NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Kebencian

Cinta Dalam Kebencian

Status: tamat
Genre:Romantis / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: La Sha

Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.

Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.

Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.

Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Pinus

Canna benar-benar merasa bosan setelah seharian hanya berada didalam kamar. Yang bisa dilakukannya hanyalah membaca. Bagaimana ia bisa mengganti kerugian Delano kalau pekerjaannya hanya seperti ini.

Canna tidak tahu apa yang terjadi diluar kamar, ia juga tidak tahu apakah Delano sudah berada di rumah atau belum. Karena lelaki itu sama sekali belum mendapati dirinya.

Bergegas Canna naik ke tempat tidurnya, merebahkan badannya menatap langit-langit kamar. Ia sudah sangat mengantuk dan membawa dirinya mengarungi dunia yang lain. Berharap di dunia mimpi mampu membuatnya menikmati kebebasan.

***

Canna merasakan berat pada tubuhnya, ia membuka mata dengan berat dan menatap samar wajah seseorang yang begitu dekat dengan wajahnya. Matanya membulat berusaha mencerna keadaan.

"Delano! Kenapa dia tidur di kamarku!" Canna menggeram marah. Ini yang kedua kalinya ia mendapati Delano tidur dengannya di ranjang yang sama selain kejadian pertama.

Delano membuka matanya saat Canna berusaha untuk menyingkirkan tangannya.

"Apakah tidurmu sangat pulas, Kelinci Kecil?"

Canna menatap tajam Delano. "Kenapa kamu selalu tidur di kamarku? Bukankah kamu punya kamar yang lebih nyaman dari milikku. Kemarin kamu juga tidur sambil memeluk diriku!" Canna tidak menggubris pertanyaan Delano.

Delano terkekeh mendengarnya, menatap Canna dengan jenaka.

"Benarkah ini kamar milikmu? Coba kamu perhatikan baik-baik, Nona."

Delano menyangga kepalanya dengan tangan kanannya.

"Kalau aku tidak salah ingat, kamu tadi malam tidur sambil berjalan kearah kamarku. Rupanya dalam tidur sekalipun kamu juga sangat mendambakan diriku."

Canna menatap sekelilingnya. Benar saja, ini bukan kamar miliknya tetapi kamar milik Delano.

"Lalu, bagaimana dengan yang kemarin-kemarin?" bela Canna menutup malunya.

"Itu hanya kebetulan saja aku bosan berada di kamarku dan ingin tidur di kamar sebelah," sahut Delano santai.

Canna memejamkan matanya sesaat, menahan kesalnya.

"Apakah kamu minta di cium hingga memejamkan mata seperti itu?"

Dengan cepat Canna membuka matanya dan langsung melompat dari atas ranjang setelah mendengarnya, kemudian berlari kearah pintu.

"Hei kamu sendiri yang datang padaku dan menggodaku tadi malam!" teriak Delano.

Canna membanting pintu kamar Delano dengan keras, membuat Delano tertawa setelahnya.

Canna melewati Key yang menatapnya heran. "Ada apa kakak ipar?"

Canna menghentikan langkahnya, menatap Key sekilas.

"Sudah aku katakan, jangan panggil aku dengan sebutan kakak ipar. Itu tidak cocok denganku dan aku tidak punya adik perempuan. Apa kamu punya kelainan sehingga menyukai adik lelakiku!" sungut Canna melewati Key.

"Benarkah aku tidur sambil berjalan? Tidak terjadi apa-apakan tadi malam dan aku tidak melakukan hal yang aneh-anehkan?" gumam Canna kebingungan berusaha mengingat kejadian tadi malam.

"Aku harus mengikat diriku agar tidak berjalan lagi nanti malam. Lelaki itu benar-benar berbahaya," gumam Canna lagi.

Key tersenyum mendengarnya. Ini pasti kerjaan Delano. Seingatnya, tadi malam Delano sengaja membopong Canna ke kamarnya saat Canna tertidur pulas.

***

Delano menatap sekelilingnya, Canna tidak tampak di ruang makan dan juga ruang dapur.

"Tuan, Nona Canna masih di kamarnya. Ia masih malu untuk bertemu dengan Tuan karena kejadian pagi tadi," bisik Derris.

"Antarkan dia makanan, perbanyak sayur dan daging. Tubuhnya terlalu kurus untuk aku peluk!" perintah Delano tegas.

Kepala pelayan mengangguk cepat, menyuruh beberapa pelayan untuk menghidangkan makanan ke kamar atas.

"Nona. Makanlah! Semua makanan sudah kami siapkan!"

Canna berbalik saat suara pelayan menginterupsi. Dibelakangnya sudah berdiri Fiore bersama seorang pelayan lainnya dengan banyak makanan di tangan mereka. Mereka masuk tanpa mengetok pintu dan juga tanpa suara. Selalu seperti itu.

"Aku bisa makan sendiri dan aku akan turun ke ruang makan kalau Tuan Delano sudah berangkat kerja!" sahut Canna.

"Tapi Nona, makanan sudah kami bawakan kemari. Jadi, makanlah sebelum makanan benar-benar dingin."

Fiore meletakkan meja di hadapan Canna dan meletakkan makanan yang mereka bawa tadi.

"Tapi aku bisa mencari makan sendiri. Kalian tidak perlu repot-repot melayaniku. Aku juga seorang pelayan di rumah ini," sahut Canna.

Fiore hanya mengangguk saja, segera mengundurkan diri untuk keluar kamar.

"Apakah begitu perlakuan mereka terhadap semua pelayan di rumah ini?" Lagi-lagi aku merasa seperti tawanan," gumam Canna kesal.

Canna menatap makanan yang sudah ada di atas meja. Makanan itu benar-benar menggiurkan dan kelihatan sangat lezat. Tanpa pikir panjang, ia langsung melahapnya sampai habis.

Selesai makan Canna kembali ke balkon kamarnya dengan sebuah buku di tangannya. Menghabiskan waktu dengan  membaca buku adalah hal yang paling menyenangkan baginya.

"Nona, Tuan Delano memintamu untuk mengantar berkas yang ketinggalan." Fiore sudah berdiri di belakangnya. Canna menoleh padanya.

"Kenapa tidak kamu saja yang mengantarnya?"

"Ma'af Nona, saya tidak bisa karena semua pelayan di rumah ini sudah memiliki tugas masing-masing. Lagi pula, Tuan Delano hanya menginginkan Nona yang mengantarkannya."

Canna mendesah mendengarnya, menolak pun percuma. Ia tahu kalau dirinya tidak sebebas dulu lagi.

"Tentu saja! Hanya aku yang selalu santai setiap hari," Canna membatin.

"Baiklah. Mana berkas yang akan aku antarkan?"

Canna meraih tas jinjing yang di serahkan oleh Fiore padanya. Tas jinjing yang berisi berkas tersebut.

"Sopir sudah menunggu di depan!" ucap Fiore. Canna hanya mengangguk saja tanpa membantah lagi.

Bergegas ia turun ke lantai satu untuk menghampiri sopir yang sudah menunggunya dan siap mengantarnya ke kantor Delano. Ia tidak ingin membuat Delano menunggunya lama dan membuang-buang waktunya seperti pagi kemarin.

Sesampainya di depan gedung Watson Group, Canna tampak terpana melihat gedung yang menjulang tinggi. Ia menatap penampilan setiap orang yang berlalu di depan gedung tersebut. Mereka benar-benar terlihat elegant.

Meraih tas jinjing dan membawanya menuju kearah resepsionis.

"Ma'af, ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Wanita yang berusia sekitar 30 tahun tersebut dengan sopan saat Canna berada di depannya.

"Saya pelayan di rumah Tuan Delano. Ada berkas milik Tuan Delano yang ketinggalan dan saya membawakannya kemari."

Canna memperlihatkan berkas tersebut.

"Tunggu sebentar!" Resepsionis segera menelpon sekretaris Delano dan tampak berbincang beberapa menit.

"Nona. Silahkan Nona langsung naik ke lantai  53. Disana adalah ruangan Presdir dan Presdir sudah menunggumu."

Canna mengangguk ragu, kembali menatap ke sekelilingnya. Beberapa karyawan tampak menatap kearahnya dan beberapa ada yang saling berbisik, membuatnya merasa tidak nyaman.

"Masa sih dia pelayan CEO, gadis secantik itu. Rasanya mustahil, apalagi dia tidak memakai seragam pelayan!" ucap salah satu dari mereka.

"Iya, bukankah peraturan rumah milik Bos, adalah setiap pelayan tidak boleh melepaskan seragamnya saat kerja kecuali saat tidur," sahut yang lainnya.

"Iya, benar. Apalagi setahuku ya. Tuan Delano tidak pernah terdengar mempunyai pasangan ataupun pacar."

Canna mendengus mendengarnya, menatap kearah dirinya sendiri. Ia baru menyadarinya kalau hanya dirinya saja yang tidak punya seragam pelayan.

"Aku akan memintanya pada Kepala Pelayan nanti," gumamnya pada diri sendiri.

Canna kembali melirik kearah mereka yang masih membicarakan dirinya secara terang-terangan.

"Mereka sebenarnya di gajih untuk membicarakan atasan mereka kah?" gerutu Canna lagi, meneruskan langkahnya.

"Canna? Kamu kah itu?"

Canna berbalik dan mendapati Pinus sedang berdiri di hadapannya.

"Kak Pinus, apa yang sedang kamu lakukan disini?" Canna melongo menatap penampilan Pinus yang terlihat berbeda kali ini. Bahkan dia terlihat sangat tampan dengan setelan jas hitam yang dikenakannya.

Pinus adalah kakak tingkat terakhir Canna sewaktu mereka bersekolah di tingkat menengah atas.

"Aku kebetulan ada meeting dengan pemilik Watson Group. Lalu, kamu sedang apa disini?" Pinus menatap tangan Canna.

"Owh. Aku sedang mengantarkan berkas milik Tuan Delano yang ketinggalan di rumah," sahut Canna tersenyum manis.

"Tuan Delano?" ulang Pinus mengerutkan dahinya.

Canna mengangguk. "Ya, aku sekarang bekerja sebagai salah satu pelayannya!" sahut Canna kembali terlihat riang.

"Kenapa tidak bilang padaku kalau kamu ada kesulitan. Aku bisa membantumu, setidaknya mintalah bantuan padaku."

"Eh. Bukan begitu. Aku hanya ingin mencari pekerjaan saja dan tenang saja, aku masih bisa mengatasinya sendiri. Jadi, Kak Pinus tidak perlu khawatir."

Lagi, Canna masih terlihat sangat riang dan mendapat perhatian kembali dari seluruh karyawan yang berada disana.

"Lalu, bagaimana dengan keinginanmu untuk melanjutkan studymu. Sebentar lagi akan di mulai tahun ajaran baru."

Canna terdiam mendengarnya, ia kembali mengingat kesalahannya pada Delano hingga membuatnya harus mengubur semua mimpinya.

"Aku harus kerja dulu, setelah uangnya terkumpul maka aku akan melanjutkan studyku," sahut Canna tersenyum tipis.

"Katakanlah padaku kalau kamu memiliki kesulitan. Setidaknya aku masih berguna untukmu!"

Pinus menepuk pundak Canna ringan.

"Tentu. lain kali aku akan meminta bantuan padamu," sahut Canna tersenyum manis.

"Bagaimana kalau kakak membawaku ke ruangan Tuan Delano. Aku baru pertama kali kesini. Setidaknya ini adalah permintaan pertamaku."

Pinus tersenyum mendengarnya, mengacak rambut Canna pelan.

"Baiklah. Aku akan mengabulkan apapun permintaan Tuan Putri."

Pinus berjalan menuju kearah lift. Baru saja ia ingin menekan tombolnya, pintu lift sudah terbuka. Derris berada tepat di hadapan mereka dan berdehem sesaat.

"Sebaiknya Anda urus saja pekerjaan Anda. beberapa Staf sudah menunggu Anda di ruang meeting. Urusan Canna, biar saya yang urus!"

Derris menatap Canna agar segera masuk kedalam lift dan mengikutinya.

"Aku juga akan keatas bersamamu. Jadi, masuklah kedalam, sepertinya Tuan Delano menunggu berkas darimu," ucap Pinus.

Canna mengangguk dan segera masuk kedalam lift. Berdiri bersisian dengan Pinus. Derris berada di depan mereka.

"Makasih Kak Pinus atas bantuannya. lain kali semoga kita bisa bertemu lagi."

Canna melambaikan tangannya saat mereka berpisah di lorong yang berbeda.

"Derris. Ini berkas yang diminta oleh Tuan Delano. Sepertinya kamu sendiri yang akan membawanya pada Tuan Delano."

Canna menyodorkan tas jinjing pada Derris tetapi Derris sama sekali tidak menyambutnya.

"masuklah Nona. Nona sendiri yang akan mengantarnya pada Tuan Delano sesuai dengan permintaannya."

Canna hanya mengangguk mengikuti ucapan Derris. Sesampainya di depan ruangan Delano. Derris langsung membuka pintunya.

"Kenapa lama? Apakah kamu berpacaran terlebih dahulu baru membawakan berkas milikku!?" Semprot Delano marah begitu Canna berada di depannya.

"Ma"afkan aku. Aku tidak bermaksud...."

"Sudah. Lupakan saja. Mana berkas yang aku minta. Aku akan keruangan meeting sekarang."

Delano melewati Canna begitu saja. Ia terlihat begitu marah. Membuat Canna sedikit takut.

"Seharusnya aku tadi tidak menundanya dan berbicara dengan kak Pinus," gumam Canna merasa bersalah.

"Dan kamu, Jangan pernah keluar dari ruanganku sebelum aku selesai meeting!"

Delano kembali meneruskan langkahnya, membanting pintu dan mengunci ruangan miliknya.

Canna terlonjak mendengar bunyi bedebum pintu. Ia menatap tidak percaya saat bunyi klek terdengar dari arah pintu. Ia menghampiri pintu tersebut dan mencoba membukanya. Benar saja, pintunya di kunci dari luar.

***

1
ZrLee Darman
ceritanya bagus 👍🏻
ZrLee Darman
aahh sllu saja kmu dijebak sama orang yg sama..hedeehhh
ZrLee Darman
Lou seperti ulat Keket aja disini
Shifa Burhan
sesimple ini pertanyaan nya

kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?
epifania rendo
entalah
epifania rendo
saling terbukalaha
epifania rendo
pasti surat yang di tanda tangan buat urus surat nikah
epifania rendo
kasian canna
epifania rendo
Delano
epifania rendo
menarik
epifania rendo
bagai mana adiknya
epifania rendo
apa isi vidionya
epifania rendo
mampir
Azubair21
😁🥰🥰🥰🥰👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Yulia Rosmita
makanya ungkap semua thor jadi g ada egois salah paham dan kekerasan
Yulia Rosmita
lemot
Yulia Rosmita
kelamaan thor sampe sekarang canna aja masih belum tau dia udah nikah dan sekarang dia hamil delano juga masih gatau
Yulia Rosmita
apa aq kurang update ya di part delano nikah sama canna
Yulia Rosmita
maaf nikah ko g ada kata sah nya klo gitu cuma delano aja donk yg sah
Batara Zalzabil
bosan putar2 trs crtx
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!