NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perkenalkan, saya Mbak Linda

Pagi yang cerah. Udara dingin mulai menghangat disinari mentari yang baru melangit di ufuk timur. Pagi sekali Azra sudah siap berangkat ke Pustu.

Rok model A-Line warna pinggala dipadu blus putih gading model cossack membuat penampilan Azra lebih anggun dan karismatik. Bros bunga matahari kecil menghias jilbabnya. Dengan baju snelli disampirkan di lengan dan menjinjing tas dokter warna hitam, Azra melangkah pasti memulai rutinitas hari itu.

Saat hendak membuka pintu pagar, ada suara memanggilnya dari dalam rumah, "Dokter, tungguin!"

Nampak Linda tergesa-gesa mengunci pintu rumah dinas. Memakai rok span hitam selutut dipadu dengan baju putih model cuffed, Linda berlari ke arah Azra.

"Jangan lari-lari, kalau jatuh, nggak jadi nolong orang sakit. Yang ada malah kamu yang harus ditolong orang, "ucap Azra sambil melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

"Lagian, Dokter pagi-pagi banget berangkatnya. Mana belum sempat sarapan lagi, "gerutu Linda mengekor di belakang Azra.

"Hari ini, hari pertama kamu bekerja di sini, Linda, kalau kamu lupa. Setidaknya, perlu waktu untuk mengenalkan dirimu pada warga."

"Iya, Dokter Azra yang cantik. Maaf, tadi bangunnya kesiangan," ujar Linda dengan gaya khasnya nyengir kuda.

Tidak berapa lama, mereka berdua telah sampai di koridor Pustu.

Pasien sudah mulai banyak mengantre di loket. Mereka datang dari berbagai dusun di Desa Sukamakmur. Ada yang menempuh perjalanan sejak subuh dari Dusun Krajan yang terletak di bagian paling utara desa.

Ada pula warga Dusun Gandon yang harus melewati Danau Widuri Asri sebelum tiba di Pustu.

Sebagai satu-satunya dusun yang memiliki fasilitas kesehatan setingkat Puskesmas Pembantu, Dusun Teduh memiliki letak geografis yang cukup strategis, tepat di tengah lima dusun di Desa Sukamakmur.

Dusun Sekarpuro, sebagai pusat pemerintahan Desa Sukamakmur, warganya paling beruntung. Hanya dengan waktu sepuluh menit, mereka sudah tiba di Pustu Dusun Teduh.

Hanya warga Dusun Ngestiasri yang jarang berobat ke sana. Selain jaraknya paling jauh, akses mereka menuju Puskesmas Robyong lebih dekat. Sehingga menjadi alternatif bagi warga untuk berobat ke sana.

"Ada petugas baru, "bisik pemuda dalam antrean.

"Iya, cantik tenan," sahut gadis berambut panjang yang duduk di sebelahnya.

"Sek ayuan Dokter Azra, "ucap nenek yang mengunyah susur sirih di mulutnya.

"Sssst... Mbah, mboten pareng bilang gitu. Nanti kedengaran sama mbak nya itu jadi nggak enak," isyarat ibu muda pada simbah di sebelahnya.

"Lhaa, pancen kok. Aku iki ngomong opo anane," ucap simbah tidak mau kalah, menegaskan kalau dia hanya bicara apa adanya sesuai fakta.

"Inggih, sampun. Simbah leres," ibu muda itu memilih diam, menyerah.

Terdengar langkah kaki keluar dari ruangan.

"Ehem...." Yanto berdehem.

Semua mata menoleh ke arah Yanto yang berdiri dengan setelan hitam putih di depan mereka.

"Mas Yanto, loketnya kok nggak ndang dibuka?"

"Iya, Mas. Aku sudah antre dari jam 6 tadi. Soale aku selak nggarap panenan sawahe Pak Harjo," Pak Kumis pun bersuara.

"Inggih, bapak-bapak, ibu-ibu. Ini masih ada waktu 10 menit lagi. Ada hal yang mau disampaikan Dokter Azra pagi ini. Jadi minta waktunya sebentar nggih," jelas Yanto.

"Ooo, nggih, Mas Yanto,"

"Maturnuwun ... monggo, Bu Dokter. Dipersilakan." Yanto mundur, memberikan waktu dan tempat untuk Azra.

"Maturnuwun, Mas."

Dokter Azra berdiri di depan para pasien, diikuti Linda yang berdiri di sebelah kanannya.

"Assalamu'alaikum bapak-bapak dan ibu-ibu semua."

"Wa'alaikumussalam .... "jawab mereka serempak.

"Alhamdulillah, bisa bertemu bapak-bapak dan ibu-ibu lagi di sini ... Semoga pagi ini semua tetap sehat dan lancar semua urusannya. Aamiin," ucap Azra di awal sambutannya.

"Baik, bapak ibu. Pustu ini milik kita bersama. Kita ingin Pustu ini berkembang lebih baik lagi. Maka dari itu, untuk peningkatan mutu pelayanan, kami ingin memperkenalkan anggota Pustu yang baru. Yaitu perawat cantik yang siap melayani Bapak dan Ibu sekalian. Supaya lebih jelas, kita berikan kesempatan mbaknya untuk memperkenalkan diri kepada kita semua ... Monggo, Mbak."

"Terimakasih, Dok, atas waktunya. Assalamu'alaikum, bapak, ibu. Nama saya Linda. Saya asli dari Desa Donomulyo. Sudah pindahan dari Puskesmas Bayu Ranti. Mulai hari ini, saya ditugaskan untuk membantu Ibu Dokter Azra di Pustu ini. Jadi, panggil saja saya Mbak Linda. Jangan Bu Linda. Karena saya masih lajang, alias masih perawan ting-ting."

"Waah ... seru iki" sorak sorai bersautan dari para pasien, ketika ada kalimat "lajang' dari perawat Pustu yang memperkenalkan diri.

"Tak golekne bojo mau ya Mbak Linda," celetuk bapak yang duduk paling ujung.

"Huuuu ...," pasien yang lain bersorak.

"Weeeh, arep macem-macem toh kowe, Din. Tak bilangkan yu Wati engko yo. Ben ora dijatah, baru tau rasa," omel ibu yang duduk di depan Linda..

"Hahaha ... kapokmu kapan we, Din. Kebanyakan gaya sih, wis tuwo kok yo ra nyebut," ejek Paino yang berdiri dekat tiang Pustu.

"Ehhem ....," Azra menginterupsi Paino dengan deheman.

"Hehehe ... maaf, Bu Dokter, monggo dilanjut," Paino mempersilakan Azra kembali.

Azra mengangguk sekilas, lalu kembali mengangkat suaranya, "Satu hal lagi bapak ibu, untuk pemeriksaan gigi, tetap akan dilakukan pada hari Selasa dan Kamis. Tapi bukan dengan Dokter Wita lagi, melainkan dengan Dokter Pras. Beliau tinggal di Puskesmas kecamatan, dan akan praktik di Pustu sesuai jadwal yang sudah ditentukan.”

​Suasana koridor yang tadinya sepi langsung dipenuhi bisik-bisik penasaran dari barisan ibu-ibu di belakang.

"​"Dokter Pras niku masih muda apa tua, Dok?" celetuk seorang gadis manis sambil cekikikan menyenggol lengan temannya.

"Halah, sing penting tidak galak kayak sing kemarin toh, Yu," bisik warga yang lain, diikuti anggukan setuju dari beberapa pasien di dekatnya.

Azra menahan senyum mendengar kasak-kusuk itu, lalu kembali mengangkat tangan untuk menenangkan kegaduhan mereka. "Nanti bisa dilihat sendiri nggih. Yang pasti Dokter Pras sudah berkeluarga ...."

"Ooooo ... " suara gumaman orang-orang seketika terdengar seperti dengungan lebah.

"Jadi, tolong disampaikan kepada tetangga dan kerabat, informasi terbaru yang kami sampaikan hari ini. Supaya yang sakit bisa tertolong dan terlayani dengan baik."

"Nggih, Bu Dokter, insya Allah, "jawab para pasien serempak.

"Bu Dokter, kalau aku sama Bu Dokter aja ya periksanya," celetuk Paino tiba-tiba.

"Perikso opo kowe?" sergah Siti cepat.

"Periksa hatiku ini lho, yu Siti. Ah ... cenat cenut gara-gara Bu Dokter Azra, piye iki?" jawab Paino sambil memegangi dadanya dramatis.

"Pancen wong edan!" tukas Siti kesal, mengatai Paino benar-benar pria gila.

Pasien lain tertawa melihat tingkah Paino. Sementara Dokter Azra tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

"Baiklah, karena hari semakin siang, saya cukupkan sampai di sini. Terimakasih atas perhatian semuanya. Assalamu'alaikum.

Monggo yang mau mendaftar, loket sudah bisa dibuka, Mas Yanto." Azra mengangguk, lalu menuju ruang praktik diikuti Linda.

______

Pukul 12.00 siang, semua pasien sudah dilayani. Petugas Pustu sedang menyelesaikan berkas-berkas dan merapikan obat-obatan. Pak Tejo mulai membersihkan ruangan sebelum dikunci.

"Mbak Siti, sudah lama ya di sini?" tanya Linda yang ikut nimbrung di ruang obat, mulutnya asyik mengunyah kacang yang dibelikan Paino.

"Sudah Mbak, dari semenjak Bidan Dewi yang bertugas di sini."

"Ooo, kalau Mas Yanto?" tanya Linda lagi.

"Aku sudah lama di sini mbak. Dari semenjak bujang, sampai punya anak dua. Wis lama tenan toh? Hehhehe..." jawab Yanto terkekeh.

"Iyo suwi tenan. Kalau Mbak Siti, sudah menikah?"

"Belum, Mbak. Masih belum siap orange." Siti menjawab dengan tersipu malu.

"Haah?! Orange siapa Mbak yang belum siap?" tanya Linda semakin penasaran.

"Orange itu, yo Mbak Siti! Dianya yang belum siap. Wong emang belum punya pacar. Kabeh ditolaki, gimana mau punya pacar, " ejek Yanto sambil menutup lemari arsip.

"Apa toh, Mas. Wong memang belum ada yang sreg!" jawab Siti cepat.

"Lha, tiap hari Paino ngapelin kamu gitu lho. Mosok nggak ngerasa ...." goda Yanto makin menjadi.

Linda menahan senyum melihat Siti yang salah tingkah digodain Yanto.

"Lha ngapain Paino ngapelin aku? Wong sing diincer Dokter Azra. Apa ya mungkin, aku saingan sama Dokter Azra. Yo nggak mungkin kan yo, Mbak Linda?" Siti berusaha menutupi kecemburuannya dengan berbicara sedikit sarkas.

"Lho, jadi kamu cemburu sama Bu Dokter. Mulai suka yaaa sama Paino?" Yanto menggoda Siti dengan menaik-turunkan alisnya. Siti melotot kesal.

"Betul itu, Mbak Siti. Kamu sek mungkin saingan sama Dokter Azra. Nggak papa, Mbak Siti harus semangat tuh buat dapetin Paino." Linda makin provokatif.

"Duh, kalian ini ngapain seh jodoh-jodohin orang? Orang itu, harus punya prinsip. Nikah cukup sekali buat seumur hidup. Nikah bukan buat main-main, atau seneng-senengan aja. Jadi, yo dicari pelan-pelan. Ojo grusa grusu. Ujung-ujunge bubrah, cerai. Emoh aku!"

Siti berdecak kesal lalu melengos pergi, sementara Yanto dan Linda masih ngakak di tempat.

Mereka berdua menepukkan tangan di udara. Merasa satu frekuensi dalam hal ngerjain Mbak Siti.

Berjalan dengan kesal, Siti menuju ruang praktik Azra. Dilihatnya Azra masih serius menjawab telepon dengan ponselnya.

Tidak jadi masuk, Siti berjalan ke gudang tempat menyimpan alat-alat kebersihan. Mencari Pak Tejo.

"Pak Tejo! Nanti tolong sampaikan Bu Dokter, aku pulang duluan. Kerjaanku sudah selesai semua. Makasih yo, Pak. Assalamu'alaikum."

Siti pergi ke tempat parkir dengan wajah ditekuk dongkol. Tidak lama motor matic Siti melaju kencang meninggalkan Pustu.

"Wa'alaikumussalam, nyapo toh anak itu?" Pak Tejo heran sambil geleng-geleng kepala.

Dikuncinya pintu gudang, lalu berjalan ke ruang praktik Dokter Azra. Nampak Azra yang sedang sibuk berkemas.

Tok,tok,tok

"Assalamu'alaikum. Sudah mau pulang, Dokter?" tanya Pak Tejo.

"Wa'alaikumussalam. Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"

"Mboten. Cuma mau bilang, tadi Siti pamit pulang duluan. Pekerjaannya sudah selesai."

Azra mengulas senyum, "Iya, Pak. Tidak apa-apa. Mari, kita pulang juga. Sudah selesai semua kan? O iya, mana Linda?"

"Di ruang obat sepertinya, Dok. Saya kunci pintu dulu nggih," Pak Tejo segera mengunci ruang praktik Dokter Azra.

Azra melangkah menuju ruang obat, mencari Linda.

"Linda, kamu nggak pulang?"

"Lho, langsung pulang, Dok. Nggak jadi ke rumah Pak Kades?" tanya Linda sambil mengingatkan jadwal mereka hari itu.

"Nggak jadi, Pak Kades hari ini ke Dusun Ngestiasri. Ayo pulang, aku belum sholat zuhur ini. Pak Tejo, Mas Yanto, saya pamit ya," Dokter Azra bergegas pulang ke rumah dinas.

Linda berlari-lari kecil mengekor di belakang Azra.

Siang itu terasa sangat terik. Azra ingin segera pulang, menunaikan salat zuhur, lalu merebahkan tubuh sejenak di rumah dinas. Itu rencana dalam pikiran Azra.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!