seperti itu," Jelas Wu Sha.
Sekarang mata Su Kong sungguh tak bisa lepas dari wajah Wu Sha. Dengan mata berbinar kagum dia menetap lekat wajah pemuda yang telah menemaninya beberapa tahun belakangan.
"Kenapa kau memandangku seperti itu, aku bukanlah pisang yang bisa kau makan," Cibir Wu Sha yang risih dengan tatapan Su Kong.
Su Kong menggeleng, lalu berkata dengan pandangan mata yang masih terkagum-kagum.
"Entah apa yang harus aku katakan kepadamu. Jika orang lain bahkan aku yang berada di posisimu, pasti akan memusnahkan seluruh keturunan keluarga Wu, tapi kau tidak, kau masih memikirkan beberapa orang yang mungkin tidak bersalah..,"
"Aku bingung harus mengatakan kau itu baik atau, bodoh!"
Meskipun diawali sebuah lontaran kata kata manis, Su Kong mengakhiri nya dengan kalimat sindiran.
"Aku sendiri juga tidak tahu, yang jelas aku hanya melakukan apa yang hati kecilku inginkan. Perasaan paling menyakitkan adalah saat dimana kau kehilangan....,"
"Aku sudah mengalaminya, kehilangan orang paling berharga bagiku, ibu. Aku tak mau membuat orang orang tidak berkepentingan terlibat dalam masalah antara aku dan Wu Dong," Ujar Wu Sha.
Setelah berkata Wu Sha diam, memejamkan mata, kemudian memikirkan gubuknya yang telah ia tinggal bertahun tahun.
Tiba tiba sebuah gambaran muncul dalam pikirannya, dua sosok muncul dalam gambaran tersebut, seorang pria paruh baya, sedangkan yang satunya adalah anak laki-laki.
Pria paruh baya itu berdiri dengan tangan berkacak pinggang, memaki dan meneriaki anak laki-laki tersebut.
Wu Sha yang tak bisa melihat wajah keduanya dengan kelas mencoba mendekat.
Alangkah terkejutnya dia saat melihat wajah tak asing keduanya.
Wu Dong? Tanpa sadar Wu Sha bergumam, kemudian mundur dengan langkah ragu.
"Apakah itu diriku?" Tanya Wu Sha yang melihat wajah anak laki-laki dihadapan nya begitu familiar.
"Dasar sampah! Kau sama seperti ibumu, seorang sampah!" Pria paruh baya mengangkat tangannya, ingin memberikan pukulan pada sang anak laki-laki.
Wu Sha dengan cepat melaju, berusaha menghadang, memasang badan dihadapan anak laki-laki itu.
Plak! Auh!
Wu Sha pun tersadar, dan sudah berakhir di tempatnya berdirinya sekarang.
Flasback of...
"Sebaiknya kita bertanya kepada orang yang lewat," Saran Su Kong.
"Kau jangan banyak bicara, semua orang akan terkejut melihat monyet bisa berbicara sepertimu." Wu Sha berbisik pelan.
"Kau tenang saja, tak akan ada yang bisa mengerti ucapanku. Hanya kau saja, karena kau adalah pemilik dunia jiwa dan aku berhubungan dengan dunia tersebut," Ucap Su Kong.
"Owh.. Tapi tetap saja, semua orang akan mengira aku gila berbicara dengan seekor monyet," Ujar Wu Sha dengan wajah enggan.
"Hei! Kenapa kau selalu menyebutku monyet, aku adalah raja monyet, kau ingat, Ra_ja Mo_nyet!" Amuk Su Kong tak terima, dia menegaskan bahwa dirinya tak sama dengan monyet pada umumnya.
"Yayaya... Kau ini sungguh cerewet." Wu Sha menjawab dengan malas.
Saat melihat beberapa pemuda lewat di hadapannya, Wu Sha menghentikannya berniat bertaya. "Permisi teman, bolehkah aku bertanya?"
"Siapa kau, aku tak mengenalmu. Pergi kau dari sini!" Salah satu pemuda dengan tak enaknya menyentak Wu Sha.
"Aku ingin bertanya baik baik kepadamu, tapi kau begitu tak menyambutku dengan baik. Sini! Biar aku beri kau pelajaran bagaimana bersikap kepada orang tua," Ujar Wu Sha yang tak terima dibentak.
Pemuda yang berjumlah empat orang itu tidak lari ataupun takut, mereka malah memasang sikap siaga.
"Oh.. Empat pendekar prajurit ingin menyerang bersamaan. Tak masalah, ayo maju!" Wu Sha mengayunkan telunjuknya.
Keempat pemuda yang berada di lapisan alam prajurit itu saling pandang, kemudian salah satunya berseru dengan arogan.
"Dia hanya berlagak, jangan takut! Dia bukanlah pendekar, aku tak melihat tingkatannya."
Ketiga pemuda lainnya mengangguk, kemudian mengeluarkan senjatanya masing masing.
"Heh..," Wu Sha tertawa mencibir, dan kemudian berkata pada Su Kong.
"Ramo, mereka sangat mengganggu, tapi aku malas, bagaimana kalau kau yang melawannya." Wu Sha memasukkan kembali pedangnya.
Seketika keempat pemuda itu meradang, bagaimana bisa seorang pendekar lapisan prajurit dibandingkan dengan seekor monyet. Pikir mereka bersamaan.
"Cih! Kau tak perlu beromong kosong, apakah kau pikir monyet jelekmu itu dapat bertahan dari satu serangan ku?" Pemuda yang dari tadi menjadi juru bicaranya kembali berkata.
Wu Sha menyeringai, sedangkan Su Kong jangan ditanya lagi, wajahnya menggelap, tampak uratnya keluar layaknya cacing.
"Apakah aku boleh membunuhnya?" Su Kong melirik Wu Sha.
"Hei, apakah dia boleh membunuh kalian?" Dengan tawa kecil dan tangan mengarah ke Su Kong, Wu Sha bertanya kepada keempat pemuda.
"Sampai kapan kau akan membual, sebaiknya kau pergi saja. Aku tak tahu bagaimana ibumu mendidik anak sepertimu," Ucap pelan salah seorang pemuda yang berada di barisan belakang.
Membawa nama ibunya, sontak membuat Wu Sha mengeluarkan aura dingin dari tubuhnya.
"Apa yang kau katakan, bisa ulangi sekali lagi?!" Wu Sha berkata pelan, tapi nadanya sungguh dapat membekukan.
"Matilah kalian, siapa suruh kalian mengucapkan apa yang seharusnya tidak pernah kalian ucapkan," Batin Su Kong terkekeh sembari menggeleng.