NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Dokter, Dijual Nggak?

Senin pagi pukul delapan, Amaya berdiri di depan jendela kantornya di lantai dua puluh sembilan Amerta Medika Group.

Jakarta terbentang di bawah kaca. Meja kerjanya masih kosong selain laptop perusahaan, kartu akses, flashdisk dari Robert, dan kotak makan yang disiapkan Karina.

Amaya memotret ruangan, lalu mengirimkannya kepada Mama.

`Sudah sampai. Kantornya bagus. Bekal juga sudah masuk kulkas. Jangan telepon Papa tiap lima menit buat cek aku.`

Balasan Karina datang kurang dari sepuluh detik.

`Mama baru telepon dua kali.`

Amaya tertawa. Kehangatan kecil itu masih terasa asing bagi tubuh ini, tetapi ia tidak menolaknya.

Ketukan terdengar. Seorang pria berjas abu-abu masuk membawa tablet dan dua map.

"Pagi, Nona Halim. Saya Ivan Susanto, asisten Pak Sebastian."

"Pagi, Pak Ivan. Panggil Amaya saja."

Ivan menaruh map di meja. "Ini struktur tim, matriks kewenangan, akses sistem, dan jadwal dua minggu. Rapat pertama jam sepuluh di ruang rapat utama lantai ini."

Ia menjelaskan alur persetujuan dokumen, daftar pihak yang wajib menerima pembaruan, serta batas akses data klinis. Amaya mendengarkan tanpa memotong, mencatat nama dan jabatan yang belum dikenalnya.

"Data pasien hanya bisa dilihat dalam sistem Amerta dan tidak boleh dipindahkan ke perangkat pribadi," ujar Ivan. "Dokumen proyek menggunakan ruang penyimpanan bersama. Semua revisi harus punya jejak persetujuan."

Amaya membuka map pertama. "Kalau Adhikara mengubah jadwal batch, aku kirim pemberitahuan ke kepala manufaktur, tim uji, etik, dan koordinator klinis sebelum memperbarui timeline utama. Benar?"

Ivan melirik catatannya. "Benar."

"Batas pemberitahuannya dua hari kerja kecuali perubahan kritis."

"Benar juga."

"Flashdisk Papa lumayan berguna."

Ivan diam-diam menaikkan penilaiannya lagi. Perempuan ini tidak datang hanya membawa nama keluarga. Ia sudah membaca alur yang biasanya baru dipahami pegawai setelah dua minggu.

Ia memberikan kartu akses tambahan. "Ini membuka ruang rapat, arsip proyek, dan lantai tiga puluh tiga jika ada janji. Tidak berlaku untuk laboratorium atau data center."

"Berarti aku belum boleh berkeliaran ke semua tempat."

"Sebaiknya jangan berkeliaran ke mana pun."

Amaya mencatat semuanya.

"Pak Ivan lucu juga kalau sedang takut aku bikin masalah."

Ivan memilih tidak menjawab.

"Pak Sebastian jadwalnya padat," lanjut Ivan. "Kalau tidak perlu, jangan menghubungi langsung. Untuk rapat pertama, Nona boleh hanya mendengar."

"Maksudnya supaya aku nggak mempermalukan dua grup sekaligus?"

Ivan terdiam sesaat. "Maksud saya supaya Nona punya waktu memahami ritme tim."

"Jawaban diplomatis. Nilai sembilan."

Sudut bibir Ivan bergerak. Rumor menyebut putri kedua Halim pendiam, lambat merespons, dan selalu berdiri di belakang Selena. Perempuan di hadapannya justru membaca agenda lebih cepat daripada ia menjelaskan dan langsung menandai tiga konflik wewenang.

"Ada yang mau ditanyakan?" tanyanya.

"Satu." Amaya menunjuk pot kecil di samping sofa. "Tolong bawa itu ke Pak Sebastian."

Sukulen berdaging bulat tumbuh di dalam pot keramik warna merah muda kusam. Di bagian depan tertempel kartu kecil bertuliskan `Peachy`.

Ivan menatap tanaman itu seperti menatap benda asing. Kantor Sebastian hanya berisi buku kedokteran, laporan perusahaan, dua model anatomi, dan satu mesin kopi. Tidak ada bunga. Tidak ada pajangan lembut.

"Pak Sebastian biasanya tidak menerima tanaman."

"Kalau ditolak, kembalikan. Jangan dibuang. Harganya cuma sedikit di bawah harga diriku."

Lima menit kemudian, Ivan meletakkan Peachy di meja lantai tiga puluh tiga.

Sebastian mengangkat mata dari laporan. "Apa itu?"

"Titipan Nona Amaya. Kalau Dokter menolak, saya diminta mengembalikannya dalam keadaan utuh."

Tatapan Sebastian berhenti pada kartu nama kecil.

"Taruh saja."

Ivan menaruhnya di sudut meja dan keluar tanpa komentar. Baru setelah pintu tertutup, Sebastian memindahkan pot itu lebih dekat. Ia memotretnya sekali, menghapus foto karena pantulan lampu terlalu terang, lalu memotret lagi dari sisi jendela.

Ponselnya bergetar.

Permintaan kontak WhatsApp masuk dari akun bernama `iblis kecil`. Foto profilnya seekor domba putih dengan pita merah muda.

Sebastian menatap layar hampir satu menit sebelum menerima. Ia meletakkan ponsel, membaca satu paragraf laporan, lalu mengambilnya lagi.

Tidak ada pesan.

Tiga menit kemudian, masih tidak ada.

Ia baru hendak mengunci layar ketika gelembung pesan muncul.

`Dokter, dijual nggak?`

Sebastian membaca dua kali.

`?`

Di lantai dua puluh sembilan, Amaya menatap pesan yang terkirim dan menutup mata. Kalimat itu seharusnya hanya berada di kepalanya.

Ia segera mengetik.

`Maksudku sukulennya sudah sampai atau belum. Salah tulis.`

`Jauh sekali salahnya.`

`Autocorrect.`

`Autocorrect mana yang mengubah "sudah sampai" jadi "dijual nggak"?`

Amaya menggigit bibir, lalu memilih menyerang.

`Jadi Dokter nggak dijual?`

Balasan tidak datang selama satu menit. Dua menit.

Lalu sebuah foto Peachy muncul.

`Tanamannya sampai.`

Amaya tersenyum menang.

`Namanya Peachy. Kalau dirawat baik, warnanya jadi pink. Kalau telat dirawat, langsung hijau dan ngambek. Kayak orang.`

`Kenapa kasih saya?`

`Biar hubungan lancar. Tanda setia.`

Sebastian menatap dua kata terakhir terlalu lama. Ia tahu Amaya sedang bicara tentang hubungan kerja. Mungkin juga tanaman. Namun jantungnya tetap melakukan sesuatu yang tidak profesional.

Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.

`Rapat jam sepuluh. Jangan terlambat.`

Percakapan selesai secara resmi.

Sebastian memindahkan Peachy ke sisi meja yang mendapat sinar pagi. Setelah memastikan pintu kantor tertutup, ia membuka peramban dan mengetik satu pertanyaan.

`Cara merawat sukulen?`

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!