NovelToon NovelToon
Tak Akan Aku Biarkan Kau Ambil Suamiku, Mbak!

Tak Akan Aku Biarkan Kau Ambil Suamiku, Mbak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:648
Nilai: 5
Nama Author: Aryani Ningrum

Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.

Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.

Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.

Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Laras ... Mbak Laras—"

"Aku harus bilang berapa kali sih sama kamu, mas. Stop panggil aku Mbak Laras, kurang sreg aku mendengarnya. Kamu kan suamiku, kalau aku panggil Mas terus kamu nya panggil Mbak, jadinya aneh tahu, mas, didengarnya!" protes Laras lagi-lagi dipanggil Mbak oleh suaminya sendiri. Takut emak Harti tiba-tiba datang. Beruntung Emak Harti sedang ke desa untuk menjenguk sanak saudaranya yang sedang sakit.

Laras tidak mau jika Rayyan terlalu formal, sedangkan dia dan lelaki itu telah resmi menjadi suami istri yang sah. Didengar oleh orang lain terlebih kolega bisnis Laras di butik, terkesan jika Laras menikahi berondong.

"Maaf, maaf. Rayyan lupa, Mbak. Tapi kan gak ada emak. Rayyan tetap panggil mbak ajah!" Rayyan menepuk keningnya seraya mengerucutkan bibirnya. Dia tidak lupa jika Laras tak ingin dipanggil sebutan demikian dan Rayyan hanya terlalu gugup saja, takut jika Laras mengetahui jika dirinya tengah menyembunyikan rahasia besar tentang identitas nya.

Rayyan belum bisa mengatakan yang sejujurnya jika salama ini dirinya telah mengingat setengah memorinya mengenai siapa dirinya yang sebenarnya.

"Tadi mbak Laras bertanya apa, Mbak? Rayyan kurang fokus, kepala Rayyan masih sedikit sakit," imbuhnya berusaha menetralkan detak jantung yang tak beraturan karena tatapan Laras, karena itulah dia gugup.

Laras mengukir senyum. Rayyan terlihat lucu disaat dirinya gugup, ekspresi nya bagaikan anak kecil di mata Laras dan dia baru mengetahuinya sekarang.

"Kamu lucu sekali Mas kalau sedang gugup seperti itu. Aku cuma tanya, mas mau ke mana soalnya buru-buru sekali." Laras mengulang pertanyaan sebelumnya dan dibarengi dengan tawa kecil.

Melihat Laras tertawa lantas Rayyan pun ikut terkekeh, namun detik berikutnya matanya menatap Laras dengan sorot tak terbaca.

"Rayyan cuma mau keluar menghirup udara segar, Mbak. Rayyan bidan di dalam terus.! " Tak sepenuhnya berbohong, Rayyan memang ingin keluar menjernihkan pikirannya yang menyusun memori bagaikan kaset rusak yang sulit tersusun rapih tiap cuplikan ingatannya.

Laras mengangguk-anggukan kepalanya, "Ya sudah, kalau mau jalan-jalan keluar tidak apa-apa, Mas. Tapi, kalau kamu kelelahan langsung istirahat lagi ya, takutkan kamu pingsan kayak kemarin. Lagian hari sudah mulai petang, awas kalau kena sawan!" Tidak dapat berbohong, Laras pun khawatir pada Rayyan ketika suaminya jatuh pingsan bahkan sebelum acara selesai.

Malam itu Laras tidak mengikuti acara sampai selesai. Yang terpenting, Rayyan--suaminya baik-baik saja.

"Iya Rayyan janji tidak akan membuat mbak Laras khawatir khawatir, Mbak ..." ujar Rayyan di akhir ucapannya, sontak membuat Laras tersipu mendengar suara berat Rayyan yang begitu menggemaskan baginya.

Laras meneguk saliva nya susah payah, ia mengalihkan pandangannya ke samping menyembunyikan raut merah di wajahnya.

"Mbak Laras kenapa, Mbak?" tanya Rayyan dengan wajah polosnya, lagi-lagi sukses membuat Laras dibuat kikuh dan malu bersamaan.

"Ah, sepertinya nanti saja mencari anginnya. Duduk di sini dulu yuk, Mbak!" Rayyan menarik pinggang Laras dan melangkah perlahan, lalu keduanya duduk di atas sofa panjang.

Rayyan tersenyum manis, tatapan matanya tampak teduh namun bagaikan anak kecil yang kagum dengan sesuatu hal yang menarik baginya.

Kedua kalinya Laras meneguk saliva nya susah, tenggorokan nya pun tercekat melihat tatapan Rayyan seolah ingin menerkam dirinya.

Wajah polos itu membuat Laras tersipu, namun tatapan Rayyan seakan tengah mengintimidasinya.

"Ekhem!" Laras berdehem menghilangkan kegugupannya, tiba-tiba saja ia malu mengingat perkataannya semasa di rumah sakit ruang ICU pada saat Rayyan masih belum sadarkan diri.

"Sudah ah, aku mau ke dapur dulu buat siapin makan malam." Tidak mau larut dalam kecanggungan karena Rayyan yang tidak henti menatap dirinya, Laras memiliki beranjak ke dapur.

Kepergian Laras, Rayyan hanya bisa tersenyum simpul, dia kembali pada mode seriusnya. Dalam diamnya pun dia memikirkan sesuatu, lantas merogoh saku celananya mengeluarkan ponsel.

Beranjak bangkit dan keluar dari ruang tamu menuju halaman depan rumah, dia pun mendial nomor seseorang.

Tut ... Tut ...

"Tersambung!" gumam Rayyan bersemangat, ia menunggu panggilannya diangkat oleh Veolia–adiknya.

"Ha-halo, kak Afa? Benar ini kak Afa?!" terdengar suara wanita yang begitu lembut. Suara halus Veo sangat mirip dengan Velia, hanya saja Rayyan tidak begitu mengenalinya.

"Veo ... Iya, ini Kak Afa. Kau ada di mana?" tanya Rayyan. Ingin sekali dia bertemu dengan adiknya, gadis yang sempat ia lupakan karena hilangnya memori ingatan.

"Astaga ...!

"Boleh kak, kita ketemu di kafe saja ya. Alamatnya Veo kirim di pesan saja," kata Veo tak sabar bertemu dengan kakaknya.

"Oke, Veo, kakak tunggu." setelah mengatakan itu Rayyan menutup sambungan telepon, lalu menerima pesan alamat yang dikirim oleh Veo.

"Mumpung Laras masak di dapur. Aku bisa pergi sebentar. Sepertinya aman, lebih baik baik aku naik ojek saja," seru Rayyan dalam hati.

Rayyan pun bergegas menemui Veo, setelah memastikan alamatnya benar Rayyan pun memesan taksi online.

Mobil taksi yang ditumpangi Rayyan berhenti di salah satu kafe ternama di kota ini. Setelah membayar sesuai argo taksi, Rayyan turun dari kendaraan roda empat tersebut dan masuk ke dalam kafe.

Ting!

Belum sempat mencari meja yang ditempati oleh Veo, dirinya telah mendapat notifikasi pesan dari Veo memberitahunya nomor meja dan letak Veo berada.

Netra lelaki itu mengedar ke penjuru, begitu menangkap papan angka di atas meja yang ditempati seorang gadis, Rayyan pun menghampirinya karena yakin gadis itu adalah Veo adiknya.

"Veo ..." Panggilnya membuat gadis itu mengalihkan atensinya dari layar ponsel ke arah Rayyan.

Veo menatap Rayyan cukup lama, hingga Rayyan memutuskan kontaknya terlebih dahulu dan duduk di depan Veo berbatasan dengan meja minimalis.

"Kak Afa ..! sungguh Veo senang sekali bertemu dengan kakak. Dan, Veo tidak tahu kalau selama ini kak Rafael lupa ingatan. Mama sudah seperti orang gila memikirkan kak Rafael. Papa pun juga sama, dia terus saja meminta om Rey untuk mencari keberadaan kak Afa!" ujar Veo teramat senang bertemu dengan sang kakak selama dirinya tidak tahu keberadaan Rafael di mana.

"Mama Velia ...?!" lirih Rayan alias Rafael menyebut nama wanita yang teramat sangat dia cintai dan hormati itu. Rafael menunduk, sudut matanya meneteskan air mata.

1
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!