Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Pukul sebelas malam, rumah Wiratama masih menyala.
Tidak ada yang tidur setelah keluarga Santoso pergi. Baskara mengurung diri di ruang kerja bersama tim legal. Maya mondar-mandir menelepon orang PR. Dinda menangis di kamar, kali ini tidak ada yang sibuk menenangkannya karena semua orang sibuk menyelamatkan nama masing-masing.
Alya duduk di balkon kamarnya.
Udara Jakarta terasa berat. Lampu kota menyala di kejauhan, tetapi tidak ada bintang. Berbeda dengan rumah Eyang, di mana langit malam selalu tampak cukup dekat untuk disentuh.
Rafi datang membawa teh hangat.
"Eyang menelepon?"
"Tiga kali. Aku bilang kamu baik."
"Kamu berbohong pada orang tua."
"Aku belajar darimu."
Alya menerima cangkir. "Aku baik."
Rafi menatapnya.
"Apa?"
"Kamu tidak baik setiap kali menyebut keluarga ini."
Alya menyesap teh. Rasanya pahit. Bagus. Ia tidak suka yang terlalu manis.
"Aku hanya ingat terlalu banyak."
Rafi duduk di kursi seberang. "Kamu tidak perlu menghadapi semuanya dalam satu malam."
"Mereka tidak menunggu satu malam untuk membunuhku dulu."
Kalimat itu keluar datar.
Rafi terdiam.
Ia tidak tahu seluruh detail kehidupan lalu Alya. Tidak ada yang tahu. Bahkan Eyang Laras hanya tahu bahwa cucunya berubah sejak usia tujuh tahun, seperti anak kecil yang tiba-tiba membawa mata orang dewasa. Rafi pernah bertanya sekali. Alya tidak menjawab. Setelah itu ia tidak pernah memaksa.
Pintu kamar diketuk.
Raka masuk setelah Alya mengizinkan.
Wajahnya lebih kusut daripada saat makan malam. Jasnya sudah dilepas, lengan kemeja digulung. Di tangannya ada map.
"Papa meminta aku meyakinkanmu menghapus semua bukti."
Alya tidak terkejut. "Mas datang untuk itu?"
"Tidak." Raka meletakkan map di meja. "Aku datang memberi salinan."
Alya membuka map. Di dalamnya ada dokumen kerja sama awal antara Wiratama dan Santoso, termasuk klausul tidak resmi tentang penggabungan proyek melalui hubungan keluarga.
Raka berkata, "Aku menemukan ini di server kantor. Papa sudah menyimpan drafnya sejak dua bulan lalu."
Dua bulan.
Jadi mereka sudah merencanakan mengambilnya jauh sebelum datang ke Kaliurang.
"Mereka menjemputku karena klausul ini," kata Alya.
Raka tampak sakit mendengarnya. "Kemungkinan besar."
"Mas baru tahu?"
"Aku tahu ada kerja sama Santoso. Aku tidak tahu kamu masuk dalam rencana."
Alya percaya. Di kehidupan lalu, Raka memang tidak tahu banyak pada awalnya. Ia terlalu fokus pada perusahaan, terlalu percaya bahwa ayahnya masih punya batas.
Raka duduk. "Alya, aku minta maaf."
"Mas tidak membuangku."
"Aku juga tidak mencarimu."
Alya menatapnya.
Raka menunduk. "Aku dulu masih kecil, iya. Tapi setelah dewasa, aku bisa saja bertanya. Aku bisa saja datang. Aku tidak melakukannya. Jadi aku tetap salah."
Ini tidak ada di kehidupan lalu.
Dulu, Raka hanya menunjukkan rasa bersalah setelah semuanya terlalu terlambat. Sekarang ia mengucapkannya di depan Alya, pada malam kedua.
Alya tidak tahu harus menaruh perasaan itu di mana.
"Kalau Mas benar-benar merasa salah," katanya akhirnya, "jangan minta aku memaafkan. Bantu aku saat waktunya tiba."
Raka mengangkat wajah. "Aku akan bantu."
"Bahkan kalau lawannya Papa?"
Raka diam sebentar.
Lalu ia berkata, "Bahkan kalau lawannya Papa."
Rafi memperhatikan Raka dengan lebih sedikit permusuhan.
Di luar kamar, langkah kecil terdengar menjauh.
Alya menoleh ke pintu.
Dinda.
Raka juga mendengar. Ia berdiri hendak membuka pintu, tetapi Alya mengangkat tangan.
"Biarkan."
"Dia mendengar."
"Memang."
Raka mengerutkan kening. "Kamu sengaja?"
"Kalau dia tidak mendengar, bagaimana dia tahu harus bergerak?"
Raka merasa kepalanya mulai sakit. "Kamu sedang memancing Dinda?"
"Aku sedang memberi kesempatan."
"Kesempatan untuk apa?"
"Untuk memilih akan menjadi ular kecil atau ular besar."
Raka menatap Alya seperti ingin bertanya dari mana adiknya belajar bicara seperti itu. Namun ia akhirnya hanya menghela napas.
Setelah Raka pergi, Dinda benar-benar bergerak.
Tidak sampai setengah jam, ponsel Alya menerima pesan dari nomor Dinda.
Kak, aku ingin bicara. Tolong jangan benci aku.
Alya menunjukkan layar pada Rafi.
Rafi bertanya, "Kamu akan menemuinya?"
"Tentu."
"Sendiri?"
"Kalau dia ingin menjebakku, dia akan kecewa."
Dinda menunggu di ruang musik lantai satu. Ruangan itu jarang dipakai. Piano besar di sudut tertutup kain putih. Lampu sengaja dibuat redup. Dinda berdiri dekat jendela dengan mata merah.
"Kak Alya," panggilnya pelan.
Alya masuk dan tidak menutup pintu sepenuhnya. Rafi berdiri di luar koridor, cukup jauh untuk tidak terlihat langsung, cukup dekat untuk mendengar jika ada suara aneh.
Dinda menggenggam tangannya sendiri. "Aku tahu Kakak marah."
"Kamu ingin bicara apa?"
"Aku tidak sejahat yang Kakak pikir."
Alya diam.
Dinda melanjutkan dengan suara bergetar, "Aku memang tahu soal Kevin. Tapi aku tidak tahu detailnya. Mama bilang keluarga Santoso akan menyelesaikan. Papa bilang ini bukan urusan kita."
"Lalu kamu percaya."
"Aku tidak punya pilihan!"
"Kamu sering sekali mengatakan itu."
Dinda menggigit bibir. "Karena memang begitu. Kakak pikir hidupku mudah? Semua orang bilang aku beruntung dibesarkan keluarga Wiratama. Tapi setiap hari aku harus sempurna. Aku harus menjaga Mama, menjaga Papa, menjaga image. Kalau Kakak pulang, semua yang selama ini aku perjuangkan bisa hilang."
Alya memandangnya tanpa emosi. "Jadi karena kamu takut kehilangan, aku harus dikorbankan?"
"Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?"
Dinda menangis. "Aku hanya ingin tetap punya tempat."
Untuk sesaat, Alya hampir melihat anak kecil yang ketakutan di balik gaun mahal itu. Namun rasa iba tidak sama dengan kebodohan.
"Tempat yang kamu punya dibangun di atas tempatku," kata Alya. "Kalau kamu ingin mempertahankannya, setidaknya jangan pura-pura tidak tahu."
Dinda mengusap air mata. "Kalau aku membantu Kakak, Kakak akan membiarkanku tetap tinggal?"
Pertanyaan itu jujur.
Akhirnya.
Alya mendekat satu langkah. "Tergantung bantuanmu."
Dinda menatapnya ragu. "Mama punya rencana."
"Rencana apa?"
"Besok pagi, Papa akan mengumumkan ke keluarga besar bahwa Kakak salah paham soal Kevin. Mereka akan bilang Kakak terlalu emosional karena baru pulang. Mama menyiapkan dokter psikolog keluarga untuk memberi pernyataan bahwa Kakak mengalami tekanan adaptasi."
Alya tersenyum.
Maya memang tidak pernah berubah.
Dulu, sebelum membuat Alya terlihat gila, Maya membuatnya terlihat tidak stabil. Semua ledakan emosi Alya dipakai sebagai bukti. Semua air matanya menjadi senjata.
"Siapa psikolognya?"
Dinda menyebut nama.
Alya mencatat.
"Ada lagi?"
Dinda ragu, lalu berkata, "Mama juga menyuruh Mbak Sari menyimpan obat penenang di laci Kakak. Kalau besok keluarga besar datang dan Kakak marah, mereka akan menemukan obat itu."
Rafi yang berdiri di luar koridor bergerak sedikit. Alya mengangkat tangan memberi isyarat agar ia tetap diam.
"Kenapa kamu memberitahuku?"
Dinda menunduk. "Karena aku tidak mau Mama kalah terlalu cepat."
Alya hampir tertawa.
Dinda mengangkat wajah, matanya basah tetapi kali ini ada ketajaman di dalamnya. "Kalau Mama menang, Kakak hancur. Kalau Kakak menang terlalu cepat, aku ikut hancur. Aku ingin kalian berdua saling menahan."
Jujur, licik, dan lebih cerdas daripada tangisan palsunya.
Alya mengangguk. "Baik. Untuk malam ini, aku terima informasimu."
"Kakak tidak akan bilang aku yang membocorkan?"
"Belum."
Dinda merinding mendengar kata itu.
Alya berbalik pergi, lalu berhenti di pintu.
"Dinda."
"Ya?"
"Kalau kamu ingin tetap punya tempat, berhenti berdiri di belakang orang yang suatu hari akan memakai kamu sebagai tameng."
Dinda tidak menjawab.
Keesokan pagi, keluarga besar Wiratama datang lebih awal.
Mereka datang dengan batik mahal, senyum palsu, dan rasa ingin tahu yang tak disembunyikan.
Maya menyambut mereka dengan wajah ibu terluka.
Alya turun dari tangga dengan tenang.
Di laci kamarnya, obat penenang masih berada di tempat Maya menyuruh Mbak Sari menyimpannya.
Hanya saja label botolnya sudah diganti.
Dan kamera kecil yang dulu mereka pasang di kamar Alya sudah merekam tangan Mbak Sari saat menyelipkannya.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔