Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 25 berkunjung kerumah utama Adrian
Nita masih berdiri di dekat jendela koridor Tatapannya tidak lagi mengikuti Adrian, Kini matanya tertuju pada Arunika. Perempuan itu.
Arunika.
Nita mengulang nama itu dalam hati sementara jemarinya perlahan mengendur.
Selama lima tahun, ia selalu percaya bahwa waktu akan membuat Adrian melihatnya.
Lima tahun ia berada di sisi Adrian Mengetahui kebiasaannya, memahami sifat dinginnya, bahkan tahu kapan Adrian sedang marah hanya dari perubahan nada suaranya.
Namun ternyata semua itu tidak cukup. Arunika baru datang ke kehidupannya, tetapi dalam waktu yang jauh lebih singkat, perempuan itu sudah berhasil mendapatkan sesuatu yang tidak pernah bisa Nita dapatkan.
Senyum Adrian, Tatapan lembut Adrian, Dan yang paling menyakitkan...Pilihan Adrian.
"Arunika..."
Nita mengucapkan nama itu pelan Kali ini tidak ada rasa penasaran di dalam suaranya, Ada sesuatu yang jauh lebih dingin.
"Apa sebenarnya yang kamu lakukan sampai Adrian berubah seperti itu?"
Nita berbalik ketika mendengar suara langkah dari belakang, Seorang staf perempuan berdiri beberapa meter darinya.
"Bu Nita? Anda belum turun?"
Nita langsung mengubah ekspresinya.
"Sebentar lagi."
Staf itu mengangguk lalu pergi Begitu koridor kembali sepi, senyum Nita menghilang. Ia kembali melihat ke arah Adrian dan Arunika yang sudah semakin jauh.
"Kalau kamu pikir aku akan menyerah begitu saja..."
Nita menarik napas pelan.
"...kamu terlalu cepat menyimpulkan."
Sementara itu, Arunika sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di belakang mereka. Ia masih berjalan di samping Adrian.
Namun setelah mengatakan bahwa dirinya juga memilih Adrian, perempuan itu justru menjadi terlalu malu untuk menatap pria tersebut. Adrian meliriknya.
"Kamu kenapa?"
"Enggak kenapa-kenapa."
"Sejak tadi melihat lantai."
"Memangnya lantai menarik?"
"Kelihatannya sangat menarik."
Arunika langsung menoleh.
"Adrian."
"Hm?"
"Jangan mulai."
Adrian menahan senyum.
"Baik."
Beberapa langkah kemudian, Arunika kembali bertanya.
"Kita sebenarnya mau makan di mana?"
Adrian tidak menjawab Arunika menatapnya curiga.
"Kenapa diam?"
"Kita pulang."
Arunika berhenti.
"Pulang?"
Adrian ikut berhenti lalu menoleh.
"Ke rumahku."
Arunika langsung mengerutkan kening.
"Untuk apa?"
"Makan."
"Di rumahmu?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin memperkenalkanmu kepada keluargaku."
Arunika langsung diam Beberapa detik kemudian, matanya membesar.
"Tunggu."
Adrian sudah kembali berjalan.
"Adrian!"
Ia buru-buru menyusul.
"Kamu bilang apa tadi?"
"Aku ingin memperkenalkanmu kepada keluargaku."
"Kenapa tiba-tiba?"
"Karena aku ingin."
"Adrian!"
Pria itu berhenti dan menatapnya Arunika tampak panik.
"Aku belum siap."
"Untuk apa?"
"Ketemu keluargamu!"
Adrian justru terlihat tenang.
"Mereka tidak akan memakanmu."
"Bukan itu masalahnya!"
"Lalu?"
Arunika tidak tahu harus menjawab apa, Bagaimana mungkin Adrian mengatakan hal sebesar itu dengan ekspresi setenang itu?
"Kenapa harus hari ini?"
Adrian menatapnya beberapa saat.
"Karena aku sudah terlalu lama membuatmu berdiri di luar kehidupanku."
Nada suaranya membuat Arunika terdiam.
Adrian melanjutkan.
"Aku ingin kamu masuk ke dalamnya."
Arunika menatapnya.
"Dan rumah utama adalah bagian dari kehidupanku yang ingin aku tunjukkan kepadamu."
Jantung Arunika kembali berdetak tidak beraturan.
"Kamu serius?"
"Serius."
"Kalau keluargamu tidak menyukaiku?"
Adrian menjawab tanpa ragu.
"Aku yang akan menghadapinya."
Arunika terdiam.
"Kalau mereka bertanya macam-macam?"
"Aku jawab."
"Kalau mereka menilaimu buruk karena membawaku?"
Adrian menatapnya.
"Arunika."
"Hm?"
"Jangan memikirkan semua kemungkinan buruk sebelum sesuatu terjadi."
Arunika menghela napas.
"Aku cuma gugup."
Adrian mengangguk.
"Aku tahu."
"Terus kenapa masih mengajakku?"
"Karena aku ingin kamu gugup bersamaku."
Arunika menatapnya tidak percaya.
"Kamu gugup?"
Adrian diam sebentar.
"Sedikit."
Arunika spontan tertawa kecil.
"Adrian bisa gugup juga?"
"Jangan terlalu senang."
"Kenapa?"
"Karena kalau kamu terus menertawakanku, kita batal berangkat."
Tawa Arunika langsung berhenti.
"Jangan!"
Adrian tersenyum.
"Nah."
Arunika mendengus.
"Kamu menyebalkan."
"Aku tahu."
Sore itu mobil Adrian berhenti di depan rumah utama keluarganya, Arunika yang duduk di kursi penumpang langsung terdiam.
Rumah itu jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Halaman luas terbentang di depan bangunan utama. Beberapa orang terlihat bekerja di sekitar taman, sementara dua orang staf rumah tangga langsung berdiri ketika mobil Adrian memasuki halaman.
Arunika menelan ludah.
"Adrian."
"Hm?"
"Ini benar-benar rumahmu?"
"Rumah utama keluargaku."
"Kenapa besar sekali?"
"Menurutku biasa."
Arunika langsung menoleh.
"Biasa dari mana?"
Adrian mematikan mesin mobil.
"Turun."
Arunika tidak bergerak Adrian menatapnya.
"Kenapa?"
"Aku takut."
Adrian terdiam Bukan karena kesal, Ia justru memahami apa yang sedang dirasakan Arunika. Adrian membuka sabuk pengamannya lalu turun dari mobil.
Beberapa detik kemudian, pintu di sisi Arunika terbuka, Adrian berdiri di sana.
"Turun."
Arunika mendongak.
"Kamu jangan tinggalin aku."
Adrian mengulurkan tangan.
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
Arunika menatap tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya. Begitu turun, Adrian tidak langsung melepaskannya.
Arunika melihat tangan mereka.
"Adrian..."
"Hm?"
"Kamu masih pegang."
"Aku tahu."
Arunika langsung berdeham.
"Di depan orang."
Adrian melirik beberapa staf yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Biarkan."
Wajah Arunika memanas Namun sebelum ia sempat membalas, pintu utama rumah terbuka. Seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam.
Tatapannya langsung jatuh kepada Adrian Kemudian kepada Arunika, Langkahnya berhenti.
"Adrian?"
Adrian menoleh.
"Ibu."
Arunika membeku.
Ibu?
Adrian menggenggam tangannya sedikit lebih erat.
"Kenalkan."
Arunika langsung menatap Adrian Pria itu berkata dengan tenang.
"Ini Arunika."
Perempuan itu menatap tangan mereka yang masih saling menggenggam, Lalu kembali melihat wajah Arunika. Ada keheningan beberapa detik Arunika hampir menarik tangannya karena gugup. Namun Adrian justru tidak melepaskannya.
"Dia orang yang kuceritakan."
Arunika langsung menoleh tajam.
"Kamu sudah cerita tentang aku?!"
Adrian mengangguk santai.
"Iya."
Wajah Arunika semakin merah Ibunya Adrian justru tersenyum tipis.
"Jadi ini Arunika."
Arunika menelan ludah.
"I-iya, Bu."
Perempuan itu melangkah mendekat Tatapannya masih penuh rasa ingin tahu, Kemudian ia tersenyum.
"Selamat datang di rumah utama."
Arunika sedikit terkejut.
"Terima kasih, Bu."
Adrian melihat ibunya.
"Ayah di mana?"
"Di ruang keluarga."
Adrian mengangguk Lalu ia menoleh kepada Arunika.
"Siap?"
Arunika berbisik.
"Enggak."
Adrian hampir tersenyum.
"Terlambat."
"Adrian!"
Namun Adrian sudah menariknya perlahan menuju pintu utama, Dan tanpa mereka sadari...Di sisi lain kota, Nita baru saja menerima sebuah pesan.
Satu foto.
Foto Adrian dan Arunika yang datang ke rumah utama, Nita menatap foto itu lama. Wajahnya perlahan berubah.
"Jadi..."
Jemarinya mencengkeram ponsel.
"Kamu sudah membawanya ke rumah utama?"
Bibir Nita membentuk senyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana. Selama ini, rumah utama adalah tempat yang bahkan tidak sembarang orang bisa masuki bersama Adrian.
Namun Arunika baru saja mendapat tempat di sana, Nita berdiri di depan jendela.
"Kalau begitu, aku harus tahu..."
Tatapannya menjadi dingin.
"...seberapa jauh kamu benar-benar berarti bagi Adrian."
Ia mengambil ponselnya dan membuka kontak seseorang, Jarinya berhenti di atas nama itu. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan dikirim.
Aku ingin tahu semuanya tentang Arunika.
Nita menatap layar Kemudian menambahkan satu kalimat.
Siapa keluarganya, masa lalunya, dan bagaimana dia bisa masuk ke kehidupan Adrian.
Pesan itu terkirim Nita meletakkan ponselnya.
"Kalau ternyata kamu memang hanya kebetulan..."
Ia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca.
"...aku akan memastikan Adrian menyadarinya."
Sementara itu, di rumah utama...Arunika baru saja melangkahkan kaki ke ruang keluarga, Ia belum tahu bahwa kedatangannya ke rumah Adrian bukan hanya akan membuat hubungannya dengan Adrian semakin dekat.
Tetapi juga akan menjadi awal dari persaingan yang tidak pernah ia minta.
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal
Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.
Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.
Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.
Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?