Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Masih Sembunyi
Kelelahan yang melanda tubuh dan pikiran Adnan ternyata lebih kuat dari yang ia duga. Di tengah keheningan yang mencekam, dinginnya lantai keramik kamar mandi perlahan menarik kesadarannya turun. Matanya terpejam tanpa ia sadari, kepalanya terkulai lemas di atas lutut yang didekap erat, dan napasnya menjadi teratur. Dia tertidur pulas, sejenak melarikan diri dari kengerian yang mengelilinginya.
Berapa lama ia terlelap, Adnan tidak tahu. Ia terbangun mendadak karena suara teriakan Sherly yang nyaring dan tajam, seketika membuat jantungnya mencelos ke perut.
"Jangan! Sudah kubilang aku lelah!"
Suara itu terdengar tegang, penuh penolakan yang selama ini ia sembunyikan. Ternyata Herman belum pergi. Pria tua itu rupanya masih di sana, dan kini kembali menginginkan lebih, sama sekali tidak peduli dengan kelelahan wanita itu.
"Kau dibayar untuk melayani aku, bukan untuk menolak!" bentak Herman kasar. Suara gesekan kasar dan tubuh yang beradu kembali terdengar, disertai rintihan tertahan Sherly yang kali ini bukan lagi kepura-puraan, melainkan suara kesakitan yang nyata.
"Sudah... tolong berhenti..." mohon Sherly lemah, suaranya bergetar.
"Belum selesai! Aku belum puas!"
Adnan menggenggam tangannya erat hingga kuku menancap ke telapak tangan. Ia ingin sekali mendobrak pintu itu dan melindunginya, namun akal sehatnya menahan. Jika dia keluar sekarang, semuanya berakhir buruk. Ia hanya bisa menggigit bibirnya, menahan diri dalam kebisuan yang menyiksa, berdoa agar cobaan itu cepat berlalu.
Dan akhirnya, setelah perdebatan yang melelahkan, suara itu mereda. Terdengar helaan napas panjang Herman, disusul bunyi ikat pinggang yang dikancingkan kembali. Mereka selesai.
"Fuh... rasanya enak sekali," gumam Herman dengan nada puas yang menyebalkan. "Kau memang tidak mengecewakan."
Suara langkah kaki berat dan sempoyongan terdengar mendekat ke arah pintu kamar mandi. Detak jantung Adnan melonjak naik hingga nyaris meledak.
"Ah, perutku terasa tidak enak. Mau kencing dulu," ucap Herman santai.
Ketukan pelan terdengar di pintu kamar mandi. Lalu gagang pintu diputar. Terkunci.
"Loh kenapa pintunya terkunci? Apa ada orang selain kita di sini?" tanya Herman.
Darah Adnan seolah membeku di pembuluhnya. Ia menatap pintu kayu itu dengan mata membelalak, napasnya tertahan di kerongkongan. Di luar sana, Sherly langsung bangkit dari ranjang, wajahnya pucat pasi, panik menyadari bahaya yang mengancam.
"Pak! Tunggu dulu!" seru Sherly berusaha mencegah, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha menutupinya dengan nada merayu. "Kamar mandinya... kotor tadi aku pakai. Biar aku bersihkan dulu ya, sayang? Sebentar saja..."
"Tak apa, aku tidak peduli," jawab Herman ketus. "Buka sekarang!"
Ia mulai mengetuk pintu semakin keras. "Cepat! Atau aku tendang pintunya!"
Keringat dingin mengalir deras di pelipis Adnan. Ia menatap sekeliling ruangan sempit itu dengan panik. Tidak ada tempat bersembunyi. Di bawah bak mandi terlalu dangkal, tirai kaca terlalu tipis, di belakang pintu tidak ada ruang. Hanya ada satu pilihan, naik ke atas bak mandi dan meringkuk di sudut paling gelap, di balik tirai kaca yang buram.
Dengan gerakan tercepat yang dia bisa, Adnan melompat naik ke atas bak mandi yang dingin dan licin. Ia meringkuk sedemikian rupa hingga tubuhnya tersembunyi di sudut paling gelap, lalu menarik napas sedalam-dalamnya dan menahannya.
Pintu terbuka. Herman masuk dengan sempoyongan, bau alkohol dan keringatnya langsung memenuhi ruangan sempit itu. Adnan menatap celah kecil di balik tirai, jantungnya berdegup kencang seolah mau keluar dari rongga dada. Pria tua itu berdiri tepat di depannya, hanya berjarak kurang dari satu meter. Ia bisa melihat wajah pria itu yang merah padam, mata yang sayu, dan bau napasnya yang menyengat.
Sherly berdiri di ambang pintu, tangannya saling meremas di depan perut, wajahnya penuh kecemasan yang nyaris tak bisa ia sembunyikan. Matanya melirik sekilas ke arah tirai kaca, lalu cepat-cepat memalingkan wajah agar Herman tidak menyadari sesuatu yang janggal.
Herman menyelesaikan urusannya, lalu membasuh wajah dan tangannya di wastafel. Cermin di depannya memantulkan sebagian ruangan. Adnan menahan napas begitu lama hingga dadanya terasa sesak dan panas. Ia yakin setiap detik pria itu akan menoleh ke samping dan melihatnya.
"Aneh..." gumam Herman tiba-tiba sambil menatap lurus ke arah tirai kaca.
Jantung Adnan nyaris berhenti berdetak.
"Kau menyimpan barang di dalam sana?" tanya Herman sambil melangkah selangkah mendekat, tangannya terulur hendak membuka tirai itu.