Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Terlalu Rapi
Hujan di luar menderas beringas, berbanding terbalik dengan kehangatan di dalam mansion keluarga Mahendra. Lampu-lampu kristal yang berpendar gilang-gemilang itu kini hanya membuat perut Shaquena bergejolak mual.
Ia mematung. Air hujan bercampur lumpur menetes dari ujung gaunnya, menodai pualam putih bersih di bawah kakinya. Entah mengapa, gerbang besi yang biasanya berlapis penjagaan malam ini sengaja dibiarkan terbuka separuh.
Di sepanjang lorong, para pelayan merapat ke dinding. Kepala mereka menunduk dalam-dalam. Tak ada yang berani menatap langsung sosok nyonya besar yang basah kuyup dengan rambut lepek menempel di dahi itu.
Pandangan Shaquena terkunci pada tangga menuju lantai dua. Ruang kerja Sebastian. Ia harus melempar kenyataan ini tepat ke wajah suaminya. Ia ingin pria itu melihat langsung hasil dari permainan catur kotornya. Keserakahan Sebastian baru saja merenggut napas Sherina. Cucu mungilnya mati membeku dalam pelukan, terusir dari klinik hanya karena kemiskinan yang diciptakan sang kakek kandung.
Langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu ganda mahoni. Tangan Shaquena yang gemetar hebat baru saja terangkat ke arah gagang kuningan, ketika suara tawa dari balik kayu tebal itu menahan pergerakannya. Bukan tawa sinis yang biasa Sebastian lemparkan saat menghancurkan rival bisnisnya. Melainkan tawa rendah, hangat, dan sarat kebanggaan.
"Selama ini Ayah yang mengatur semuanya dari belakang? Skandal di media cetak, bukti transfer palsu, sampai penjara untuk Samuel?"
Suara itu ... Henry. Putra dari Helena dan Stefanus. Laki-laki muda yang selama ini Shaquena anggap bersih, murni jauh dari darah kotor bisnis keluarga Mahendra.
"Tentu saja," sahut Sebastian lugas.
Napas Shaquena tercekat. Ia mengenali intonasi itu. Kebanggaan, nada yang tak pernah satu kali pun Sebastian berikan untuk Samuel.
"Keluarga Mahendra tidak butuh pemimpin berhati lemah yang terlalu memegang teguh moral seperti Samuel. Dia tidak memiliki insting seorang pemangsa sejati. Kamu, Henry. Kamu adalah pewaris sejati Mahendra Group. Kamu mewarisi kekejaman dan ketajaman yang diperlukan untuk memimpin imperium bisnis ini."
Tangan Shaquena meremas gaun basahnya. Samuel, putra kandungnya yang selalu bekerja jujur dan menolak korupsi, sengaja dihancurkan hanya karena anak itu terlalu baik?
"Tapi," suara Henry menyela, terselip keraguan. "Ayah adalah suami sah dari istri Ayah, Tante Shaquena. Bagaimana mungkin Ayah bisa memastikan statusku sebagai anak sah untuk mewarisi perusahaan di depan dewan keluarga besar?"
"Kamu tidak perlu memusingkan hal administrasi semacam itu, Sayang." Helena menyahut lembut. Terdengar gesekan kain, seolah wanita itu tengah merangkul bahu Henry. "Itu hanya masalah sepele yang sangat mudah diselesaikan dengan uang. Yang perlu kamu tahu, Henry, kamu bukanlah anak biologis Stefanus. Kamu adalah darah daging Sebastian yang sebenarnya."
Lutut Shaquena nyaris luruh menabrak lantai.
Stefanus. Adik tiri Sebastian yang pendiam, pria yang menjadi suami sah Helena. Ternyata Henry bukan darah dagingnya. Pernikahan itu hanyalah panggung sandiwara, tameng kotor ciptaan Sebastian untuk menyembunyikan perselingkuhannya selama puluhan tahun demi menjaga citra publik.
Kuku-kuku Shaquena menancap kuat di dadanya. Pengkhianatan ini dirajut terlalu rapi. Mematikan.
"Lalu bagaimana dengan kecelakaan orang tua Tante Shaquena lima tahun lalu?" tanya Henry lagi. "Apakah benar Ayah yang memerintahkan mekanik untuk mensabotase rem mobil mereka sebelum masuk jalan tol?"
"Kecelakaan itu adalah satu-satunya cara paling efisien untuk memastikan Shaquena tidak memiliki dukungan finansial lagi dari perusahaan Mahardika," jawab Sebastian, sedatar membicarakan ramalan cuaca besok pagi. "Kekuatan Mahardika Group harus diserap total oleh Mahendra. Jika mereka berdua masih hidup, Shaquena akan selalu memiliki tempat untuk pulang. Aku harus memastikan wanita itu terkunci di rumah ini, berada dalam kendali mutlakku selamanya."
Napas Shaquena seolah terputus. Kedua orang tuanya tak mati karena takdir buruk. Mereka dibunuh dengan kejam oleh pria yang tidur seranjang dengannya setiap malam.
Langkahnya terhuyung mundur tanpa kendali.
Praaang!
Siku Shaquena menghantam vas keramik antik peninggalan dinasti di atas meja konsol. Vas mahal itu hancur berkeping-keping mencium lantai marmer. Suara pecahannya merobek kesunyian mansion.
Tawa renyah di balik pintu terpotong drastis.
Shaquena tidak memiliki sisa energi lagi untuk bersembunyi. Dengan tangan sedingin es, ia mendorong pintu berat itu hingga terbuka lebar.
Pemandangan di dalam memahat batu nisan untuk akal sehatnya. Sebastian bersandar santai di kursi kebesaran. Helena berdiri di sisinya, mencecap sampanye dari gelas kristal. Sementara Henry duduk di ujung meja.
Tiga pasang mata itu menoleh serentak.
Henry bangkit perlahan. Tangan Helena membeku di udara. Hanya Sebastian yang tidak bergeming.
Pria itu menatap lurus ke arah istrinya. Sorot mata hitamnya setajam biasa, tanpa setitik pun penyesalan. Dingin, persis seperti menatap hama yang mengotori karpet ruangannya.
"Jadi kamu mendengarnya," kata Sebastian datar dan bosan.