Ketika rasa sayang itu berubah menjadi cinta, tak ada lagi batasan-batasan yang akan menghalangi mereka. Tak perduli batasan usia, kasta, tahta ataupun rupa. Yang bermain hanya dua hati yang ingin saling berbagi kebahagian. Raya Aditama adalah seorang putra tunggal dari Pram Aditama, seorang pebisnis sukses di kota. Raya menjabat sebagai direktur utama PT. Raya Entertainment. Sebuah bisnis yang bergerak di bidang dunia hiburan. Raya yang terkenal bertangan dingin dan berhati dingin, jatuh cinta dengan seorang anak perempuan yang usia nya terpaut usia 20 tahun lebih muda darinya. Perjuangan cinta mereka tak berjalan mulus, mereka harus menentang berbagai batasan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Hanayuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Tahta Sang Juara
"Ya, Tuhan...sudah sejauh ini perjalananku, tapi tak juga ada jawaban positif dari Emak. Padahal aku ingin mempersembahkan hasil maksimalku dalam tiga besar nanti buat Emak"
Air mata Rara menetes diatas bantal asrama. Sejak masuk 5 besar kemarin dia harus menetap diasrama. Kamar asrama begitu mewah, cantik, bersih dan wangi. Berbeda sekali dengan kamar tumpangan mereka dulu di kampung.
"Mak, Rara kangen"
Drrrr....drrr...
"Halo..."
"Halooo... Cantik. Apa kabarmu?"
Rara buru-buru menyeka air matanya. Dia tadi mengangkat telepon tanpa melihat layar ponselnya. Dia tak mau Joe mendengar suara sengau nya itu. Dia neguk segelas air yang ada di atas meja kamar nya.
"Ra...Rara .. hei ... Kau masih disitu?"
"Iya, Joe"
"Iih...kok malah bengong. Kaget ya di telepon orang ganteng?"
Hehehehe...
"Laaahhh... Malah cengengesan"
"Ada apa nih, tumben kamu telepon aku, Joe"
"Lusa kita ada UAS loh. Sedangkan performance kamu lima hari lagi. Gimana, Ra. Sudah minta izin pihak sekolah?"
"Iya, dua hari lalu aku sudah menghadap kepala sekolah. Aku diizinkan ikut ujian susulan setelah acara final nanti".
"Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Aku berharap kalau kamu bisa jadi pemenangnya, Ra"
"Aamiin... Terima kasih atas dukungan mu, Joe. Kami baik sekali"
"Ra ... "
"Hmmm... Ada apa?"
Joe tidak melanjutkan ucapannya. Untuk beberapa saat dia terdiam. Memberi kan kesempatan untuk hatinya meyakinkan apa yang akan dikatakannya.
"Joe ... Halooooo... Hei... Kamu baik-baik saja Joe"
"Hehehe"
"Lah, malah ketawa. Mau ngomong apa tadi?"
"Nanti saja, Ra. Kalau kamu sudah selesai final dan UAS. Biar sama-sama lega ya. Semanggat ya... "
Tuuuut...tuuuut...
******
Malam puncak audisi. Rara dan dua peserta lainya berusaha tampil maksimal. Rara mendapatkan tiga kali kesempatan tampil. Pertama dia tampil solo. Kemudian berduet dengan salah satu peserta. Dan terakhir dia berduet dengan bintang tamu.
Dan pada penampilan terakhirnya, dia diminta berduet dengan Joe. Pilihan pasangan duet dan lagu di lakukan secara acak, dan tentu saja Joe sangat senang.
"Kita Berteman Saja"
Judul lagu duet yang mereka bawakan. Lirik nya sedih, tentang penolakan seorang gadis terhadap teman lelakinya, cerita cinta menjadi persahabatan. Namun karena aransemen musik yang cantik, jadi terkesan ceria.
"Di posisi pertama dengan jumlah poin 1243 jatuh pada ....."
Semua peserta dan para penonton berdebar-debar menunggu pengumuman hasil juara. Rara bukan main tegangnya. Dingin menyelimuti seluruh tubuh. Jantung nya seperti genderang perang yang tak berhenti di tabuh.
"Pada ...."
Hening lagi.
"Rara Pratiwi"
Saat itu juga Rara terkulai lemas. Dia merasa seluruh tubuhnya tak bertulang. Tangis bahagia nya tak terbendung lagi. Sujud syukur dia lakukan atas prestasi maksimal nya malam itu.
Joe tersenyum bahagia melihatnya.
"Selamat Rara", ucap Joe diatas panggung.
Raya selaku pihak produser dan pemilik hak siar acara tersebut naik keatas panggung dan memberikan sebuah buket bunga sekaligus memberikan selamat pada Rara.
"Selamat atas kemenanganmu"
"Terima kasih, Pak"
"Mulai sekarang kau harus berusaha lebih keras lagi. Dunia artis tak seindah impianmu nona"
Rara melirik ke arah Raya namun Raya keburu menjauh dan turun dari panggung.
"Dingin sekali laki-laki itu. Dasar kepala es batu. Sudah keras. Dingin lagi"
Rara mengerutu dalam hati. Mungkin begitu gaya seorang eksekutif muda. Tak mau berbaur dengan rakyat jelata seperti dia.
******
agak heran sih