NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: tamat
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Bab 34

Pagi di gang itu tidak pernah benar-benar sepi.

Ada suara motor lewat pelan. Ada suara sapu lidi. Ada suara ibu-ibu yang entah kenapa kalau ngobrol volumenya selalu seperti sedang rapat RT.

Dan pagi itu…

ada tambahan topik baru.

Gerobak sayur keliling baru berhenti di ujung rumah Pak Rahman.

"Sayuuur… sayuuur… tomat… cabai… bandeng…"

Satu per satu ibu-ibu keluar.

Romlah paling depan.

Widuri menyusul sambil bawa kantong kain.

Ani datang belakangan.

Lalu dari rumah sebelah rumah Pak Rahman, pintu terbuka.

Weni keluar.

Pakai daster bunga besar, rambut dijepit asal, tangan bawa dompet tipis yang entah isinya uang atau catatan utang.

Dia berdiri di dekat gerobak.

Awalnya cuma pilih-pilih bayam.

Sampai telinganya menangkap obrolan.

Romlah sedang semangat cerita.

"Eh sumpah ya… kemarin aku lihat sendiri!"

Ani langsung antusias.

"Yang datang itu tinggi banget!"

Widuri ikut menimpali.

"Ganteng lho."

Romlah menepuk tangan.

"Kayak orang Cindo!"

Weni yang tadinya pegang tomat langsung melirik.

Diam.

Tapi kupingnya jelas pasang mode satelit.

Ani makin semangat.

"Mobilnya juga bukan satu!"

"Iya!" kata Romlah. "Terus bawa seserahan banyak banget!"

Widuri ketawa.

"Celsi diam-diam ternyata."

Weni mulai pelan-pelan geser posisi.

Pilih kangkung.

Padahal dengarnya makin fokus.

Romlah menurunkan suara.

"Tapi jangan keras-keras ngomongnya."

Ani bingung.

"Kenapa?"

Widuri langsung nyengir jahil.

"Nanti ada yang iri."

Mereka ketawa.

Romlah lanjut.

"Atau direbut lagi kayak dulu."

Hening.

Weni yang dari tadi diam langsung menoleh.

"Eh."

Semua diam.

Widuri sadar telat.

Weni pasang wajah datar.

"Maksudmu apa?"

Widuri refleks gugup.

"Bukan ngomongin siapa-siapa."

Weni mendekat.

"Tadi ngomong direbut siapa?"

Romlah mulai mundur.

Ani pura-pura pilih timun.

Widuri berusaha santai.

"Lah bercanda aja."

Weni langsung mendengus.

"Kalau ngomong tuh yang jelas."

Widuri mulai ikut panas.

"Ya kalau nggak merasa ngapain marah?"

Weni melotot.

"Lho kamu nuduh keluarga saya?"

Widuri ikut melotot.

"Saya nggak nyebut nama!"

Romlah langsung menyingkir dua langkah.

Tukang sayur mulai panik.

"Ibu… ibu… pilih sayurnya dulu…"

Tapi dua orang itu sudah saling hadap.

Weni angkat bandeng.

Widuri angkat sawi.

Romlah langsung jerit.

"WOI JANGAN DILEMPAR!"

Widuri menunjuk.

"Kalau ngomong orang jangan baper!"

Weni balas.

"Kalau ngomong jangan nyindir!"

Tukang sayur langsung tepuk gerobak.

"UDAH!"

Semua diam.

Bapak penjual sayur menatap dua-duanya capek.

"Saya dari pagi jualan bukan buka arena tinju."

Sunyi.

Beliau lanjut ngomel.

"Daripada ngomongin orang mending bayar utang."

Weni langsung kaku.

Widuri langsung pura-pura lihat cabai.

Tukang sayur buka buku kecil.

"Ibu Weni seratus tiga puluh ribu."

Weni langsung batuk.

"Eh nanti—"

Beliau lanjut.

"Ibu Widuri sembilan puluh ribu."

Widuri senyum canggung.

Romlah langsung mundur makin jauh.

Tidak mau terseret.

Tukang sayur menghela napas.

"Ngomongin orang lancar. Bayarnya besok terus."

Weni langsung ambil kantong.

"Ya udah besok."

Tangannya tetap ambil bandeng.

Lalu ambil tempe.

Tambah cabai.

Tambah tomat.

Tukang sayur melongo.

"Ibu nambah lagi?"

Weni santai.

"Buat besok sekalian."

Widuri lihat-lihat.

Lalu ambil sayur sama tahu.

Kali ini dia keluarkan uang.

"Nih saya bayar yang sekarang."

Lalu cepat-cepat pergi.

Sebelum ditagih utang lama.

Tukang sayur cuma geleng kepala.

"Ya Allah…"

Masuk rumah.

Weni taruh belanjaan agak keras.

Mukanya masih manyun.

Pikirannya bukan soal Widuri.

Tapi soal satu hal.

Lamaran.

Dia duduk.

Mikir.

Kok dia nggak tahu?

Rumah sebelahan.

Kakaknya nggak bilang.

Masa sampai tetangga tahu duluan?

Weni mulai kesal sendiri.

Merasa nggak dianggap.

Padahal…

kalau dipikir-pikir…

keluarga dia sendiri memang sering bikin ribut.

Dulu waktu Vena mau nikah juga begitu.

Pak Rahman tahu-tahu sudah dekat hari H baru dengar.

Tapi tetap saja.

Weni tidak mau mengaku itu.

Yang dia rasakan sekarang cuma:

"Masa aku nggak dikasih tahu?"

Makin dipikir makin sebal.

Akhirnya dia berdiri.

Langsung jalan ke rumah sebelah.

Pintu rumah Pak Rahman terbuka.

Weni masuk tanpa salam.

"Mas!"

Tidak ada jawaban.

Yang ada cuma suara wajan dari dapur.

Bu Dewi lagi masak.

Belum sempat menoleh…

Weni sudah masuk dapur.

Bu Dewi menoleh sebentar.

"Oh."

Datar.

Weni langsung buka tudung saji.

Lihat jajanan pasar.

Masih hangat.

Kemarin dibawa Bu Ayu.

Tanpa tanya.

Ambil.

Masuk kantong.

Lalu buka kulkas.

Bu Dewi mulai melirik.

Weni ambil lagi.

Kue.

Puding.

Kotak makanan.

Bu Dewi diam beberapa detik.

Lalu tanya datar.

"Ngapain?"

Weni santai.

"Ngambil."

Bu Dewi menatap.

"..."

Weni buka lagi kulkas.

"Nggak bilang-bilang ada lamaran."

Bu Dewi balik masak.

"Oh."

Weni kesal.

"Oh apanya?"

Bu Dewi aduk masakan.

"Nggak sempat."

Weni mendengus.

"Saya keluarga."

Bu Dewi jawab pendek.

"Iya."

Diam lagi.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada basa-basi.

Weni tambah kesel.

Karena orang yang dia ajak ribut malah tidak meladeni.

Akhirnya dia ambil kantong.

"Bawa ya."

Bu Dewi cuma jawab.

"Hm."

Weni pergi.

Bu Dewi menatap punggung adik iparnya.

Lalu melihat meja.

Separuh jajanan hilang.

Dia cuma menghela napas panjang.

"Ya sudahlah…"

Lalu lanjut masak.

Satu jam kemudian.

Weni sudah sampai rumah Vena.

Masuk sambil bawa kantong.

Vena yang lagi duduk langsung melirik.

"Bu bawa apa?"

Weni taruh semua di meja.

"Ambil."

Vena buka.

Matanya langsung berbinar.

"Wah banyak."

Weni duduk.

Lalu mulai.

Nada khas orang yang mau gosip.

"Kamu tahu nggak."

Vena lihat sebentar.

"Apa?"

"Celsi dilamar."

Vena berhenti makan.

"Hah?"

Weni angguk.

"Dengar dari tetangga."

Vena mendekat.

"Siapa?"

Weni mengangkat bahu.

"Nggak tahu."

Lalu menurunkan suara.

"Tapi katanya cakep."

Vena diam.

Weni lanjut.

"Katanya kaya."

Vena mulai tertarik.

Weni tambah lagi.

"Katanya kayak orang Cindo."

Vena pelan meletakkan makanan.

Matanya sedikit berubah.

"Serius?"

Weni mengangguk.

"Makanya Ibu juga kaget."

Vena diam beberapa detik.

Lalu menatap makanan di meja.

Pikirannya mulai jalan ke mana-mana.

Sementara Weni masih ngomong.

"Entah siapa…"

"Tapi kayaknya… bukan orang biasa."

1
sunaryati jarum
Hubungan diawali kurang baik akan berakhir kurang baik juga, sungguh sangat adil
Lyeend
menantu? bukankah aska husband nya celsi,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
sunaryati jarum
Sifat iri kok piara Bu Weni,buang yang jauh toh cari Syukur , hidupmu akan nyaman
Susilawati Arum
kan bukannya Aska pernah bertemu sebelumnya dengan Rangga dan Vena..kok Aska nggak tau kalau itu Rangga
sunaryati jarum
Nah kan kecebong Aska sudah ada yang tumbuh di rahim Celsy,dia nggak ngalami tanda- tanda kehamilan
Dilla Fadilla
lanjut thor yg bnyk 💪
sunaryati jarum
Nah ketahuan jika kau memalsukan hasil tes kesuburan Rangga dan Celsi.
Ambo Nai
hamil kembar
sunaryati jarum
Semoga Chelsi hamil
sunaryati jarum
Nah benar perkiraan emak, yang mandul itu Rangga.Anak dulu yang dituduhkan anaknya, ternyata jebakan
sunaryati jarum
Ayo semangat buat adonan bayi Koh Aska,benih anda semoga tok cer langsung tumbuh Walau difonis mandul siapa tahu ada kesalahan.Dan kandungan Vena bukan benih Rangga.
Syahdu: Gak akan bosen deh, Novel ada chat lucunya😆 di I Love you Brutally. Cewek yang naksir kakak kelas secara terang-terangan! Terima kasih dukungannya🤍🫶🏻😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Bagus
sunaryati jarum
Nah ,sadar diri gitu Rangga.Prnyesalan tidak ada gunanya.Apalagi entar kamu sama Vera tak kunjung punya anak,tapi Celsi yang langsung hamil.Emak ingin tahu reaksi kamu dan ibumu.
Ma Em
Rangga kamu sdh menceraikan Celsi dan kamu sdh ada Vena perempuan pilihan mu sekarang Celsi sdh dapat pengganti mu jauh lbh baik seorang pengusaha properti yg sukses .
Lyeend
omongan yang mantap dan padu😂😂
sunaryati jarum
Ingin hati memprovokasi dan membatalkan pernikahan.Celsi ,belum keluar ucapannya sudah dikunci ,Asaka.Bravo Aska, sepertinya kamu tahu siapa yang mengaku Rian.
sunaryati jarum
Astaga saudara kok kaya gitu , tidak menghargai kakaknya,bukan itu anaknya yang merebut mantan suami Celsi
sunaryati jarum
Kukira tetangga julid ternyata baik malah memberi nasehat walau melalui candaan, segera menikah ya
sunaryati jarum
Ayo Celsi gugup ta, orang yang kau rindu menepati janjinya
sunaryati jarum
Ayo Celcy, terima .Toh kamu juga sudah ada rasa sama Aska
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!