Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sana dan Sini
"Akh curigation sama kepala ME yang baru!" celetuk dokter Lucky sambil makan tunjangnya.
"Curigation gimana?" balas Daisy polos. "Eh, Mas, cobain ini deh."
Dokter Lucky melihat tangan Daisy penuh dengan nasi, potongan rendang dan suwiran ayam pop. "Aaakkkk."
Daisy menyuapi suaminya yang tampak sok imut. "Enak?"
Dokter Lucky mengangguk senang.
"Dokter Ginanjar dan Mamat juga curigation. Katanya dokter Adiwilaga naksir aku. Ya ampun Mas, aku kan sudah emak-emak. Anak sudah dua, sudah punya suami bucin, dua anjing dan satu kucing ... Sudah sangat nikmat rejeki aku." Daisy tersenyum ke suaminya.
"Benar kan! Perasaan aku juga sama Jeng!" ujar dokter Lucky. "Dia suka kamu. Macam lagu Trio Libels. "Aku suka kamu. Kurasakan, kucinta padamu." Eh, itu lagu buat kamu sih Jeng."
"Kurasakan? Setelah lima belas tahun menikah, kurasakan?" Daisy mendelik pura-pura marah.
"Eh, nggak Jeng. Ini serius. Aku selalu cinta padamu. Serius! Aku kurang apa sih Jeng?" rajuk dokter Lucky.
"Kurang kurus dikit. Sudah sebulan lho Mas nggak nge-gym," kekeh Daisy.
"Ah iya ... Duh perutku! Mana makan Padang pula," keluh dokter Lucky.
"Eh, Elina latihan Kendo kan? Jadi pulangnya sore ya?" Daisy menatap ke layar ponselnya yang ada notifikasi dari sekolah putrinya.
"Iya. Aku sudah bilang sama Steven, titip Elina. Biar nanti pulang bareng Sadiva dan Indro. Aku tidak bisa jemput karena ada operasi. Kamu?"
"Harus ke divisi gabut. Bang Victor minta data si Akbar."
***
Ruang Kerja Divisi Kasus Dingin Polda Metro Jaya
"Kenapa suasana jadi gelap?" tanya Zane.
"Ada titik terang. Oom Steven mendapatkan kompas lama dan dibongkar Tante Rosita. Ternyata ke arah Gunung Kawi," jawab AKP Samsudin.
"Gunung Kawi? Ngapain? Pesugihan?" tanya Kenzie. "Yakin? Mau pesugihan di sana?"
"Kita mah kalau pesugihan, tinggal minta Tole nyolong deh!" kekeh Zane.
"HEEEEIIII!" seru Brigjen Victor dan Kombes Steven.
"Bercanda Papa," cengir Zane.
Kenzie menggelengkan kepalanya. "Yang ada divisi ini yang kasih pesugihan Snack ke Tole."
"Benar tuh! Duh, aku kangen Bu Nana ...." sahut Tole sambil makan kacang Sukro.
"Oma Nana lagi momong cucu!" balas Zane.
Yoga dan Charmita sudah menikah beberapa tahun lalu. Mereka dikaruniai dua anak. Yang kedua baru berusia tiga tahun. AKBP ( purn ) Nana sekarang sedang senang-senangnya menikmati jadi Oma.
"Oke. Siapa ini yang mau ke Gunung Kawi? Penyelidikan, bukan pesugihan!" ucap Brigjen Victor.
AKP Samsudin, Kombes Fariz dan AKBP Teguh langsung angkat tangan.
"Gue rada curiga sama kalian bertiga deh," gumam Kombes Steven.
"Kita belum pernah kesana, Steve. Jadi penasaran," cengir AKBP Fariz.
"Cris, kamu ikut sama mereka ya," perintah Brigjen Victor.
"Lha? Saya juga ikut, Ndan?" Iptu Cristiano langsung bergidik. "Duh!"
"Tenang, nanti kalau ada penampakan ...." AKP Samsudin menatap usil ke juniornya. "Kita minta nomor!"
Brigjen Victor, Kombes Steven, Kombes Arief dan AKBP Rosita langsung tepuk jidat berjamaah.
"Sudah kudugong," gumam Mbak Susi.
"Anomali siapa yang mau ikut?" tanya Zane.
"Aku!" seru Mbak Lilis. "Kepo aku."
"Kok rasanya dirimu mau ngintil karena ada Oom Cris deh," kekeh Kenzie.
"Ah, anaknya Dok Lucky memang cerdas! Tahu saja!" kerling Mbak Lilis ke Iptu Cristiano yang auto bergidik.
"Kalau soal itu nggak perlu soal cerdas. Kelihatan dari gelagat ente," kekeh Iptu Casey.
***
PRC School
"Dik Elina!"
Elina yang sedang menunggu Sadiva selesai ganti baju, menoleh ke arah suara. Tampak Jayengrana datang menghampirinya.
"Ya Mas Jay?" senyum Elina.
"Nunggu Diva?" tanya Jay.
"Iya. Diva tadi terakhir tanding." Elina menoleh ke arah dojo.
"Kamu nggak dijemput Oom Lucky atau Tante Daisy?" tanya Jay sambil duduk di sebelah Elina.
"Nggak. Papa ada operasi terus Mama ada acara makan-makan sama kepala ME yang baru. Oom Indro dikabarin Mama," jawab Elina.
Jay melihat ke arah pria yang sibuk membalas pesan. Indro adalah sopir yang juga merangkap pengawal Sadiva atas permintaan Kombes Steven. Pria berbadan atletis itu mengangguk meskipun tidak terlihat oleh yang menghubunginya.
"Eh, Kenzie kemana?" tanya Jay yang tidak melihat kakak Elina.
"Mas Kenzie ke kantor Oom Victor. Nggak tahu ada apaan." Elina menoleh saat Sadiva sudah datang.
"Eh, Mas Jay. Kok belum pulang?" tanya Sadiva.
"Habis latihan paskibra. Lihat kalian kok belum pulang, rupanya habis latihan Kendo," jawab Jay.
"Oh gitu. El, yuk pulang," ajak Sadiva.
"Oke. Aku harus kasih makan Srundeng, Tunjang dan Rendang."
Sadiva menatap malas ke sepupunya. "Gue kadang bingung sama kamu dan Oom Lucky. Kasih nama dua anjing corgi dan satu kucing, kok makanan semua."
***
Ruang Kerja Divisi Kasus Dingin
Zane dan Kenzie bersama dengan AKBP Rosita, masih kepo dengan apa yang ada di Gunung Kawi sementara para tim sedikit relawan, bersiap untuk pergi ke sana dengan jalur darat.
"Naik mobil atau kereta ke Malang?" tawar AKBP Teguh.
"Kereta saja. Nanti sampai Malang, biar anak buah bokap jemput kita di stasiun. Atau mau naik pesawat? Lebih cepat," tawar Iptu Cristiano.
"Kita hitung-hitungan. Pesawat berapa, kereta berapa, mobil berapa. Kalau habisnya tidak beda jauh," ucap Kombes Arief.
"Kalau pesawat ya lebih enak sih. Nggak terlalu capek dan waktunya untuk penyelidikan lebih lama." Kombes Fariz lalu memeriksa estimasi biaya perjalanan dan mereka sepakat memakai pesawat karena tidak terlalu jauh bedanya.
"Ok, pesan tiket pesawat ke Surabaya baru kalian ke Malang. Kalau bisa yang pagi dan besok," ucap Brigjen Victor.
***
PRC School for Special Kids
Sheva tampak senang bisa berkomunikasi dengan para anak-anak tuna rungu yang hari ini dijadwalkan ekstra kulikuler melukis. Remaja itu memberikan apresiasi pada mereka. Anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus itu boleh masuk dengan uang sukarela karena memang sejak jaman Falisha, untuk orang-orang tidak mampu.
Sekolah ini pun menjadi besar berkat adanya donatur di luar keluarga Pratomo yang merasa anaknya terbantu di sekolah ini. Usai acara ekstra kulikuler, Sheva pun bersiap pulang dengan memesan taksi biru.
Saat menunggu taksi datang, Shea menghubungi dirinya.
"Ya Mama?" sapa Sheva.
"Kamu pulang naik taksi kan?" tanya Shea yang khawatir putrinya pulang sendiri karena Kombes Steven lembur.
"Iya. Ini taksinya sudah datang." Sheva mengangguk ke sopir taksi yang menyapa dirinya.
"Hati-hati ya."
"Siap Ma."
***
Yuhuuu up Siang yaaaaaa gaeeesss
Maaf aku habis kena musibah jadi enakin badan dulu.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
semangat berkarya mbak Hana...jangan lupa istirahat dan healing..
Hajar aja lah Dok Lucky 😄😄
udh kthuan aibnya,msih usaha buat jd pebinor.....cckkk....ga tau malu....🙄🙄🙄
blm tau dia kl mslh aib mh urusn gmpang,tnggal mnta tlong sm kluarganya....wasalam dehhh.....😛😛😛