Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Malam Para Elang
Seminggu kemudian, pesta ulang tahun Wiryawan Hadiputra Group digelar dengan kemewahan yang tidak perlu membuktikan dirinya.
Cahaya dari lampu gantung kristal raksasa tumpah ke seluruh aula perjamuan, menerangi ruangan hingga seterang siang hari yang dipoles. Aroma sampanye mahal dan parfum eksklusif berbaur di udara—terlalu banyak wewangian sekaligus, sampai pada titik tertentu tidak ada yang benar-benar tercium lagi.
Gaun-gaun elegan bergerak seperti bunga-bunga yang tahu sedang diamati. Gelas kristal beradu ringan, suaranya halus dan konsisten seperti musik latar yang tidak ada yang benar-benar dengarkan. Para pria tampan dan wanita cantik—separuh wajah publik industri hiburan negeri ini—telah berkumpul di sini, masing-masing dengan senyum sempurna yang sudah mereka latih bertahun-tahun.
Tapi di balik senyum itu, mata mereka seperti kait. Diam, tajam, penuh perhitungan.
Di area tengah aula, Raka Hadiputra berdiri dengan percaya diri yang tidak perlu dibuat-buat—ini adalah rumahnya, dalam semua arti kata. Setelan merah anggurnya mencolok dengan sengaja, kerah kemeja sedikit terbuka, segelas sampanye diaduk santai di tangannya. Ia tersenyum lebar, dikelilingi nama-nama besar yang ingin mengambil hatinya.
Dan tidak jauh darinya, berdiri sendirian namun entah bagaimana mendominasi seluruh ruangan—Arjuna Pratama.
Ia hanya datang untuk menghormati Raka. Kemeja hitam sederhana, celana panjang gelap, ikat pinggang kulit. Tanpa aksesori. Tanpa dasi. Justru karena itu penampilannya lebih mencolok daripada semua perhiasan berlian yang berkilauan di ruangan ini—karena ia terlihat seperti seseorang yang tidak butuh persetujuan siapa pun untuk hadir di tempat mana pun.
Satu tangan di saku, gelas anggur di tangan lain, postur malas. Tapi aura dingin yang melekat padanya membuatnya terasa seperti sesuatu yang tidak bisa disentuh sembarangan.
Bisikan-bisikan beredar pelan di antara para aktris dan bintang muda yang berkumpul di sudut-sudut ruangan.
"Lihat? Tuan Muda Arjuna sendirian malam ini."
"Shafira Maharani ada di sana—tapi sepertinya dia belum menyapa?"
"Kudengar mereka sudah selesai beberapa waktu lalu. Shafira benar-benar berani."
"Posisi di sisinya selalu kosong. Tergantung siapa yang punya kemampuan untuk duduk di sana."
"Bahkan sekadar dilihatnya saja sudah sangat berharga. Satu tahun di sisinya, lihat Shafira sekarang—bintang papan atas, bahkan Raka Hadiputra pun harus menghormatinya."
Nama Arjuna Pratama adalah jalan pintas menuju puncak. Semua orang di ruangan ini tahu itu, dan semua orang pura-pura tidak tahu bahwa mereka tahu.
Tidak jauh dari sudut itu, Shafira Maharani berdiri dengan sempurna.
Gaun berkilauan perak-putih menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang anggun. Ia cantik malam ini—cantik dengan cara yang terkontrol dan disengaja, pusat perhatian yang memang pantas ia dapatkan. Segelas sampanye di tangannya, senyum cerah di bibirnya, percakapan dengan seorang sutradara internasional yang berlangsung mulus.
Tapi pandangannya, tanpa ia sadari, selalu kembali ke sosok tinggi di seberang ruangan.
*Lalu kenapa,* batin Shafira dengan kepahitan yang hati-hati ia sembunyikan di balik senyumnya. *Lalu kenapa kalau dia memiliki seluruh ruangan hanya dengan berdiri diam.*
Di hadapan pria itu, di balik semua pencapaiannya, semua bintang dan kontrak dan nama yang sudah ia bangun—ia masih tahu betul di mana posisinya yang sesungguhnya. Kemerdekaan yang ia banggakan adalah ilusi yang ia izinkan dirinya percaya, dan malam ini ilusi itu terasa lebih tipis dari biasanya.
Raka memisahkan diri dari kerumunan dan berjalan santai ke sisi Arjuna, menyenggol bahunya dengan cara yang hanya berani dilakukan oleh seseorang yang sudah mengenal pria itu cukup lama.
"Ada apa, Tuan Muda Arjuna? Tidak bersemangat malam ini?"
Ia mencondongkan dagu ke arah Shafira. "Lihat—mantan 'burung kenari' Anda bersinar lebih terang dari yang lain malam ini. Banyak yang terpaku padanya."
Arjuna bahkan tidak mengangkat kelopak mata saat menyesap anggurnya. Rasa panas cairan itu mengalir di tenggorokannya, wajahnya tetap datar.
Bibir tipisnya sedikit melengkung. "Raka, apakah ini level orang-orang di tempatmu? Hanya bisa melihat dari kejauhan?"
Raka memegang dadanya dramatis. "Wah, standarmu terlalu keras. Ini aset-aset berharga perusahaan kami."
Ia merendahkan suaranya, bersemangat dengan cara orang yang menikmati drama orang lain. "Jadi? Taruhan ini tinggal satu setengah bulan. Shafira sepertinya tidak berniat melunak. Mau saya siapkan beberapa wajah baru untuk memberinya sedikit... rangsangan? Agar dia sadar diri?"
Arjuna akhirnya menatap Raka—tatapan singkat yang cukup dingin untuk mengakhiri banyak percakapan.
"Tidak perlu. Aku selalu mengambil apa yang kuinginkan sendiri." Jeda. "Biarkan dia berpikir dia punya pilihan. Itu membuat permainannya lebih menarik."
Raka mengangkat bahu. Ia sudah cukup lama mengenal Arjuna untuk tahu kapan tidak perlu mendesak lebih jauh.
"Dan setelah taruhan itu selesai?" tanyanya pelan, suaranya lebih rendah dari tadi. "Cukup banyak investor yang datang padaku akhir-akhir ini... bertanya tentang Shafira Maharani."
Arjuna tersenyum—bukan senyuman hangat. Senyuman seorang pria yang sudah memutuskan sesuatu jauh sebelum pertanyaan itu diajukan.
"Setelah taruhan selesai, kau bisa bermain dengannya sesuka hatimu." Ia menyesap anggurnya sekali lagi. "Anggap saja hadiah konsolidasi untukmu."
Raka mengangkat gelasnya. Gelas mereka beradu pelan.
*Cling.*
Di pojok pikirannya yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, Arjuna tahu dengan tepat apa yang sedang terjadi. Shafira Maharani adalah aset yang ia bentuk dari nol—gadis polos tanpa nama, tanpa koneksi, yang cukup cerdas untuk menjaga citra dan cukup tahu diri untuk tidak menuntut terlalu banyak. Di bawah perlindungannya, ia tumbuh menjadi bintang.
Tapi apa yang diberi, bisa diambil kembali.
Selalu bisa.
Arjuna menyesap anggurnya dan membiarkan matanya menyapu ruangan sekali lagi—para elang yang berpura-pura jadi kupu-kupu, para serigala yang berpura-pura jadi domba. Semua bermain dengan aturan yang sama, hanya sedikit yang cukup jujur untuk mengakuinya.
Malam ini belum menawarkan sesuatu yang cukup menarik.
Belum......