Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 35
MENCARI TAHU LAGI
Mobil hitam itu melaju melewati gerbang besi yang terbuka perlahan. Jalanan berbatu membawa mereka menembus deretan pohon pinus yang tinggi. Udara Hoboken lebih dingin dari kota. Bau kayu basah dan tanah bercampur dengan aroma laut yang jauh.
Beberapa menit kemudian, vila itu muncul di ujung jalan.
Bangunannya tidak besar. Dua lantai dengan dinding batu berwarna krem dan kaca lebar yang memantulkan cahaya senja. Atapnya miring, dikelilingi hutan yang menutupinya seperti tirai. Tidak ada pagar tinggi. Hanya lampu taman kuning yang menyala satu per satu, menyambut kedatangan mereka.
Mobil berhenti. Penjaga segera membuka pintu untuk Myra.
Myra turun. Ia mendongak, memperhatikan setiap sudut vila itu. Sederhana. Namun setiap garisnya terasa mahal.
“Tempat ini...” ujar Myra. Suaranya tenang, namun ada kekaguman yang tidak ia sembunyikan. “Simpel, tapi mahal. Seperti pemiliknya.”
Ia menoleh ke Silas. Tatapannya lurus, dagunya terangkat sedikit. Seolah ia adalah wanita yang terbiasa dengan kemewahan, dan tidak mudah terkesan.
Silas tidak menjawab. Ia hanya menatap Myra beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan ke arah pintu yang sudah dibukakan oleh salah satu anak buah.
“Malam ini ada pelelangan di pusat kota,” kata Silas ketika mereka melangkah masuk. Lantainya kayu jati. Perapian besar di ruang utama sudah menyala. “Jika kau ingin ikut, bersiaplah dalam satu jam.”
Myra meletakkan tasnya di atas sofa kulit. Ia menatap sekeliling. Lukisan abstrak dan Vas bunga segar serta keheningan.
“Membosankan,” jawabnya datar. “Aku tidak suka ruangan penuh orang yang berpura-pura tertarik pada barang, padahal hanya ingin saling mengintip.”
Silas berhenti di anak tangga lalu menoleh. “Baik.”
“Tidak memaksa?” tanya Myra, sedikit terkejut.
“Aku tidak pernah memaksa wanita yang sudah menolak,” jawab Silas. Ia melanjutkan langkahnya ke atas. “Istirahatlah. Wilde akan mengurusmu.”
Pintu kamar tertutup di belakang Silas.
“Aku tidak pernah memaksa wanita? Yang benar saja, lalu aku ini siapa? Bukan wanita?” gerutu Myra yang masih berdiri di tengah ruang tamu.
Ia bisa merasakan rumah ini. Sunyi, namun tidak kosong.
Ketika malam tiba lebih cepat di Hoboken.
Pukul delapan, Silas turun dengan jas hitam dan dasi yang dikencangkan sendiri. Ia tidak menoleh ke Myra yang duduk di kursi dekat jendela, membaca buku.
“Aku pergi, jangan keluar dan tetap waspada,” ucapnya singkat.
Myra tidak mengangkat kepala. “Ya, aku tahu. Berhati-hatilah.”
Pria itu menoleh sejenak ke istrinya yang sama sekali tidak memperhatikannya. Tentu dia akan menghukumnya setelah semua urusannya selesai.
...***...
Sementara itu, di jalanan menuju mansion Wolfe, Oona duduk di dalam mobil merahnya. Musik pelan mengalun. Ia bersandar, menatap spion dengan sabar dan pakaian dress pendek warna cokelat gelap.
Sampai akhirnya, lampu mobil hitam mendekat.
Oona tersenyum. Ia menghitung dalam hati, lalu memutar setir dan menghentikan mobilnya tepat di tengah jalan. Mobil hitam Kael mengerem mendadak.
Pintu terbuka ketika Kael keluar dengan wajah datar tidak ada emosi di matanya.
Oona keluar dari mobilnya dengan langkah santai. Ia menunjuk kap mobilnya yang terbuka.
“Tolong,” katanya dengan nada manja. “Mobilku rusak. Aku butuh tumpangan.”
Kael tidak menjawab. Ia berjalan melewatinya, berhenti di depan kap mobil merah itu. Matanya menelusuri kabel-kabel di dalam. Tangannya menyentuh satu kabel yang terlepas.
Ia menutup kap mobil itu dengan pelan.
“Kabelnya sengaja dipotong. Dan aku bukan mekanik. Dan mungkin Anda lebih tahu siapa yang memotong kabelnya.”
Oona tidak bergeming dan hanya menggigit bibir bawahnya. Ia melipat tangan di dada. “Kau ini seperti pria yang tidak normal. Tidak tertarik sedikit pun pada wanita cantik yang terjebak di jalan sendirian. Kau bisa memanfaatkan ku dan aku akan diam.” kata Oona menyeringai kecil.
Kael menoleh. Tatapannya tajam, namun suaranya tetap datar. “Aku tertarik pada hal yang berguna. Bukan pada jebakan yang murah.”
Ia kembali masuk ke mobilnya. Pintu tertutup.
Oona berdiri di tempatnya. Ia tidak marah. Justru sudut bibirnya naik. Ketertarikan di matanya semakin dalam ketika pria sedingin itu... menarik untuk ditaklukkan.
“Murah? Dan kau akan suka dengan barang murah seperti aku.”
Mobil Kael melaju, meninggalkannya dalam debu jalanan.
.
.
.
Di vila Hoboken, pukul sepuluh malam.
Silas belum kembali.
Myra duduk di ruang televisi bersama Wilde. Wanita paruh baya itu menuangkan teh ke dalam cangkir porselen. Rambutnya disanggul rapi. Gerakannya tenang, penuh hormat.
“Film apa yang Nyonya suka?” tanya Wilde sopan.
“Apa saja. Yang tidak membuatku berpikir,” jawab Myra sambil menerima cangkir itu.
Mereka menonton dalam diam beberapa saat. Di layar, seorang wanita berlari di tengah hujan.
Myra meneguk tehnya. Lalu, dengan nada seolah tanpa beban, ia bertanya. “Nyonya Wilde... kau sudah lama bekerja untuk keluarga Wolfe?”
“Sudah tujuh belas tahun, Nyonya.”
“Lalu... kau kenal Lynda Wolfe?”
Tangan Wilde yang sedang memotong buah berhenti sejenak. Ia meletakkan pisau, lalu menatap Myra.
“Tentu saja. Nyonya Lynda...” Wilde menarik napas. “Beliau orang yang ambisius. Tegas. Terkadang baik, terkadang jahat. Tidak bisa ditebak.”
Myra mengangguk pelan.
“Saya masih ingat,” lanjut Wilde. “Pertama kali saya bertemu Tuan Silas. Saat itu dia masih remaja. Nyonya Lynda tiba-tiba membawanya ke mansion. Di depan semua orang, dia berkata, 'Ini penggantiku. Dia akan memimpin setelah aku.'”
Alis Myra bertaut. “Remaja itu... Silas?”
“Benar, Nyonya. Saat itu Tuan Silas baru lima belas tahun. Tidak bicara banyak. Hanya berdiri. Tapi semua orang tahu, sorot matanya berbeda.”
Myra terdiam. Ia mengambil sepotong apel, namun tidak memakannya.
“Bagaimana dengan orang tua kandungnya?” tanya Myra pelan. “Apa yang terjadi pada mereka?”
Wilde menatap ke arah perapian. Wajahnya mengeras.
“Kematian orang tua kandung Tuan Silas bukan karena penyakit, Nyonya. Bukan karena kecelakaan.”
Myra menoleh.
“Mereka dibunuh,” kata Wilde pelan. “Saya tidak tahu siapa pelakunya. Tapi setelah itu, Nyonya Lynda yang mengambil Tuan Silas.”
Cangkir di tangan Myra terasa berat. Ia meletakkannya di meja. Pikrannya berkecamuk. Jadi selama ini orang tua Silas... Dibunuh.
“Nyonya Wilde,” bisik Myra. “Kenapa kau baru menceritakan ini sekarang?”
“Karena tidak ada yang bertanya, Nyonya,” jawab Wilde lembut. “Dan Tuan Silas tidak pernah ingin masa lalunya diungkit.”
Myra bersandar di sofa. Layar televisi masih menyala, namun ia tidak melihatnya lagi. Nama Lynda Wolfe kini terasa lebih besar. Lebih berbahaya.
Di luar, suara mobil berhenti.
Myra menoleh ke jendela. Lampu depan menyapu tirai.
“Siapa yang datang?” tanya heran Wilde.
“Silas?”
Wilde menggeleng bangkit dari duduknya. “Sepertinya itu mobil orang lain. Anda tetap di sini saja, saya akan periksa.” kata Wilde dan Myra ikut berdiri waspada.