Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Guru TK
Darwin terjatuh ke lantai. "Aw!"
Sementara Kinan mundur terlalu cepat hingga kepalanya membentur dinding. Ia mengusap pelipis tanpa mengeluh, lalu menatap Darwin datar. "Jelaskan."
Darwin yang masih terduduk langsung mengangkat kedua tangan. "Aku kira itu bantal."
Kinan mengangkat sebelah alis. "Bantal?"
"Keadaan gelap."
"Lalu kau memeluk bantal?"
Darwin terdiam sesaat. "Kalau dipikir-pikir... memang aneh."
Keduanya terdiam. Lalu mata mereka serempak mengarah ke lantai.
Guling pembatas tergeletak di sana.
Darwin berdeham pelan. "Sepertinya... pelaku utamanya dia."
Kinan mengambil bantal dan melemparkannya.
Buk.
"Jangan cari kambing hitam."
Darwin mengusap bahunya sambil nyengir. "Iya... gulingnya tidak bisa membela diri."
Kinan mengambil bantal yang tadi dilemparnya.
Darwin sudah lebih dulu membuka pintu kamar.
Hari itu, mereka berdua akan mulai mencari pekerjaan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Pagi baru benar-benar hidup ketika deretan warung mulai membuka pintu. Aroma gorengan bercampur embun yang masih tertinggal di dedaunan. Jalan utama desa dipenuhi sepeda motor, ibu-ibu yang berbelanja, dan anak-anak berseragam.
Kinan dan Darwin berjalan berdampingan. Sesekali ia melirik papan-papan pengumuman yang ditempel di depan toko.
"Semoga hari ini ada yang cocok," gumamnya.
Darwin hanya mengangguk.
Mereka terus berjalan hingga melewati sebuah taman kanak-kanak sederhana. Bangunannya tidak besar, tetapi pagar depannya dicat warna-warni. Dari dalam terdengar suara anak-anak menyanyikan lagu pagi.
Langkah Kinan melambat. Ia berdiri beberapa detik memperhatikan seorang guru yang sedang membimbing murid-murid berbaris.
Matanya ikut tersenyum. "Aku coba ke sana sebentar."
Darwin mengikuti arah pandangnya. "Kau mau melamar menjadi Guru TK ?"
"Iya. Ada masalah ?"
Darwin mengangkat kedua tangannya. "Tidak. Kupikir tempat itu memang cocok untukmu."
Kinan menghela napas pelan sebelum mendorong gerbang.
Di teras, seorang perempuan paruh baya sedang menyusun buku gambar.
"Permisi, Bu."
Perempuan itu menoleh.
"Saya ingin bertanya... apakah di sini sedang membutuhkan guru?"
Perempuan itu memperhatikan wajah Kinan beberapa saat. "Masuk dulu."
Kinan menoleh ke arah Darwin. "Aku akan masuk."
Darwin mengangguk. "Aku jalan dulu."
Mereka berpisah di depan gerbang. Darwin melanjutkan langkah tanpa tujuan pasti. Ia melewati kantor desa, bengkel kecil, kios pupuk, hingga sebuah bangunan bercat putih dengan papan bertuliskan Puskesmas.
Ia berhenti. Halaman dipenuhi daun-daun kering. Rumput tumbuh liar di sisi pagar. Pot bunga retak dibiarkan kosong. Selokan di depan bangunan dipenuhi lumpur dan plastik.
Darwin mengamati semuanya tanpa berkedip.
Seorang petugas kebersihan tampak menyapu teras sendirian. Sapu lidi yang dipakainya sudah hampir habis.
Darwin melangkah mendekat. "Permisi."
Petugas itu menghentikan sapunya. "Iya?"
"Apakah di sini sedang membuka lowongan pekerjaan?"
"Lulusan apa?"
"Apa saja yang bisa saya kerjakan."
Petugas itu mengusap keringat di pelipis. "Coba tanyakan langsung ke bagian administrasi. Kepala puskesmas sudah datang."
Darwin mengangguk. "Terima kasih."
Ia menaiki anak tangga menuju ruang depan.
Lantai yang kusam memantulkan cahaya matahari dengan redup. Di sudut ruangan, ember penampung air hujan masih dibiarkan di bawah langit-langit yang bocor. Darwin memperhatikan semuanya sejenak sebelum mengetuk pintu bertuliskan Administrasi.
Kembali ke Kinan.
Perempuan paruh baya itu memandang Kinan beberapa saat. "Kami sebenarnya membutuhkan fotokopi ijazah dan beberapa berkas lain."
Kinan menunduk sebentar. "Maaf, Bu. Semua dokumen saya tertinggal. Saya sedang mengurusnya."
Perempuan itu mengembuskan napas pelan. Pandangannya beralih ke ruang kelas di seberang jendela. Suara anak-anak mulai terdengar gaduh.
"Guru kelas kami mulai cuti hamil minggu ini. Sampai sekarang belum ada yang bisa menggantikan." Ia kembali menatap Kinan. "Begini saja. Kamu mengajar dulu sebagai guru pengganti. Kalau memang cocok, berkasnya bisa dilengkapi belakangan."
Kinan sedikit terkejut. "Ibu tidak keberatan?"
"Daripada anak-anak tidak ada yang mengajar."
Pintu kelas terbuka pelan. Kepala sekolah melangkah lebih dulu. "Anak-anak, hari ini kalian punya Bu Guru baru."
Belasan wajah kecil serempak menoleh. Ada yang langsung tersenyum, ada yang hanya memeluk tasnya sambil memperhatikan perempuan asing di depan kelas.
Kinan melangkah masuk. Ia tidak terburu-buru berbicara. Tatapannya menyapu seluruh ruangan lebih dulu. Meja-meja kecil berjajar rapi. Di dinding tergantung gambar buah, huruf alfabet, dan hasil coretan krayon yang masih miring.
"Selamat pagi."
"Pagiii, Bu Guru!" jawab beberapa anak. Yang lain menyusul dengan suara yang tidak kompak.
Kepala sekolah tersenyum. "Kalau begitu, Ibu tinggal dulu."
Pintu kembali tertutup. Suasana mendadak lebih sunyi.
Kinan mengambil sebatang kapur, lalu menulis namanya di papan tulis.
Bu Kinan.
Ia berbalik. "Hari ini kita mulai dengan saling kenal. Siapa yang mau menyebutkan namanya dulu?"
Seorang anak laki-laki mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Aku, Bu!"
"Iya."
"Aku Dito."
"Halo, Dito."
Dito langsung tersenyum lebar. Anak-anak lain mulai berebut mengangkat tangan.
"Aku, Bu!"
"Namaku Naya!"
"Aku Rafi!"
Ruangan yang semula canggung berubah ramai.
Di sudut kelas, seorang anak perempuan justru duduk diam sambil memeluk boneka kain lusuh. Kepalanya tertunduk.
Kinan menghampirinya, lalu berjongkok agar sejajar. "Boleh Bu Guru tahu namamu?"
Anak itu tidak menjawab. Tangannya justru memeluk boneka semakin erat.
Dari luar kelas, seorang guru lain yang sedang lewat berbisik pelan. "Namanya Sasa. Sejak ibunya dirawat di rumah sakit, dia hampir tidak pernah mau bicara."
Kinan mengangguk kecil. Ia tidak memaksa.
Sebaliknya, ia duduk di lantai di samping Sasa.
"Aku juga belum punya teman di sini."
Sasa tetap diam.
"Kita sama-sama baru memulai."
Beberapa saat berlalu tanpa percakapan. Lalu perlahan, boneka kecil itu terdorong ke arah Kinan. Seolah sedang dipinjamkan.
Kinan menerimanya dengan hati-hati. "Terima kasih."
Sasa tidak tersenyum. Namun untuk pertama kalinya sejak pagi, ia mengangkat wajah dan menatap Bu Guru barunya.
Sementara itu, Darwin berdiri di depan meja administrasi puskesmas. Seorang pegawai perempuan memperhatikan penampilannya.
"Kamu pernah bekerja sebagai petugas kebersihan?"
"Belum."
"Lalu kenapa melamar di sini?"
Darwin melirik ke luar jendela. "Tempat ini perlu dirawat."
Ruangan mendadak sunyi. Pegawai perempuan itu berhenti menulis. Baru ia mengangkat kepala.