Di Benua Tianxu, setiap orang terlahir dengan kemampuan menyerap Qi untuk berkultivasi. Namun Xiao Yun, bocah yatim dari Desa Kabut, lahir tanpa memiliki Qi sedikit pun dan hidup sebagai bahan hinaan seluruh desa.
Setelah kakek angkatnya meninggal, Xiao Yun bertahan hidup seorang diri dengan mencari tanaman obat di Hutan Terlarang. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan membawanya ke Lembah Iblis — tempat ia bertemu roh petapa kuno bernama Luo Hai.
Tanpa disadari siapa pun, di dalam tubuh Xiao Yun tersegel kekuatan kuno bernama Nadi Kekosongan, kekuatan terlarang yang bahkan ditakuti langit.
Dari bocah tanpa Qi yang dipandang sampah, Xiao Yun memulai perjalanan untuk mengguncang dunia kultivasi.
{ Update setiap hari }
Mohon dukungannya 👍🏻⭐🔁
Terima kasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.11 — Aula Para Pewaris
Tanpa menunggu jawaban dari Xiao Yun maupun Luo Hai, roh penjaga itu berbalik dan melayang perlahan memasuki lorong yang baru saja terbuka di balik dinding batu altar. Tubuhnya yang tersusun dari cahaya hitam redup bergerak tanpa menimbulkan suara sedikit pun, seolah telah menyatu dengan tempat kuno tersebut sejak ribuan tahun silam. Cahaya samar yang menyelimuti sosoknya menjadi satu-satunya penerang yang bergerak di tengah lorong yang dipenuhi kegelapan, membuat suasana di dalamnya terasa semakin sunyi sekaligus dipenuhi misteri yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Xiao Yun dan Luo Hai saling berpandangan selama beberapa saat. Tidak ada percakapan di antara mereka, tetapi keduanya memahami bahwa tidak mungkin lagi untuk berhenti di titik ini. Setelah berhasil melewati dua ujian pertama dan memperoleh pengakuan sebagai Pewaris Kesepuluh, apa pun yang berada di balik lorong tersebut pasti merupakan bagian dari warisan Altar Pertama. Xiao Yun menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran jantungnya, lalu melangkah mengikuti roh penjaga, sementara Luo Hai berjalan beberapa langkah di belakang muridnya dengan tatapan penuh kewaspadaan.
Begitu memasuki lorong itu, Xiao Yun segera menyadari bahwa tempat tersebut jauh lebih tua dibandingkan ruang altar yang baru saja mereka tinggalkan. Dinding batu di kedua sisinya dipenuhi retakan-retakan panjang yang menjalar seperti urat-urat tua, seolah telah menahan beban waktu selama zaman yang tak terhitung lamanya. Beberapa bagian bahkan tampak hampir runtuh, tetapi anehnya lorong itu tetap berdiri kokoh. Di antara retakan-retakan tersebut terukir ribuan simbol kuno berbentuk pusaran yang memancarkan cahaya hitam sangat lembut. Cahaya itu tidak cukup terang untuk mengusir seluruh kegelapan, tetapi cukup untuk memperlihatkan setiap detail lorong yang mereka lewati, menghadirkan kesan bahwa tempat itu masih memiliki kehidupan meskipun telah tertidur begitu lama.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin kuat pula perasaan aneh yang muncul dalam diri Xiao Yun. Simbol Nadi Kekosongan di lehernya tidak lagi berdenyut liar seperti sebelumnya, melainkan memancarkan kehangatan yang stabil, seolah tengah menuntunnya menuju sesuatu yang telah lama menunggu kedatangannya. Ia terus mengamati dinding di sepanjang perjalanan hingga pandangannya tiba-tiba berhenti pada deretan ukiran yang berbeda dari simbol-simbol pusaran.
Yang terukir di sana bukanlah lambang ataupun formasi, melainkan nama-nama.
Jumlahnya sangat banyak.
Sebagian besar sudah terkikis usia hingga hanya menyisakan beberapa goresan yang hampir mustahil dikenali. Ada pula nama yang retak di bagian tengah sehingga tidak lagi dapat dibaca secara utuh. Namun sesekali masih tampak beberapa ukiran yang relatif jelas, menunjukkan bahwa nama-nama itu pernah dipahat dengan sangat hati-hati oleh seseorang yang menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat penting.
Xiao Yun memperlambat langkahnya sambil terus memandangi dinding tersebut. Rasa ingin tahunya semakin besar hingga akhirnya ia tidak dapat menahan diri lagi.
"Senior, nama siapa ini?" tanyanya kepada roh penjaga yang masih berjalan di depan.
Roh penjaga tidak berhenti ataupun menoleh. Dengan suara tenang yang menggema di sepanjang lorong, ia hanya memberikan jawaban singkat.
"Itu adalah nama para pewaris."
Jawaban sederhana itu membuat Xiao Yun terdiam. Ia kembali memandang ukiran-ukiran tersebut dengan perasaan yang sama sekali berbeda. Jika benar setiap nama mewakili seorang pewaris Nadi Kekosongan, berarti begitu banyak orang telah menempuh jalan yang sama dengannya jauh sebelum dirinya lahir. Semakin lama mereka berjalan, semakin banyak pula nama yang bermunculan. Jumlahnya mencapai ratusan, meskipun sebagian besar telah kehilangan bentuk aslinya akibat dimakan waktu.
Di belakang Xiao Yun, Luo Hai turut memperhatikan setiap ukiran dengan saksama. Ia mengangkat tangan dan perlahan menyentuh salah satu nama yang masih terlihat cukup jelas. Begitu ujung jarinya bersentuhan dengan batu kuno itu, matanya langsung menyipit.
"Aura sejarah yang sangat kuat..." gumamnya lirih.
Sebagai mantan Dao Zun, ia mampu merasakan sisa-sisa kehendak yang masih tertinggal pada ukiran tersebut. Aura itu sangat lemah, nyaris menghilang, tetapi tetap membawa kesan mendalam yang tidak mungkin dipalsukan. Luo Hai merasa seolah sedang menyentuh lembaran sejarah yang telah lenyap dari dunia, catatan mengenai orang-orang hebat yang keberadaannya bahkan tidak lagi dikenang oleh generasi sekarang.
Perjalanan mereka berlanjut tanpa hambatan. Setelah melewati lorong yang terasa sangat panjang, cahaya di depan perlahan berubah semakin terang. Roh penjaga akhirnya berhenti di sebuah gerbang batu raksasa yang telah terbuka sejak lama, lalu melayang melewatinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Xiao Yun melangkah keluar beberapa detik kemudian.
Langkahnya langsung terhenti.
Matanya membelalak karena pemandangan yang terbentang di hadapannya jauh melampaui semua yang pernah ia bayangkan.
Di balik lorong itu terdapat sebuah aula raksasa yang bahkan lebih megah dibandingkan ruang altar sebelumnya. Langit-langitnya menjulang begitu tinggi hingga tenggelam dalam bayang-bayang gelap, membuat ujungnya sama sekali tidak terlihat. Pilar-pilar batu hitam berdiri mengelilingi aula bagaikan gunung-gunung yang menopang dunia bawah tanah itu. Permukaan setiap pilar dipenuhi ukiran pusaran kuno yang memancarkan cahaya redup, menciptakan suasana agung sekaligus penuh tekanan.
Namun perhatian Xiao Yun segera tertuju ke bagian tengah aula.
Di sana berdiri sepuluh singgasana batu berukuran raksasa yang tersusun membentuk lingkaran sempurna. Sembilan di antaranya telah ditempati oleh patung-patung batu dengan wujud yang berbeda-beda, sementara singgasana terakhir masih kosong, seolah sejak awal memang disiapkan untuk seseorang yang belum pernah datang.
Ada patung seorang pria berjubah panjang dengan pedang di pinggangnya.
Ada pula seorang wanita berwajah dingin yang menggenggam tombak hitam.
Beberapa mengenakan zirah perang yang penuh bekas pertempuran, sedangkan yang lain memakai jubah kultivator sederhana.
Meskipun semuanya hanyalah patung, aura yang tersisa pada masing-masing sosok masih terasa luar biasa. Xiao Yun bahkan merasa napasnya sedikit berat hanya karena berdiri di hadapan mereka.
Roh penjaga berhenti di tengah aula dan perlahan memutar tubuhnya menghadap Xiao Yun.
"Ini adalah Aula Para Pewaris."
Suaranya bergema pelan, memantul berkali-kali di antara pilar-pilar batu yang menjulang tinggi.
Tatapan Xiao Yun terus berkeliling menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya kembali kepada sembilan singgasana tersebut.
"Apa mereka semua..."
"Ya."
Roh penjaga mengangguk.
"Mereka adalah sembilan pewaris yang datang sebelum dirimu."
Suasana mendadak menjadi sunyi.
Xiao Yun memandang satu demi satu patung itu dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Mereka pernah memikul Nadi Kekosongan seperti dirinya. Mereka pernah berdiri di tempat yang sama, menghadapi ujian yang sama, serta menerima warisan yang sama. Namun perjalanan mereka tidak pernah mencapai tujuan akhir.
"Sebagian gugur."
Suara roh penjaga kembali memecah keheningan.
"Sebagian menghilang tanpa jejak."
"Dan sebagian lagi memilih jalan yang tidak lagi diketahui oleh siapa pun."
Xiao Yun perlahan mengepalkan tangannya. Kata-kata itu membuat beban yang selama ini belum benar-benar ia sadari kini terasa jauh lebih nyata. Jalan yang sedang ditempuhnya ternyata telah merenggut banyak kehidupan luar biasa di masa lalu.
Didorong rasa penasaran, Xiao Yun berjalan perlahan mendekati singgasana-singgasana tersebut. Di bawah setiap singgasana terukir nama kuno yang berbeda, meskipun beberapa sudah sangat pudar. Ia melewati singgasana pertama, lalu kedua, kemudian ketiga tanpa terjadi apa pun.
Namun ketika ia tiba di depan singgasana keempat, simbol pusaran di lehernya tiba-tiba memancarkan cahaya hitam yang jauh lebih terang daripada sebelumnya.
Bzzzz...
"Hm?"
Xiao Yun refleks menyentuh lehernya.
Pada saat yang sama, seluruh aula berguncang hebat.
BOOOOM!
Pilar-pilar batu bergetar, debu kuno berjatuhan dari langit-langit, sementara gelombang energi hitam menyebar dari singgasana keempat ke seluruh penjuru aula.
Mata Luo Hai langsung menyipit penuh kewaspadaan.
Roh penjaga pun perlahan menoleh ke arah singgasana tersebut.
Retakan-retakan hitam mulai menjalar di permukaan patung batu yang selama ribuan tahun berdiri tanpa bergerak. Bunyi pecahan batu bergema berulang kali hingga memenuhi seluruh ruangan.
Kraaak...
Kraaak...
Retakan itu semakin melebar sebelum akhirnya menyelimuti seluruh tubuh patung.
Kemudian...
Sepasang mata batu perlahan terbuka.
Dalam sekejap, aura kuno yang luar biasa besar memenuhi Aula Para Pewaris. Tekanan yang dipancarkannya jauh melampaui apa pun yang pernah dirasakan Xiao Yun. Bahkan Luo Hai yang pernah mencapai ranah Dao Master pun ikut merasakan kesungguhan aura tersebut.
"Jiwa sisa..." gumam Luo Hai pelan.
"Tetapi kekuatan yang tertinggal masih begitu besar."
Potongan-potongan batu mulai berjatuhan dari tubuh patung. Dari balik lapisan batu yang pecah perlahan muncul cahaya hitam pekat, lalu sesosok pria berwajah tampan dengan rambut panjang menjuntai hingga pinggang melangkah keluar. Tubuhnya tampak transparan seperti roh, tetapi wibawa yang dipancarkannya membuat seluruh aula kembali tenggelam dalam kesunyian.
Pria itu memandang sekeliling dengan tatapan yang seolah menembus ruang dan waktu. Matanya menyapu sembilan singgasana sebelum akhirnya berhenti tepat pada Xiao Yun.
Seketika cahaya aneh muncul di kedua matanya.
"Nadi Kekosongan..." gumamnya perlahan.
Ekspresi terkejut yang semula tampak di wajahnya berubah menjadi senyum tipis yang mengandung rasa lega.
"Jadi... Pewaris Generasi Kesepuluh akhirnya benar-benar datang."
...BERSAMBUNG...
Yun ada kaitannya sama tokoh sblm nya nggak sih?