NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10.Masa lalu Ivy.

Kenangan itu tiba-tiba melintas di benak Ivy, seolah sebuah film lama yang diputar kembali dengan sangat jelas. Saat usianya menginjak delapan tahun, ia masih menjadi anak kecil yang ceria, manja, dan selalu menantikan perhatian penuh dari kedua orang tuanya. Hari itu adalah hari ulang tahunnya, dan dengan penuh permohonan, ia berhasil meyakinkan ibunya, Lusi Dermawan, untuk membawanya pergi ke taman hiburan terbesar di kota Velo Ria—tempat yang selama ini sangat ia impikan.

Namun, kebahagiaan itu terasa kurang lengkap. Ayahnya, Tio Dermawan, seorang pebisnis yang sangat sibuk dan berkarakter tegas, tidak bisa ikut serta. “Maafkan Ayah, Sayang. Ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan,” ucapnya singkat sebelum berangkat pagi itu. Ivy hanya bisa menunduk kecewa, meski berusaha tersenyum agar tidak membuat ibunya bersedih.

Sesampainya di taman hiburan, Lusi berusaha menghibur putrinya dengan berbagai cara, membelikan es krim, balon, dan mengajaknya menaiki wahana kesukaannya. Namun, melihat raut wajah Ivy yang masih terlihat sedih, Lusi memutuskan untuk menelepon suaminya sekali lagi, berharap bisa membujuknya agar datang sebentar. “Tunggu sebentar di sini, Nak. Ibu akan menelepon Ayah dari tempat yang agak sepi agar suaranya jelas. Jangan kemana-mana, ya?” pesannya lembut sebelum berjalan menjauh menuju area yang agak kosong.

Ivy berdiri sendirian di tengah keramaian, matanya berkeliling mencari keberadaan ibunya, merasa takut dan asing di antara orang-orang yang berlalu lalang. Belum lama ia menunggu, seorang wanita berpakaian rapi dan tersenyum ramah mendekatinya.

“Kau Ivy, bukan? Aku tahu namamu karena Tuan Tio mengirimku kemari. Aku pegawai kepercayaan Ayahmu, dan dia menyuruhku menjemputmu untuk melihat hadiah kejutan yang sudah disiapkan di luar gerbang taman,” ujar wanita itu dengan nada lembut yang meyakinkan.

Mendengar kata “hadiah dari Ayah”, seketika rasa takut Ivy hilang digantikan rasa gembira. Ia tidak curiga sedikit pun, percaya sepenuhnya pada perkataan orang dewasa itu. Tanpa ragu, ia mengikuti langkah wanita itu berjalan keluar dari area taman yang ramai menuju jalan yang lebih sepi. Namun, tepat saat mereka sampai di samping sebuah mobil tua berwarna hitam model tahun 1990-an, tiba-tiba tangan wanita itu bergerak cepat, menyodorkan selembar sapu tangan yang dibasahi cairan berbau tajam ke hidung dan mulut Ivy.

Anak kecil itu baru sempat terkejut dan melawan sekejap sebelum rasa kantuk yang luar biasa menyerangnya, hingga akhirnya ia terkulai lemas dan kehilangan kesadaran.

Saat matanya perlahan terbuka kembali, ia mendapati dirinya tergeletak di atas lantai kayu yang berdebu dan dingin. Tangannya diikat kuat di belakang punggung, begitu pula kedua kakinya. Ruangan itu gelap dan pengap, hanya diterangi sedikit cahaya yang masuk lewat celah jendela kecil yang tinggi di dinding. Jantung Ivy berdegup kencang, rasa takut menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia berteriak meminta tolong sekuat tenaga, namun suaranya hanya bergema di dalam ruangan kosong itu.

Tak lama kemudian, ia mendengar percakapan dari balik pintu yang sedikit terbuka. Suara wanita yang membawanya tadi terdengar bercampur dengan suara seorang pria kasar.

“Tenang saja, gadis ini pasti akan laku dijual di pasar gelap. Ayahnya Tio Dermawan sudah menghancurkan usaha kita, jadi ini balas dendam yang pantas. Kita akan dapat uang banyak sekaligus membalas sakit hati kita,” ujar pria itu dengan nada penuh kebencian.

Mendengar itu, darah Ivy terasa membeku. Ia tahu ia sedang dalam bahaya besar. Jika melawan secara langsung, nyawanya bisa terancam. Ia mengamati sekeliling ruangan dengan cermat, hingga matanya tertuju pada jendela kecil yang tidak terlalu tinggi—cukup untuk ukuran tubuhnya yang masih kecil dan ramping. Ia pun memutuskan untuk bersabar dan menunggu kesempatan yang tepat.

Beberapa jam kemudian, pintu terbuka kembali. Pria itu masuk membawa nampan berisi makanan dan air minum. “Makanlah, kalau tidak ingin mati kelaparan sebelum dijual,” bentaknya kasar.

Ivy mengangkat wajahnya, berusaha terlihat lemah dan pasrah. “Tolong… lepaskan tanganku sedikit saja. Aku tidak bisa makan kalau terikat begini,” pinta ia dengan suara bergetar seolah tidak berdaya.

Pria itu mengira gadis kecil itu tidak akan bisa melarikan diri, lalu melepaskan ikatan di tangannya namun tetap mengawasi. Begitu ia keluar dan mengunci pintu kembali, Ivy segera bertindak. Ia melepaskan ikatan di kakinya sendiri dengan usaha keras, lalu memanjat perlahan menuju jendela kecil itu. Dengan tenaga seadanya, ia mendorong jendela hingga terbuka, lalu merayap keluar dan melompat turun ke tanah.

Ia segera berlari sekencang-kencangnya menerobos semak belukar, tidak peduli tangannya dan kakinya tergores hingga berdarah. Suara teriakan dan langkah kaki mengejar terdengar dari belakang, namun rasa takut membuatnya terus melaju tanpa henti. Hingga akhirnya, di tengah hutan itu, ia melihat sepasang kakek dan nenek sedang berjalan membawa keranjang berisi tanaman obat.

“Tolong… tolong saya! Ada orang yang mau menangkap saya!” teriak Ivy sambil mendekat dengan napas terengah-engah.

Kakek Ali, yang bertubuh tegap meski sudah tua dan memiliki tatapan tajam, segera melindungi Ivy di belakangnya. “Nenek, bawa dia menjauh dan sembunyi sebentar!” perintahnya tegas.

Tak lama kemudian kedua penculik itu tiba, namun mereka tidak menyangka akan berhadapan dengan seorang ahli bela diri yang tangguh. Dalam waktu singkat, Kakek Ali berhasil melumpuhkan keduanya tanpa melukai mereka terlalu parah. Kedua orang jahat itu pun segera diserahkan kepada petugas desa dan dibawa ke kantor polisi terdekat.

Namun, saat ditanya siapa orang tuanya dan alamat rumahnya, Ivy hanya bisa menggeleng bingung. Karena efek obat bius dan rasa takut yang hebat, ingatannya menjadi kabur. Satu-satunya tanda identitas yang ia miliki hanyalah sebuah liontin emas berbentuk bunga yang tergantung di lehernya, dengan ukiran satu kata: Ivy.

Maka, Kakek Ali dan Nenek Eli pun memutuskan untuk mengasuhnya sementara waktu, berjanji akan terus mencari keluarga aslinya. Di desa itu, Ivy tumbuh besar dengan penuh kasih sayang. Dari Kakek Ali, ia belajar berbagai ilmu bela diri untuk menjaga diri dan melatih ketahanan tubuh. Sedangkan dari Nenek Eli, ia mempelajari cara mengobati luka, meracik ramuan, dan mengenal berbagai jenis tanaman obat. Masa kecilnya kembali ceria, jauh dari kemewahan namun penuh kedamaian.

Waktu berlalu begitu cepat, hingga Ivy menginjak usia delapan belas tahun. Namun, kebahagiaan itu harus terhenti seketika saat Kakek Ali dan Nenek Eli meninggal dunia dalam waktu yang berdekatan, meninggalkannya sendirian. Belum lama ia berduka, datanglah kabar baik dari kepala desa—berkat bantuan kantor polisi, mereka menemukan jejak keluarga aslinya di kota Velo Ria, keluarga Dermawan.

Dengan hati berdebar campur rindu, Ivy berangkat menuju kota itu. Sesampainya di kediaman mewah keluarga Dermawan, ia disambut dengan tangis bahagia oleh ibunya, Lusi. Ayahnya, Tio, juga tampak lega, dan liontin yang dikenakannya sejak kecil menjadi bukti tak terbantahkan bahwa ia memang putri kandung mereka yang hilang.

Namun, kenyataan yang dihadapi Ivy tidak seindah harapannya. Selama ia hilang, orang tuanya telah mengangkat seorang gadis bernama Oliv sebagai anak angkat. Oliv dikenal sebagai gadis cerdas, pandai berbicara, dan sangat tahu cara mengambil hati Tio dan Lusi. Orang tua Oliv pun pernah berjasa besar menyelamatkan bisnis keluarga Dermawan di masa sulit, sehingga posisinya terasa sangat kuat.

Hidup kembali di rumah itu terasa seperti hidup di dalam sangkar emas. Ayahnya bersikap sangat otoriter, menganggap Ivy tidak lagi pantas mewarisi nama keluarga karena tumbuh di desa dan tidak mengerti tata krama kota. Ibunya bersikap dingin namun sesekali menunjukkan kasih sayang yang samar. Sedangkan Oliv, dengan senyum manisnya, terus menjatuhkan reputasi Ivy di depan ayahnya lewat berbagai siasat licik.

Tio justru menyukai persaingan itu. Ia membuat aturan,siapa yang berhasil menjalin hubungan baik dan masuk ke dalam lingkaran keluarga Cahya—keluarga paling berpengaruh di kota itu—maka dialah yang akan menjadi pewaris utama kekayaan dan nama besar keluarga Dermawan.

Maka, di sanalah awal mula semuanya. Ivy berusaha keras membuktikan dirinya, namun di tengah kencan pertamanya dengan Brian Cahya, tiba-tiba rasa pusing hebat menyerang hingga ia pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan memberikan vonis mematikan, dan saat ia pulang, ia mendengar sendiri bahwa Brian telah memilih Oliv sebagai pasangannya.

Semua ingatan itu terputar kembali dalam sekejap, membuat Ivy menyadari bahwa angka di atas kepalanya itu bukan sekadar ilusi—itu adalah sisa waktu yang sebenarnya ia miliki. Dengan mata yang kembali memandang angka 30 hari yang terus berjalan, ia mengeratkan genggamannya dan berjanji dalam hati;Jika waktuku hanya sebentar, maka aku akan hidup dengan caraku sendiri. Tidak akan ada lagi yang merampas kebahagiaanku, dan aku akan mencari cara apa pun untuk tetap hidup.

Dan saat ini Ivy mendapatkan cara itu, kontak fisik tak terduga dengan Rama membuat Ivy mendapatkan tambahan angka sistem di depannya berubah.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!