Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Menang di Pengadilan
"Saya Nelson Salim. Saya akan memimpin mediasi ini."
Ruangan itu langsung berubah sunyi.
Nelson tidak menaikkan suara. Ia tidak perlu. Ada orang yang membuat ruangan patuh dengan teriakan, ada juga yang cukup meletakkan map di meja dan menatap semua pihak satu per satu.
"Kita mulai dari kronologi," katanya.
Farida langsung menangis.
"Pak Nelson, saya ini korban. Saya sedang arisan, tiba-tiba dia masuk dan menampar saya."
Nelson mencatat. "Baik. Bu Meilan?"
Meilan duduk tegak. "Saya mendengar Bu Farida menyebarkan tuduhan bahwa saya menggoda Pak Joko. Tuduhan itu sudah beredar di WA grup warga. Ketika Sari, pekerja rumah saya, memberi klarifikasi, Bu Farida menghina statusnya sebagai pembantu. Saya menampar karena dia menghina orang di bawah perlindungan saya."
Nelson mengangkat mata. "Anda mengakui menampar?"
"Saya mengakui tindakan saya. Saya juga siap menerima konsekuensinya. Tetapi saya tidak menerima fitnahnya dihapus dari pembahasan."
Ruangan kembali hening.
Pak Tono yang tadinya siap marah jadi gelisah.
Nelson meminta bukti. Meilan menyerahkan tangkapan layar WA grup yang dikirim Yuni. Di sana tertulis jelas kalimat Farida, lengkap dengan tuduhan bahwa Meilan "menggoda Ketua RT" dan "berbahaya untuk suami orang".
"Bukti ini didapat dari mana?" tanya Nelson.
"Dari grup warga. Sebagian dikirim oleh Bu Yuni, sebagian saya dokumentasikan sendiri sebelum dihapus."
Nelson mengangguk. "Baik. Untuk mediasi, ini cukup menunjukkan ada penyebaran. Untuk proses hukum lebih lanjut, nanti perlu verifikasi perangkat. Tapi hari ini kita fokus pada penyelesaian."
Nada profesional itu membuat Pak Tono makin pucat. Ia mungkin baru sadar perkara yang ia bawa untuk menakuti Meilan justru membuka pintu yang lebih berat bagi istrinya.
Nelson membaca tanpa ekspresi. Lalu ia bertanya kepada Pak Joko yang dipanggil sebagai saksi.
Pak Joko berdeham. "Saya membantu Bu Meilan memperbaiki rumah karena ada insiden dengan anak saya sebelumnya. Istri saya tahu. Tidak ada hubungan lain."
"Bu Joko?"
Bu Joko mengangguk tegas. "Saya tahu semua. Tuduhan itu tidak benar."
Wajah Farida mulai kehilangan warna.
Nelson menutup map.
"Dalam perkara ini, ada dua hal. Pertama, kekerasan fisik berupa tamparan. Bu Meilan sudah mengakui dan bersedia meminta maaf atas tindakan fisik. Kedua, pencemaran nama baik melalui grup digital. Ini lebih serius karena menyebar dan berdampak pada reputasi seseorang, terutama seorang ibu tunggal."
Farida protes. "Saya cuma bicara di grup warga!"
"Justru karena grup warga, penyebarannya jelas."
"Pak Nelson membela dia karena dia cantik?"
Suasana langsung membeku.
Chelsea Kusuma, yang sejak tadi berdiri di belakang ruangan bersama staf administrasi, hampir menjatuhkan map yang ia pegang.
Nelson menatap Farida. Untuk pertama kalinya, wajah tenangnya mengeras.
"Bu Farida, saya memimpin mediasi berdasarkan bukti, bukan wajah pihak yang hadir. Karena Anda baru saja menghina integritas petugas mediasi, catatan pelanggaran Anda bertambah."
Pak Tono menutup mata.
Farida akhirnya diam.
Putusan mediasi sederhana tetapi telak: Farida harus meminta maaf secara tertulis di WA grup, membayar kompensasi reputasi, dan menandatangani pernyataan tidak mengulang fitnah. Meilan diminta meminta maaf atas tamparan, tetapi tidak dikenai denda tambahan karena provokasi terbukti.
Meilan menandatangani berkas tanpa keberatan.
"Saya minta maaf karena menampar," katanya kepada Farida. "Tapi kalau Anda menyentuh nama baik orang di rumah saya lagi, saya tidak akan menyelesaikannya dengan tamparan. Saya akan langsung membawa bukti ke jalur hukum."
Farida menggigit bibir, lalu menulis permintaan maaf dengan tangan gemetar.
Setelah mediasi selesai, Meilan keluar dari ruangan bersama Sari.
Sari menunduk. "Mbak Mei, tidak ada yang pernah membela saya seperti tadi."
"Mulai sekarang biasakan."
Sari menatapnya, mata mulai basah.
Sebelum Meilan sempat menjawab, seorang perempuan muda berlari dari belakang.
"Tunggu! Kamu Bu Meilan, kan?"
Meilan menoleh.
Perempuan itu berwajah cerah, rambutnya ditata rapi, tetapi napasnya terburu-buru. Chelsea Kusuma. Dari cara pakaiannya, ia jelas bukan staf biasa.
"Kita pernah ketemu," kata Chelsea cepat. "Di BSD, dekat parkiran kafe. Ada dua orang mabuk mengganggu saya, kamu yang menolong. Kamu ingat?"
Meilan mencari ingatan pemilik tubuh ini dan ingatan beberapa hari terakhir. Ada kilasan: dua pria mabuk, seorang perempuan hampir ditarik masuk mobil, Meilan menendang lutut salah satunya sebelum pergi.
"Oh. Kamu."
Chelsea menggenggam tangannya. "Aku cari kamu! Aku bahkan tanya satpam, tapi tidak ada yang tahu namamu. Ternyata kamu teman Nelson sekarang?"
Nelson yang baru keluar dari ruangan berdeham pelan. "Chelsea."
"Apa? Aku cuma senang." Chelsea menoleh kepada Meilan. "Kamu harus makan denganku. Hari ini. Sekarang. Aku traktir."
Meilan ingin menolak, tetapi Sari pelan-pelan menyikutnya.
"Mbak Mei belum makan sejak pagi."
Chelsea langsung berseru, "Nah! Ayo."
Mereka akhirnya pergi ke Restoran Pangesto. Pak Zhou menyambut Meilan seperti penyelamat keluarga. Chelsea mencicipi ayam madu pedas dan matanya langsung berbinar.
Di meja itu, Sari duduk kaku di samping Meilan. Chelsea menyadarinya dan langsung menggeser piring.
"Mbak Sari, coba ini. Kalau menurutku enak tapi menurut orang yang pintar masak tidak enak, berarti lidahku perlu sekolah."
Sari terkejut dipanggil dengan hormat. Ia mencicipi sedikit, lalu berkata pelan, "Bumbunya enak, tapi kalau bawangnya ditumis lebih lama, aromanya lebih keluar."
Pak Zhou yang lewat langsung berhenti mencatat.
Meilan tersenyum. "Dengar? Dia aset dapur saya."
Pipi Sari memerah.
"Ini enak sekali! Mei, kamu yang bikin resep?"
"Sebagian."
"Pantas. Kamu orang paling mengejutkan yang pernah kutemui."
Nelson duduk lebih tenang, tetapi ia juga menghabiskan makanannya tanpa sisa. "Usaha ini bisa mengangkat ekonomi lokal kalau dikelola dengan benar."
Meilan tersenyum. "Itu rencananya."
Percakapan mengalir. Chelsea bercerita cepat, dari keluarganya, dunia sosial BSD, sampai kebiasaan Nelson yang terlalu serius. Nelson beberapa kali mencoba menghentikan, tetapi selalu kalah.
"Oh iya," Chelsea tiba-tiba merendahkan suara. "Kamu tahu tidak, Nelson ini sebenarnya dari keluarga besar Jakarta. Dia cuma memilih kerja di BSD karena idealis."
Nelson memijat pelipis. "Chel."
"Apa? Ini fakta. Bahkan Patricia Sutanto dulu mengejar dia, tapi ditolak."
Nama itu membuat tangan Meilan berhenti di atas gelas.
"Sutanto?"
Chelsea mengangguk. "Konglomerat itu. Yang paling besar. Kamu belum pernah dengar?"
Meilan menatap air di gelasnya. Nama itu terasa asing, tetapi entah kenapa memantulkan sesuatu di kepalanya: wajah Bobo, garis alis yang terlalu tegas, dan pertanyaan yang belum terjawab.
Sari yang duduk di sebelahnya ikut menoleh. Bahkan ia, yang baru beberapa hari bebas dari hidup lamanya, pernah mendengar nama Sutanto dari bisik-bisik orang pasar: keluarga yang gedungnya seperti menyentuh langit Jakarta.
"Pernah dengar sedikit," katanya.
Chelsea tersenyum misterius. "Kalau begitu nanti aku ceritakan. Dunia Sutanto itu rumit, Mei. Dan orang paling rumit di dalamnya adalah Reynard Sutanto."