Tembus pandang, ahli pengobatan, dan kekuatan tiada tara adalah sepasang mata dewa.
Menjadi buta demi membangkitkan kekuatan mata dewa membuat Ivan begitu menderita.
Namun semuanya terbayar setelah Ivan mendapatkan mata dewa yang sinarnya menembus kegelapan.
Gadis-gadis cantik perlahan jatuh hati kepadanya.
Bagaimana kelanjutannya dapat di baca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agus budianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 10 BATAL NIKAH
"Kakek Sanjaya, kamu malah berani membuangnya, kamu tahu tidak bahwa pil ajaib itu adalah nyawamu," ujar Ivan memperingatkan.
"Lebih baik kamu ambil kembali!" sambung Ivan.
"Kakek, tidak perlu anda pikirkan omongan bocah kampung ini, walaupun pil itu di buang, langit juga tidak akan runtuh," sela Bastian.
"Anda benar tuan Bastian, mana mungkin nyawaku di tentukan oleh sebutir pil sampah itu," balas kakek Sanjaya.
Kakek Sanjaya juga mengangkat kaki kanannya dan hendak menginjak pil ajaib tersebut, tapi Ivan langsung menghentikannya.
"Kakek Sanjaya, anda menderita penyakit aneh dan langka, harusnya beberapa tahun yang lalu anda sudah mati, guruku menggunakan teknik akupuntur untuk menahannya dan memperpanjang umurmu, sebentar lagi sakit mu akan kambuh, hanya pil ini yang bisa menyembuhkan mu sepenuhnya," ujar Ivan.
"Kalau kamu menginjaknya, tidak akan ada lagi yang bisa menyelamatkanmu," sambung Ivan.
"Cukup, aku dari tadi hanya diam saja, kamu seperti ini sama saja menyumpahi kakekku, kakekku sehat saja, mana mungkin sakit," sela Dania.
"Jika kamu menggunakan karangan cerita ini hanya untuk dapat menikah dengan ku, maka kamu lebih baik cepat pergi saja, karena itu tidak mungkin," sambung Dania.
"Sudahlah, sekarang aku tanya untuk terakhir kali, kamu ambil atau tidak?" tanya Ivan dengan serius kepada kakek Sanjaya.
"Bocah, aku tidak percaya," sambung kakek Sanjaya.
Kakek Sanjaya langsung menginjak pil ajaib itu sehingga membuatnya hancur. Terlihat bayangan asap putih keluar dari pil ajaib tersebut lali menghilang di udara.
Terlihat orang-orang begitu puas dengan tindakan dari kakek Sanjaya ini, begitu juga dengan Bastian. Ivan yang marah juga hanya menghela nafasnya saja.
"Bagus sekali, karena ini adalah keputusan mu, maka anda akan mati karena kebodohan mu sendiri," ujar Ivan kepada kakek Sanjaya.
"Pil ajaib ini mampu menyembuhkan sakit mu, tapi anda malah menginjaknya, dalam waktu tidak lama lagi, kamu akan kembali sakit parah lalu mati," sambung Ivan.
"Kamu mengutukku," balas kakek Sanjaya.
"Baiklah, aku tanya sekali lagi tentang perjanjian pernikahan ini, jadi atau tidak?" tanya Ivan.
"Kalau jadi mungkin aku akan bermurah hati untuk menyelamatkan nyawamu, kalau tidak, pikirkan baik-baik akibatnya," sambung Ivan.
Pil ajaib itu memang sangat istimewa dan hanya bisa di buat oleh kakek tua gurunya, tapi Ivan kini memiliki mata dewa yang sangat hebat, bukan tidak mungkin dirinya masih bisa menyembuhkan kakek Sanjaya.
"Heh, ngomong panjang lebar, ujungnya hanya untuk menikahi Dania, bicara sebanyak itu hanya untuk mengancam ku," balas kakek Sanjaya dengan meremehkan.
"Kalau begitu dengarkan baik-baik, mau menikahi Dania cucuku, jangan harap," sambung kakek Sanjaya.
Kakek Sanjaya langsung merampas selembar kertas perjanjian pernikahan yang di pegang oleh Ivan.
"Krek..." kakek Sanjaya merobeknya menjadi beberapa bagian kecil.
Dengan demikian kakek Sanjaya juga telah memutuskan sepenuhnya membatalkan perjanjian pernikahan antara Ivan dan Dania cucunya.
"Aku tidak menyangka, anda sudah setua ini tapi muka anda lebih tebal di bandingkan tembok kota," Ivan juga sudah tidak lagi menghormati kakek Sanjaya.
"Dulu kamu begitu sangat kasihan, lebih kasian dari seorang gembel di jalanan meminta guruku untuk mengobati mu, lalu kamu sendiri yang membuat perjanjian pernikahan ini," sambung Ivan.
"Sekarang kehidupanmu terlihat mapan, sehingga lupa daratan, dan pura-pura tidak pernah berhutang budi, beginilah sikap keluarga Sanjaya yang tidak tahu malu."
"Kamu..." kakek Sanjaya juga emosi sekali.
"Kamu jangan bawa-bawa nama keluarga Sanjaya, kamu harus tahu malu juga, kamu sadar diri kamu siapa," Dania juga ikut marah.
"Apa kamu pantas untuk diriku, jika hanya tinggal kamu pria di dunia ini, aku juga dengan tegas tidak akan menikah," sambung Dania.
"Kamu pikir kamu siapa, masih banyak wanita yang tidak kalah cantik darimu, buka matamu, aku datang kemari hanya ingin memenuhi pesan terakhir dari guruku, jangan berpikir kamu merasa paling sempurna," balas Ivan kepada Dania.
"Sepuluh wanita sepertimu bisa aku dapatkan dengan mudah, kamu tidak pantas untuk diriku," sambung Ivan.
"Kamu..." Dania emosi mengepalkan tangannya dengan keras, ini pertama kalinya dirinya mendapatkan penghinaan seperti ini dari seorang pria.
Ivan sendiri setelah membangkitkan mata dewa tentu saja juga menambah kepercayaan dirinya. Mendapatkan wanita cantik tentu tidak sulit baginya, pikirnya.
"Bocah, beraninya kamu menghina Dania, berlutut dan minta maaf atau aku akan mematahkan kedua kakimu!" ujar Bastian mengancam Ivan.
Bastian merasa ini saat yang tepat untuk menunjukkan kehebatannya lagi dan membela Dania demi mendapatkan hatinya.
"Tutup mulut busuk mu, aku sedang menyelesaikan urusan dengan keluarga Sanjaya, merasa dirimu hebat, kamu hanya seorang anak manja, tanpa ayahmu kamu pasti bukan apa-apa," balas Ivan sama sekali tidak takut.
Perkataan Ivan ini begitu pedas membuat semua orang di sana terkejut di buatnya.
"Anak kampung ini berani menghina tuan Bastian, kamu gila ya?" ujar salah seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi.
"Bukan hanya menghina, kalian bodoh dan menjijikan seperti sampah," balas Ivan.
"Pengawal!" teriak Bastian yang sudah sangat marah.
"Cepat hajar dia, hancurkan mulutnya, kalau mati aku yang aku tanggung jawab!" perintah Bastian.
Seketika keenam pengawal Bastian juga langsung mengepung Ivan. Mereka mengeluarkan sepotong besi sepanjang 50 cm dari pinggangnya. Mereka langsung menyerang Ivan secara bersamaan.
Ivan berdiri dengan santai dan langsung mengeluarkan kekuatan mata dewanya. Seketika sekilas cahaya terlintas di kedua matanya. Energi spiritual terpancar dari bola matanya menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Kalian pikir aku orang yang mudah ditindas," ucap Ivan.
Ivan mengibaskan telapak tangannya, seketika energi spiritual yang melesat bersama hembusan angin langsung menghantam keenam pengawal tersebut.
"Brak," keenam pengawal tersebut langsung terpental dan ambruk menghantam lantai.
Keenam pengawal itu tampak tergeletak di lantai tidak bergerak hanya dengan satu serangan saja dari Ivan. Darah segar keluar dari lubang hidung dan mulut mereka.
"Ini apa yang terjadi, tangannya bocah ini padahal tidak menyentuh mereka, tapi dia benar-benar telah mengalahkannya dengan mudah," ujar salah seorang di sana.
"Keenam pengawal tuan Bastian adalah mantan pasukan khusus yang terlatih, tapi telah di kalahkan dengan begitu mudahnya, sebenarnya siapa bocah ini?" ujar orang yang lain.
"Pantas saja dia tidak takut sama sekali, mungkinkah dia seorang master beladiri," ujar orang yang lain.
Bastian seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Bagaimana mungkin Ivan sekuat ini bisa mengalahkan para pengawalnya dengan begitu mudah.
Setelah mengalahkan keenam orang tersebut, tanpa berkata-kata Ivan juga mulai melangkah pergi dari sana. Setidaknya dirinya telah menjalankan pesan dari gurunya walaupun akhirnya kini telah di batalkan.
Setelah kepergian ivan, para tamu undangan juga mulai pergi meninggalkan tempat itu. Pesta ulang tahun Dania juga menjadi berantakan.
"Kakek, Dania, tenang saja, aku pasti akan memberikan bocah kampung itu pelajaran," ujar Bastian kepada kakek Sanjaya dan Dania.
"Mengenai hadiah yang telah aku siapkan, apakah kamu mau menerimanya dan menikah denganku?" sambung Bastian kepada Dania.
"Barang-barang tersebut terlalu berharga aku tidak bisa menerimanya," balas Dania.
"Mana mungkin, kamu jauh lebih berharga dari itu, jika kamu mau menikah denganku, aku berjanji akan memperlakukanmu menjadi seorang ratu," ujar Bastian.
"Tuan Bastian maaf, kepalaku sedikit sakit, aku kembali ke kamar dahulu," balas Dania.
Dania juga langsung pergi dari sana begitu saja menuju kamarnya, sehingga membuat Bastian menjadi canggung. Melihat perilaku cucunya kepada Bastian tentu saja membuat kakek Sanjaya merasa tidak enak.
"Tuan Bastian tolong jangan tersinggung dengan Dania, pasti dia akan setuju untuk menikah dengan tuan," ujar kakek Sanjaya.
"Lebih baik kita ngobrol sambil minum teh membicarakan tentang bisnis!" sambung kakek Sanjaya.
Kakek Sanjaya juga mengajak Bastian minum teh di ruangan pribadinya.
"Kamu begitu sombong, lihat saja jika aku mendapatkan mu, setelah aku puas denganmu, aku akan menyiksamu," ucap Bastian dalam hati.