Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Rumah yang Tidak Pernah Memilihnya
Tetapi matanya tidak sepolos itu.
Kiara menatap pantulan dirinya di cermin lebih lama, lalu mengangkat ponsel dan membuka ulang foto pita rambut yang ia kirim kepada Keira. Pita itu tidak terlalu penting. Gaun yang akan ia pakai malam besok pun sebenarnya sudah dipilih stylist dari butik langganan Meilan.
Yang penting adalah memastikan Keira pulang saat dipanggil.
Karena di Rumah Yanto, itu sudah seperti aturan tidak tertulis.
Kiara cukup berkata butuh sesuatu, maka Keira harus datang.
Malam itu, mobil online yang membawa Keira berhenti di depan gerbang rumah dua lantai di kawasan Bintaro. Dari luar, Rumah Yanto terlihat nyaman: pagar tinggi, lampu taman hangat, pot anggrek putih di dekat pintu masuk. Rumah yang cocok untuk foto keluarga saat Imlek atau Natal.
Namun bagi Keira, setiap sudutnya punya suara sendiri.
Suara langkah Meilan yang berhenti di depan kamarnya hanya untuk menyuruh.
Suara Fengky yang menanyakan nilai rapornya tanpa pernah menatap lama.
Suara Kiara menangis kecil, lalu semua orang berbalik menyalahkan Keira.
Keira membayar ongkos, mengambil paper bag berisi pita rambut dari toko di mal, lalu masuk.
Asisten rumah tangga membuka pintu. "Non Keira, Nyonya sudah menunggu di kamar Non Kiara."
"Terima kasih."
Keira melepas sepatu di area foyer. Di rak sepatu, sandal rumah Kiara diletakkan paling depan, berbulu lembut, warna merah muda. Sandal Keira ada di sudut bawah, sudah agak kusam. Ia sudah terbiasa melihat perbedaan kecil seperti itu. Justru karena kecil, orang lain selalu menganggapnya tidak layak dipersoalkan.
Dari lantai dua terdengar suara Meilan.
"Keira, cepat sedikit!"
Keira naik.
Kamar Kiara terbuka lebar. Ruangannya besar, wangi diffuser vanilla, dengan meja rias penuh skincare mahal dan lemari kaca berisi tas desainer. Di tengah kamar, Kiara berdiri memakai gaun satin biru muda, rambutnya dijepit sementara, wajahnya dibuat manis seperti boneka.
"Kak Keira akhirnya datang." Kiara tersenyum. "Aku kira Kakak lupa."
"Macet," jawab Keira sambil masuk.
Meilan duduk di sofa kecil dekat jendela. Ia mengenakan setelan rumah yang tetap terlihat mahal, dengan gelang emas tipis di pergelangan tangan. Tatapannya turun ke paper bag di tangan Keira.
"Pita rambutnya?"
Keira menyerahkan. "Ini yang Kiara kirim fotonya."
Kiara mengambilnya, membuka dengan gerakan pelan. "Asli?"
"Aku beli di toko yang kamu minta."
"Struknya mana?"
Keira mengeluarkan struk dari tas, lalu memberikan.
Kiara menatap angka di sana, lalu tersenyum puas. "Bagus. Aku nggak suka barang mirip-mirip."
Meilan ikut tersenyum, bangga pada ketelitian putrinya. "Anak perempuan memang harus tahu kualitas."
Keira berdiri di dekat pintu lemari, masih memegang tas kerja. Tidak ada yang menyuruhnya duduk.
"Kamu lihat gaun ini," kata Meilan. "Kiara merasa bagian pinggangnya terlalu polos."
Keira meletakkan tasnya di kursi kecil, mendekat, lalu memperhatikan gaun itu. Jahitan gaun sebenarnya bagus, tetapi detail pinggangnya memang membuat tubuh Kiara tampak lebih pendek. Keira mengambil pita satin tipis dari meja, melingkarkannya sebentar di bagian pinggang, lalu melepas lagi.
"Kalau mau lebih ringan, jangan pakai pita besar. Cukup aksen kecil di sisi kanan. Warna champagne, bukan putih. Nanti birunya tidak terlihat murahan."
Kiara menoleh ke Meilan. "Tuh, Ma. Aku bilang juga begitu. Jangan terlalu banyak detail."
Keira diam.
Ide itu baru keluar dari mulutnya, tetapi Kiara sudah mengambilnya seolah miliknya sendiri.
Meilan tidak menyadari, atau pura-pura tidak menyadari. "Berarti besok pagi kamu antar Kiara ke butik. Jelaskan ke mereka."
Keira menatap Meilan. "Besok pagi aku harus mengantar Genki ke TK, Ma. Setelah itu ada kerjaan di D.N."
Ruangan mendadak hening.
Kiara mengangkat alis. "Genki?"
Meilan menyipit. "Anak keluarga Harto itu?"
Keira baru sadar ia menyebut nama itu terlalu mudah. "Aku hanya membantu antar jemput sementara."
"Sementara?" Meilan tertawa pendek. "Keira, kamu bekerja di kantor orang, sekarang masih sempat-sempatnya jadi pengantar anak orang kaya?"
"Aku sudah atur jadwal. Tidak mengganggu kerja."
"Tapi mengganggu Kiara." Suara Meilan mengeras tipis. "Kamu tahu besok penting untuk dia."
Keira menahan napas. "Aku bisa ke butik setelah urusan kantor selesai."
"Dan membiarkan Kiara menunggu kamu?"
Kiara menunduk, memainkan ujung pita di tangannya. "Nggak apa-apa, Ma. Kak Keira mungkin sekarang lebih sibuk. Lagi dekat dengan keluarga besar, kan?"
Kalimat itu terdengar lembut. Terlalu lembut.
Keira menatapnya. "Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?" Meilan berdiri. "Kiara ini adikmu. Kalau dia butuh bantuan kecil saja kamu mulai menghitung waktu?"
Bantuan kecil.
Keira menatap gaun satin, pita rambut, lemari penuh tas, meja rias mahal. Kecil, kata mereka, karena bukan waktu mereka yang dipotong. Bukan harga diri mereka yang dipakai untuk menambal keinginan orang lain.
"Aku tidak menolak membantu," kata Keira pelan. "Aku hanya bilang tidak bisa pagi."
Meilan mendekat satu langkah. "Kamu harus ingat posisi kamu di rumah ini."
Dada Keira mengencang.
Kalimat itu pernah datang dalam banyak bentuk. Saat ia masih SD dan Kiara merusak mainannya sendiri. Saat ia SMP dan hadiah ulang tahunnya diberikan kepada Kiara karena warnanya lebih cocok. Saat ia kuliah dan tabungan kecilnya diminta untuk membeli aksesori pesta adiknya.
Malam ini, bentuknya tetap sama.
"Kamu cuma anak angkat, Keira," kata Meilan, rapi dan dingin. "Semua ini milik Kiara. Papa dan Mama membesarkanmu, memberi kamu sekolah, memberi kamu nama Yanto. Membantu adikmu itu bukan permintaan besar."
Kiara menunduk, tetapi sudut bibirnya naik tipis.
Keira merasakan telapak tangannya dingin.
Di kantor tadi, Naomi berkata ia tidak boleh mengecilkan pekerjaannya sendiri. Henry dan Allen menerima konsepnya. Salma bilang ia pantas ada di ruangan itu.
Di rumah ini, satu kalimat Meilan membuat semua itu terasa seperti kertas yang gampang diremas.
Keira menatap Meilan. Suaranya tetap rendah. "Aku mengerti."
Meilan tampak puas. "Bagus. Besok kamu telepon butik setelah antar anak itu. Minta mereka siapkan slot jam makan siang. Kamu temani Kiara."
"Aku ada presentasi lanjutan."
"Keira."
Pintu kamar diketuk dua kali. Fengky Yanto muncul dengan kemeja kerja yang sudah dilonggarkan di bagian kerah. Ia menatap mereka sekilas.
"Ada apa ribut-ribut?"
"Keira susah diminta bantu Kiara," kata Meilan.
Fengky melihat Keira, lalu jam tangannya. "Urusan begitu saja jangan diperpanjang. Kamu atur waktumu. Kiara jangan sampai kecewa."
Tidak ada tanya apa pekerjaan Keira.
Tidak ada tanya mengapa ia pulang malam.
Tidak ada tanya apakah ia sudah makan.
Keira menunduk sedikit. "Baik, Pa."
Fengky masuk, melihat Kiara dengan gaun biru, lalu wajahnya melembut. "Bagus. Anak Papa memang cocok pakai warna cerah."
Kiara langsung berputar kecil. "Beneran, Pa?"
"Bener."
Meilan tersenyum hangat. "Makanya besok harus sempurna."
Keira berdiri di dekat lemari seperti bayangan yang tidak masuk foto keluarga.
Ponselnya bergetar di dalam tas.
Suara kecil itu seharusnya tidak menarik perhatian siapa pun, tetapi Kiara menoleh lebih cepat daripada Keira.
"Kak, ponsel Kakak bunyi."
Keira mengambil tasnya. Layar menyala sebelum sempat ia tutup.
Rayhan Harto
Sudah sampai rumah?
Keira cepat-cepat membalik ponsel, tetapi Kiara sudah melihat cukup banyak.
Senyum di wajah Kiara berhenti sesaat.
"Rayhan Harto?" tanyanya pelan.
Meilan ikut menoleh.
Udara di kamar Kiara mendadak berubah.