"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Cklek.
Pintu utama apartemen terbuka sepenuhnya, menampilkan sosok Bayu. Langkah kakinya terhenti seketika saat pandangannya mendarat di ruang tengah. Di atas sofa, Gavin tampak telentang dengan posisi mengenaskan—baju penuh noda, rambut acak-acakan menyerupai sarang burung, dan aroma minyak telon yang menyengat langsung menyapa indra penciuman Aruna.
"Ck ck ck Lo habis ngapain sih, Vin ? Rambut lo kaya orang ke setrum begitu." Ucap Bayu begitu shock melihat penampilan sahabatnya yang berantakan.
"Ngagetin aja Lo, Bay. Ngapain lo ke apartemen gua ?" Gavin bangun dari duduknya sambil merapikan rambutnya.
Bayu Sadewa, Pria yang berprofesi sebagai pengusaha Toko grosir dan juga juragan kos - kosan, adalah sahabat baik Gavin sejak SMA. Dari semua teman Gavin hanya Bayu saja yang mengetahui kata sandinya apartemen Gavin. Saking seringnya ia datang berkunjung ke apartemen ini.
"Bosen gua di toko. Makannya kesini" Ucap Bayu sambil menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas sofa ruang tamu.
"Terus tau dari siapa gua ada di apartemen? "
" Dari seketaris lo lah. Tadi gua telfon Tian dulu sebelum berangkat. Gua tanya lo kerja apa engga. Kata dia kaga kerja, ya udah gua langsung kesini aja."
Gavin berdecak kesal. Padahal ia ingin beristirahat sebelum kebali berkutat mengurus Kenzie lagi. Apa lagi bocah kecil itu belum sempat makan siang tadi.
" Kita nongkrong di luar yuk, Vin. Ajak Prima sama Varel sekalian. Bosen banget nih gua, cuman duduk dong kaya gini." Ajak Bayu.
"Ck gua harus ngurusin keponakan gua."
"What ! Keponakan lo ?"
"Hmm. Aruna lagi kerja dan sekarang giliran gua yang jaga anaknya bang Rendy."
Bayu mengangguk mengerti. Dirinya sudah tau kalo anggota keluarga satu - satunya Gavin, alias sang kakak telah meninggal karena sebuah kecelakaan.
"Ya ilah. Bentar aja, Vin. Masa kaga bisa sih."
"Kaga bisa. Kenzie lagi tidur siang. nanti kalo bangun gimana?"
"Emangnya keponakan tidurnya udah lama ?"
"Belum baru tiga menit yang lalu."
"Ck ngga bakal bangun dia. Kalo lo tinggal sebentar. Kita nongkrong dulu aja di cafe bawah, gimana?"
Gavin tak langsung menjawab, ia masih mempertimbangkan ajakan Bayu barusan. Kalo di tolak sayang, dirinya juga jenuh banget kalo seharian ini di rumah aja. Tapi kalo Gavin mengiyakan ajakan Bayu barusan, kasihan Kenzie. Nanti kalo bocah itu menangis mencari keberadaannya gimana ?
"Udahlah ngga usah banyak mikir lo. Mending ikut aja, ngga jauh lagian. Cuman di cafe bawah doang." Ucap Bayu. Melihat Gavin lama berfikir nya membuat pria itu kesal.
"Ya udah gua ikut. Tapi gua cuman sebentar ya, takut keponakan gua bangun." Jawab Gavin, memutuskan ikut nongkrong dengan temannya itu. Karena cuman di cafe bawah apartemen.
Gavin bergegas bergantian pakean lalu menata rambutnya dengan rapih dan biyar supaya ganteng paripurna. Kalo penampilannya kaya tadi, nanti banyak cewek - cewek kabur melihat bentuknya yang kaya kuda lumping.
Gavin mengecek sebentar Kenzie sebentar di kamar Aruna sebelum dirinya keluar bersama Bayu menuju cafe. Melihat Kenzie tertidur pulas, membuat Gavin bernafas lega dibuatnya.
"Tidur yang nyenyak ya Boy. Oom Apin nongki dulu, biyar ngga gila ngurus kamu." Ucap Gavin sambil mengelus rambut lebat Kenzie.
###
Pukul 15.30 WIB
Langkah kaki Aruna berayun cepat di koridor apartemen. Perasaannya mendadak tidak tenang sepanjang perjalanan pulang. Entah kenapa selama perjalanan pulang dirinya merasa gelisah sekali. Memikirkan Kenzie yang hari ini sedang dijaga oleh Gavin.
Begitu tiba di depan pintu unitnya, ia merogoh tas selempangnya, mengeluarkan kunci, dan memutar knop pintu dengan tergesa-gesa.
Cklek.
Pintu utama terbuka. Namun, tidak ada sambutan hangat atau aroma masakan sore yang menentramkan. Atmosfer di dalam apartemen itu terasa begitu sunyi, hampa, dan mencekam.
"Kenzie? Gavin?" panggil Aruna, menyapu pandangannya ke sekeliling rumah.
Hening. Tidak ada sahutan sama sekali.
Aruna melangkah lebih dalam menuju ruang tengah, dan seketika itu juga, jantungnya seolah berhenti berdetak. Seluruh aliran darahnya mendadak berdesir hebat, digantikan oleh rasa syok dan ngeri yang luar biasa.
Di atas karpet bulu yang berantakan dengan balok kayu, Kenzie sedang duduk seorang diri. Bocah malang itu tampak memeluk boneka kuala kesayangan nya dengan erat. Bahu mungilnya sesekali masih naik turun, menyisakan isak kecil yang tertahan. Yang paling menyayat hati Aruna adalah kedua pipi bulat Kenzie yang memerah dengan bekas aliran air mata yang tercetak jelas, sudah mengering dan mengilat diterpa lampu ruangan. Bocah satu setengah tahun itu ditinggal sendirian tanpa ada satu pun orang dewasa yang mendampinginya.
"Kenzie!" Jeritan histeris lolos dari mulut Aruna.
Ia langsung berlari secepat kilat, menjatuhkan tas selempangnya begitu saja ke lantai marmer dan langsung menyambar Kenzie ke dalam pelukannya. Dekapan itu begitu erat, seolah-olah ia takut kehilangan satu-satunya harta berharga peninggalan kakaknya.
Begitu merasakan pelukan hangat tantenya, pertahanan Kenzie runtuh. Tangis bocah polos itu kembali pecah dengan sangat keras. Tangan mungilnya meremas blus Aruna seolah takut dilepaskan lagi. "Hwaaa... Ante... Oom Apin nda ada... Eji tatut (takut)......"
Sambil mendekap erat tubuh Kenzie yang bergetar hebat, mata Aruna bergerak liar memeriksa sekeliling ruangan mencari keberadaan suaminya. Namun, nihil. Rak sepatu kosong dari sepatu kasual Gavin. Dompet, dan ponsel pria itu yang biasanya tergeletak di meja pun sudah lenyap. Hanya tersisa kunci mobil saja yang berada di meja.
Amarah yang luar biasa langsung mendidih di dalam dada Aruna hingga ke ubun-ubun. Tangannya gemetar hebat. Gavin—pria ceroboh, bajing*n egois itu—benar-benar tega melangkah keluar dari pintu ini dan meninggalkan seorang batita yang belum bisa bicara lancar sendirian di dalam apartemen, hanya demi urusan kesenangan pribadinya.
Bagaimana kalau terjadi korsleting listrik? Bagaimana kalau Kenzie tak sengaja bermain dengan colokan? Atau bagaimana kalau bocah itu nekat memanjat area berbahaya karena mencari orang dewasa? Membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk itu membuat pasokan udara di paru-paru Aruna seolah tersedot habis.
"Om Gavin... benar-benar bajing*n!" makian itu lolos begitu saja dari bibir Aruna dengan suara bergetar menahan tangis amarah yang membuncah.
Semua rasa hormat, rasa toleransi, dan kesabaran yang selama seminggu ini ia pelihara demi menghargai amanah mendiang kakaknya, runtuh total detik itu juga. Gavin bukan lagi sekadar pria Playboy dan lepas tangan, tapi dia adalah sosok monster egois yang tega membahayakan nyawa keponakannya sendiri demi ego sendiri.
Setelah Kenzie mulai agak tenang dan hanya menyisakan sesenggukan kecil di pundaknya, Aruna mengambil ponsel di dalam tasnya dengan gerakan cepat. Jarinya yang bergetar langsung mendial sebuah nomor yang sudah sangat ia hafal. Bukan nomor Gavin, melainkan nomor 'Pak Eza', pengacara kepercayaan almarhum Bang Rendy.
Panggilan itu hanya berdering dua kali sebelum suara berat pria paruh baya di seberang sana menyahut, {Halo, Mbak Aruna? Ada perkembangan apa di apartemen}
Aruna menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan dingin. Suaranya terdengar begitu tajam, bergetar penuh amarah yang tertahan namun tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Pak Eza. Saya ingin melaporkan bahwa hari ini, hari Kamis, Saudara Gavin terbukti telah menelantarkan Kenzie. Pria itu pergi dari apartemen entah kemana dan meninggalkan Kenzie seorang diri di rumah tanpa pengawasan sampai menangis ketakutan."
Setelah mendengar jawaban tegas dan kesiapan dari Pak Eza di seberang sana, Aruna memutuskan sambungan telepon. Ia menurunkan Kenzie perlahan ke sofa, lalu berdiri menghadap pintu utama apartemen dengan tatapan mata menghunus yang sedingin es.
"Silakan bersenang-senang di luar sana, Gavin. Karena setelah kamu melangkah masuk ke pintu ini lagi... tamat sudah riwayatmu," batin Aruna penuh dendam, siap meledakkan badai kehancuran untuk menyambut kepulangan sang suami egois itu.
Bersambung...
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor