NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30 : Kembali ke Indonesia

Winarsih masih memegangi bahunya yang terasa nyeri. Dengan langkah pelan, ia mengikuti Ibu Ratna masuk ke dalam kontrakan.

Begitu pintu ditutup, suasana di dalam rumah kembali tenang. Ibu Ratna segera mempersilahkan Winarsih duduk.

"Duduk dulu, Nak."

Winarsih mengangguk pelan. "Terima kasih, Bu."

Ibu Ratna kemudian menuangkan segelas air putih dan meletakkannya di atas meja. "Minum dulu."

Winarsih menerima gelas itu dengan kedua tangan. "Terima kasih."

Beberapa saat kemudian, ia memberanikan diri bertanya. "Bu... maaf kalau saya boleh tahu."

Ibu Ratna menatapnya lembut.

"Apa yang sebenarnya dilakukan Bu Sulastri datang ke sini?"

Mendengar pertanyaan itu, Ibu Ratna mengembuskan napas panjang. "Sebenarnya Ibu tidak ingin membuatmu kepikiran. Tapi... Ibu ingin kamu tahu, tadi Bu Sulastri datang kemari meminta Ibu mengusirmu dari kontrakan ini."

Winarsih langsung tertegun. "Mengusir saya?"

"Iya."

"Dia bilang, kalau Ibu tetap mengizinkanmu tinggal di sini, kampung ini akan terus menjadi bahan pembicaraan."

Winarsih menundukkan kepalanya. "Maafkan saya, Bu. Gara-gara saya..."

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri." Ibu Ratna memotong ucapan Winarsih dengan lembut.

"Lalu..." tanyanya hati-hati. "Apa hanya itu?"

Ibu Ratna menggeleng. "Tidak."

Wanita paruh baya itu kembali menghela napas. "Bu Sulastri bahkan menawarkan sejumlah uang kepada Ibu."

Winarsih langsung mengangkat wajahnya. "Uang?"

"Iya... katanya, kalau Ibu berhasil membuatmu pergi dari Desa Sekar Sari, Ibu akan diberi uang yang jumlahnya cukup banyak."

Mata Winarsih mulai berkaca-kaca. "Astaghfirullah..."

"Tapi untungnya," lanjut Ibu Ratna sambil tersenyum tipis, "Ibu bukan orang yang gampang tergiur oleh uang. Ibu menolak mentah-mentah permintaannya."

Air mata Winarsih mulai menggenang. "Bu..."

"Sebelum kamu tinggal di sini, Ibu juga sudah sering mendengar cerita dari warga sekitar."

"Tentang Bu Sulastri?"

Ibu Ratna menganggukkan kepala. "Banyak warga yang tahu bagaimana sifatnya. Ibu juga mendengar bagaimana dia sering memperlakukanmu dengan tidak baik."

Winarsih hanya terdiam.

"Karena itu, Ibu tidak langsung percaya dengan semua tuduhan yang tadi dia lontarkan." Ibu Ratna menggenggam tangan Winarsih dengan hangat. "Ibu yakin ada alasan mengapa dia begitu ngotot ingin mengusirmu dari kampung ini."

Winarsih menatap Ibu Ratna dengan bingung.

"Menurut Ibu..." lanjut wanita itu pelan, "dia takut suatu hari nanti Benni kembali."

Jantung Winarsih kembali berdegup.

"Takut... Benni bertemu saya?"

Ibu Ratna mengangguk. "Kalau Benni pulang dan bertemu langsung denganmu, bisa saja semua kebohongan yang selama ini ditutupi Bu Sulastri terbongkar. Karena itulah dia ingin memastikan kamu pergi jauh dari Desa Sekar Sari sebelum Benni kembali."

Winarsih menggigit bibir bawahnya. Ia teringat semua perlakuan Sulastri selama ini. Ternyata hingga sekarang pun wanita itu masih berusaha menjauhkan dirinya dari Benni.

Ibu Ratna mengusap pelan punggung tangan Winarsih. "Nak. Jangan takut. Selama kamu tinggal di rumah ini, Ibu tidak akan membiarkan siapa pun mengusirmu."

Air mata Winarsih akhirnya jatuh. Dengan suara bergetar ia berkata, "Terima kasih banyak, Bu."

Ibu Ratna tersenyum penuh kasih. "Anggap saja Ibu ini orang tuamu sendiri."

Mendengar kalimat itu, hati Winarsih terasa hangat sekaligus sesak. Sudah sangat lama ia tidak merasakan ketulusan yang begitu tulus dari seseorang yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.

Ia pun mengangguk pelan. "Iya, Bu. Terima kasih."

***

Sebuah mobil mewah melaju membelah jalan raya menuju Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang. Langit mulai menggelap, sementara lampu-lampu kendaraan memenuhi jalan.

Di kursi belakang, Clarissa masih memandangi layar ponselnya. Tatapannya tertuju pada foto terakhir yang baru saja dikirim Dimas.

Foto itu memperlihatkan Winarsih yang hampir terjatuh setelah didorong Sulastri, lalu ditopang oleh Ibu Ratna.

Sudut bibir Clarissa perlahan terangkat. "Hmm... jadi wanita tua itu adalah ibu kos yang menolongmu."

Ia kembali menggeser layar ponselnya hingga menemukan foto Sulastri yang diam-diam diambil Dimas. "Jadi... ini mantan mertuamu." Senyumnya semakin lebar. "Menarik."

Ia menyandarkan tubuh ke jok mobil. "Kalau wanita itu sudah membencimu sejak awal..." Clarissa terkekeh pelan. "Berarti aku tidak perlu bekerja terlalu keras."

Tatapannya berubah dingin. "Winarsih... aku akan memastikan hidupmu tidak akan pernah tenang. Sedikit demi sedikit... semua yang membuatmu bahagia akan menghilang."

Mobil mewah itu pun terus melaju menuju Bandara Jenderal Ahmad Yani. Malam itu juga, Clarissa memutuskan kembali ke Jakarta, sementara Dimas tetap berada di Desa Sekar Sari untuk menjalankan semua perintahnya.

***

Di rumah Bu Sulastri...

Wanita paruh baya itu masih mondar-mandir di ruang tamu dengan wajah dipenuhi amarah. Penolakan yang di lakukan oleh Ibu Ratna terus terngiang di kepalanya.

"Kurang ajar!" gerutunya sambil membanting sapu lidi ke lantai. "Berani-beraninya wanita tua itu menolak uangku." Ia mengepalkan kedua tangannya. "Kalau Winarsih terus tinggal di Desa Sekar Sari, cepat atau lambat semuanya akan berantakan."

Belum sempat amarahnya mereda, ponsel di atas meja tiba-tiba berdering.

Tring... Tring...

Sulastri melirik layar ponselnya, matanya langsung membulat. "Benni?"

Dengan cepat ia mengangkat panggilan itu. "Halo, Nak."

"Bu."

"Apa kabar kamu di Jepang?"

"Baik, Bu."

Sulastri mengembuskan napas lega mendengar suara putra semata wayangnya. "Ada apa menelepon? Biasanya kamu menghubungi Ibu akhir pekan."

Suara Benni terdengar sedikit berat. "Bu... Benni mau menyampaikan kabar."

"Kabar apa?"

"Minggu depan Benni pulang ke Indonesia."

Sulastri langsung terdiam. "Pulang?" ulangnya pelan.

"Iya, Bu."

"Kenapa? Bukannya kontrak kerjamu masih dua tahun lagi?"

Benni menghela napas. "Kontrak kerja Benni diputus, Bu. Ada masalah di perusahaan, jadi mereka mengurangi jumlah karyawan dari indonesia."

"Termasuk kamu?"

"Iya."

Sulastri mengepalkan ponselnya erat.

Di dalam hati, ia langsung panik. "Kalau Benni pulang sekarang... dari mana aku mendapatkan uang lagi? Semua kirimannya selama ini sudah habis untuk membangun rumah dan memenuhi kebutuhanku."

Bahkan rumah yang sedang dibangunnya pun belum selesai sepenuhnya. Namun semua kegelisahan itu ia sembunyikan.

"Sayang sekali, Nak." Nada suaranya dibuat terdengar sedih. "Padahal Ibu kira kamu masih lama di sana."

"Iya, Bu. Benni juga tidak menyangka."

"Tapi..." Sulastri mulai menyelidik. "Apa benar perusahaanmu yang memutus kontrak?"

"Iya, Bu."

"Bukan karena kamu sengaja ingin cepat pulang?"

Benni terdengar heran. "Maksud Ibu?"

Sulastri menyipitkan mata. "Jangan-jangan kamu cuma mencari alasan supaya bisa pulang dan menemui wanita murahan itu."

Benni langsung mengernyit. "Bu, jangan bicara seperti itu."

"Ibu hanya bertanya."

"Benni benar-benar dipulangkan karena kebijakan perusahaan. Untung saja Benni tidak dikenakan penalti, jadi perusahaan masih menanggung tiket kepulangan dan memberikan kompensasi sesuai aturan."

Sulastri terdiam beberapa saat.

"Lagipula," lanjut Benni, "kalau memang Benni ingin pulang, untuk apa harus berbohong? Benni tidak pernah berniat melanggar kontrak."

Sulastri memaksakan senyum, meski Benni tidak bisa melihatnya. "Iya... Ibu hanya khawatir."

"Jangan khawatir, Bu. Minggu depan Benni sudah sampai di rumah."

Ucapan itu justru membuat jantung Sulastri berdegup semakin cepat. Ia tahu, kepulangan Benni bisa menjadi awal terbongkarnya semua kebohongan yang selama ini ia sembunyikan.

"Tidak... sebelum Benni sampai, aku harus memastikan Winarsih sudah pergi dari Desa Sekar Sari."

Tekad itu kembali menguat di dalam hatinya.

Sementara di seberang telepon, Benni sama sekali tidak mengetahui bahwa ibunya sedang menyusun rencana baru demi mencegah dirinya bertemu dengan mantan istrinya.

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!